
Yudi dan Andri yang telah sampai ke kamar Fi, melihat wanita malang itu masih terlelap.
Kemudian Yudi menyentuh kening Fi. “Alhamdulillah, sudah dingin.” Yudi senang karena panas Fi telah turun.
“Mama sudah sembuh.” Yudi dan Andri sama-sama tersenyum.
🏵️
Asir yang baru sampai ke rumahnya telah di tunggu oleh 2 orang polisi berseragam lengkap.
Asir yang mengenali kedua polisi itu mengernyitkan dahinya, pasalnya ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.
“Ada masalah apa pak? Kenapa datang ke rumah ku?” tanya Asir dengan kebingungan.
“Kami mendapat laporan dari bu Fi Saeadat, itu mengenai tindak kekerasan yang ia dapatkan dari pak Asir,” terang Roy.
Kemudian Roy memperlihatkan surat penangkapan resminya pada Asir.
Asir yang membaca banyak tuduhan yang di layangkan padanya menelan salivanya.
“Sialan! Berani banget dia melaporkan ku!” Asir merasa geram dengan perbuatan berani mantan istrinya.
“Bu Fi juga punya bukti yang kuat, dan bu Wina sekarang sudah di penjara, karena terbukti bersalah, melakukan penganiayaannya terhadap anak bapak Andri." terang Roy.
“Apa? Andri? Kok bisa Andri sampai di kantor polisi?” Asir makin murka akan perbuatan Fi yang menurutnya di luar batas.
“Andri datang dengan bu Fi, bu Wina, dan juga seorang pria.” Roy lupa pada nama Yudi. Sebab Yudi tak memperkenalkan dirinya.
“Saya akan ke kantor polisi, bapak-bapak duluan saja,” ucap Asir.
“Tidak bisa pak. Bapak harus ikut dengan mobil kami, tolong jangan mempersulit tugas kami.” Asir heran karena kali itu para polisi tak mau bekerja sama dengannya.
“Maaf pak, saya mau tanya, kasus ini bisa di selesaikan dengan cara biasakan?” Asir berniat menyogok para polisi seperti biasanya .
“Um... gimana ya pak, semua bukti yang mengarah ke bapak begitu tajam, tak bisa di di atasi dengan mudah, sebaiknya bapak siapkan pengacara hebat, untuk menghindari hukuman berat.” Roy melalukan trik tarik ulur, agar Asir mau memberi uang yang lebih banyak pada timnya.
“Tolonglah pak, bicarakan dengan hakim, berapapun akan ku bayar.” Asir yang tak siap mendekam dalam penjara, bersedia memberi uang suap berapapun.
“Baiklah, akan saya usahakan, sekarang bapak boleh ikut kami ke kantor polisi untuk di mintai keterangan lebih lanjut.”
Asir yang tak punya alasan untuk menolak, terpaksa ikut dengan para polisi.
Awas kau Fi! Andri juga kau bawa, beraninya kau! Harusnya kau ku habisi sejak awal. batin Asir. Ia merasa geram dengan mantan istrinya yang sangat ia benci.
🏵️
Wina yang berada dalam penjara tak hentinya menangis.
“Keluarkan aku! Keluarkan aku...” ia terus membuat keributan, merengek bagai anak kecil, hingga membuat tahanan lainnya marah.
“Heh! Bisa diam enggak sih!” Sera membentak Wina.
__ADS_1
“Aku harus keluar kak, aku tak bersalah, aku juga korban, hiks...” Wina menangis sesungukan.
“Kalau kau memang korban, pasti tempat mu bukan disini! Alasan saja!” pekik Sri.
“Sungguh, aku hanya di jebak, anak ku juga mati karena kekasih ku, tapi... kenapa aku yang di penjara?!” Wina mulai bicara tak jelas.
“Terserah kau mau bilang apa, yang jelas, tutup mulut mu, dari tadi malam aku belum tidur karena banyak nyamuk!” Sera yang ngantuk menjadi lebih sensitif.
“Tapi kak, hiks...”
Plak!
“Akh!” Wina meringis kesakitan.
Sera menampar wajah Wina. “Tutup mulut mu, atau ku robek sampai tak tersisa!” Sera memberi ancaman pada Wina.
Seketika Wina menjadi takut, ia pun berjongkok ke sudut ruang sel mereka.
“Dia gila kali ya!” ucap Sri, sebab tingkah Wina sangat aneh dan plin-plan.
