
Fi yang mendengar dengan jelas kalau dirinya di jadikan bahan gosip merasa tak terima.
Ia yang baru selesai makan menaruh piringnya terlebih dahulu ke wastafel, setelah itu ia mendatangi sekumpulan art yang berjumlah 10 orang.
“Hei Reni, aku ada disini. Jika kau mendengar hal tak baik yang di katakan orang lain pada mu, kenapa kau tak bertanya pada ku, mengenai kebenarannya? Ini kau malah menyebar cerita tak benar mengenai aku. Aku terima jika kau membenci ku, tapi jangan hasut orang lain, untuk tak menyukai ku juga, kau ini sudah dewasa, harusnya bisa berpikir dengan baik, kau pernah di sekolahkan orang tua mu kan?”
Fi yang membawa orang tua, membuat Reni tak dapat menahan amarahnya. Ia pun bangkit dari duduknya.
“Hei pincang! Ini urusan antara kau dan aku, kenapa kau malah bawa-bawa orang tua!” Reni yang tersinggung mendorong tubuh Fi. Beruntung wanita malang itu tak jatuh.
“Hajar Ren, dia juga bahas-bahas sekolah pada kita, memangnya dia sendiri sekolah apa? Apa lagi menyinggung soal orang tua, sungguh lancang sekali!” Art A memanas-manasi Reni.
“Betul, pada hal dia banyak kekurangan, dia juga baru masuk kerja, tapi dia sama sekali tak hormat pada kita, lucu banget, hajar saja Ren, nanti kita akan bersaksi kalau dia yang mencari masalah duluan pada mu,” ucap Art B.
“Jangan Ren, kau tak boleh main tangan disini, apa lagi cari masalah pada Fi, kau tak ingat apa yang di katakan tuan? Lagi pula, nanti bukan hanya kau yang kena dampaknya, tapi bu Rila juga akan terseret, pada hal memang kau duluan kan yang cari masalah, wajar saja kalau Fi menegur mu,” ucap Mirna.
”Bacot kau! Diam saja Mirna!” pekik Reni.
“Hei kau! Sumber masalah dan perusak pandangan mata! Sihir apa yang kau gunakan, sehingga wanita buruk seperti mu, mendapat perhatian dari tuan!” Reni sangat iri dengan keberuntungan yang Fi dapatkan. Terlebih majikan yang ia sukai tak pernah menganggapnya ada.
“Aku tak mengerti apa yang kau katakan, yang jelas, aku hanya ingin kau berhenti memfitnah ku, jangan campuri urusan ku. Kalau kau tak ingin melihat ku, cari jalan yang lain biar kita tak bertemu. Aku mau bekerja dengan tenang Reni, tolong kalian semua, jangan mengganggu ku, karena aku juga takkan mengusik kalian.” Fi yang merasa cukup mengatakan isi hatinya, memutuskan untuk pergi.
Namun saat ia melangkah, Reni menendang betis bagian belakangnya yang memiliki bekas luka bakar yang belum kering.
“Issstt...” Fi langsung memegang bekas tendangan Reni.
“Ada apa dengan kaki mu? Apa disana juga ada masalah?” Reni yang penasaran berniat membuka celana panjang hitam berbahan kain wol milik Fi.
“Jangan! Apa yang kau lakukan?” Fi memegang tangan Reni yang akan membuka kancing celananya.
“Diam sialan! Aku hanya ingin lihat sebentar!” pekik Reni.
“Hei Ren, hentikan! Konyol sekali kau! Banyak laki-laki disini?!” Mirna menegur perbuatan senonoh Reni.
“Diamlah, memangnya ada laki-laki yang akan selera pada mayat hidup sepertinya?!” Reni terus saja berusaha membuka celana Fi.
__ADS_1
“Hentikan!” Fi yang merasa di lecehkan menarik sanggul rambut Reni yang sedang berjongkok di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan! Jangan tarik rambut ku kurang ajar!” Reni memegang tangan Fi. Kemudian ia menghentikan tangannya yang ingin membuka celana Fi.
Plak!!
Reni menampar wajah Fi. ”Keterlaluan! Tak punya akhlak! Orang rendah seperti mu, berbuat kasar pada ku?! Situ waras?!” mata Reni membelalak pada Fi.
Orang-orang yang melihat pertengkaran keduanya tertawa terbahak-bahak, bagi mereka itu adalah hiburan makan siang.
