
⚠️ Bab ini akan menggangu psikologis anda, jadi harap bijak membaca, agar tak merugikan orang lain⚠️
Fi bergidik ngeri, saat itu ia merasa hidupnya akan berakhir.
“Jangan coba-coba bergerak, apa lagi lari dari tempat mu, kalau tidak, anak itu...” Asir menunjuk Emir yang di pegang oleh Dewi. “Akan jadi korbannya.”
Meski Fi sangat ingin berteriak, tapi itu akan percuma, sebab ia tinggal di rumah yang memiliki halaman luas, belum lagi, jarak dari rumah Asir ke tetangga sangat jauh.
“Tolong, bunuh saja aku, aku tak mau jika harus menjadi beban bagi orang lain, aku ikhlas, tapi hanya 1 pinta ku, kalau kau tak bisa membahagiakan darah daging mu, setidaknya berikan mereka makan yang cukup, jangan sakiti mereka, hiks...” Fi telah merelakan hidupnya berakhir saat itu.
“Mama!! Mama!! Jangan sakiti mama ku! Lepaskan mama ku! Hiks.. ” Emir terus meronta dari Dewi yang mencengkram bahunya dengan kuat.
“Sebenarnya aku juga ingin, tapi aku tak mau berbuat sejauh itu, memangnya kau sepenting apa, sehingga aku harus menghabisi nyawa mu. Fi, jujur ku katakan dari hati ku yang paling dalam, kalau aku menyesal menikah dengan mu.” setelah itu Asir menyalakan korek apinya.
Zarsss...
Meski takut, namun Fi yang tak punya semangat hidup pasrah dengan apa yang Asir lakukan.
Tuk! Asir melempar batang koreknya yang menyala ke betis Fi yang telah di basahi minyak bensin.
“Akhhh!!! Panas!! Panas!! Tolong!!!” meski telah pasrah, namun saat api membakar betisnya, tetap saja Fi Saeadat menjerit kesakitan.
“Mama!!” teriak Emir dan Andri.
Di pupil mata kedua anak tak berdosa itu tergambar si jago merah yang melahap betis ibu mereka.
“Tolong!! Hiks... Tolong!!!” Fi terus mengibas-ngibas api yang ada di betisnya dengan celana kulot panjangnya.
Meksi ia telah berkata ingin di bunuh, namun sakit yang tak sebanding dengan luapan api neraka membuat Fi sadar, bahwa ia tak boleh berkata bodoh seperti tadi lagi.
Andri yang berada di dekat mobil Asir, berlari menuju Fi yang berkobar api, Darman yang melihat hal tersebut tak sampai hati, jika majikan kecilnya akan jadi korban selanjutnya.
Darman pun keluar dari dalam mobil, lalu ia pun mengingat, bahwa ada apar di bagasi mobil.
“Dari pada hilang kemanusiaan, aku lebih memilih kehilangan pekerjaan.” Darman pun mengambil apar tersebut.
Andri yang telah di depan ibunya berniat untuk memeluk betis Fi yang masih berapi.
“Huah... jangan kesini nak... huah...” Fi melarang anaknya untuk mendekat, ia yang ingin bangkit agar menjauh dari sang buah hati malah di tahan oleh Asir, dengan cara meletakkan kaki besarnya di bahu Fi.
__ADS_1
“Diam kata ku, wanita jahanam!!” pekik Asir.
“Ampun!! Lepaskan aku, sakit!! Huah!!” Fi menangis sekencang-kencangnya.
Cissstt!!!
Darman, sang supir memadamkan Api yang ada di betis Fi.
Meski kedatangannya terlambat, namun Fi tetap bersyukur, sebab ia masih bisa melihat daging betisnya, walau kini dengan keadaan matang.
“Apa yang kau lakukan!” Asir membentak Darman.
“Menyelamatkan seorang manusia, aku tak habis pikir pada mu tuan, pada hal bu Fi adalah ibu dari anak-anak mu. Ya... meski pun kau tak menginginkan kehadiran darah daging mu ini. Mulanya ku pikir nyonya Dewi istri mu, namun nyatanya sangat miris dan memalukan, sudah mirip binatang!” pekik Darman, ia sudah tak perduli lagi akan biaya pengobatan ibunya yang harus segera di bayar.
“Berani sekalu kau menghina ku! Pada hal kau hanya seorang rendahan, sadar diri kau supir!” Dewi menghina Darman.
