Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
68 (Cuci Otak)


__ADS_3

Yudi yang tak punya alasan lagi untuk tinggal di negara itu memutuskan untuk pulang ke Indonesia.


Sesampainya Yudi, pria tampan itu pun langsung mengurus perceraian mereka.


🏵️


2 minggu kemudian Clara yang telah pulang ke Indonesia melihat pesan masuk dari Dewi. Ia pun langsung menelepon temannya tersebut.


Halo Wi, ada apa?📲 Clara.


Halo, ku pikir kau sudah mati, 2 minggu lebih aku menunggu balasan mu. 📲 Dewi.


Ya maaf, handphone hilang waktu di Paris, Ini baru ku urus kartu sim hanphone ku yang lama. 📲 Clara.


Oh, jadi begitu ceritanya. 📲 Dewi.


Iya, tapi... kenapa kau menghubungi ku, ada perlu apa? 📲 Clara.


Kita bertemu saja, lebih enak bicara langsung soaknya. 📲 Dewi.


Oke, dimana? 📲 Clara.


Jemput aku ke jalan Bunga Raya nomor 09. 📲 Dewi.


Hum?? Bukankah itu rumah lama mu? Kenapa kau ada disana? 📲 Clara.


Panjang ceritanya, kalau aku bilang di telepon pasti kuota ku akan habis, sebaiknya kau cepat datang, 📲 Dewi.


Baiklah kalau begitu. tunggu ya. 📲 Clara.


Setelah sambungan telepon terputus, Clara segera menuju rumah Yuri.


Sesampainya Clara, ternyata Dewi sudah menunggu di depan rumah.


“Ayo masuk!” ujar Clara.


Kemudian Dewi masuk ke dalam mobil dan pergi tanpa berpamitan pada Yuri. Ia meninggalkan rumah begitu saja tanpa menguncinya. Selanjutnya Clara melajukan mobilnya.


“Mau bicara apa sih Wi? Penting banget ya?” tanya Clara dengan rasa penasaran penuh.

__ADS_1


“Aku sudah di putuskan oleh Asir.” uangkao Dewi dengan wajah masam.


“Apa ku bilang, harusnya dari kemarin kau dekat dengan om Bram. Sekarang lihat dirimu, dekil, baju yang kau pakai sepertinya punya ibu tiri mu, benarkan?” Clara geleng-geleng kepala.


“Sudahlah, kau jangan banyak dakwah, kalau kau memang teman ku, urus pertemuan ku dengan kakek tua itu.” kini Dewi hanya bisa bersandar pada lelaki tua kenalan Clara.


“Baiklah, nanti ku kasih tahu om Toni,. sekarang kau mau kemana?” tanya Clara.


“Ke apartemen mu, tolonglah biar aku menginap beberapa hari.” Dewi yang tak betah tinggal di rumah minimalisnya ingin menetap sementara di apartemen Clara yang mewah dan sejuk.


“Baiklah.”


🏵️


Pagi itu meja makan keluarga Asir nampak berbeda, sebab Wina dan Asir di temani sarapan oleh Alisyah, Emir dan Andri.


“Kenapa kita harus makan bersama mereka sih?!” wajah Asir nampak malas saat berhadapan dengan ibu dan anak-anaknya.


“Enggak apa-apa mas, lagi pula lebih ramai lebih ceria,” ujar Wina.


Ia yang selalu pencitraan mencoba menyatukan ibu dan anak yang telah tercerai berai oleh Dewi.


“Namanya juga lagi pilek mas, ya wajarlah.” Wina tersenyum hangat pada kekasihnya.


Alisyah yang juga ada disana hanya menyantap nasinya tanpa memperdulikan apa yang di katakan anaknya yang tak menganggap ia ada.


“Kalau begini terus, aku lebih baik makan di luar, merekakan bisa makan setelah kita berdua selesai.” Asir yang kenyang karena kesal bangkuit dari duduknya.


“Aku mau ke ruang kerja ku, setelah kau selesai sarapan, datanglah kesana.” kemudian Asir meninggalkan ruang makan yang membuat ia mual.


“Yang benar saja, aku harus melihat wajah anak-anak itu setiap pagi.” gumam Asir.


Wina yang masih berada di ruang makan tersenyum pada Alisyah.


