Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
Bab 30 (Betis Panggang)


__ADS_3

“Jangan ambil, itu untuk biaya ku berobat, tolong... hiks... itu punya ku Wi...” Fi meminta ceknya kembali.


Namun Dewi yang telah memegang cek tersebut menyipitkan matanya.


“Ini punya mu??” Dewi memukul kertas cek itu ke kening Fi. “Mimpi kau! Orang seperti mu, maksimal hanya pantas memegang uang 200 ribu. Sudah Darman, kau bawa saja dia kemana pun kau mau. Kau nikahi pun tak masalah, karena orang miskin cocoknya memang bersanding dengan orang miskin, ahahaha... bagaimana sayang, apa boleh istri mu, di nikahi oleh Darman?” tanya Dewi dengan wajah meledek.


“Ambil saja!” ucap Asir yang tak membutuhkan Fi lagi.


Fi menelan salivanya, karena pupus sudah harapannya untuk mengobati dirinya. “Pak, bawa aku pergi, tak ada gunanya memperebutkan uang itu.” ucap Fi. Ia yang kesakitan benar-benat butuh penanganan cepat saat itu.


Sebelum mereka pergi, Fi meminta keadilan pada Asir.


“Mas Asir, aku takkan berharap untuk bersama mu lagi, aku juga akan mendo'akan kalian bahagia, untuk itu, tolong... ceraikan aku, karena aku tak ingin ada ikatan dengan mu lagi.”


“Baik, kalian yang disini akan menjadi saksi kalau aku, Asir akan memberikan mu Fi Saeadat talak 1.” meski sudah tak ingin bersama, hati Fi sangat sakit mendengar kata talak yang di ucapkan suaminya padanya.


“Talak 2 dan talak 3, untuk itu, mulai sekarang kau ku lepas, pergilah kemana pun kau mau! Jangan pernah kau tampakkan wajah mu di hadapan ku, atau dua anak ini!” Asir yang gelap mata, membuang istrinya yang pernah ia nikahi di hadapan Ilahi.


“Baik. Pak Darman tolong bantu aku untuk pulang ke rumah.” ucap Fi.


Kemudian Fi menatap nanar pada kedua putranya, yang masih terisak tangis, terutama Andri.


“Mama!!!!” teriak si kecil dengan berderai air mata.


Lalu Fi melepas senyuman terakhirnya pada dua buah hati yang sangat ia cintai.


Maafkan mama nak, mama tak punya kekuatan, maaf mama tak bisa berjanji untuk menjemput kalian kembali. Tapi... mama akan selalu berdo'a pada sang pencipta, semoga segera menyatukannya kita kembali di waktu yang tepat, aamiin, batin Fi.


Fi dan Darman yang telah tiba di gerbang, pulang dengan menaiki motor. Yang di parkiran oleh Darman di pos jaga satpam.


“Mau di antar kemana bu?” tanya Darman.

__ADS_1


“Ke rumah mertua ku.” Fi pun mengatakan alamat Alisyah, tujuannya kesana untuk memberitahu rencana mantan suami dan adiknya, serta Fi juga berharap Alisyah mau meminjamkan uang padanya.


Selama perjalanan, Fi merasakan perih dan nyeri di bekas betisnya yang terbakar.


“Ssstt...” ibu dua anak itu meringis, air mata sakit dan kesedihan berpisah dengan anak-anaknya menyatu jadi satu.


Setelah 3 jam dalam perjalanan, mereka pun sampai ke tujuan. Satpam yang mengenali Fi langsung membuka gerbang.


Sesampainya di pintu utama Fi kembali di gendong oleh Darman.


Alisyah yang akan pergi ke dokter, melihat mantan menantunya datang dengan penampilan kacau.


“Ada apa lagi ini? Datang-datang di gendong laki-laki lain?!” tanya Alisyah dengan sombongnya.


“Apa boleh kita bicara di dalam ma?” tanya Fi, sebab ia tak kuat jika mengobrol di teras, apa lagi dengan posisi berdiri.


