
Kedua keluarga yang baru bertemu itu pun tertawa bersama.
“Kalau bang Asir mau, apa salahnya menikahi kami sekaligus.” ucap Dewi dengan nada serius.
Sekejap semua orang menjadi sunyi, Alisyah sang calon mertua yang bicara terbuka pun berkata.
“Kami tak butuh dua, karena satu menantu saja sudah cukup.”
Kemudian Fi mencubitnya lutut sang adik karena kesal telah membuat mereka malu.
“Menantu ibu, yang ada di sebelah kiri calon ibu mertua ku bu.” Asir menunjuk ke arah Fi.
Lalu Alisyah menatap lekat paras indah Fi. “Cantik, layak kau mau padanya.” ucap Alisyah apa adanya, yang membuat Fi tertunduk malu.
“Ibu benar, kecantikan dan ke rendahan hatinyalah yang membuat ku memilihnya sebagai pendamping hidup ku,” terang Asir.
“Kau benar, andai kau memilih adiknya, kau pasti akan jatuh miskin, karena sangat kelihatan, boros!” Alisyah yang lulusan psikolog dapat membaca bahasa tubuh Dewi dengan jelas.
Mendapat penilaian buruk dari calon mertua kakaknya, Dewi merasa tak senang.
Begitu pula dengan Yuri, ia merasa keluarganya terlalu di anggap rendah oleh Alisyah. Namun demi kebahagiaan putrinya, Yuri meredam amarahnya.
Setelah itu keluarga Asir pun menyerahkan kunci rumah pada Fi, yang letak rumah itu tak jauh dari kediaman keluarga Asir.
“Ini bagian dari seserahan lamaran yang dapat kami berikan, semoga ibu mertua dan adik ipar betah di rumah sederhana yang kami berikan.” tutur kata Asir yang begitu sopan santun membuat hati Yuri yakin, jika menantunya dapat menjaga putrinya dengan baik.
“Terimakasih banyak nak.” Yuri menerima kunci rumah pemberian Asir.
Kemudian kedua keluarga pun memutuskan tanggal pernikahan Fi dan Asir yang akan di laksanakan bulan depan.
Satu bulan kemudian, acara pernikahan antara Asir dan Fi berjalan dengan lancar dan juga meriah.
Di awal pernikahan keduanya begitu bahagia, Fi dan Asir tinggal di rumah yang terpisah dari keluarga Asir.
Fi juga masih aktif ke kampus setiap harinya, hingga memasuki usia 2 bulan pernikahan mereka. Fi yang mendapat berkat dari Ilahi, di titipkan janin dalam rahimnya.
Kabar bahagia itu sontak membuat semua orang bahagia terutama bagi keluarga Asir, sebab itulah yang mereka tunggu-tunggu.
Di kehamilan pertama Fi, ia begitu rentan, hingga Asir menyuruhnya mengambil cuti kuliah.
Dewi sang adik yang telah pindah sekolah ke kota pun selalu datang menemani sang kakak, bahkan Dewi sering kali menginap di rumah Fi.
__ADS_1
Setelah mengandung selama 9 bulan, Fi melahirkan seorang anak laki-laki berparas tampan secara normal.
Awalnya Asir begitu senang. Namun setelah habis masa nifas. Asir meminta jatah pada Fi.
“Aku rindu sayang, ayo kita bercinta.” pinta Asir.
Sebagai istri yang patuh pada suami, Fi pun memenuhi kewajibannya.
Ketika Asir telah mulus tanpa busana. Fi pun melucuti pakaiannya.
Ia yang kini sama bentuk dengan sang suami menangkap keanehan di wajah Asir.
Apa dia jijik pada ku? batin Fi.
Sebab netra suaminya mendadak tajam saat melihat garis hitam serta kerutan di perutnya.
“Mas, kau baik-baik sajakan?” tanya Fi.
“Ya, ehm... sebaiknya kita tunda sayang, karena kau terlihat tak prima.” Fi heran, karena tak biasanya suaminya menolak jika ingin bercinta.
“Tapi mas, aku sudah siap loh, aku juga tak apa-apa kalau harus melayani mu sekarang,” terang Fi.
“Tidak, lain kali saja, aku masih sabar menunggu.” Asir pun bangkit dari ranjang, kemudian memakai pakaiannya kembali.
