Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
70 (Hina Menghina)


__ADS_3

Glek!


Yudi menelan salivanya, saat melihat Fi persis saat pertama kali ia kenal.


Deg deg deg!


Jantungnya tak hentinya berdetak, wajah Fi yang begitu mempesona hampir membuat Yudi pingsan.


Ia yang terpaku, tanpa sadar tak melangkah sedikit pun dari depan pintu.


Hingga Fi, si cantik di masa sekarang mendatanginya secara langsung.


“Apa tuan baik-baik saja?” tanya Fi dengan sopan.


Namun wajah Fi yang terlalu dekat membuat Yudi sesak napas.


“Aku baik Fi. Sangat baik.” sahut Yudi dengan napas memburu.


“Hehehe... apa make up ku terlalu mencolok tuan? Pada hal saya sudah bilang pada perawat untuk tidak merias wajah saya, tapi kata mereka itu penting, karena tuan akan senang melihatnya, itu pendapat mereka.” Fi tersenyum malu pada tuannya.


“Tidak, begini sudah sangat cantik.” Yudi memuji paras Fi.


Tak sia-sia Suli merekomendasikan rumah sakit ini, batin Yudi.


“Terimakasih banyak tuan, oh ya... kapan kita kembali ke Indonesia? Jujur, saya sudah bosan disini tuan.” Fi yang merindukan anak-anak dan ibunya ingin segera pulang.


“Apa kau tak mau jalan-jalan dulu disini?” Yudi berniat membawa Fi keliling Korea.


“Saya tak punya uang tuan,” ujar Fi.


“Ini!” Yudi memberikan sebuah atm berisi uang dengan nominal banyak di dalamnya.


“Ini apa tuan?” tanya Fi.


“Dari Suli, royalti untuk mu, aku tak tahu berapa jumlahnya, yang jelas, cukup untuk menata masa depan mu dan juga anak-anak mu,” terang Yudi.


“Berarti saya bisa beli oleh-oleh dong tuan?” Fi tertawa girang, hatinya sempat meragu akan kejujuran Suli, sebab sang nyonya tak pernah menghubunginya.


“Memangnya kau mau beli apa?” Yudi terus mengajak Fi mengobrol, sebab ia ingin lebih banyak berinteraksi dengan wanita cantik impiannya yang kini bisa berdiri di sebelahnya.


“Baju, makanan khas Korea, sepatu, akh... pokoknya banyak tuan, hehehe...” Fi tertawa girang, ia yang lama tak memegang uang, ingin segera berbelanja.


“Aku juga mau membeli ibu ku gaun baru, ibu ku pasti senang tuan, karena dia sudah lama tak ku belikan apapun.” mata Fi berkaca-kaca saat mengingat Yuri.


“Baiklah, akan ku temani kau belanja.” dalam lubuk hati Yudi yang paling dalam tak hentinya berdecak kagum saat melihat Fi lebih dekat.


“Ayo tuan.” Fi menuntun jalan menuju halte bis yang ada di depan rumah sakit.

__ADS_1


“Hum? Kita naik taksi saja bisakan?” ucap Yudi, sebab ia tak suka akan keramaian.


“Baiklah tuan, naik taksi akan lebih cepat sampai.” Fi yang hanya art mengikuti apa kata majikannya.


Kemudian Yudi menyetop salah satu taksi yang lewat di hadapan mereka.


Selanjutnya Fi dan Yudi masuk ke dalam taksi. “Area perbelanjaan Gangnam,” ucap Yudi dalam bahasa Inggris.


“Jangan tuan, kita ke daerah perbelanjaan Myeongdong Shopping Street saja, aku sudah lihat di internet, tempatnya menarik dan juga bajunya bagus-bagus, dan harganya juga murah.” Fi tak ingin menghamburkan uangnya yang berharga hanya untuk sepotong baju yang bisa rusak kapan saja.


“Tapi... di tempat yang akan kita tuju juga murah,” ucap Yudi.


Fi tahu, yang di maksud tuannya tempat belanja kalangan orang kaya yang bingung membuang uangnya kemana.


“Ke Myeongdong saja tuan, ku yakin tuan juga akan suka!” Fi mengangkat 2 jempolnya.


“Ya sudah kalau begitu.” Yudi tak bisa memaksa kehendaknya, meski ia sangat ingin membeli banyak baju bermerek untuk gadis impiannya.


Pada hal aku sudah berkhayal, kalau Fi memakai baju Diior yang baru keluar itu, batin Yudi.


Setelah memutuskan tempat tujuan yang akan di datangi, sang supir taksi pun menginjak gas membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.