“Enggak bisa, aku mau pergi, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan, setelah itu kau pergi dari rumah ku.” marahnya Alisyah karena Dewi belum mereda sampai saat itu juga, hingga Fi selalu kena imbasnya. Kemudian Fi menatap wajah Darman.


“Tak apa bu, aku masih kuat untuk menggendong ibu,”ucap Darman.


“Ck! Sial! Bisa-bisanya mereka lolos!” Alisyah sungguh geram akan Asir dan Dewi.


“Aku juga, tak luput dari sasaran mereka ma.” Fi pun menarik celana kulotnya ke atas.


Saat Alisyah melihat luka bakar Fi yang matang bagai daging panggang. Ia pun merasa ingin muntah, belum lagi saat Alisyah mencium baunya yang sangat menyengat.


“Hoekk!! Tutup! Tutup lagi!” Alisyah menahan perutnya yang terasa mual. Setelah itu Fi menutup kembali lukanya.


“Dan, aku sudah cerai dengan anak mu ma.” mendengar pengakuan Fi, tanggapan Alisyah biasa saja. Seolah sudah dapat menebak hal itu akan terjadi.


“Oh, apa masih ada lagi yang ingin kau katakan?” tanya Alisyah seraya menutup hidungnya.

__ADS_1


“Apa aku boleh, meminjam uang mama? Karena aku tak punya uang sepeserpun, aku ingin mengobati luka ku ma, kalau tidak, aku takut infeksi,” ucap Fi


“Enak saja minta uang, memangnya aku bank?! Lagi pula kau sudah cerai dengannya, jadi aku dan kau tak punya hubungan lagi. Apapun yang terjadi pada mu, itu bukan urusan ku, apa lagi tanggung jawab ku!” Alisyah benar-benar tak iba dengan keadaan Fi.


“Bu, jangan begitu pada bu Fi, ia celaka karena ulah anak ibu juga,” ucap Darman, membela Fi yang malang.


“Dia bukan anak ku, aku tak punya anak berhati iblis sepertinya!” ternyata Alisyah telah memutus hubungan darah antara ia dan Asir dalam hatinya.


“Semua juga tahu, kalau anak ibu berkelakuan setan, mestinya sebagai sesama yang tersakiti,


ibu dan mantan menantu ibu harus saling mendukung,” terang Darman.


“Heh! Justru karena dialah aku jadi begini, untuk apa aku kompak dengannya, andaikan aku tak merestui hubungannya dengan Asir, pasti si Dewi tak jadi bom dalam kehidupan keluarga kami! Sekarang angkat kaki kalian! Hus! Hus!” Alisyah mengusir Fi dan Darman.


Darman yang awalnya ingin mengatakan rencana mantan majikannya yang akan datang esok hari untuk menjual rumah Alisyah, mengurungkan niatnya.


Lupakan, biar dia tanggung sendiri, orang sombong memang perlu di beri pelajaran, batin Darman.


Saat Darman dan Fi akan pergi, Alisyah memanggil mereka.


“E, eh! Tunggu, walau kau sudah membawa sial pada ku, tapi aku akan berbaik hati pada mu, tunggu disini, jangan bergerak seinci pun.” Alisyah masuk ke dalam rumahnya.


Lima menit kemudian, Alisyah kembali ke teras dengan membawa sebuah kantung obat.


“Ini untuk mu, ada banyak obat, makan saja apa yang bisa kau makan, ada obat pereda nyeri dan pengering luka, sisa suami ku, semoga bisa meringankan sakit mu,” ucap Alisyah.


Fi yang tak punya apapun menerima apa yang di berikan mantan mertuanya.


“Terimakasih banyak, tante.” mulai detik itu, Fi tak lagi memanggil Alisyah dengan sebutan mama.


“Sama-sama, pergilah kalian!” Fi dan Darman naik kembali ke atas motor.

__ADS_1


“Ibu mau di antar kemana lagi sekarang? Maaf bukannya mendesak, tapi aku juga harus menjenguk ibu ku ke rumah sakit.” Darman hari itu ingin mengunjungi ibunya yang tak ia lihat selama 3 hari lamanya.


...Bersambung......


__ADS_2