Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
74 (Bertamu)


__ADS_3

Fi tersenyum canggung pada majikannya, “Yang itu tuan.” Fi menunjuk rumah yang ada di depan mata Yudi.


“Oh... kecil ya.” ucap Yudi apa adanya, tanpa bermaksud menyakiti hati Fi.


“Sayakan sudah bilang tuan, rumah saya kecil,” Fi bertambah malu mendengar ucapan tuannya.


“Iya, pasti sangat sempit di dalam.” setelah itu Yudi keluar dari dalam taksi.


Astaga, tuan ternyata ada sisi sombongnya juga, batin Fi.


Kasihan dia, pasti sesak untuknya beraktivitas di rumah sekecil itu, apa ku beli saja rumah yang lebih besar untuknya? Di sebelah rumah ku itukan ada rumah kosong, memang tak besar-besar banget, tapi pasti membantu untuknya, batin Yudi.


Yudi yang kasihan pada Fi dan keluarganya berniat membeli rumah yang ada tepat di sebelah rumahnya, yang besarnya 11 12 dengan rumah miliknya.


Setelah supir Yudi menurunkan semua oleh-oleh Fi. Mereka pun mulai berjalan ke dalam rumah Fi.


Yudi yang biasa hidup di lingkungan elit seketika pangling melihat tempat itu, matanya juga celingak-celinguk kesana kemari.


Dan para warga setempat yang melihat Yudi merasa terpesona, karena tak pernah ada pria setampan itu masuk ke komplek perumahan mereka.


Namun mata setiap orang membelalak, pasalnya mereka melihat seseorang yang wajahnya mirip dengan Fi di masa lalu.


“Kau, adik atau sepupunya si pincang ya?” tanya seorang nenek tua berusia 70 tahun pada Fi langsung.


“Si pincang?” Yudi mengernyitkan dahinya, ia tak menyangka, hingga di lingkungan Fi pun, art baik hatinya itu tetap dapat rundungan.


“Iya, dulu wajahnya persis seperti gadis cantik ini, orang biasa memanggilnya si pincang," ujar si nenek.


Yudi yang ingin marah di cegah oleh Fi. “Jangan tuan, kasihan, nenek itu sudah sepuh.” Fi yang tak ingin cari masalah memilih memaafkan hinaan yang baru saja ia dapatkan.


“Ayo tuan, kita amsuk ke rumah.” Fi menarik tangan Yudi.


Lalu Yudi melangkahkan kakinya dengan terus mengoceh tak jelas. Ia jelas tak suka orang lain memperlakukan Fi buruk.


Puk!


“Astaga tuan, tuan baik-baik saja?” seketika Fi merasa panik.


“Akh!! Sakit, kenapa ini ada disini?” gumam Yudi. Karena Kepalanya menabrak kusen pintu bagian atas.


Itu semua terjadi karena ia tak melihat jalannya dengan benar, dan ia juga tak sadar jika tubuhnya yang jangkung harus menunduk sedikit untuk masuk ke dalam rumah artnya.


“Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut tadi.” meski keningnya nyut-nyutan, namun Yudi menahannya, agar terlihat tetap keren di mata Fi.


“Yang benar tuan? Tapi... jidat tuan benjol loh." Fi menunjuk ke arah kening Yudi.


“Hahaha... itu hanya benjol biasa, tapi sungguh, tidak sakit, aku serius, hehehe...” kemudian Yudi menundukkan kepalanya, ia pun masuk tanpa membuka sepatunya.


Fi melihat semua itu dengan jelas, ia yang ingin menegur malah merasa tak enak.

__ADS_1


Wajar sih, di rumahkan tuan tak melepas alas kaki sama sekali, di kamar juga pakai alas kaki, pas di atas ranjang saja baru di lepas, batin Fi, batin Fi.


Kemudian Fi masuk ke dalam rumah yang tak di kunci.


“Assalamu'alaikum,” ucap Fi sebelum masuk rumah.


Seketika Yudi merasa malu, karena ia masuk begitu saja ke rumah orang lain tanpa mengucap salam.


Aduh, kenapa mendadak bodoh akut begini sih? batin Yudi.


“Silahkan silahkan tuan.” seketika Fi bingung, sebab seingatnya ada sofa minimalis di ruang tamu mereka.


“Tunggu tuan, saya ambil ambal.” Fi dengan cepat mengambil alas untuk tempat duduk tamu pentingnya.


Setelah mendapatkan ambal di kamar, Fi pun menggelarnya. “Silahkan tuan.” Fi menyuruh tuannya untuk duduk.


Kemudian Yudi duduk tanpa membuka sepatu, meski terlihat aneh, tapi Fi hanya diam saja.


