Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
Bab 27 (Pelarian)


__ADS_3

Dewi tersenyum puas, saat apa yang di rencanakannya berjalan dengan lancar.


Saat keduanya sedang bersantai, tiba-tiba Wina datang mengetuk pintu kamar.


Tok tok tok!


“Ada yang datang, tolong buka pintunya,” titah Asir.


“Oke mas.” Dewi kemudian bangkit dari ranjang menuju pintu.


Ceklek!


“Ada apa kau kesini?” tanya Dewi pada Art-nya.


“Maaf mengganggu waktunya nyonya, di ruang tamu sekarang ada polisi, ingin bertemu dengan tuan dan nyonya.” ucap Wina. Setelah itu ia meninggalkan kamar majikannya.


“Oke.” Dewi menghela nafas panjang, sebab dugaannya tidak meleset. Ia pun kembali lagi ke ranjang.


“Wina bilang apa sayang?” tanya Asir.


“Hum! Ada polisi di ruang tamu, ayo mas, karena mereka ingin bertemu kita berdua.” wajah Dewi nampak geram di mata Asir.


“Baiklah.” Asir pun turun dari ranjang. Kemudian keduanya menuju ruang tamu.


Awas kau ma! Kali ini, aku tak akan sungkan-sungkan lagi, batin Asir.


Sesampainya Asir dan Dewi di ruang tamu, mereka tersenyum lebar menjabat dua polisi yang mengunjungi rumah mereka.


“Selamat sore pak.” ucap Asir dan Dewi.


“Selamat sore juga pak Asir dan bu Dewi.” baik Asir dan polisi yang datang ternyata saling mengenal satu sama lain.


“Silahkan duduk pak.” Dewi yang berlagak ramah mempersilahkan dua tamu mereka duduk.


Tak lama, Wina datang membawa 4 gelas teh untuk para majikannya dan polisi.


“Silahkan di minum pak, maaf hanya seadanya.” ucap Asir.


“Terimakasih pak sebelumnya.” Dino pun menyeruput teh yang di suguhkan padanya.


Ssrrpp...


Setelah itu, Dino mulai membuka percakapan. “Begini pak Asir dan bu Dewi, beberapa hari yang lalu kami dapat laporan dari bu Alisyah, dalam laporannya dia berkata, jika ibu dan bapak melakukan tindakan kekerasan pada beliau, untuk itu, kami ingin membawa ibu dan bapak ke kantor polisi untuk di mintai keterangan lebih lanjut.” terang Dino.

__ADS_1


“Apa bapak tidak bisa urus semua ini? Sebab saya tidak melakukan seperti yang ibu saya katakan, kronologinya juga tak separah itu. Itu semua terjadi karena ibu saya ingin menampar anak saya yang paling kecil, lalu saya menepis tangan ibu saya, dan tak sengaja tangan saya mengenai wajahnya, lagi pula saya sangat sibuk untuk kesana, apa bisa bapak bereskan?” tanya Andri.


“Ehm... bisa saja sih pak, tapi tetap saja itu agak sulit untuk di lakukan, mengingat bu Alisyah membawa bukti visum ke kantor,” terang Dino.


Asir paham betul, jika polisi itu menginginkan uang suap.


“Saya tidak ingin berbelit-belit, kira-kira bapak mau berapa, untuk menyelesaikan masalah ini?” Asir yang tak ingin pusing langsung ke intinya.


“200 juta untuk dua orang, karena ini masalah serius,” ucap sang polisi.


Asir tertawa getir, karena uang yang di minta polisi begitu kecil di matanya.


Ku pikir akan minta 1 Milyar, bodoh sekali mereka, batin Asir.


“Baik, saya akan bayar lunas,” ucap Asir.


“Tapi, bapak tetap harus ke kantor, karena bagaimana pun, kami harus menjalankan tugas kami sesuai prosedur, walau ini hanya formalitas untuk bapak dan ibu,” terang Dino.


“Baiklah, apa nomor rekening bapak masih yang lama?” tanya Asir yang ternyata biasa memberi uang suap pada Dino dan rekan-rekannya yang lain.


“Iya pak, betul.” Dino begitu suka berurusan dengan Asir, karena pastinya Asir akan memberinya uang besar, untuk kasus yang sederhana.