1 Jam kemudian, Yudi dan Fi sampai di Myeongdong. Keduanya pun turun dari dalam taksi.


“Ramai banget.” gumam Yudi, bagaimana tidak, tanggal muda di akhir bulan membuat para pekerja memadati setiap gang jalanan yang banyak di isi penjual makanan dan pakaian yang banyak di buru pecinta murah meriah.


“Ayo tuan.” ucap Fi yang berdiri di sebelah Yudi.


“Oke.” namun demi sang wanita impian, ia memberanikan diri berbaur dengan banyaknya orang yang ada disana.


“Lihat tuan, baju ini baguskan?” Fi memegang sebuah baju kaus yang tergantung di pinggir jalan.


“Bagus.” Yudi mengangguk setuju, meski terlihat jelek di matanya.


“Ini kalau di jual di Indonesia bisa 150.000 tuan perpotongnya, tapi kalau disini hanya 20.000 saja.” ucap Fi penuh senyuman.


Wajah cantik dan sifat Fi yang sederhana membuat hati Yudi teduh.


Ternyata, untuk bahagia tak perlu dengan barang yang mahal, ternyata yang membuat bahagia, bukan uang yang banyak, harta berlimpah, batin Yudi.


“Beli saja semuanya, nanti aku akan bayar.” Yudi yang bersemangat ingin membeli seluruh barang dagangan orang yang ada di sama untuk Fi.


“Hehehe... terimakasih tuan, tapi saya punya uang sendiri kok.” Fi yang sudah banyak menerima bantuan dari Yudi, menolak kebaikan hati majikannya kali itu.


“Baiklah kalau kau tak mau.” hari itu Yudi menemani Fi berbelanja sampai malam.


🏵️

__ADS_1


Wina yang berbelanja baju di Sency bersama Asir tiba-tiba ingin memakan buah kiwi, iklan buah menggugah selera yang ada di Tv membuat air liurnya hampir menetes.


“Mas, kita ke supermarket mall ini yuk, aku ingin sekali membeli buah kiwi.” ucap Wina seraya menunjuk ke arah tv.


“Oke sayang,” sahut Asir.


Setelah mereka selesai berbelanja pakaian, Asir dan Wina menuju lantai dasar untuk membeli buah.


Ketika mereka masuk ke dalam supermarket, Wina tersentak saat melihat Dewi memakai seragam buah kiwi yang ia jual.


“Astaga, mimpi apa aku semalam.” gumam Wina dengan tawa menyeringai.


“Ada apa?” tanya Asir penasaran, sebab wajah sang kekasih begitu ceria.


“Ada mantan mu mas, hehehe... lihat itu!” Wina menunjuk ke arah Dewi yang sibuk menawarkan dagangannya.


“Oh, Dewi.” Asir yang melihat mantan simpanannya, merasa biasa saja tanpa ada masalah.


“Ayo mas, aku mau beli buahnya.” Wina yang ingin merendahkan Dewi dengan cepat melangkahkan kakinya.


“Buahnya 10 kilo bu.” ucap Wina dengan suara yang tenang.


“Siap bu.” saat Dewi membalik tubuhnya, matanya membelalak sempurna. “Kau?” ucap Dewi.


Rasa malu dan minder bersarang di hati Dewi yang dulu selalu merendahkan Wina.


“Cepat bungkus!” titah Wina dengan gaya sombongnya.


“Kau jualan buah sekarang Wi?” ucap Asir. Seolah tak terjadi apapun di antara mereka di masa lalu.


Dewi yang benci melihat mantannya dengan cepat menimbang buah sesuai permintaan tanpa menjawab perkataan Asir.


“1.500.000” ucap Dewi.


Lalu Wina mengeluarkan uang senilai 2 juta rupiah tukaran si merah.


“Ini bu, sisanya untuk mu saja, buat beli bedak!”


Dewi yang merasa derajatnya lebih tinggi dengan mudah merendahkan Dewi.


“Dikit banget bu, kalau mau kasih, lebih banyak dong, ini sih bukan uang namanya,” ujar Dewi.


Wina yang pantang di bawah menambahkan 1 juta lagi, ia pun memasukkannya ke dalam baju Dewi.


“Tambahkan lagi Win, kasihan, di bawah matanya ada kerutan,” ucap Asir dengan serius.


“Tidak mas, 1 juta adalah nilai yang pas untuknya, wanita miskin tak boleh banyak memegang uang, nanti malah sombong.” setelah menghina Dewi, Wina dan Asir pun pergi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2