
Deg deg deg! Jantung Wina berdebar dengan kencang, apa lagi ia tak dapat keluar dari kamar itu.
“Sial banget kalau sampai tertangkap basah olehnya.” Wina bingung harus keluar dengan cara apa, sebab Dewi membawa kunci kamar ke kamar mandi.
Sementara Dewi yang berada di dalam kamar mandi bersama Asir tersenyum tipis.
Pasti ada yang tak beres, sempat ku tahu siapa teman mu main gila, ku buat kau menyesal Asir! batin Dewi.
Setelah selesai mandi, Dewi dan Asir keluar bersama-sama.
Asir yang tahu kalau Wina masih berada dalam kamar berusaha untuk mengeluarkan wanita itu, agar tak kena masalah oleh Dewi.
“Mas.”
“Iya?” sahut Asir.
“Selesai pakai baju, temui ibu mu, beri pengertian padanya, kalau dia harus berlapang dada tinggal bersama kita,” ucap Dewi.
“Baiklah.” setelah Asir dan Dewi berpakaian rapi
Dewi membuka pintu kamar, lalu Asir keluar terlebih dahulu.
“Duluan saja mas, aku lupa pakai deodoran,” ucap Dewi sebagai alasan.
“Ya sudah kalau begitu.” Asir pun pergi terlebih dahulu, ia berpikir kalau Dewi tak akan mengunci pintu lagi. Baru saja Asir beranjak, Dewi pun langsung menyusul.
Retek!
Tujuan Dewi sebenarnya tidak lain untuk mengunci wanita yang bermain gila dengan Asir.
“Aku tak perduli mas, kau mau adu terong dengan siapa, yang jelas, harta harus menjadi milik ku, dan wanita simpanan mu, harus merasakan perih yang teramat sakit yang aku buat melalui dirimu.” Dewi berencana membuat si pengganggu hubungannya dengan Asir hamil.
Karena sudah pasti, Asir yang tak suka anak, akan membuang wanita tersebut.
Sesampainya di ruang tamu, Asir melihat ibunya dengan kondisi tangan teringat oleh lakban kuning, sedang mulut di bekap berlapis-lapis dengan lakban juga.
“Siapa yang melakukan ini?” meski Asir membenci ibunya, namun ia tak dapat melihat perlakuan sadis yang ibunya dapatkan.
__ADS_1
”Aku pelakunya.” sahut Dewi yang kini berdiri di sebelah Asir.
”Kenapa kau sampai segila ini Dewi?!” ucap Asir.
“Karena ibu mu, susah di ajak kerja sama, dia juga mengancam akan mengadu pada DPR dan juga presiden, kalau sampai aku dan kau menjual rumahnya mas. Memangnya ibu mu ratu Inggris yang tersesat, sehingga presiden akan turun tangan? Enggak kan? Bikin malu saja! Dan yang paling membuat aku tak habis pikir, dia mendo'akan kita masuk neraka, waras enggak sih ibu mu mas?” Dewi mempengaruhi Asir kembali.
“Benar ma?!” tanya Asir yang mulai termakan infomasi bohong.
“Um.. um...” Alisyah menggelengkan kepalanya, ia tak dapat bersuara, karena mulutnya di tutup.
”Ma, kenapa sih, mama selalu menyumpahi aku dengan kata-kata tak baik, aku ini anak mu satu-satunya ma, aku yang akan mengurus mu kalau sudah tua, jadi tolong, jangan buat kegaduhan ma, aku pusing kalau mama dan Dewi bertengkar terus.” Asir mencoba membujuk sang ibu agar menurut pada mereka.
“Lagi pula tan, rumah tante di jualkan karena ulah tante sendiri, kenapa tante melaporkan kita pada polisi, dan juga, rumah itu terlalu besar untuk di tempati orang seperti tante, bukankah sudah bagus, kalau tante menumpang di rumah kami?” perkataan Dewi sangat membuat Alisyah marah.
Bodoh kau Asir, bisa buta mata, telinga dan hati, hanya karena wanita jelek ini! batin Alisyah.
“Benar kata Dewi ma, sebaiknya mama jangan membantah apa yang ia katakan.” kemudian Asir membuka lakban yang menghalangi ibunya untuk bicara.
