Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
73 (Pulang Ke Indonesia)


__ADS_3

Semua orang orang luar yang datang begitu bersimpati pada Wina.


“Yang sabar ya bu.” semua orang menyemangati Wina yang tak ada hubungan apapun dengan Emir.


Sedang orang-orang yang tahu akan kebejatan Wina merasa marah dan juga kesal.


Pagi harinya, Wina yang sedang tidur di sebelah Asir tiba-tiba terbangun, karena ia merasa sangat mual, tubuhnya juga sangat panas, serta ia merasa lemah dan tak berdaya.


Wina pun bergegas ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang terus bergejolak.


Setelah 30 menit menderita dalam kamar mandi, akhirnya Wina keluar dengan wajah yang pucat, dan tubuh yang lemas.


“Astaga... lebih baik aku ke dokter dulu, takutnya aku kenapa-napa lagi.” Wina yang meras kotor memutuskan untuk segera mandi.


Setalah selesai mandi, Asir yang telah bangun memeluk Wina.


“Astaga... ada apa dengan mu? Kenapa wajah mu kuning sekali?” tanya Asir dengan manja.


“Entah mas, rasanya aku kurang sehat.” Wina memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Nanti kau ke rumah sakit saja, aku mengerti kau sangat bersedih atas kepergian Emir, tapi jaga kesehatan mu juga dong sayang.” Asir begitu menyayangi sang kekasih yang membuatnya mabuk darat setiap saat.


“Iya mas, tenang saja, aku pasti berobat,” ucap Wina.


Siang harinya, Wina yang telah di rumah sakit bertemu dengan dokter umum.


“Sakit apa bu?” tanya sang dokter pria.


“Saya merasa mual terus dok, kepala saya juga pusing, badan lemas, dan selalu merasa kegerahan.” Wina menceritakan apa yang ia rasakan akhir-akhir ini.


“Haidnya bagaimana bu?” sang dokter dapat menebak apa yang terjadi pada Wina.


“Sudah telat 1 bulan lebih dok,” ucap Wina.


“Tanggal hari terakhir haid masih ingat bu?” tanya sang dokter kembali.


“Ingat dok. Kalau enggak salah, tanggal 2 Agustus kemarin dok.” Wina mengatakan dengan tepat.


“Oh, sekarang tanggal 27 September, mari bu, kita periksa dulu, ibu silahkan berbaring di ranjang ya bu.” sang dokter pun mencoba melakukan usg.


Wina yang tak pernah melihat alat usg sebelumnya tak tahu apa yang akan sang dokter lakukan kepadanya.


“Oh.... ternyata benar,” gumam sang dokter. “Ibu hamil, usia kandungan 8 Minggu,

__ADS_1


selamat ya bu.” ucap sang dokter.


“Apa dok? Saya hamil?” mata Wina membelalak sempurna.


“Iya bu, ibu hamil, di jaga baik-baik ya bu kandungannya, usia muda masa kehamilan masih rentan akan ke guguran, makan yang banyak, minum vitamin serta susu hamil juga ya bu, agar bayinya tumbuh sehat,” terang sang dokter.


“Iya dok, berikan saja saya vitamin yang bagus, dan yang paling mahal harganya, karena anak ini harus tumbuh sehat,” ucap Wina.


“Baik bu.” atas permintaan Wina sang dokter pun menulis resep terbaik untuk pasiennya.


Akhirnya, aku hamil juga, apa ada alasan lagi untuk mas Asir untuk tak menikahi ku? Ah hahaha... akhirnya... kesabaran ku berbuah manis juga, aku akan jadi nyonya Asir Baihaki! Wina sungguh senang lahir dan batin, rasanya ia sudah tak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia itu pada kekasihnya.


Setelah dari rumah sakit, Wina langsung pulang ke rumah.


🏵️


Fi yang telah selesai bersiap, membuka kamar hotelnya, ternyata dari kamar sebelah Yudi juga sudah keluar


“Kita pulang?” ucap Yudi penuh senyum.


“Iya tuan.” sahut Fi, kemudian keduanya keluar dari hotel, barang-barang bawaan mereka pun di bawa oleh petugas hotel.


Akhirnya, aku pulang juga, batin Fi.