”Mama jangan ambil hati perkataan mas Asir ya, aku yakin, perlahan-lahan mas Asir akan berubah.” Wina yang baru mengenal kekasihnya berpikir, jika ia mampu mengubah watak Asir ke arah yang lebih baik.


“Iya, terimakasih sudah mencoba menyatukan kami kembali, aku pasti sangat berhutang budi pada mu,” Alisyah tersenyum meski ia tak ingin.


Setelah sarapan pagi selesai, Alisyah yang ingin membawa kedua cucunya bermain di cegah oleh Wina.

__ADS_1


”Mana tak perlu repot mengurus mereka, biar aku saja yang menemani anak-anak hari ini, bagaimana pun aku harus belajar menjadi ibu pengganti untuk mereka.” kepercayaan diri Wina membuat Alisyah ingin muntah.


“Tidak perlu, kaukan harus menjumpai Asir, urus dia dulu.” Alisyah yang tahu Wina sama busuknya dengan Dewi, tak mau jika cucunya di urus oleh orang jahat seperti mereka.


“Mama jangan gitu dong, percaya pada ku, aku akan mengurus mereka, lagi pula Andri lagi tak sehat, aku juga mau kasih obat.” tanpa mendapat izin dari Alisyah, Wina langusung menggendong Andri dan menuntun tangan Emir menuju kamar.


Alisyah yang baru sehat tak banyak tenaga kalau harus berdebat dengan Wina. alhasil ia membiarkan cucunya di bawa oleh kekasih anaknya.


Sesampainya di kamar, Wina melempar tubuh Andri ke ranjang.


Bruk!


“Ehm... bikin susah saja deh! Harusnya kalian kembali ke ibu kalian! Kalian berdua tak layak ada di rumah ini!” Wina menjewer telinga Emir yang ada di sebelahnya.


“Aduh! Sakit bi...” Emir meringis kesakitan.


“Enak saja kau panggil aku bibi! Aku ini calon istri ayah kalian, panggil aku tante! Kalau sampai salah sebut, ku cabut gigi mu satu persatu!” Wina mengancam Emir dan Andri.


Dua anak kecil yang tak punya kekuatan itu pun menjadi sangat takut. Meski ingin menangis, mereka menahannya, sebab jika air mata mereka keluar, hukuman yang mereka dapatkan akan lebih berat.


“Iya tante, Emir ngerti,” ucap Emir.


“Sekarang kau jaga adik mu, jangan ada yang keluar, kau tahukan? Papa mu tak suka pada mu dan adik mu? Mama mu si jelek itu juga begitu, buktinya dia pergi, dan sampai sekarang belum kembali. Kalau aku jadi kau! Akan ku ambil pisau dan ku sayat tangan ku!” Wina mempraktekkan dengan telunjuknya yang menggores di bagian nadinya.


“Karena seumuran kalian, belum ada dosanya, hidup di surga lebih indah dari pada di dunia ini, benar tidak?” Wina mempengaruhi Andri.


“Kau tahukan, papa mu jahat, dia membakar ibu mu, ibu mu juga kejam, hanya karena dia di pukul papa mu, dia langsung meninggalkan kalian, aduh Emir... sedih banget sih jadi kau! Mati saja, itu lebih baik, karena kalau kau sudah mati, kau bisa melayang kesana kemari, seperti terbang, kau tahu burung kan? Dia bisa kemana pun yang ia mau, kau juga begitu, akan mudah bagi mu menjumpai ibu mu, dan jalan-jalan serta bermain tanpa ada yang melarang.”


Wina mencoba mencuci otak Emir, ia terus saja mengatakan penderitaan serta kesenangan yang akan Emir dapatkan jika masih dunia ini.


“Tante,” ucap Emir.


“Iya?” sahut Wina.


“Kalau mati membuat orang bahagia, kenapa sampai sekarang tante masih hidup?” pertanyaan Emir membuat Wina menelan salivanya.


“Itu karena banyak orang yang menyayangi ku, sedangkan kau? Selain derita, tak ada hal baik yang kau dapatkan? Kalau kau tetap hidup, nasib mu takkan berubah, sebaiknya kau mati saja!” Wina sungguh berharap dapat menyingkirkan dua anak Asir tanpa mengotori tangannya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2