
Meski canggung namun Fi harus menghadap pada majikannya.
“Saya tadi buang sampah tuan.” ucap Fi yang kini berdiri di hadapan Yudi.
“Oh, apa hari kau merasa lelah?” pertanyaan personal yang Yudi ajukan semakin membuat Fi tak nyaman.
“Tidak tuan.” rasanya Fi ingin cepat-cepat pergi dari hadapan majikannya.
“Oh, berarti kau masih bisa menemani ku mengobrol disini sebentar, bagaimana Fi?”
Ya ampun, harusnya tadi ku katakan, cape banget, batin Fi.
“Gimana ya tuan, itu...” Fi bingung harus bicara apa pada majikannya.
“Andri sudah tidurkan?” tebakan Yudi yang tepat membuat Fi lemas. Sebab ia tak ada alasan lagi untuk menolak permintaan Yudi.
“Sudah tuan.” jawab Fi dengan tatapan tak menentu.
“Hei, duduklah.” ajakan Yudi membuat Fi mendaratkan bokongnya di ayunan yang ada di sebelah Yudi.
“Tuan mau bicara apa pada ku?” tanya Fi.
“Kenapa ibu mu pulang?” Yudi bertanya karena Yuri pergi tanpa pamit.
“Karena rumah ibu ku bukan disini tuan.” jawaban Fi membuat Yudi tersenyum tipis
“Ya, aku tahu, tapi... apa kau bisa mengajaknya untuk tinggal disini?” permintaan Yudi membuat semua terlihat jelas di mata Fi.
Jangan suka pada ku tuan, batin Fi.
“Ibu ku takkan mau tuan, karena walau pun kami miskin, tapi kami takkan menumpang dengan orang lain, walau itu hidup enak.” jawaban dari Fi membuat Yudi garuk-garuk kepala.
“Pada hal aku senang, kalau bu Yuri tinggal disini.” niat Yudi menjadikan Yuri sebagai ibu angkatnya jadi gagal.
“Maaf tuan, itu rasanya kurang masuk akal, mengingat kita tak ada hubungan apapun selain majikan dan art.” pernyataan Fi yang tak ia sengaja membuat Yudi terpancing untuk mengatakan perasaannya.
“Andai kita ada hubungan lain, apa kau sekeluarga bersedia tinggal di rumah ku?” perkataan Yudi membuat Fi ingin buang air besar.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantungnya juga berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan merinding. Sebab ia tak ingin ada hubungan lebih dengan majikannya.
“Mungkin kalau kita kakak adik bisa tuan.” Fi menolak halus sang majikan.
“Kau boleh panggil aku kakak.” Yudi mengira yang Fi katakan adalah kakak sayang. Bukan kandung.
__ADS_1
Sontak Fi mengernyitkan dahinya. “Tuan jangan bercanda, rasanya itu sangat tidak pantas, kita berdua adalah orang yang berbeda tuan, bagai langit dan inti bumi, maaf tuan, saya tidak bisa.”
Eh, aku ngomong apa sih?? batin Fi.
Ucapan yang ia lontarkan seperti wanita yang menolak lamaran kekasihnya.
“Tapi, pada kenyataannya kau ada di sebelah ku, dan dapat ku lihat dengan mata ku langsung, apa menurut mu, kita masih sejauh itu?” Yudi tersenyum tulus pada Fi.
“Tapi saya hanya orang miskin, sedang tuan orang kaya.” obrolan Fi dan Yudi malah semakin serius.
“Kalau kau mau menikah dengan ku, maka semua akan jadi milik mu.” ungkapan cinta Yudi membuat Fi menelan salivanya.
Wuss...
Angin malam yang berhasil menyapu sebagain rambut Fi membuat Yudi yang melihatnya semakin jatuh cinta.
“Kau, cantik!”
“Hum?” Fi pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan.
Yudi merasa bahagia karena berhasil menyatakan perasaannya pada Fi, ia pun mulai mengayun ayunanya.
Namun saat Yudi berdiri, ia pun tiba-tiba tumbang.
Bruk!
“Tuan!” Fi bangkit dari ayunannya, kemudian Fi mendatangi Yudi yang terbaring di tanah.
“Tuan! Bangun tuan!” Fi menepuk-bepuk pipi Yudi.