“Apa kau baik-baik saja mas?” Fi menyentuh pundak suaminya yang ingin meninggalkan kamar.
“Ya, aku baik, sudah kau istirahatlah Fi, aku mau ngopi dulu.” Asir keluar kamar dengan langkah terburu-buru.
Sikap aneh suaminya membuat hati Fi janggal, ia merasa sedikit sakit, saat ia telah bersedia, suaminya justru meminta di tunda.
Hal itu terus berlangsung untuk beberapa bulan. Sebagai manusia normal, Fi juga ingin di sayang oleh sang suami, namun tiap kali Fi meminta haknya. Asir selalu punya seribu alasan, hingga akhirnya mereka tak jadi melakukannya.
Dalam kegundahan yang Fi rasakan, selalu ada sang adik yang menemani.
Dewi juga kian hari makin dekat dengan Asir. Fi yang melihat hal tersebut awalnya tak begitu mempermasalahkannya.
Namun kedekatan adiknya dan Asir semakin intens, Fi mengerti kalau Dewi adalah gadis yang suka bersikap terbuka dan dekat pada siapapun kecuali Yuri sang ibu sambung.
Suatu hari, Fi yang sedang menggendong Emir menuju kolam berenang.
Drrkkk...!!! Saat ia menggeser pintu kaca sebagai akses keluar masuk kolam, netranya membelalak, ketika ia melihat sang adik yang memakai bikini sedang berenang bersama suaminya yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana ketat seperti yang di pakai atlet renang pria.
__ADS_1
“Mas, kau harus serius mengajari ku, kalau tidak, kapan aku bisa berenang.” suara manja dari Dewi membuat telinga dan hati Fi sakit.
Muncul banyak pikiran kotor dalam benaknya, terlebih ia sudah lama tak di sentuh suaminya.
Fi yang murka berdiri di pinggir kolam dengan tatapan mata tajam mengarah pada suami dan adiknya.
Dewi yang sadar akan keberadaan kakaknya malah tersenyum.
“Kak, ayo gabung, kau juga tak bisa berenang kan?” ucap Dewi, seolah perbuatan yang ia lakukan adalah hal biasa.
“Bangkit kau dari kolam.” sorot mata berapi dari Fi membuat Asir memutar mata malas.
“Kami hanya belajar berenang Fi, apa salahnya? Katanya Dewi minggu depan ada ujian renang di sekolahnya, kalau kau bisa mengajarinya, silahkan, aku akan naik.” penuturan Asir sangat membuat Fi kecewa. Pasalnya ibu muda itu merasa tak di hargai.
“Kita bisa bayar guru renang kalau itu masalahnya,” ujar Fi.
“Ah... aku enggak mau ke kolam umum, pasti sempit dan aku tak bisa fokus belajar.” Dewi yang telah bisa sedikit berenang menuju Asir, ia tanpa pikir panjang memeluk tubuh iparnya yang kekar.
Melihat dada besar dan padat adiknya menempel di punggung suaminya. Fi tak dapat menahan kesabarannya lagi.
“Dewi! Kau dengar aku tidak?! Atau kau tak boleh datang kemari lagi!” suara melengking dari Fi membuat Emir, si bayi kecil menangis.
Oekk!!!
Sebab itu, Fi terpaksa untuk kembali ke kamar.
“Dewi! Temui aku di kamar Emir, sempat kau tak datang dalam 2 menit setelah aku sampai kamar, jangan pernah injakan kaki mu di rumah ini lagi!” karena dapat ancaman dari sang kakak, Dewi terpaksa keluar dari dalam kolam.
5 menit kemudian, Dewi menemui sang kakak di kamar keponakannya.
“Biasa saja dong kak, kau membuat ku malu di hadapan mas Asir!” Dewi yang tak tahu diri dan kurang sopan santun membuat Fi naik pitam.
Plak!
Fi pun khilaf, dan memberi satu tamparan di wajah adiknya.
“Aku sudah cukup lama membiarkan mu dengan gaya mu. Pada ibu aku masih bisa menahan amarah ku, tapi tidak pada ayah dari anak ku! Pikiran mu terlalu modern Wi! Sampai-sampai perbuatan senonoh yang kau lakukan kau anggap biasa. Mas Asir itu laki-laki, apa yang kau pikirkan, tak sama dengan apa yang ada dalam kepalanya.
...Bersambung......
__ADS_1