
Fi yang malang selalu serba salah di mata orang-orang yang membencinya. Namun ia yang sudah maklum, tak terlalu memikirkannya lagi.
“Sudah tak sabar menunggu hari esok. Emir... Andri... mama sekarang punya teman untuk bertemu kalian.” Fi tersenyum melihat photo kedua anak-anaknya yang tampan.
“Kira-kira bibir Emir sudah sembuh enggak ya?” Fi berharap Asir mengobati anak mereka.
Fi yang lelah berbaring di atas kasurnya. “Tiga bulan tak bertemu rasanya seperti setahun.” ia yang sedang berkhayal bertemu anaknya, tiba-tiba mendapat pesan baru dari Yudi.
Aku lagi di restoran, mau makan apa? Biar sekalian ku beli? ✉️ Yudi.
Membaca pesan dari Yudi hati Fi jadi tambah cemas.
“Apa seorang majikan memang sebaik ini pada artnya ya?” Fi menjadi resah akan kebaikan tuannya.
Aku sudah makan tuan. ✉️ Fi.
Baiklah, kalau begitu ku beli kopi ya. ✉️ Yudi.
Untuk apa tuan? Aku tak suka kopi. ✉️ Fi.
Temani kamu yang manis. ✉️ Yudi.
Fi yang mendapat gombalan dari sang majikan merasa tak nyaman.
“Apa-apaan sih tuan?” Fi tak membalas lagi pesan dari majikannya, karena ia tak suka bila di tuding sebagai perebut lelaki orang.
🏵️
Yudi yang baru selesai membayar sate Padang yang baru ia beli kembali ke mobilnya.
“Ada apa kau senyum-senyum?” Yudi merasa heran pada Denise, sekretaris sekaligus sahabat karibnya dari SMP.
“Enggak apa-apa.” Denise yang sudah mengirim pesan gombal pada Fi berharap, jika wanita sasaran sahabatnya berhasil di taklukkan.
“Oh ya, kau tak minta di antar sampai rumahkan?” ucap Yudi, sebab ia takut sate Padangnya yang masih hangat menjadi dingin.
“Tidak, antar aku ke stasiun saja.” pinta Denise, karena ia juga mengerti, kalau Yudi ingin segera menemui wanita pujaannya.
“Baguslah.” lalu Yudi menyalakan mesin mobilnya, kemudian membelah jalan raya menuju stasiun Sudirman.
“Aku masih tak percaya, wanita yang kau ceritakan 6 tahun yang lalu jadi art di rumah mu, xixixi...” ucap Denise.
“Aku juga, aku sangat berharap kalau dia mau pada ku.” meski Yudi memiliki rupa, harta dan tahta, tapi ia tetap tak percaya diri kalau ia akan di terima oleh Fi.
“Memangnya ada alasan untuk menolak mu? Kalau sampai dia lakukan, dia sungguh luar biasa!” terang Denise.
“Iya, dan aku berencana mejadikan dia sekretaris ku,” ucap Yudi.
__ADS_1
“Lalu aku dimana?” Denise mengira jika dirinya akan di pecat.
“Tentu saja di sebelahnya.” Yudi tersenyum, apa lagi saat ia membayangkan Fi bersamanya setiap saat.
“Aku pikir kau akan menyingkirkan ku, hanya karena wanita yang baru yang kau cinta.” Denise mengelus dadanya.
“Sudah sampai, sana turun!” Yudi memaksa sahabatnya untuk segera keluar.
“Baiklah!” Denise pun keluar dari dalam mobil Yudi.
“Hati-hati di jalan, aku pergi dulu.” kemudian Yudi melajukan kembali mobilnya.
Fi suka enggak ya sama sate Padangnya? batin Yudi.
🏵️
Denise yang ada di stasiun menjadi murung, karena ia yang mencintai Yudi sejak SMP, tak kunjung mendapatkan sang pujaan hati.
Kenapa setelah kau cerai, harus ada wanita lain? Pada hal aku selalu bersama mu, mulai dari benua America hingga Asia, semua telah ku lakukan untuk mu, tapi kenapa Yudis, kau tak sekali pun menganggap aku ada. Ku pikir sikap ku sudah cukup jelas, menggambarkan kalau aku mencintai mu.”
