Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
32 (Melamar Kerja)


__ADS_3

Tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak dengan kencang. Asir pergi tanpa menyentuh dirinya sama sekali.


Seketika hatinya jadi sunyi, ia pun jadi curiga, jika sang kekasih telah memiliki yang lain.


Wanita mana yang berani membuat mu berubah mas? batin Dewi.


Ia sungguh tak terima jika dirinya tergantikan. “Aku belum mendapat apapun yang ku mau, aku harus kuat dan bertahan.” Dewi menegarkan hatinya, selanjutnya ia bersiap menuju rumah sakit.


_________________________________________


Fi yang telah sembuh kini bisa berjalan dengan normal, meski betisnya penuh bekas luka dan juga korengan.


Ia yang tak secantik dulu tetap bersyukur dengan keadaan yang ia dapatkan saat ini.


Bisa menghirup udara segar, itu sudah membuat ku bahagia, batin Fi.


Fi yang ingin meringankan beban sang ibu, berniat untuk mencari kerja.


Ia pun berangkat ke daerah pusat kota, sesampainya Fi di tujuan, ia berkeliling di sekitar ruko yang berjejer rapi.


“Apa ini?” mata Fi tak sengaja melihat selebaran brosur lowongan kerja yang di tempel di dinding ruko yang belum buka.


“Lumayan juga gajinya, perbulan 10 juta rupiah hanya untuk bersih-bersih rumah?” Fi sangat tertarik dengan info lowongan kerja yang ia lihat.


Karena ia juga memenuhi persyaratan yang di buat si pembuat loker.


Fi yang ingin segera bekerja tak membuang waktunya lagi, ia pun segera menuju alamat yang di terakan.


Setalah 2 jam dalam perjalanan, Fi sampai di tujuan.


“Enggak salah nih?” matanya membelalak sempurna, sebab rumah yang akan ia lamar kerja begitu megah dan mewah bagai istana.


“Apa aku harus pulang?” hati Fi menjadi bimbang, karena ia yang ingin melamar kerja datang dengan baju lusuh dan celana yang telah pudar warnanya.


“Tapi aku sangat butuh pekerjaan, mungkin ini rejeki ku, lagi pula melamar kerja jadi karyawan toko atau kantoran, aku pasti tak di terima.” Fi sangat tahu diri akan kondisi tubuhnya yang tak good looking.


“Andaikan di terima di tempat lain, pasti lebih besar disini gajinya, lagi pula untuk ku yang buruk rupa dan pincang, cocoknya hanya pekerjaan rumah.” Fi menanam kepercayaan diri dalam hatinya untuk masuk ke dalam rumah besar itu.


Dalam hati seorang Fi sangat ingin memberi ibunya makanan enak. Fi juga ingin menabung, agar dapat membayar pengacara hebat, yang bisa memberi hak asuh atas anak-anaknya kepadanya suatu saat.


“10 juta sebulan, kalau kali 12 jadi 120 juta, aku kerja 5 tahun saja, ku rasa sudah bisa menyewa jasa pengacara yang wara-wiri di tv itu.” setelah memantapkan hati, akhirnya Fi menuju rumah besar yang kini ada di hadapannya.


Ia yang masih di depan gerbang melihat salah satu Art dengan memakai seragam kerja, wajah Art muda tersebut begitu cantik mempesona.


“Luar biasa.” kemudian ia melihat satpam keluar dari pos jaga, itu juga tak kalah tampan dari Asir.


Seketika Fi menelan salivanya, level keberaniannya kembali ciut.

__ADS_1


“Ini sudah enggak benar, sebaiknya aku jadi buruh saja.” Fi yang akan balik kanan di kagetkan oleh klakson mobil seharga 20 milyar.


Tin tin!


Bruk!!


Fi terjatuh lemas karena syok, lalu si pemilik mobil yang akan masuk menuju rumah besar itu turun dari mobilnya.


“Maaf, aku tak melihat mu di depan ku, apa kau baik-baik saja?” Yudi mengulurkan tangannya pada Fi yang menundukkan kepalanya.


Fi melirik tangan seseorang yang mengajaknya bicara.


Bersih, batin Fi.


Kemudian Fi yang merasa kotor dan tak pantas menerima uluran tangan itu.


Ia pun memilih untuk berdiri sendiri, “Saya yang salah pak, mohon maaf.”


Fi yang masih menunduk mengingatkan Yudi pada seseorang yang pernah ia temui.


