Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
121 (Fitting Baju Pengantin)


__ADS_3

Fi yang mendengar pengakuan adiknya merasa sedih, sebab karena harta, mantan suaminya, ayah kandung dari anak-anaknya sampai hati berbuat kekerasan padanya dan juga kedua buah hatinya.


Kalau itu alasannya, harusnya kau katakan pada ku Asir, aku pasti menyerahkan segalanya pada mu, batin Fi.


“Dewi, kau tak perlu memikirkan apapun, semua sudah terjadi, pikirkan kesehatan mu,” ucap Fi.


Sebab ia lihat, ranjang yang di pakai adiknya terdapat tetasan darah yang merembes dari Pampers yang Dewi pakai.


“Kak, maaf kan aku kak, jangan ada dendam mu pada ku.” Dewi yang merasa umurnya sudah tak lama menggenggam tangan kakaknya seraya menangis pilu.


“Iya Wi, kakak sudah memaafkan mu, kakak sudah ikhlas dengan semuanya.” Fi sungguh kasihan dengan kondisi adiknya yang kritis.


Setelah itu Dewi menggenggam tangan ibu sambungnya.


“Ibu, maafkan aku, aku selalu menyakiti hati ibu, hiks... aku durhaka pada ibu, aku sangat takut akan siksa kubur nanti, tolong maafkan aku ibu.” Dewi mencium tangan Yuri berulang kali.


“Iya nak, ibu sudah memaafkan mu, kau adalah anak ibu, ibu yang salah karena tak bisa mendidik mu selama ini.” Yuri memeluk putrinya.


Dewi yang terlalu banyak pikiran dan takut akan maut yang akan menjemputnya, menjadikan ia makin pendarahan hebat. Ia yang tertekan membuat tensinya pun naik.


Fi yang melihat tensi adiknya mencapai 200 pun menjadi khawatir.


Ia pun segera keluar dari ruangan Dewi untuk mencari dokter.


Setelah sampai di loket pendaftaran Fi meminta tolong pada administrasi untuk mengirim dokter ke ruangan adiknya.


“Adik saya kritis, tensinya juga tinggi, tolong hubungi dokter.” Fi menjadi takut, jika adiknya kenapa-napa.


”Baik bu.” sang administrasi pun menghubungi salah satu dokter. “Ibu silahkan ke ruangan pasien langsung, nanti dokter akan menyusul.” ucap sang administrasi.


Setelah itu Fi pun menuju ruangan Dewi kembali.


Krieett!!


Saat ia membuka pintu, ia pun melihat, Yuri mengangguk histeris.


”Dewi!!! Nak!! Bangun nak!! Hiks!!”


Fi yang mengerti apa yang terjadi ikut menangis.


“Ibu... Dewi...” Fi memeluk ibunya dengan erat, meski adiknya jahat, namun Fi tetap merasa sedih, sebab seluruh keluarga kandungnya telah tiada.


“Dewi meninggal Fi, tadi Dewi kejang-kejang Fi, hiks...” tangis Yuri pecah, meski bukan anak biologisnya, namun ia sudah menganggap Dewi sebagai anak kandungnya.


Dewi yang telah tiada di bawa ke rumah Fi. Yudi yang melihat kesedihan di Fi istrinya dapat menyimpulkan kalau calon istrinya adalah seorang yang penyabar dan tidak pendendam.

__ADS_1


Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan mu, kau takkan ku lepas apapun yang terjadi, batin Yudi.


2 hari kemudian Fi merasa heran, sebab calon suaminya tak kunjung menjemputnya untuk fitting baju pengantin.


“Kata abang hari ini, kok belum datang juga sih?” Fi yang sudah menunggu dari pagi pun menjadi tak sabar. Kemudian ia pun mendial nomor calon suaminya.


Halo, abang dimana? 📲 Fi.


Di rumah dik, ada apa menelepon? 📲 Yudi.


Kok ada apa sih bang? Bukannya hari ini kita mau fitting baju pengantin? Abang lupa atau gimana? 📲 Fi.


Memangnya kita sudah bisa keluar rumah hari ini? 📲 Yudi.


Yudi berpikir, tak pantas jika ia meminta Fi pergi kemana-mana, sebab Fi masih keadaan berkabung.


