
Mendengar kata-kata kasar dari istrinya membuat Yudi tak enak hati pada Fi.
“Fi, lanjutkan pekerjaan mu.” kemudian Yudi menarik tangan istrinya yang sedang emosi menuju ruang office.
Bukankah nyonya itu, artis yang sering muncul di film-film Holywood? Dia juga penyanyi kalau tak salah, batin Fi.
Sesampainya di ruang office, Yudi memarahi istrinya.
”Baby! Kau tak pantas berkata seperti itu padanya, dia itu orang baik, bukan wanita yang seperti kau bayangkan!”
“Aku tak perduli! Karena aku melihat dengan jelas beb! Kau menyentuhnya, apa yang kau pikirkan? Pada wanita seperti itupun kau suka?!” Suli mengernyitkan dahinya. Pasalnya kriteria suaminya amat rendah sekali di matanya.
“Baby! Dengarkan aku bicara sampai selesai, setelah itu, terserah kau mau memutuskan apa tentang ku.” Yudi mencoba menjelaskan kronologi yang terjadi.
“Baiklah, ku beri kau waktu 10 menit untuk menjelaskan! Tolong katakan dengan sejujur-jujurnya!” pekik Suli.
“Oke.” Yudi pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Suli yang dasarnya orang yang lembut, tiba-tiba meneteskan air matanya.
“Babe, cerita mu ini benarkan? Hiks...” Suli menghapus air matanya.
“Iya, kalau kau tak percaya, lihat saja langsung,” ucap Yudi
“Baiklah, aku paham kalau begitu. Hiks...” setelah salah faham antara Yudi dan Suli berakhir, keduanya pun saling berpelukan.
“Baby, kenapa pulang tanpa memberitahu ku?” tanya Yudi, sebab ia tahu betul jadwal istrinya sangat padat.
”Untuk menangkap basah mu, mana tahu kau sembunyikan ayam di ranjang mu!” tuduhan Suli membuat Yudi tertawa geli.
“Hahaha... mana mungkin aku melakukan itu.” Yudi mengecup kening istrinya.
“Siapa tahu saja, oh ya beb, kau tak berangkat kerjakah?” Suli yang biasa disiplin, tak ingin jika suaminya absen ke kantor karenanya.
“Aku sepertinya akan libur hari ini.” Yudi yang 1 bulan lebih tak bertemu dengan istrinya berniat ingin menghabiskan waktu seharian di kamar.
“Jangan begitu be, kau harus pergi, pasti banyak yang butuh tanda tangan mu, lagi pula papa mertuakan sudah mempercayakan segalanya pada mu.” Suli mendorong suaminya untuk tetap pergi kerja.
“Tidak, hari ini aku ingin bersama mu.” Yudi yang rindu mengecup mesra bibir merona istrinya.
“Umm... babe, aku lelah, sebaiknya hari ini kau tetap ke kantor, karena aku ingin istirahat, aku cape beb, malam saja kita bermesraan.” Suli yang lelah ingin tidur hari itu.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu.” atas permintaan sang istri, Yudi akhirnya berangkat kerja.
“Aku antar ya,” ucap Suli.
“Tak perlu, kau langsung tidur saja baby,” ujar Yudi.
”Okelah kalau begitu.” Suli mengecup pipi suaminya sebelum pergi.
Setelah Yudi meninggalkan ruang office, Suli pun kembali ke kamar suaminya.
Ia pun melihat Fi yang sedang bersih-bersih. Ya Tuhan, apa yang ku pikirkan, sudah pastikan, suami ku tak menyukai wanita seperti ini? batin Suli.
Fi yang tak sengaja melihat Suli memberikan senyuman.
“Apa nyonya mau istirahat?”
”Hum... iya, nama mu siapa?” tanya Suli yang ingin tahu tentang Fi.
“Fi Saeadat nyonya.” Fi mengatakan namanya tanpa mengulurkan tangannya pada Suli. Sebab ia merasa kalau Suli pasti jijik padanya.
“Aku Suli Hirarki.” Suli mengulurkan tangannya pada Fi.
“Nyonya mau berjabat tangan dengan saya?” Fi merasa tak percaya.
”Iya, bukankah harusnya begitu? Kalau kita kenalan, harus bersalaman?” Suli yang tak rasis merasa biasa saja dengan keadaan Fi.
“Maafkan saya karena tak sopan nyonya,” Fi menyambut tangan Suli dengan senyum bahagia.