Setelah Asir mentransfer uang 200 juta ke rekening Dino. Dino tertawa riang.


Asir dan Dewi pun berangkat ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan.


1 jam kemudian, Fi yang merasa sudah sehat, bangkit dari lantai, saat ia akan menutup pintu, tak sengaja ia mendengar para Art bergosip.


“Iya, kata Wina begitu, tuan dan nyonya pergi ke kantor polisi,” ucap Wiwin.


“Apa tuan dan nyonya akan di penjara?” tanya Meri dengan rasa penasaran penuh.


“Enggak tahu juga, tapi semoga saja, karena aku benar-benar muak bekerja pada majikan jahat seperti mereka.” Wiwin ternyata tak suka pada Asir dan Dewi.


“Kau benar, kalau bukan karena ekonomi, mana mungkin aku mau bertahan disini, pada hal si Dewi itu hanya pemuas nafsu saja, tapi gayanya bagai nyonya, cih!” ternyata tak ada satu pekerja pun yang menyukai Asir dan Dewi.


“Ini kesempatan bagus untuk ku, aku akan membawa anak-anak ku pergi.” Fi dengan cepat mengambil cek 2 milyarnya.


Setelah itu Fi menuju kamar anak-anaknya. Ketika Fi memutar handle pintu, ternyata pintu kamar Emir dan Andri di kunci.


“Sial!” Fi yang tak mau menyerah pun memutar otak agar dapat mengeluarkan anak-anaknya dari dalam kamar.


“Oh iya, ada kunci cadangan kan?” Fi yang ingat menuju bufet yang ada di samping kamar suaminya. Sebab dulu ia menyimpannya kunci cadangan kamar anaknya di laci bufet tersebut. Sesampainya Fi. Ia pun membuka laci dengan cepat.

__ADS_1


Drrrkk...


“Alhamdulillah, ada.” Fi pun mengambil kunci cadangan tersebut. Selanjutnya Fi menuju kamar anak-anaknya.


“Bismillahirrahmanirrahim.”


Retek!


Krieett...


Kunci cadangan itu menghantarkannya untuk melihat anak-anaknya yang sedang bermain di ranjang.


“Emir, Andri! Ayo cepat!” Fi menggendong Andri dari ranjang.


“Kita mau kemana ma?” tanya Emir penasaran.


“Nanti mama beritahu, kau diam saja nak.” tanpa membawa barang-barang anaknya, Fi keluar dengan tenang, seolah tak terlihat jika ingin kabur.


Ia juga membawa anak-anaknya tanpa alas kaki, sehingga Art lain yang bersikap biasa saja saat melihat mereka melintas bersama-sama.


“Kita jangan main ke halaman nak, nanti papa dan tante mu marah.” ucap Fi berpura-pura.


“Di taman enak ma, aku bosan di kamar terus.” Emir pun turut andil dalam drama yang ibunya rencanakan.


Art yang mendengar ucapan Emir merasa iba. Sebab mereka semua, tak ada yang jahat pada Fi dan anak-anaknya, kecuali Wina.


Dari dalam rumah Fi dan kedua putranya berhasil keluar tanpa ada satu pun yang curiga.


Namun saat di teras, Fi kaget bukan main, saat ia bertemu dengan Wina yang baru selesai mengambil paketnya dari pos satpam.


“Mau kau bawa kemana mereka?” tanya Wina seraya berkacak pinggang.


“Hanya ke halaman, mereka bosan di kamar,” terang Fi dengan perasaan deg degan.


“Bawa mereka masuk, karena nyonya Dewi tidak mengizinkan mereka untuk keluar kamar apa lagi rumah hari ini.” kehadiran Wina menghambat perjalanan Fi.


“Tapi mereka ingin menghirup udara segar , kau kembalilah ke dalam, lagi pula Dewi tak di sini, biarkan anak-anak bermain di luar sebentar, kami akan kembali sebelum mereka datang, hanya 15 menit, bisakan?” Fi terus membujuk Wina.


Namun Wina yang taat aturan dan tak ingin dapat hinaan sedap dari Dewi menolak dengan keras.


“Masuk ke dalam sekarang juga, kau pun tak ingin dapat pukulan panaskan, kalau sampai ketahuan adik dan suami mu??”


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2