Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
75 (Kabar Berita)


__ADS_3

Setelah Yudi merasa segar, Yuri lebih baik, Fi pun membawa ibu sambungnya ke ruang tamu


“Apa ini? Banyak sekali Fi?” mata Yuri kesana kemari melihat koper-oper besar yang belum di buka.


“Itu oleh-oleh bu, aku beli dari sana.” Fi membuka 3 koper untuk sang ibu yang sengaja ia siapkan.


“Ya ampun Fi, kau dapat uang darimana untuk membeli ini semua?” Yuri khawatir jika putrinya berbuat yang aneh-aneh.


“Aku dapat dari menjual kisah hidup ku, dan juga lagu yang pernah aku perdengarkan pada ibu.” Fi pun menceritakan soal kerja samanya dengan Suli.


“Alhamdulillah, ada juga guna bakat mu itu nak. Jadi ini semua untuk ibu?” Yuri melihat baju-baju dan sepatu yang di beli anaknya dengan mata yang berbinar.


“Ini pasti mahal sekali.” Yuri yang tak tahu harga berpikir kalau pembelian anaknya harganya fantastis.


“Tidak kok bu, itu hanya barang murah, tapi kalau di jual disini ya, harganya lumayan bu.” Fi yang jujur tak mau membohongi ibunya.


“Tapi apa ibu pantas ya memakainya? Nanti orang-orang pikir ibu mencuri lagi.” terang Yuri, ia yang biasa memakai baju lusuh takut di kira maling.


“Nah! Aku ada kabar baik buat ibu,” ucap Fi.


“Apa Fi?” tanya Yuri dengan penuh penasaran.


“Ibu akan pensiun kerja, karena aku sudah punya banyak tabungan dari royalti karya ku bu, nanti kita juga akan beli rumah baru.” kabar baik dari Fi membuat Yuri menjerit kegirangan.


“Hiih! Alhamdulillah... Fi ibu sangat bahagia,” Yuri memeluk putrinya. Lalu Fi melihat ke arah Yudi.


“Maaf tuan jika kami berisik.” ucap Fi karena merasa tak enak. “Eh...” seketika Fi merasa tersentak, saat melihat pria tampan itu tertidur pulas di atas ambal.


Kasihan tuan, pasti dia lelah bolak balik Korea Indonesia, batin Fi.


Fi yang pengertian tak membangunkan majikannya. Saat ia dan ibunya sibuk membongkar oleh-oleh Yudi malah tertidur pulas.


“Oh ya bu... meskipun punya banyak uang, tapi aku harus tetap bekerja di rumah tuan.” Fi yang berhutang budi tak mau berhenti kerja dari rumah Yudi. Karena bagaimana pun ia harus tahu diri, walau ia punya banyak uang sekarang, tapi rupiah yang ia dapatkan berkat tuan dan sang nyonya.


“Iya, kau benar, lagi pula tak boleh begitu, jangan resign tiba-tiba, kasihan nanti orang yang mengerjakan pekerjaan mu,” ujar Yuri.


“Iya bu, aku mengerti.” Fi kembali memeriksa barang bawaan untuk anak-anaknya.

__ADS_1


“Tapi Fi, Dewi dan Asir sudah putus loh, ibu tak tahu penyebabnya, karena dia juga enggak mau cerita, yang jelas dia sudah tak tinggal di rumah Asir lagi. Dewi juga sempat tinggal disini selama 2 minggu, dia sudah mirip gembel, tapi meski begitu, ia tetap sombong, tak mau berubah.” terang Yuri.


“Oh, masa aktif kebahagiaannya dengan Asir sudah habis ya bu.” Fi tersenyum penuh makna.


“Iya, ibu harap dia bisa berubah, jangan lagi jadi orang yang tak berguna.” ujar Yuri. Meski ia benci pada Dewi, tapi dirinya selalu berdo'a agar anak sambungnya mendapat petunjuk dari yang maha kuasa.


”Aamiin bu.” Fi yang memiliki luka batin dan fisik dari adik dan suaminya merasa tak perduli apapun yang terjadi pada adik bungsunya itu.


🏵️


Hatcim!! Dewi yang sedang libur kerja tiba-tiba merasa menggigil.


“Aduh... kok perut ku sakit terus sih... nyeri banget lagi, ada apa ya?” ia yang ingin periksa ke dokter tak memilik uang, sebab bulan ini dia hanya menerima gaji pokok.


