Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
37 (Niat Jahat)


__ADS_3

Siang harinya, Dewi yang baru pulang perawatan serta berbelanja, tiba-tiba teringat akan keponakannya.


“Apa mereka sudah makan?” ia yang ingin tahu langsung menuju kamar Emir dan Andri.


Ceklek!


Saat pintu telah terbuka lebar, mata Dewi membelalak sempurna, sebab kedua ponakannya belum ada yang mandi.


Ia pun melihat ke arah jam yang ada di dinding yang telah menunjukkan pukul 13:12 siang.


“Surti!!!!” Dewi berteriak memanggil nama pengasuh keponakannya.


“Surti! Cepat kemari!” Dewi yang telah memanggil berulang kali tak kunjung mendapat respon dari wanita tua tersebut.


”Tante, dari tadi pagi bu Surti enggak datang kesini.” Emir memberitahu Dewi tentang Surti yang tak datang mengunjungi mereka.


“Apa?!!” Dewi semakin naik pitam. Dengan cepat, kakinya melangkah menuju kamar pengasuhnya tersebut.


Saat Dewi masih setengah jalan, langkahnya harus terhenti, karena Wina menyapa dirinya.


“Nyonya mencari bu Surti ya?”


“Iya! Dimana dia?” tanya Dewi yang sudah tak sabar ingin memberi pelajaran pada Surti.


“Tadi subuh dia sudah pulang kampung nyonya,” ucap Wina.


Kabar buruk yang baru saja Dewi dengar membuatnya jadi pusing. Kepalanya yang terasa berat membuat tubuhnya terhuyung dan berdiri tak stabil.


“Nyonya tak apa-apa?” tanya Wina dengan raut wajah khawatir di luar, namun riang di dalam hatinya.


“Iya, aku baik-baik saja, tolong bawakan air hangat untuk ku, ke kamar ku.” pinta Dewi.


“Baik nyonya, apa nyonya mau ku antar dulu ke kamar?” tanya Wina.


“Tak usah, aku bisa sendiri.” Dewi menolak tawaran Artnya.


Kemudian Wina pun melepaskan genggamannya dari Dewi.


Selanjutnya, Dewi berjalan perlahan menuju kamar iparnya.


Sial, pasti ini efek si cabang bayi kurang ajar ini! batin Dewi.


Dengan bersusah payah Dewi akhirnya tiba di kamar, ia pun mendaratkan bokongnya ke pinggir ranjang dengan hati-hati.

__ADS_1


“Apa aku harus melakukan aborsi?” Dewi yang takut akan peralatan medis menyentuh rahimnya, menjadi ragu untuk membuang anak itu atau tidak.


“Kalau tidak ku lakukan, pasti aku yang akan merugi, sudah jelas si bangsat itu tak mau dengan anak ini, akhh!! Kalau aku ke klinik, pasti biaya buat aborsinya mahal, apa aku pergi ke dukun saja? Mungkin lebih murah?” Dewi yang takut uang tabungannya habis, memilih mendatangi dukun untuk mengurus pengguguran janinnya.


Saat ia masih melamun, tiba-tiba Wina yang berlagak baik dan perhatian datang menemuinya dengan membawa air dan buah nanas yang telah di potong-potong di atas piring.


“Ini air hangatnya nyonya, mau saya letakkan dimana?” tanya Wina.


“Akukan hanya menyuruh mu mengambil air, kenapa kau bawa nanas juga?” Dewi yang tak ingin makan merasa mual melihat buah berwarna kuning tersebut.


“Saya lihat nyonya kurang sehat akhir-akhir ini, maka dari itu, saya bawa nanas ini untuk nyonya, karena buah ini mengandung banyak vitamin, termasuk vitamin A dan C, cobalah nyonya, tuan juga pasti senang kalau nyonya terlihat sehat,” terang Wina.


Dewi yang kurang pengetahuan di bidang apapun termasuk buah-buahan menerima begitu saja pemberian Wina.


Lumayanlah, vitamin gratis, batin Dewi.


Makan yang banyak Dewi ular, semoga kau keguguran, agar tak ada alasan untuk tuan menikahi mu, batin Wina.


Ternyata saat Dewi membuang hasil tespeknya, Wina tak sengaja menemukan tespek tersebut saat akan membuang sampah ke dalam plastik sampah yang ada di belakang . Ia yang ingin balas dendam pada Dewi, berniat untuk membunuh janin Dewi yang masih muda.


“Umm, enak Win...” Dewi yang sedang hamil merasa nikmat akan buah nanas yang tingkat keasamannya mencapai level 10.