Al yang kebetulan datang melihat keadaan itu. Sontak ia pun berlari, mendekat pada Fi dan Yudi.
“Kau memukulnya?” suara Al membuat Fi mendongak.
“Waras sedikit tuan, untuk apa aku memukul tuan Yudi, Dia jatuh sendiri!” Fi sangat tak suka dengan tuduhan Al.
“Aku hanya bercanda! Biar aku yang bawa dia ke dalam! Akh! Dasar payah. Baru minum sedikit sudah enggak bisa buka mata.” ternyata Al dan Yudi, baru minum air surga.
Yudi yang tak bisa minum teh haram itu, malah di paksa oleh Al. Alhasil pria sholeh lagi tampan itu tak sadarkan diri.
Yudi yang di gendong oleh Al, segera menuju
kamar. Fi sebagai saksi mengikuti langkah Al.
Para pekerja yang masih masih beraktivitas di ruangan itu terkejut melihat kondisi Yudi.
“Ada apa ini? Apa tuan dan adiknya bertengkar gara-gara Fi?” ucap Lia.
“Bisa jadi, astaga... baru cantik dikit, udah belagu!” ujar Reni.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Al merebahkan tubuh Yudi dengan kepala memiring ke kanan, tujuannya jika Yudi muntah, ia tak menelannya.
Setelah itu Al menoleh ke arah Fi. “Kalau om datang, jangan ceritakan hal ini, karena Yudi bisa kena omel,” ucap Al.
“Baik tuan.” Fi mengangguk mengerti
Kenapa juga aku harus mengadu? batin Fi.
“Oh ya, mau kau yang menjaganya atau aku?” pertanyaan aneh Al membuat Fi mengernyitkan dahinya.
“Tuan saja.” Fi yang hanya seorang Art tak bersedia menjaga Yudi dalam kamar yang tersembunyi itu.
“Baik, tapi kau jaga dia sebentar ya, karena aku ingin membeli obat pereda mabuk untuknya, perhatikan dengan benar, dia muntah atau tidak.” karena Al sudah meminta langsung, terpaksa Fi setuju.
“Baik tuan, tapi jangan lama-lama ya, karena aku masih punya anak yang harus ku jaga.” ucap Fi sebagai alasan.
“Baiklah.” setelah itu Al keluar kamar menuju supermarket.
Fi yang di tinggal berdua dengan Yudi merasa bingung untuk melakukan apa.
Ia yang merasa ngantuk duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang majikannya.
“Disini saja deh.” Fi yang tak punya kegiatan tanpa sengaja memejamkan matanya.
Ia yang lelah fisik dan juga batin malah tertidur pulas. Amanat untuk menjaga sang tuan malah terlupa.
1 jam kemudian, Al pulang dari super market.
“Orang Indonesia memang alim-alim, jual obat mabuk saja susah banget dapatnya.” ia yang masuk ke dalam kamar melihat Fi yang sedang tidur di sofa.
“Kasihan dia, kalau begitu sih, leher dan tubuhnya bisa sakit.” Al yang iba mengangkat tubuh Fi.
Kemudian ia yang berniat baik namun dengan cara yang salah malah merebahkan tubuh Fi di sebelah Yudi.
“Kalau beginikan enak lihatnya, ku yakin Fi tidurnya akan nyenyak.” kemidian itu Al meletakkan obat pereda mabuk untuk Yudi di atas meja.
Setelah itu ia keluar dari kamar sepupunya dengan menutup pintu.
🏵️
Asir yang ada di dalam sel memukuk-mukul tembok, sebab keberadaan Dewi belum di ketahui ada dimana.
“Sial! Tega sekali wanita ****** itu mempermainka ku! Adik dan kakak sama saja. Tidak berguna, aku menyesal telah mengenal keduanya!” Asir sangat takut jika dirinya benar-benar di penjara.
Apa lagi ia meninggalkan perusahaannya begitu saja, ia takut jika bisnis penjamin masa depannya malah hancur lebur.
“Kenapa mereka mempersulit kasus yang satu ini. Pada hal sebelum-sebelumnya semua berjalan lancar.” kepala Asir ingin pecah memikirkan segalanya.
...Bersambung......
__ADS_1