“Bisa jadi. Awas saja, nangis lagi, aku patahkan hidungnya!” Sera sangat tak suka dengan Wina yang tak bersahabat.
🏵️
Asir yang telah tiba di kantor polisi mendapat banyak pertanyaan dari polisi yang bertugas.
Bukti kuat dari Fi begitu mengikat kakinya, ia yang tak bisa mengelak menjadi pusing sendiri. Ia tak mengerti kenapa para polisi memperpanjang kasusnya.
“Karena bapak terbukti bersalah, maka bapak akan kami tahan.” pernyataan dari sang polisi membuat mata Asir membelalak sempurna.
“Kok bisa pak? Sayakan sudah bilang, saya berlaku kasar, karena istri saya selingkuh, menelantarkan anak-anak, dan juga tak pulang ke rumah, jadi wajar saya marah.” Asir membela dirinya yang bersalah.
“Siapkan pengacara paling bagus untuk membela bapak, itu akan lebih baik, dari pada bapak berkata ini itu pada kami, biarkan pengacara bapak yang mewakili isi hati bapak.” sang polisi yang tetap akan mengurungnya membuat Asir prustasi.
“Astaga!” Asir meremas wajahnya karena emosi.
Mau tak mau, Asir menelepon pengacara paling hebat di kota itu.
Setelah itu, Asir di suruh oleh para polisi untuk memakai baju kulit pinang khas para tahanan warga +62.
Di dalam sel! Asir memukul dinding dengan kuat.
Puk!
Puk!
Puk!
Para tahanan lain menatap tak suka ke arah Asir yang gila sendiri.
“Awas saja kau Fi! Aku takkan memaafkan mu, setelah aku bebas, akan ku cari kau! Dan aku akan mengakhiri hidup mu!” Asir menjadi prustasi, belum lagi perusahaan yang kelola kehilangan Yudi, ladang rezeki yang paling besar memberi untung padanya.
__ADS_1
🏵️
Dewi yang baru memegang handphonenya melihat banyak panggilan tak terjawab dari Asir.
“Tunggu saja Sir! Aku akan datang, tentunya untuk mengambil semua harta mu!” saat Dewi mendial nomor Asir, sayangnya Asir tak mengangkat.
“Mungkin dia sibuk.” Dewi yang masih tahap penyembuhan memutuskan untuk tidur.
“Kau harus menyesali apa yang kau perbuat pada Asir,” gumam Dewi.
🏵️
Fi yang baru bangun melihat Yuri sudah ada di depan matanya.
“Ibu...” ucap Fi dengan suara yang parau.
“Ssttt... istirahat saja nak. Jangan banyak gerak dulu.” Yuri sangat sedih dengan kondisi putri sambungnya.
“Sejak kapan ibu disini?” tanya Fi penasaran.
“Baru 30 menit yang lalu. Tuan mengirim supir untuk menjemput ku,” jawab Yuri.
Ceklek!
Suara pintu terbuka membuat Fi dan Yuri menghentikan percakapan mereka.
Mirna pun datang dengan membawa bubur ayam untuk Fi. “Akhirnya, kau bangun juga.” Mirna meletakkan bubur yang ia bawa ke atas meja yang ada di sebelah ranjang Fi.
“Memangnya ada apa?” Fi tak sadar jika dirinya demam tinggi.
“Dari tadi kau mengigau tak jelas, memanggil nama Emir, apa dia anak mu?” ucap Mirna.
“Iya, dia anak ku, oh ya, Andri mana bu?” tanya Fi seraya bangun dari tidurnya.
“Jadi tuan Andri anak mu?!” Mirna yang baru tahu jadi syok, pasalnya sang tuan mengatakan kalau si kecil Andri adalah anaknya.
“Iya, Andri anak ku yang paling bungsu,” ujar Fi.
“Anak kandung mu?” pengakuan Fi membuat Mirna lemas.
“Betul,” jawab Fi.
Apa tuan akan menikahi Fi? batin Mirna.
Harapan Mirna untuk mendekati tuan tampan dan kayanya gagal total.
Sebab saingannya adalah Fi yang kini good looking.
“Apa kau melihat anak ku Mir?” tanya Fi.
“Lagi sama tuan, bermain di kolam berenang.” sahut Mirna dengan perasaan lemas.
__ADS_1
...Bersambung......