”Kalau ke dokter bisa habis setengah juta paling sedikit, tapi... kalau tak periksa takut kenapa-napa lagi.” Dewi merasa resah akan sakit yang ada di perutnya, yang kandang kambuh.


“Sebaiknya aku minum Paracetamol lagi, toh setiap aku minum, rasa nyerinya akan hilang, ya... meski pun ngilunya tidak.” Dewi yang tak punya uang hanya mengandalkan obat analgesik biasa untuk mengobati rasa sakit yang ia derita.


Setelah minum obat, Dewi merebahkan tubuhnya di atas kasur lantainya.


“Andaikan dulu aku dengarkan kata dukun itu, mungkin nasib ku tak begini, maafkan mama nak, ini hukuman untuk mama, mungkin kalau mama merawat mu, mama masih jadi wanita sosialita yang kaya raya.”Dewi memyesal dengan segala keputusannya di masa lalu.


🏵️


“Hei, mainnya jangan terlalu lasak, nanti rusak!” Dewi menegur Andri yang bermain perosotan berulang kali naik turun


“Iya.” jawab Andri singkat.


“Sudah-sudah, berhenti mainnya!” Wina menarik tangan Andri untuk menjauh dari perosotan.


“Nyonya... kasihan tuan Andri, dia tak ada teman lagi sekarang, biarkan dia melakukan apapun yang dia mau.” Teri begitu iba pada tuan kecilnya yang kini tinggal sebatang kara.


“Diam saja kau! Pembantu kok berani bicara pada majikan, jangan keterlaluan ya! Ingat posisi mu.” Wina menghina mantan teman seprofesinya.


Kurang ajar! Belum di nikahi saja sudah sombong, bagaimana kalau sudah jadi? Makan dan minum sepertinya harus di bantu, batin Teri.


Hati kecilnya yang paling dalam sungguh ingin menghajar Wina.

__ADS_1


Namun Teri yang tak ingin tuan kecilnya jadi sasaran Wina, memilih untuk membawa Andri ke dalam rumah.


“Susah banget sih di bilangin, bikin kesal, harusnya dia menyusul abangnya, si bodoh Emir.” Wina yang marah kembali mengingat bayi yang ada di rahimnya, lalu ia pun mengelus perutnya, karena tak sabar menunggu kepulangan kekasihnya.


“Mama akan jadikan kau pewaris satu-satunya sayang.” Wina tersenyum bahagia, ia pun membayangkan anaknya jadi pengganti Asir suatu saat di perusahaan.


Pada malam harinya, Asir yang baru masuk mendapat pelukan hangat dari Wina.


“Kok lama banget mas pulangnya?” Wina mencium dada Asir yang terasa wangi.


“Bukannya aku biasa pulang jam segini ya?” ujar Asir.


“Iya benar, hanya saja hari ini rasanya lama sekali.” Wina tersenyum manis pada Asir.


“Ada apa sih? Kenapa kau senyum-senyum begitu?” Tanya Asir penuh selidik, karena tak biasanya kekasihnya berbuat demikian.


“Aku ada kejutan untuk mu mas.” seraya tersenyum lepas, Wina memberikan hasil usg berbentuk photo 3D pada kekasihnya.


“Apa ini?” Asir tak tahu apa arti photo yang ada di tangannya, karena dulu dirinya tak pernah sempat menemani Fi periksa ke rumah sakit selama hamil.


“Mas, aku hamil! Hamil loh!” Wina kembali meluk tubuh Asir dengan riang gembira.


Sar....


Seketika Asir merasa pusing, ia yang tak suka anak kecil, kini malah dapat titipan dari sang maha kuasa lagi.


Wina yang tak mendapat respon apapun dari kekasihnya, melepas pelukannya.


“Mas, kau senangkan? Akhirnya aku mengandung anak mu, kau menunggu inikan, makanya belum menikahi ku juga? Mas... ayo kita menikah, karena anak kita butuh identitas!” semua yang Wina katakan tak satupun masuk ke pikiran Asir.


“Wina.” Asir memanggil nama kekasihnya dengan wajah datar.


“Iya mas?” sahut Wina dengan tak hentinya menampilkan senyumannya.


“Gugurkan anak itu!”


Duar!!

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2