“Syukurlah kalau nyonya suka, kalau begitu saya mohon undur diri nyonya, karena masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan,” ucap Wina.


Kemudian Wina keluar dari kamar majikannya dengan penuh senyuman.


Dewi yang merasa bertenaga kembali teringat akan keponakannya.


“Oh ya, sebaiknya si tante galak itu aku buat saja jadi pengasuh Emir dan Andri, lumayankan, dapat tenaga kerja gratis, dari pada aku harus repot mencari pekerja lagi.” Dewi berencana untuk menjadikan Alisyah pembantu di rumah Asir.


“Aku harus telepon mas Asir untuk meminta izin, biar aku menjemput wanita tua itu secepatnya!” kemudian Dewi mendial nomor kekasihnya.


Halo mas. 📲 Dewi.


Ya sayang, ada apa? 📲 Asir


Si Surti kabur mas, gimana ini? Enggak ada yang urus anak-anak lagi. 📲 Dewi.


Kok bisa kabur? 📲 Asir.


Katanya anaknya sakit, terus aku tak kasih izin untuk pulang, eh... malah kabur, mas tahu sendirikan, kalau cari Art dan pengasuh susah banget?! 📲 Dewi.


Iya, terus sekarang bagaimana sekarang? 📲 Asir.

__ADS_1


Bagaimana kalau ibu mu saja mas yang jaga anak-anak? Dari pada tante kita buang ke panti jompo, bukannya lebih baik tinggal bersama kita? Lagi pula tak ada salahnya, kalau dia menjaga cucu-cucunya, selain lebih aman, tante juga pasti bahagia bisa bersama mereka, lagi pula pembeli rumah ibu akan datang besokkan mas? ? 📲 Dewi.


Apa kau yakin? Karena aku malas banget kalau harus melihat wajah wanita tua itu.📲 Asir.


Tentu saja mas, aku yakin, lagi pula kau jangan begitu kejam padanya, bagaimanapun dia itu orang tua mu mas. 📲 Dewi.


Baiklah, aku ikut apa kata mu saja. 📲 Asir.


Berarti aku boleh menjemputnya hari ini mas? 📲 Dewi.


Tentu, Dewi, sudah dulu ya, aku lagi ada di perusahaan pak Yudi, sebentar lagi kami mau meeting. 📲 Asir.


Ok, terimakasih banyak sayang. 📲 Dewi.


Setelah sambungan telepon terputus, Dewi tertawa girang, sebab keinginannya untuk menyiksa Alisyah segera terwujud.


“Enggak bisa menggencet anaknya, ibunya pun jadi.” semangatnya yang berapi-api membuat sakit yang ada di sekujur tubuhnya jadi hilang.


_________________________________________


Fi yang baru selesai membersihkan kamar tuannya merasa lega. Karena ia berhasil menyelesaikan misi tanpa merusak satu barang pun.


Ia yang masih memegang tisu basah melihat telapak tangan kanannya yang merah akibat memegang robot pembersih yang panasnya luar biasa.


“Ya Tuhan, kenapa tangan ku kau uji juga, pada hal hanya tangan ini yang ku andalkan untuk mencari rezeki mu?” Fi merasa jika ujian yang Tuhan beri padanya adalah sebagai hukuman atas dosa yang ia lalukan di masa lalu.


Ruggg!!


Ia yang fokus pada pekerjaannya sampai lupa jika ia belum makan siang.


“Astaga, ternyata aku melewatkan makan siang ku.” kamar Yudi yang cukup luas menyita waktu Fi untuk membersihkannya sampai setengah hari.


Sebenarnya tak sulit baginya mengurus kamar majikannya tersebut. Namun karena kepala Art meminta tak ada debu sedikit pun membuat ia harus teliti dalam apa yang ia pegang.


Kemudian Fi yang lapar keluar dari kamar majikannya. Tak lupa ia mengunci pintu kamar itu kembali. Saat ia akan menuju koridor, tiba-tiba ia bertemu dengan Rila, sang kepala Art.


“Apa sudah selesai?” tanya Rila dengan membawa rotan sepanjang 50 senti meter di tangannya.


”Sudah bu.” jawab Fi dengan sopan.


”Enak saja memanggil ku ibu, kau itu lebih tua dariku, aku masih 32 tahun, panggil aku nak, atau kakak, dan yang seharusnya memanggil ibu itu aku pada mu.” Rila merasa tersinggung atas tutur yang di ucapkan oleh Fi padanya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2