Ia juga merasa beruntung, karena ia mempunyai majikan yang baik hatinya.
“Aku sudah dengar tentang mu dari suami ku, hum... jujur aku kasihan pada mu.” ucap Suli seraya duduk di atas ranjang.
“Iya, begitulah nyonya.” Fi merasa dirinya sungguh menyedihkan.
“Apa kau mau ceritakan lebih lengkap pada ku?” Suli berniat membuat kisah Fi menjadi sebuah serial drama.
“Gimana ya nyah, aku masih banyak kerjaan, nanti kepala Art memarahi ku kalau tak selesai tepat waktu.” Fi membuat alasan demikian karena tak nyaman banyak orang lain yang tahu masalah keluarganya.
”Tenang saja, bisa di atur.” Suli berupaya agar Fi mau buka suara padanya.
__ADS_1
“Baiklah nyonya.” Fi merasa tak enak bila menolak, karena bagaimana pun, ia telah membuat salah faham sang majikan sebelumnya.
“Tapi ceritanya sambil pijat kaki ku ya, aku cape banget soalnya.” Suli yang biasa di layani oleh asisten dan kru, merasa tak masalah dengan permintaannya pada Fi.
“Baiklah nyonya.” Fi yang sadar statusnya, tak menolak sama sekali. “Nyonya silahkan rebahan di atas ranjang,” ujar Fi
“Akh, tidak, aku duduk disini saja, kau silahkan duduk di lantai, tapi kalau merasa dingin ini.” Suli memberi bantal suaminya untuk Fi. “Pakai itu saja, biar bokong mu tak sakit.
Fi menelan salivanya, sebab, ia merasa rendah sekali, tapi apalah daya, ia hanyalah pekerja rumah, kemudian ia pun menaruh bantal tuannya sebagai tempat duduknya.
Lalu Suli menaruh kakinya di atas paha Fi. “Sejak kapan suami mu selingkuh dengan adik mu?” Suli mulai bertanya-tanya, karena ia akan membuat naskah kisah Fi secara detail.
“Apa yang ku dapatkan, setelah membuka aib keluarga ku?” Fi yang butuh uang menjadikan Masalah keluarganya sebagai ladang rezeki, karena ia tahu betul, nyonya selebritinya ingin memanfaatkan penderitaan hidupnya menjadi sebuah karya.
“Apa?!” Suli mengernyitkan dahinya.
“Saya tahu, apa yang nyonya pikirkan, saya akan bersedia cerita, jika nyonya mau membayar pengobatan saya, hingga saya kembali seperti semula,” Fi mengatakan keinginannya.
Wah, pada hal hanya Art, tapi otaknya berfungsi dengan baik, batin Suli.
“Apa kau gila? Hal kecil mau kau tukar dengan hal besar?” Suli menolak keinginan Fi.
“Aku juga punya lagu, kalau nyonya mau memberi apa yang ku butuhkan, maka aku akan memberi yang nyonya inginkan,” Fi yang pintar melakukan penawaran padan majikannya.
“Wait, kau punya lagu?” Suli tak percaya suaminya menyimpan berlian.
“Iya, nyonya bisa dengarkan, kalau sudah membeli obat pereda nyeri dan ngilu untuk kaki ku yang pincang, sebab dulu aku tak mampu beli obat karena tak punya uang. Karena itu kaki ku masih sakit.” Fi memanfaat Suli yang ingin sesuatu darinya.
“Oke, akan ku penuhi.” Suli yang tak kekurangan soal uang memberi atmnya pada Fi.
“Di dalam sisa 1 milyar, kau bisa dapatkan semua kalau suara mu bagus. Dan kalau kau bersedia kisah mu di angkat ke dunia entertainment, aku akan mengembalikan wajah mu seperti semula, fisik mu akan utuh kembali, aku juga akan memberi mu rumah dan modal usaha, kalau kau bersedia di wawancara oleh agency ku nanti.” Suli tak masalah jika menghamburkan uangnya terlebih dahulu, karena ia tahu, untung yang datang ia dapatkan akan berlipat ganda.
Fi yang ingin balas dendam, menyetujui permintaan dari Suli.
“Baik, aku setuju, sebagai tambahan dari saya, tolong, bantu saya untuk merebut hak asuh anak-anak saya nyonya.”
“Itu bukan hal sulit.” ucap Suli dengan percaya diri.
...Bersambung......
__ADS_1