Memangnya ada apa bang? Ya bisalah, abang cepat kesini, jemput adik. 📲 Fi.


Siap sayang! 📲 Yudi.


Yudi yang mendapat titah dari sang calon istri pun langsung bergegas tanpa mandi, agar bau tubuhnya yang harum makin harum, Yudi menyemprotkan parfum mahalnya ke segera tempat.


Sit sit sit!!!


Setelah merasa wangi, Yudi pun langsung ke garasi, kemudian tancap gas menuju rumah Fi.


Cit!!!!


Setelah sampai di rumah Fi, ia pun melihat sang pujaan hati dengan style rambut di kuncir make up tipis, pakai lipstik warna merah bata.


Mungkin kalau orang lain yang pakai warna lipstik seperti itu pasti aneh, beda hal dengan sayang ku, batin Yudi.


Setelah itu, Yudi membuka kaca mobilnya. “Masuk Ay, nanti kita terlambat!” Yudi mengedipkan mata kanannya pada Fi.


Fi yang mendapat perlakuan genit dari suaminya tertawa, sebab Yudi yang sudah uzur di matanya, malah bersikap seperti anak baru gede.


Bam!


Fi yang sudah duduk di sebelah Yudi pun mulai bertanya.


“Tadi abang panggil aku Ay, itu maksudnya apa bang?” Fi yang gagal teknologi tak tahu hal viral saat itu.


“Itu panggilan yang lagi hits di kalangan anak muda, di dunia internet. Ay itu ayang yang artinya sayang,” terang Yudi.


“Hahaha... malu bang, kita sudah tua, enggak layak banget manggil gituan,” ucap Fi.

__ADS_1


“Siapa bilang, aku masih merasa muda.” ucap Yudi seraya menyalakan mesin mobilnya, kemudian Yudi tancap gas, meluncur membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.


“Maaf ya, aku bukan lupa, aku hanya takut kalau kau marah atau pun tersinggung, aku mengajak mu pergi, pada hal adik mu baru 2 hari meninggal dunia,” terang Yudi.


“Iya bang, aku mengerti, aku enggak marah pada mu kok.” Fi tersenyum pada calon suami yang begitu pengertian.


Setalah menempuh perjalanan selama 30 menit. Mereka pun tiba di tujuan.


Yaitu toko khusus baju pengantin. Keduanya pun turun dari dalam mobil.


Fi yang melihat banyak gaun indah yang di pajang mengarah jalan merasa senang.


“Bagus-bagus ya bang.” Fi tertawa ceria.


“Iya, nanti kau pilih saja yang mana mau mu, jangan pikirkan harga.” kemudian Yudi dan Fi pun masuk ke dalam toko.


“Selamat siang pak Yudi.” sapa sang pegawai toko yang telah mengenal Yudi.


“Siang juga tunjukkan baju yang paling terbaik di toko ini.” ucap Yudi, sebab ia ingin semua terlihat sempurna dari segi dekorasi konsumsi dan juga gaun dan baju yang mereka kenakan.


“Baik pak.” kemudian Yudi dan Fi pun di bawa ke sebuah ruangan yang isinya gaun-gaun indah dan elegan, tentunya dengan harga yang fantastis.


“Ini pak.” sang pegawai pun menunjukkan gaun-gaun yang produksinya limited edition.


“Aku mau ini.” Fi memilih gaun yang menurut matanya sangat indah.


“Baik bu, silahkan di coba.” sang pegawai pun membantu melepas gaun dari manekin selanjutnya membantu Fi untuk memakainya di ruang ganti.


Setelah pemasangan baju selesai, Fi pun keluar dari ruang ganti dan menunjukkannya pada Yudi.


“Ya Tuhan, cantik banget calon istri ku.” Yudi memuji Fi yang cantik di balut gaun indah.



“Bagaimana bang?” tanya Fi dengan malu-malu.


“Semourna, bungkus yang itu.” titah Yudi pada sang pegawai.


Atas permintaan dari Yudi, sang pegawai toko pun membungkus gaun indah pilihan Fi.


Selanjutnya Yudi pun mencoba bajunya ke ruang ganti.


5 menit kemudian ia pun keluar, Fi yang melihat calon suaminya mengenakan jas pengantin merasa kagum.


__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2