
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Dewi sampai ke tujuan.
Suasana perkampungan yang sepi, minim rumah dan juga pepohonan terdapat dimana-mana membuat Dewi sedikit takut
Ia pun tak berani keluar dari mobilnya. “Tunggu Clara saja ah.” sebab rumah dukun yang terbuat dari anyaman bambu menambah kesan ngeri di mata Dewi.
“Awas saja kalau sampai si Clara tak datang.” lalu Dewi mencoba mendial nomor Temannya.
“Sial! Enggak ada sinyal lagi!” ingin rasa Dewi membanting handphonenya.
”Apa aku pulang saja? Tapi kalau aku pergi, aku akan rugi, selain sudah jauh-jauh datang kemari, aku juga masih harus membawa janin ini dalam perut ku.” Dewi ragu harus memutuskan apa, yang membuat ia enggan untuk pergi, karena biaya untuk pengguguran disana sangatlah murah.
Di tengah di lemanya, tiba-tiba ada yang menklakson mobilnya.
Titin!
Sontak Dewi melihat ke belakangnya. “Syukurlah, dia sudah datang.” ketakutan Dewi pun tertebas saat itu juga.
Kini ia berani membuka pintu mobilnya. “Lama sekali kau datang!” Dewi menunjukkan kekesalannya, karena Clara yang telah membuatnya menunggu lama.
“Kau sendiri kenapa tak masuk? Pada hal nyai telah menunggu mu dari tadi,” ujar Clara.
Bam!
*****! Setelah mengunci pintu mobilnya, Clara dan Dewi sama-sama menuju rumah sang dukun.
“Ampuhkah padanya?” tanya Dewi sedikit ragu
“Aman...” jawab Clara.
Tok tok tok! Clara mengetuk pintu rumah yang terbuat dari triplek tersebut.
Krieett ... dengan cepat seorang wanita tua penuh uban membuka pintu.
“Ya Tuhan!” sontak Dewi memegang dadanya karena terkejut akan sosok si nenek yang begitu mengejutkannya.
“Dasar anak muda zaman sekarang, enggak ada sopan-sopannya!” sang dukun merasa tersinggung dengan sikap Dewi.
“Cepat minta maaf,” bisik Clara.
Dewi yang pantang di bawah, kali itu mengikuti saran dari temannya.
“Maafkan saya nek, saya tidak ada maksud untuk menyakiti hati nenek.” Dewi menjabat tangan sang dukun yang telah keriput.
“Baiklah, ku maafkan, tapi jangan panggil aku nenek, kau bisa bilang nyai kan?” ucap sang dukun.
“Bisa nyai.” aura sang dukun yang begitu mencekam membuat seorang Dewi jadi tunduk.
Pasti ilmunya kuat nih, enggak salah lagi, batin Dewi.
“Ayo! Kita masuk ke dalam, tak baik berdiri lama-lama di pintu,” ujar sang dukun.
“Baik nyai,” jawab keduanya.
Kemudian Dewi dan Clara mengikuti langkah sang dukun menuju ke dalam rumah yang memiliki lantai tanah liat.
__ADS_1
Sial! Kenapa aku harus menginjak lantai begini lagi sih?! batin Dewi.
Ia merasa risih, saat telapak kakinya menyentuh tanah yang begitu dingin.
“Silahkan duduk.” sang dukun mempersilahkan Clara dan Dewi untuk duduk di atas tikar pandan yang bau akan bawang putih dan merah.
Seketika Dewi merasa sesak saat bau rempah-rempah nikmat itu menyelusup di hidungnya.
“Hoek!” sontak ia merasa ingin mual.
”Heh! Jangan kotori rumah ku dengan isi perut mu!” pekik sang dukun.
“Maaf nyai.” Dewi di buat tak berkutik oleh dukun tersebut.
“Siapa nama mu?” tanya sang dukun.
“Dewi nyai.” Dewi pun mengulurkan tangannya.
“Panggil saya, nyai Larasati.” Larasati menerima jabatan tangan Dewi.
“Baik nyai.”
“Apa tujuan mu kemari?” tanya Larasati meski ia telah tahu.
“Saya ingin menggugurkan kandungan saya nyai,” Dewi pun mengutarakan maksudnya.
“Sudah berapa bulan?” tanya Larasati.
“Mungkin baru 7 minggu nyai, karena bulan kemarin saya tidak datang bulan,” terang Dewi.