“Tuan, aku kompres lukanya ya tuan.” Fi yang perhatian ingin membantu mengurangi benjolan di dahi tuannya.


Fi pun melihat apa ada es batu di kulkas mereka, namun sayang, kulkas tersebut mati.


“Apa rusak ya?” gumam Fi.


Karena tam ada es, Fi pun kembali membawa air putih di dalam gelas, kemudian ia mengambil obat nyeri dan bengkak yang di berikan dokter padanya.


“Minum ini tuan.” Fi memberi 1 tablet obat pada majikannya.


“Esnya habis tuan,” ucap Fi.


“Oh... oke!” kemudian Yudi meminum obat yang di berikan oleh Fi.


Yuri yang baru pulang dari warung heran melihat ada mobil mewah sedang parkir di depan rumahnya.


“Punya siapa ini?” lalu ia pun melihat ada orang di dalam mobil.


“Oh, hanya orang yang singgah saja.” setelah itu ia pun menuju rumah. ”Eh, kok pintunya terbuka sih.” namun saat ia melihat ada heels wanita, hatinya seketika jadi resah, karena ia pikir itu adalah Dewi.


“Assalamu'alaikum,” ucap Yuri


Tuk!


Seketika endomie rasa ayam bawang yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Sebab ia melihat putri sambungnya Fi Saeadat sedang duduk bersama seorang pria di dalam rumah.


Astaga, apa aku sedang bermimpi? batinnya.


“Ibu?” Fi bangkit dari duduknya.


Saat ia telah berdiri di hadapan Yuri, sang ibu sambung malah pingsan.

__ADS_1


“Ibu...” seketika suasana jadi kacau, mereka tak tahu penyebab Yuri tak sadarkan diri.


“Ayo bawa ke rumah sakit!!!” ujar Yudi.


“Jangan tuan. Tolong pegang ibu saya tuan” pinta Fi.


Kemudian Yudi bangkit dari duduknya dan memeluk Yuri dengan posisi berdiri.


”Maaf tuan, apa bisa bantu ibu masuk ke kamar?” Fi ingin membaringkan ibunya di atas kasur lantai.


“Oke.” dengan cepat Yudi mengangkat tubuh mungil Yuri ke dalam kamar.


Fi yang telah memegang minyak kayu putih, mengoleskannya ke hidung Yuri setelah Yudi membaringkannya di atas kasur.


Tak lama, Yuri mulai sadarkan diri dan membuka matanya.


“Akh!! Siapa kau?!” pekik Yuri, ia berpikir jika Fi adalah hantu, sebab tak masuk akal baginya jika Fi bisa seperti 5 tahun yang lalu wajahnya.


“Ini aku bu, Fi... ibu kenapa jadi ketakutan begitu bu?” ucap Fi seraya memegang kedua tangan ibunya.


“Tapi kenapa bisa? Bukannya kau... kemarin...” Yuri masih ingat betul kondisi fisik putri sambungnya.


“Aku melakukan operasi plastik bu.” kemudian Fi menceritakan semua yang ia lalui selama 3 bulan terakhir.


“Astaga... pantas saja, ku pikir kau kenapa-napa nak, kabar mu pun tak ibu dapatkan selama ini, ibu sangat takut, ingin bertanya kondisi mu ke tempat kerja mu, tapi ibu tak tahu alamatnya, tapi syukurlah kau baik-baik saja nak, hiks...” Yuri memeluk Fi.


“Maafkan aku bu, sudah membuat ibu khawatir, hiks...” ibu dan dan anak sambung itu pun menangis sesungukan.


Tanpa mereka sadari ada Yudi disebelah mereka yang merasa terbakar karena kepanasan.


Keringatnya pun bercucuran deras, namun ia tak berani menggangu momen 2 wanita yang ada di hadapannya.


Setelah selesai melepas rindu, Fi berniat memperkenalkan Yudi.


“Kenalkan bu ini majikan ku. Eh, tuan.. apa tuan baik-baik saja?” Fi tersentak melihat Yudi yang bermandikan keringat.


“Iya, silahkan lanjut!” Yudi tersenyum, meski tersiksa.


“Bu, remote Ac nya mana?” tanya Fi, karena ia ingin segera membuat majikannya merasa sejuk.


“Kita kehabisan token, sudah 3 hari ibu tak pakai lampu.” bisik Yuri dengan suara yang pelan


“Oke. Sebentar bu.” lalu Fi mengisi token listrik rumah ibunya sebanyak 2 juta rupiah.


Setelah memasukkan nomor token pln, Fi pun menyalakan Ac.


Tititt! Fi menyetel ke suhu 16 derajat celsius. Seketika Yudi menghela napas panjang.


“Akhirnya... aku bisa bernapas.” seketika Yudi merasa lega.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2