Selama di pesawat Fi tak hentinya menatap photo anaknya yang ada di handphonenya.


Kayaknya dia senang banget, syukurlah, batin Yudi.


Fi yang kelelahan menyenderkan kepalanya ke punggung kursi pesawat.


“Kau ngantuk?” tanya Yudi.


“Iya tuan, hahaha... entah kenapa setelah operasi tubuh ku terasa lebih cepat lelah, saya boleh tidurkan tuan?” Fi yang tak sabar menunggu dengan mata terbuka, memilih untuk terlelap agar lebih cepat sampai.


“Tentu saja.” ucap Yudi.


Kemudian Fi pun memejamkan matanya. 5 menit kemudian Fi pun sudah pulas, sedang Yudi tak dapat memejamkan matanya, sebab wajah cantik Fi selalu membuat ia penasaran.


Mata Fi yang tertutup membuat seorang Yudi leluasa untuk melihat Fi yang ada di sebelahnya.


“Luar biasa, lagi ngorok saja kau tetap cantik.” Yudi tersenyum geli, sebab suara dengkuran Fi terdengar merdu di telinganya.


Apa ini yang namanya jatuh cinta? Bahkan melihat air liurnya keluar, aku tak jijik, batin Yudi.

__ADS_1


Yudi menutup wajahnya dengan tangannya seraya tersenyum.


“Sangat ajaib, mungkin kalau aku tak berhasil mendapatkan mu kali ini, aku akan patah hati akut.” Yudi yang takut jadi gila sendiri karena Fi, memutuskan untuk tidur.


8 jam kemudian, pesawat burung yang di tumpangi Fi dan Yudi mendarat mulus di bandara internasional Soekarno Hatta.


“Tuan... tuan..” kali itu Fi yang membangunkan majikannya.


“Ah, iya? Apa kita sudah sampai?” tanya Yudi.


”Sudah tuan. Ayo kita turun tuan.” Fi pun bangkit dari duduknya. Begitu pula dengan Yudi.


Kemudian mereka keluar dari pesawat, “Kau pulang ke rumahkan?” Yudi berpikir kalau Fi akan langsung ke rumahnya.


Oh iya, akukan masih jadi art tuan, dasar, aku kok tiba-tiba lupa asal ku sih? Fi kesal pada dirinya yang tiba-tiba lupa diri


“Iya tuan, tapi... apa boleh saya ke rumah ibu saya dulu untuk memberikan oleh-oleh?” tanya Fi dengan sopan, ia takut jika permintaannya berlebihan di mata tuannya.


“Boleh, tapi setelah itu kau harus kembali ke rumah, karena tugas mu masih banyak menanti.” Yudi sengaja tetap mempekerjakan Fi, karena ia tak ingin membiarkan gadis itu terbang bebas kemana pun, sebab ia yakin, pesona Fi yang menyandang bintang 5 akan membuat siapa saja jatuh hati.


Terlihat jelas saat mereka berjalan keluar dari bandara, semua mata tertuju pada Fi.


“Aku bolehkan mengantar mu?” tanya Yudi.


“Jangan tuan, lebih baik tuan pulang ke rumah. karena pastinya tuan sangat kelelahan.” Fi tak ingin menyusahkan tuannya lagi.


“Tidak, aku masih kuat, bahkan untuk begadang


3 hari lagu aku masih mampu.” Yudi yang masih memiliki hari libur, berkeinginan untuk menemani Fi seharian itu.


“Baiklah kalau tuan mau, tapi rumah ku kecil ya tuan.” sebenarnya Fi tak mau jika tuannya mengekor, sebab ia takut, tuannya yang kaya raya menginjakkan kaki di rumahnya yang panas dan lingkungan yang padat akan rumah penduduk.


Semoga saja rumah dalam keadaan bersih, batin Fi.


Mereka yang telah ada di lobby bandara di jemput oleh supir pribadi Yudi.


Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil, dan meluncur ke kediaman Fi Saeadat.


Setelah 3 jam dalam perjalanan, mereka sampai di halaman rumah Fi.


Mata Yudi menoleh kesana kemari, “Yang mana rumah mu?” tanya Yudi penasaran, sebab rumah yang padat bentuknya sama membuat Yudi bingung.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2