“Kasihan kamu nak, punya ibu kurang ajar, dan ayah tak bertanggung jawab.” meski Larasati dukun aborsi, namun ia selalu merasa bersalah, saat akan menghancurkan bayi-bayi tak berdosa yang di bawa pasangan tak punya hati padanya.
Sebenarnya Dewi merasa geram dan tersinggung atas kata-kata kasar Larasati. Namun apa boleh buat, Larasati bukanlah Alisyah atau pun Fi, yang dapat ia aniaya.
“Apa kau yakin akan menggugurkannya? Karena ku lihat, anak ini akan membawa keberuntungan pada mu.” Larasati menjelaskan penglihatannya.
“Tidak, aku tidak mau, aku tak ingin anak ini.” Dewi tegas tak ingin calon bayinya terlahir ke dunia.
“Tapi kalau kau melakukannya, akan jadi awal malapetaka untuk mu, tapi terserah kau saja sih,” ucap Larasati.
“Justru kalau dia ada, itu akan menjadi keruntuhan besar dalam hidup ku.” Dewi kekeh tak ingin kehadiran bayinya.
“Baiklah.” karena Dewi tetap ingin. Larasati pun mengambil ramuan yang terbungkus rapi dalam kain putih.
Sial! Seram banget sih mainnya! batin Dewi.
Setalah itu Larasati menaruh ramuan yang telah di tumbuk halus ke dalam gelas yang telah di campur air.
Setelah itu, Larasati mengocoknya hingga menyatu dengan air.
“Minumlah.” Larasati memberi gelas obat itu pada Dewi
Meski jijik, Namun Dewi tak ada pilihan lain, ia pun dengan terpaksa meminum racikan obat yang di beri oleh Larasati.
Gluk gluk!
__ADS_1
Dewi hampir muntah, saat obat pembunuh tersebut masuk ke tenggorokannya.
“Harus habis, jangan buang sedikit pun!” titah Larasati.
Setelah selesai menghabiskan obat yang di beri Larasati, wajah Dewi menjadi pucat.
Kemudian Larasati memberi 1 tablet pil pada Dewi.
“Minum ini.”
Dewi pun menuruti apa yang di katakan Larasati. Ia pun meminum pil yang ia sendiri tak tahu kegunaannya.
“Silahkan rebahan di atas tikar, tapi buka dulu baju mu.” ucap Larasati seraya memberi Dewi kain yang sudah pudar warnanya.
Dewi sempat meragu, saat ia melihat ke arah Clara. Clara pun menganggukkan kepalanya.
Ya sudahlah, lagi pula sudah terlanjur, batin Dewi.
Kemudian Dewi tidur telentang di atas tikar yang ia duduki. Selanjutnya Larasati mulai mengurut perut Dewi yang sedang hamil muda.
“Aduh, pelan-pelan nyai, sakit.” Dewi meringis kesakitan.
“Ini belum ada apa-apanya, nanti setelah pil dan ramuan itu bereaksi, kau akan merasa pinggang mu seolah akan patah, perut mu akan berguncang, berdo'a saja kau tak menyusul anak mu.” kata-lata menohok dari Larasati membuat Dewi menelan salivanya.
Dukun sialan! Tak bisakah dia berkata lebih lembut? batin Dewi.
Setelah itu Larasati makin mengencangkan urutannya di area peranakan Dewi.
“Akhh!! Sakit!! Sakit sekali nyai!!!” Dewi pun berteriak karena tak tahan. Perutnya seperti berputar-putar. Terasa nyeri dan melilit.
Clara yang ada di sebelahnya hanya mengelus puncak kepala Dewi. Karena ia sendiri sudah pernah merasakan sentuhan nyai Larasati 3 bulan yang lalu.
Setelah 1 jam meraung-raung dalam kesakitan, acara pengurutan pun selesai.
“Pulanglah, nanti malam janin mu yang sedang proses penghancuran akan keluar,” ucap Larasati.
Dewi pun duduk seraya memakai kembali bajunya, ia pun menyeka air matanya yang keluar.
Setelah Dewi telah rapi, ia pun memberi amplop pada sang dukun.
“Terimakasih banyak nyai, semoga pengobatan ini berjalan dengan lancar.” Dewi menjabat tangan Larasati.
“Aamiin.”
Setelah itu Dewi dan Clara keluar dari rumah Larasati
“Kau beri berapa?” tanya Clara yang ingin tahu.
“500 ribu,” jawab Dewi.
“Pelit banget kau!” Clara tertawa getir.
“Untuk apa memberi banyak pada pembunuh.” ucap Dewi.
...Bersambung......
__ADS_1