Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
66 (Minta Pisah)


__ADS_3

“Akh!!” Suli melepas kecupannya dari Daniel. “Baby sejak kapan kau disini?” tanya Suli dengan jantung berdetak kencang.


“Sudah agak lama, tidak apa-apa, lanjutkan saja dulu, aku akan menunggu di balkon.” Yudi yang sakit hati tak memperlihatkannya pada istrinya.


“Baby, aku bisa jelaskan semuanya, ini tak seperti yang kau bayangkan!” Suli mengikuti langkah kaki Yudi.


“Tidak apa-apa, aku mengerti, selesaikan dulu urusan mu dengannya, baru bicara pada ku.” Yudi yang sudah pada batas sabarnya menuju balkon tanpa melihat wajah istrinya.


“Bagaimana ini? Apa perlu aku bicara padanya?” tanya Daniel.


“Tidak usah, kau pulang saja dulu, aku bisa mengurusnya sendiri.” Suli tak ingin melibatkan kekasih gelapnya dengan urusan rumah tangganya.


“Baiklah, kabari aku kalau terjadi sesuatu.” Daniel tahu kalau Suli pasti akan bertengkar dengan sang suami.


“Baiklah,” ucap Suli.


Setelah itu Daniel pulang ke rumahnya. Suli yang takut akan amarah suaminya meragu untuk menemui Yudi.


“Bagaimana ini?” sungguh Suli merasa bersalah atas tindakan kotor yang ia lakukan di depan suaminya.


Namun tak mungkin ia membiarkan Yudi menunggu lebih lama.


“Aku harus siap mempertanggung jawabkan apa yang ku perbuat.” dengan mengumpulkan keberaniannya, Suli akhirnya menemui suaminya.


Ia pun melihat Yudi berdiri di atas balkon menatap ke arah gedung-gedung yang menjulang tinggi ke langit.


“Baby...” Suli memanggil suaminya dengan hati-hati.


“Sudah selesai ya?” Yudi menoleh ke arah istrinya yang berdiri di belakangnya.


“Ya, maafkan aku.” rasanya Suli ingin menangis, tatapan tanpa benci dari Yudi lebih menakutkan baginya.


“Apa kau mau ikut ke Indonesia?” Yudi yang tak ingin membahas perselingkuhan di depan matanya memilih untuk mengajak istrinya pulang.


“Apa?” Suli heran akan respon suaminya.


Apa dia tak sakit hati dengan yang ia lihat tadi? batin Suli.


“Ikutlah dengan ku, tinggalkan semua kejayaan mu, jadilah istri rumah tangga yang baik,”pinta Yudi.

__ADS_1


“Tapi...” wajah Suli jelas menyiratkan tak rela.


“Berikan aku anak, kalau memang ingin berkarir, di Indonesia juga bisa, bagaimana?” permintaan Yudi begitu berat untuk Suli.


“Aku belum siap, tak mudah buat ku meninggalkan apa yang aku jalani sekarang, ini mimpi ku, ini hidup ku baby,” Suli menolak ajakan suaminya.


“Kalau begitu, mari kita berpisah, jika pernikahan ini menghambat jalan kita untuk bahagia.” permintaan Yudi yang begitu mendadak membuat Suli semakin bingung.


”Baby... kenapa kau berkata begitu pada ku? Apa karena kau lihat yang tadi?” Suli mengira jika alasan suaminya adalah karena perselingkuhannya.


“Tidak, tapi dari jauh-jauh hari, aku memang menginginkan hal ini, 5 tahun menikah, kau terhitung jari tidur di sebelah ku, kau lebih menomor satukan pekerjaan mu, kau tak hargai aku, apa lanjut pilihan yang baik menurut mu?” Yudi sungguh muak dengan hubungannya dan Suli.


“Tapi baby, aku belum siap.” Suli menolak untuk berpisah.


”Belum siap? Kau! Bermain gila dengan orang lain bisa, kenapa berpisah tak mau? Ku yakin kau dan dia telah lama main gila! Aku suami mu! Tak pernah mendapatkan kehangatan yang utuh, jadi untuk apa masih bertahan?! Pakai otak mu Suli!” Yudi yang tak dapat menahan amarahnya memarahi istrinya.


“Hiks... maafkan aku baby, aku salah...” Suli menyesal atas perbuatan khilafnya.