“Bu Fi?” tanya Yudi dengan hati-hati.


Kemudian Fi mengangkat kepalanya. “Pak Yudi,” Fi tersenyum canggung. Ia tak menyangka akan bertemu pria baik itu lagi.


Sedang Yudi merasa heran, karena Fi masih sama seperti yang dulu.


“Jadi ini rumah bapak?” tanya Fi dengan sopan.


“Iya betul, apa ibu kemari untuk melamar kerja?”


“Betul pak,” sahut Fi.


Yudi yang melihat gerbang telah terbuka ingin segera masuk mobil.


“Ayo bu.” Yudi mengajak Fi untuk ikut ke dalam mobilnya.


Fi yang tak ingin menarik perhatian siapapun menolak kebaik hatian Yudi.


“Terimakasih banyak pak, saya jalan kaki saja,” ucap Fi.


“Enggak apa-apa bu, biar lebih cepat nanti saya interview langsung,” Yudi tetap memaksa, meski Fi menolak.


“Tidak pak, saya bisa jalan sendiri.” Fi yang tak ingin menjadi musuh siapapun memilih berjalan kaki menuju pintu utama Yudi.


Fi yang berjalan pincang di lihat langsung langsung oleh Yudi.


“Kasihan ibu itu, pasti beban hidupnya berat.” Yudi pun kembali masuk ke dalam mobilnya, kemudian meluncur menuju rumahnya.

__ADS_1


Yudi yang sampai terlebih dahulu dari Fi, duduk di atas sofa.


Setelah 10 menunggu, akhirnya Fi datang dengan bercucuran keringat.


“Maaf menunggu lama pak.” Fi menyeka keringat yang mengalir di keningnya dengan tangan bajunya.


Yudi yang mudah tersentuh dan iba, menjadi kasihan pada Fi.


Sesusah apa sih hidupnya? batin Yudi.


“Silahkan duduk bu.” Yudi menyuruh Fi untuk duduk di hadapannya.


Karena tak ada tisu di atas meja, Yudi yang merasa janggal dengan keringat Fi yang masih mengucur terpaksa memberi sapu tangan miliknya pada Fi.


“Pakailah bu.” Yudi menyodorkan sapu tangan berwarna Lilacnya pada Fi.


“Tidak usah pak.” Fi yang serba tak enak jik kembali menolak.


“Keringat ibu yang selalu mengalir, sangat tak enak di pandang mata.”


Kritik yang Yudi berikan membuat Fi jadi takut, kalau tak akan di terima kerja.


“Terimakasih banyak pak.” Fi yang tak ingin mengecewakan calon majikannya pun terpaksa menerima sapu tangan tersebut dengan tersenyum ramah.


Kemudian Fi menyeka setiap keringatnya hingga kering. Setelah itu ia pun memperkenalkan diri secara resmi pada Yudi.


“Selamat siang pak, perkenalkan nama saya Fi Saeadat, usia 25 tahun.” mendengar usia Fi yang masih muda, membuat Yudi tak percaya, sebab wajah buruk Fi yang sekarang membuatnya nampak jauh lebih tua dari usianya.


“Saya lulusan dari SMA Panca Negara, pengalaman kerja terakhir, saya pernah menjadi pelayan di sebuah restoran.”


Penuturan dari Fi membuat Yudi tercengang, sebab ia ingat betul, Fi sebulan yang lalu berprofesi sebagai pengasuh anak kliennya.


“Berapa lama ibu bekerja di restoran?” tanya Yudi memastikan.


”Hampir 2 tahun pak,” jawab Fi dengan wajah yang menyakinkan.


“Apa? Bukankah sebulan yang lalu ibu bekerja di rumah pak Asir?” ucap Yudi.


Fi yang tak bisa mengingat masa-masa sulitnya itu mencoba menahan air matanya.


“Itu, anak-anak ku pak.” pernyataan Fi membuat Yudi tak habis pikir. Pasalnya Asir di matanya adalah seorang yang jujur.


“Ibu jangan berbohong, pak Asir sendiri telah mengatakan, kalau ibu hanya pengasuh, dan saya masih ingat itu.”


“Terserah bapak mau percaya atau tidak.” Fi tak ingin berdebat dengan calon majikannya. Sebab ia sangat butuh pekerjaan.


Yang benar saja, orang seperti pak Asir mau menikahi wanita ini, batin Yudi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2