“Aku tak merasa rendah dengan profesi ku sekarang nyonya, tapi lihat dirimu, nyonya, merebut apa yang bukan milik nyonya, menjijikkannya, nyonya menjadi pemuas nafsu oleh suami saudari nyonya sendiri, coba bayangkan, hinaan mana, aku atau nyonya?” Darman akhirnya mengeluarkan isi hatinya yang ia tahan selama bekerja di kediaman Asir.
“Ku pecat kau sekarang juga! Aku juga takkan memberi gaji mu sialan! Lancang sekali mulut mu padaku dan Dewi.” Asir yang naik pitam mengangkat tangannya untuk memukul supirnya.
Namun Darman dengan cepat menghindari serangan Asir.
“Jangan adu otot dengan ku pak, andaikan kau tak dekat dengan polisi, sudah ku balas perbuatan mu.” Darman masih berpikir panjang, kalau harus menghajar Asir, sebab sang ibu, hanya punya dirinya seorang.
“Baik, aku akan pergi, tapi tidak sendiri!”
“Apa maksud mu?!” tanya Dewi yang ingin tahu.
“Aku akan membawa bu Fi bersama ku.” semua orang yang ada dalam halaman itu tak habis pikir dengan keinginan Darman.
“Tidak bisa!” Asir menolak keinginan Darman.
“Biarkan pak Darman membawa mama!” Emir yang sadar ibunya celaka karena dirinya, meminta agar Asir mengizinkan Darman membawa ibunya.
“Apa maksud mu?” Dewi tak mengerti dengan jalan pikiran Emir.
“Mama tak mau pisah dengan kalian nak, hiks...” Di menangis pilu.
“Tidak, mama harus pergi, karena mama hanya akan membuat hatiku terluka!” Emir menyesal dalam hatinya, telah menyuruh tantenya untuk membawa ibunya pulang ke rumah neraka itu.
__ADS_1
Aku enggak mau, mama menderita lagi, jemput aku dan Emir ma, meski itu masih lama, batin Emir.
“Kau yakin Emir??” tanya Dewi.
“Iya tante, hiks...” Emir mengangguk seraya menitihkan air matanya tanpa henti.
“Oke, mas! Biarkan supir itu membawa sampah ini keluar dari rumah kita,” ucap Dewi.
“Tapi sayang, siapa yang akan merawat anak-anak? Andrikan hanya mau dengan Fi.” ujar Asir.
“Itu gampang di atur.” Dewi yang mempunyai ide bagus, merencanakan Alisyah yang akan menjadi pengganti Fi untuk menjaga Emir dan Andri.
“Baiklah, kalau itu mau mu.” atas perintah sang kekasih hati yang berhasil membuat hidupnya dalam kegelapan, Asir mengizinkan Darman membawa Fi keluar dari rumah itu.
Fi yang tak bisa disana lagi, mengucapkan selamat tinggal untuk kedua anak-anaknya.
“Maafkan mama nak, mama bersalah karena telah gagal jadi ibu untuk kalian berdua.” ucap Fi yang masih duduk di atas tanah, sebab ia tak mampu untuk berdiri.
Emir menganggukkan kepalanya, sedang Emir hanya menangis, mengucap mama berulang kali.
”Tante, apa boleh aku cium mama untuk yang terakhir kalinya?” tanya Emir dengan wajah memelas.
Karena Dewi berpikir semua akan berakhir setelah itu, ia pun memperbolehkan Emir melakukanya.
Kemudian Emir mendatangi ibunya, dan dengan hati-hati, Emir memeluk sang ibu.
“Mama... maafkan Emir, jangan benci Emir ya, hiks...” Emir yang merasa bersalah berpikir kalau ibunya akan marah padanya.
“Hiks... mama juga Mir, mama sayang Emir dan Andri.” kemudian Fi merentangkan kedua tangannya, kemudian Emir dan Andri memeluk sang ibu, dengan menangis sesungukan.
“Sudah-sudah, lama banget sih dramanya!” Dewi menarik Emir dan Andri dari pelukan Fi, pada hal kakak dan keponakannya masih ingin mencium satu sama lain.
“Pasamg celananya, jangan sampai orang lain melihat lukanya, kalau memang kau ingin membawa wanita sampah ini!” pekik Asir.
Darman pun membantu Fi untuk memakai celana. Setelah itu, Darman yang akan menggendong Fi, tiba-tiba mengingat di hentikan oleh Dewi.
Dewi yang jahat ternyata teringat, akan cek Fi yang belum ia ambil.
“Berhenti, jangan pergi dulu.” kemudian Dewi menggeledah setiap saku baju dan celana Fi
__ADS_1
“Ah, dapat!”
...Bersambung......