“Kau betul-betul jahat Suli, kurang baik apa aku pada mu? Selama ini masih ku maklumi sejuta kesibukan yang membuat mu lupa pada ku, tapi... kau malah bermain dengan orang lain, itu namanya kau tak mencintai ku lagi, tapi egoisnya, kau tak ingin pisah, bukankah sudah benar kalau kita cerai? Kau bisa bersamanya Suli, aku ikhlas dengan perbuatan mu kalau kau bukan istri ku lagi.” Yudi yang sakit hati, tak ingin bersama istrinya lagi.


“Tapi aku, hiks...” Suli tak sanggup menyambung barisan kata yang ingin ia ucapkan.


“Sadar atau tidak, kau sangat sering menyakiti ku, jadi ku mohon, Suli. Mari bercerai kalau tak mau ikut dengan ku.” pilihan sulit dari Yudi membuat kepala artis tersohor itu pusing.


“Ku beri kau waktu 1 malam untuk berpikir.” kemudian Yudi beranjak dari balkon.


”Baby, kau mau kemana?” tanya Suli dengan berderai air mata.


“Ke hotel,” sahut Yudi.


“Kita disini saja.” pinta Suli dengan penuh harap, sebab ia ingin membujuk suaminya agar tak jadi berpisah.


“Kau sadar tidak? Tak ada tempat bagi ku disini, bahkan untuk sekedar duduk, ini milik mu dan simpanan mu itu!” Yudi menarik kopernya, lalu keluar dari apartemen istrinya.


“Bagaimana ini? Apa yang harus ku pilih?!” Suli yang cinta karir dan suaminya bingung harus bagaimana.


Satu sisi ia ingin bersama Yudi, di sisi lain ia tak bisa hidup tanpa sorak sorai para penggemarnya.


”Ya Tuhan, berikan aku petunjuk.” Suli merasa di lema.

__ADS_1


Sedang Yudi yang berada dalam taksi memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Astaga... kenapa sakit sekali?” Yudi menekan dadanya yang terasa sesak.


🏵️


Dewi yang masih tinggal di rumah ibu sambungnya merasa gerah, sebab rumah kecil itu memiliki Ac, namun tak bisa di nyalakan.


“Hei, kenapa tak boleh? Panas tahu!” Dewi protes pada Yuri.


“Kaukan dengan sendiri, listriknya bunyi, nanti kalau ac di nyalakan bisa gelap gulita kita,” terang Yuri.


“Memangnya kau tak punya uang buat isi token listrik? Jangan terlalu pelit jadi orang!” Dewi mengkritik ibunya yang super hemat.


“Penghasilan ku kecil Wi.” Yuri bicara apa adanya.


“Huh! Dasar miskin, oh ya... dari semalam aku tak lihat si jelek, dimana dia?” Dewi yang ingat kakaknya pun merasa penasaran, sebab selama ia disana, Fi tak kunjung nampak.


“Dia bekerja,” ujar Yuri.


“Dia?” wajah Dewi nampak tak percaya. “Memamgnya ada yang mau mempekerjakan orang bodoh seperti dia?” Dewi menghela napas panjang.


”Buktinya di terima,” Yuri sungguh tak nyaman lama-lama bicara dengan Dewi.


“Kerja apa dia?” Dewi penasaran dengan profesi kakaknya.


“Art,” jawab Yuri.


“Oh, pantas... tapi... bisa ya dia di terima, kalau aku pemilik rumah itu, pasti langsung ku usir, kakinya yang gosong masih belum keringkan? Enggak mungkin kering secepat itu, dapat uang darimana kalian untuk beli obat, makan saja terancam.” ungkapan Dewi yang begitu menghina membuat Yuri geram.


“Wi, kalau memang merasa mampu, kenapa harus tinggal disini? Pergilah kemana pun kau mau, lagi pula kau tak ada rasa bersalah pada kakak mu ya? Kau itu telah menghancurkan masa depannya, sudah gitu malah menghina fisiknya, kau sadarkan! Dia begitu karena mu dan si Asir!” Yuri memarahi anak sambungnya yang tak ada taubatnya.


“Kenapa kau jadi emosi begitu?!”


Puk!


Dewi memukul wajah Yuri dengan jilbab pasmina yang terletak di lantai.


“Biasa saja Yuri! Yang ku katakan kenyataankan? Bukan fitnah, lagi pula aku heran pada mu, kenapa harus membela dia segitunya, pada hal dia hanya anak tiri mu!" pelik Dewi.

__ADS_1


...Bersambung......



__ADS_2