Denise kembali patah hati karena Yudi, ia pun hanya bisa menelan perasaannya dalam-dalam pada sang sahabat.
🏵️
Dewi yang sudah mendapatkan uang dari Asir segera menuju rumah sakit.
“Saya mau besok! Gunakan fasilitas nomor satu!” Dewi yang punya cukup uang tak berpikir lagi untuk kesehatannya.
“Setelah aku sehat, akan ku kuras uang si Asir! Dan Wina... awas saja kau ya, hah!” Dewi semakin bersemangat.
Ia juga sudah tak sabar, ingin membabat abis orang-orang yang melakukan konspirasi padanya.
🏵️
Wina yang ingin tidur menuju kamar Asir. Ia yang telah kehilangan bayinya berpikir jika semua masalah telah selesai.
Ketika ia membuka handle pintu. Ia mengernyitkan dahinya. Karena pintu kamar kekasihnya di kunci.
“Siapa yang melakukannya?” Wina yang tak terima terus saja memutar-mutar handle pintu kamar Asir.
“Kau merusak pintu kamar ku ya?” Wina begitu bahagia, saat suara Asir yang merdu di telinganya menyapanya.
”Mas, kau baru pulang ya?” ketika Wina ingin memeluk Asir.
Asir mendorong tubuh Wina. “Aku belum mandi, menjauhlah!” kemudian Asir membuka pintu kamarnya, yang kini ia bawa kemana pun kuncinya.
Retek!
__ADS_1
Krieeett!!
Saat pintu telah terbuka Asir langsung masuk. Ketika Wina ingin menginjakkan kakinya ke dalam kamar Asir. Asir malah melarangnya.
“Tunggu di luar, aku tak nyaman bila kau melihat ku tanpa pakaian.” Asir yang telah berubah haluan tak mau jika Wina ada di dekatnya lagi.
“Apa mas? Mas! Aku sudah gugurkan anak kita,
kau tak boleh begini pada ku, bukankah aku candu mu mas?” Wina memeluk Asir yang wajahnya menjadi sedingin es di kutub Utara.
“Hum... dulu iya, sekarang enggak lagi, kembalilah ke kamar mu, karena aku lelah!” Asir mendorong tubuh Wina agar menyingkir darinya.
“Mas, aku sudah bersih, kenapa kau malah jahat pada ku mas? Hiks...” Wina menangis sesungukan.
“Sebenarnya kau gugurkan atau tidak, itu tak ada pengaruhnya pada ku, karena kau sudah tak ku butuhkan lagi Wina.”
Bam!
Asir membanting pintu kamarnya karena kesal, sebab Wina begitu manja padanya.
“Sialan! Siapa juga yang cinta padanya, toh aku cuma sewa jasa tidur saja padanya. Begitu sJa harus tuntut ini itu padanya.” Asir yang buaya darat akut seketika melupakan masa-masa romantisnya dengan Wina.
Wina yang terluka menangis histeris. Para Art yang melihatnya malah menertawakannya.
“Diam kalian bangsat!” pekik Wina.
Lalu Wina pergi menuju Alisyah yang ada di kamarnya.
“Mama! Hikss...” Wina yang merasa dekat pada Alisyah langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Ada apa dengan mu?” Alisyah yang ngantuk merasa terganggu dengan kehadiran Wina.
“Mas Asir sudah tak mencintai ku lagi ma, hanya karena aku hamil, dia membuang ku, pertama dia menyuruh ku menggugurkan anak kami, tapi setelah ku lakukan, dia tetap tak mau pada ku ma... hiks... tolong nasehati anak mu itu ma.” Wina meminta pertolongan Alisyah yang juga mangsanya kekasaran Asir.
“Hum... ternyata masa aktif mu sudah selesai??” Alisyah tersenyum getir.
“Maksud mama apa ma?” Wina meminta penjelasan Alisyah.
“Intinya, kau di buang, dan jangan melawan, terima saja, kalau tidak, kau akan di hajar olehnya.” Alisyah memperingati Wina agar tak salah bertindak.
Plak!
Namun niat baik Alisyah malah di salah artikan oleh Wina.
Ia yang telah sepuh malah selalu mendapat tindak kekerasan dari para kekasih anaknya.
...Bersambung......
__ADS_1