“Anak setan! Buka mata mu lebar-lebar Asir, kau menyukai wanita busuk seperti Dewi?! Hanya akan membuat mu hancur. Karenanya juga kau jadi tambah durhaka, takkan tentram dan berkah hidup mu karena sudah menancap luka di hati ku!” meski telah di ancam, namun Alisyah yang dendam masih berani mengeluarkan isi hatinya.
“Nah! Mas lihat sendirikan? Mama mu bebal banget loh mas!” Dewi tertawa getir.
Setelan Asir meninggalkan Alisyah dan Dewi di ruang tamu, Dewi yang merasa di atas angin pun tertawa geli.
“Xixixi Tante.. tante... meski sudah dalam neraka, tante belum minta ampun juga pada ku, tapi enggak apa-apa, karena itu tak masalah untuk ku.” Lalu Dewi berdiri dari duduknya, kemudian menjambak rambut Alisyah yang telah berantakan.
“Lepaskan aku!” teriak Alisyah.
“Diam dong tan, nanti orang lain pikir aku menyiksa tante loh!” selanjutnya Dewi menuntun Alisyah menuju kamar keponakannya.
Ceklek!
Kriettt!!
Setelah pintu terbuka, Dewi melihat keponakannya yang sedang bermain mobil-mobilan di lantai.
“Nih! Tante bawa kado untuk kalian!” Dewi mendorong tubuh Alisyah ke dalam kamar.
__ADS_1
“Nenek!!” Emir berdiri dari duduknya, kemudian memeluk Alisyah.
”Hum... pasti senang banget ya Mir, bisa berkumpul bersama nenek mu, ya sudah kalau begitu, tante keluar dulu ya. Oh ya tante... jangan berharap kabur dari sini, karena aku sudah bilang pada seluruh Art dan satpam yang berjaga untuk tak mengizinkan tante keluar rumah, dan 1 lagi, tolong rawat cucu-cucu mu dengan benar, lagi pula, seorang nenek tugasnya memang menjaga cucukan?Sudah ya! Aku pergi dulu, ingat, kalau tante belum bisa berdamai dengan keadaan, jangan harap bisa keluar dari kamar ini.”
Bam!
Dewi membanting pintu dengan keras. Alisyah yang menderita menangis sejadi-jadinya.
Lalu Emir memgencangkan pelukannya pada sang nenek. “Nenek jangan nakal ya, nanti tante bisa bakar kaki nenek loh, sama seperti mama.” Emir mengatakan apa yang terjadi pada ibunya satu bulan yang lalu.
Lalu Alisyah pun duduk di lantai karena lelah. “Apa mama mu pernah mengunjungi kalian?” tanya Alisyah.
“Sudah enggak nek, karena enggk boleh sama mama dan tante Dewi.” kemudian Emir menyeka air mata neneknya dengan tangannya yang bau asam karena tak mandi seharian.
”Nenek, kalau mau di sayang tante, jangan melawan, kalau nenek terus buat tante marah nanti nenek di kurung dan enggak di kasih makan,” Emir memberitahu Alisyah peraturan yang Dewi buat.
“Apa kalian sering tak di kasih makan?” Alisyah curiga jika kedua cucunya selalu di perlakukan kasar.
“Dulu iya nek, sekarang enggak kok, karena aku dan Andri selalu nurut sama tante.” penjelasan dari Emir membuat Alisyah seakan mau gila.
Aku harus membalas perbuatan wanita itu! batin Alisyah.
_______________________________________
Fi yang duduk di atas kasur lantainya, menatap kedua photo anaknya.
“Apa kabar nak? Mama rindu.” Fi mengelus layar handphonenya.
“Apa aku boleh meminjam uang pada tuan ya? Gantinya aku akan mengabdi padanya seumur hidup. Rasanya aku tak sabar menunggu 5 tahun lagi, tapi... apa uang 400 atau 500 juta ku masih berharga ya di mata pengacara itu? Karenakan tambah tahun mata uang juga berkurang nilainya.” Fi menelan salivanya.
Fi yang lelah pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba ia kembali teringat masa-masa saat bersama anak-anaknya.
Tes!
Tanpa terasa, air matanya menetes, tubuhnya gemetar, Fi pun membekap mulutnya, agar orang lain tak mendengar isak tangisnya.
Tak lama anggukan tangisnya semakin kencang, sebab air susunya keluar. Yang artinya, putra bungsunya sedang kehausan.
__ADS_1
“Andri... nak... semoga kau dan abang mu baik-baik saja, tunggu mama ya nak, hiks...”
...Bersambung......