“Kau yang mulai!” Fi yang tak ingin meneruskan pertengkaran itu berusaha pergi, namun Reni tak memberinya jalan.
Plak! Reni yang ganas menampar kembali wajah Fi, hingga wajah ibu dua anak itu menjadi lebam.
Saat Fi ingin membalas, Reni yang memiliki fisik yang tegap dan sempurna dengan cepat menendang tulang kering kaki Fi.
“Sakit!!!” Fi memegang kakinya yang terasa sakit luar biasa.
Perlahan tangannya merasa basah, lalu Fi melepas genggaman tangannya dari kakinya, ia pun mendapati darah di telapak tangannya yang putih.
”Baru segitu sudah tumbang, apa kaki mu busuk? Sebenarnya aku sedikit curiga, saat semua orang memakai rok, hanya kau seorang yang mengenakan celana, ternyata? Apa kaki mu buruk juga? Hum?!!!” Reni meledek Fi.
Plok!!
“Aduh! Sakit!!!” teriak Reni. Sebab ada yang memukul kepalanya dengan rotan dari belakangnya.
Ia yang ingin tahu siapa pelakunya, membalik tubuhnya.
“Apa kau ingin di pecat juga?!!” suara menggelegar dari Rila membuat mental Reni ciut.
“Ma-maaf bu, saya tak sengaja bertengkar, ini semua karenanya, dia mendatangi ku, dan menarik sanggul ku.” Reni pun memperlihatkan rambutnya yang kacau.
“Aku tak perduli siapa yang salah keparat! Karena perbuatan mu, bisa membuat karir ku berakhir!” Rila masih ingat betul akan ancaman Yudi padanya.
“Ma-maaf bu.” Reni melihat ke arah teman-teman yang katanya akan mendukungnya.
__ADS_1
Sayangnya, orang-orang yang ia anggap sahabat, malah bungkam, dan tak ingin ikut campur.
Kurang ajar kalian semua! Pengkhianat! batin Reni.
“Reni, dan semua orang, ku rasa aku telah memperingati kalian, begitu pula dengan tuan. Tapi ku lihat kalian tak ada yang menyimpannya di otak kalian, untuk itu Ren, kau ku pecat!” Rila yang tak ingin pusing, memilih mengeluarkan Reni.
Terlebih Rila melihat luka lebam di wajah Fi, sudah jelas sang tuan akan melihat itu, dan jika ia membiarkan Reni tetap bekerja, sudah jelas dirinya yang akan jadi sasaran empuk sang majikan.
“Tapi bu! Dia yang salah bukan aku?!” Reni masih berani menyalahkan Fi.
“Sstt!! Jangan berisik, nanti nyonya dengar lagi, sebaiknya kau kemas barang mu, nanti akan ku kirim sisa gaji mu ke rekening mu.” sikap tegas tanpa basa-basi Rila membuat semua orang takut.
Kali itu, mereka membuktikan peringatan dari majikan mereka, jika ada yang menganggu Fi, orang itu akan di keluarkan.
Reni yang butuh pekerjaan dengan gaji besar itu pun menangis sesungukan.
“Bu, jangan pecat aku. ku mohon, hiks...” Reni memegang tangan Rila seraya berlutut.
“Ren, aku kan sudah bilang, jangan ada yang menggangu wanita ini?! Dia dekkingnya tuan besar, bahkan sekarang nyonya juga dekat dengannya, sudahlah, aku tak ingin kena masalah karena mu,” ucap Rila.
“Tapi aku masih ingin kerja, karena aku masih punya 3 adik yang masih sekolah, hiks...” Reni terus saja terisak.
“Jangan pecat dia bu, kasihan, nanti adiknya terkendala sekolah,” ucap Fi.
“Tapi dia sudah menyakiti mu Fi, apa tidak apa?” tanya Rila.
“Tidak kak, aku sudah memaafkannya.” Fi yang ingin balas dendam memilih untuk memaafkan Reni.
“Benarkah?” Rila tak percaya Fi sebaik itu.
“Iya, tapi dia tak boleh menunjukkan wajahnya di hadapan ku, kalau dia berani menggangu ku lagi, aku yang akan mengatakan langsung perbuatannya pada tuan,” ucap Fi.
Reni merasa sangat malu, Fi yang ia benci malah memberinya kesempatan untuk bekerja.
...Bersambung......
__ADS_1