
Hitman mengernyitkan dahinya, pasalnya Dewi tak seperti yang di katakan Asir.
“Hanya ibu yang bisa menjadi saksi kuatnya,” ucap Hitman.
“Aku tidak mau, sebelum Asir memberi ku jaminan.” terang Dewi yang tak mau membantu Asir secara cuma-cuma.
“Maksudnya jaminan apa bu?” tanya Hitman memperjelas ucapan Dewi.
“Dia harus memberi ku uang sebanyak 30 milyar, dan mengembalikan atm dan juga berlian-berlian ku!” Dewi berencana memulai balas dendam tahap awalnya.
Mata duitan juga perempuan ini, batin Hitman.
“Baiklah, saya akan sampaikan langsung pada pak Asir, tapi... ibu betul-betul bersedia untuk membantunya kan?” Hitman tak percaya begitu saja pada Dewi.
“Tentu saja, tak ada alasan untuk menolak, lagi pula yang ku minta tadi adalah uang dan perhiasan ku sendiri.” terang Dewi penuh dusta.
“Baik bu, saya akan mendiskusikannya langsung dengan pak Asir,” ucap Hitman.
“Ya, sampaikan saja padanya, kalau dia setuju, maka aku akan bersedia memberi keterangan, aku juga akan pasang badan untuk membelanya.” Dewi mengucapkan janji manis pada sang pengacara.
“Baiklah kalau begitu bu, saya akan sampaikan pada pak Asir.” sang pengacara pun terpaksa kembali tanpa hasil.
“Kabari aku secepatnya!” Dewi mendesak, karena ia ingin merencanakan suatu hal besar.
“Baik bu, sekarang saya akan langsung ke penjara, setelah selesai dari sana, maka saya akan menemui ibu lagi.” setelah itu Hitman bangkit dari sofa, dan beranjak pergi.
Dewi yang kembali menjadi penguasa berkacak pinggang.
“Semua ada masanya. Dan ini adalah masa ku, hahaha!” Dewi tertawa riang dengan penuh makna.
Kemudian ia beranjak ke kamar Asir, ia yang telah berada dalam kamar mencari perhiasannya yang ia taruh di tempat biasa.
Treeettt...
Dewi menggeser laci lemari paling bawah tempat baju Wina dan Asir.
“Sialan! Beraninya babu itu menyingkirkan baju-baju ku!” Dewi sangat marah akan keberanian Wina.
“Tapi tak apa-apa, siapa juga yang butuh bersebelahan dengan laki-laki tak berguna sepertinya!” Dewi geleng-geleng kepala.
Pada saat ia telah berhasil membuka laci penyimpanan perhiasannya, matanya berbinar terang.
“Ya Tuhan! Kau memang baik pada ku! Terimaksih telah menjaga milik ku, memang akulah yang paling cocok untuk memakai kalian semua, hahaha!” Dewi mencium satu persatu berlian milik kakaknya.
Alisyah yang akan pergi ke dapur melihat pintu kamar putranya terbuka.
“Bagaimana sih?! Kok bisa Asir tak menutupnya?” Alisyah yang tak di anggap di rumah itu membuat ia tak tahu, jika putranya telah berada di dalam penjara.
__ADS_1
Ketika Alisyah akan menutup pintu, ia pun melihat Dewi yang sedang tertawa bagai orang gila.
Untuk apa dia kesini? Tak mungkin ia kembali bersama dengan Asir, batin Alisyah.
Ia begitu gelisah akan kehadiran Dewi. Alisyah yang tak ingin dapat pisang panas dari Dewi, memilih menghindar.
Ia yang lapar memutuskan untuk kembali ke kamarnya, tanpa menuntaskan laparnya.
Namun saat ia akan berbalik, Alisyah yang kurang sehat malah terpeleset.
Bruk!
“Akh! Sakit!” Alisyah mengusap bokongnya.
Dewi yang mendengar suara Alisyah langsung bangkit dari duduknya.
“Um um... apa ini?” Dewi yang suasana hatinya lagi bagus membantu Alisyah untuk bangkit.
Seketika Alisyah merasa aneh sekaligus deg degan.
Ada apa dengannya? batin Alisyah.
“Makanya tan, kalau jalan itu hati-hati, oh ya... kau nampak tua ya tan sekarang, pasti tante enggak perawatan karena tak punya uang kan?” Dewi tersenyum manis.
Namun senyuman Dewi begitu menyeramkan di mata Alisyah.
“Kenapa kau disini?” tanya Alisyah dengan waspada.
“Oh ya...” Alisyah menjadi semakin sesak nafas karena Dewi.
“Iya tante, oh ya... Wina, ada dimana tan?!” tanya Dewi dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Alisyah.
“Fi menyeretnya ke kantor polisi kemarin.” ucap Alisyah dengan suara bergetar.
“Akh! Sial! Kok bisa? Aku kan belum merendahkan dan menendang bokongnya??!” Dewi menjadi geram, rencana untuk memberi pelajaran pada Wina gagal total.
“Kunjungi saja ke penjara.” Alisyah memberi usul pada Dewi.
“Baiklah, karena kau punya ide yang bagus, maka aku akan memberi tante uang.” kemudian Dewi mengeluarkan uang sebesar 200 ribu dari dompetnya.
“Simpanlah, tentunya ini cukup untuk membeli bedak anti kerut yang lagi viral di pesbuk! Sudah sana! Pergi!” Dewi mengusir Alisyah.
“Baik terimakasih banyak.” Alisyah merasa bersyukur karena Dewi tak menyakitinya kali itu.
Dewi yang di tinggal sendiri menutup pintu, kemudian ia pun mengambil semua perhiasan milik Fi yang nilainya puluhan milyar.
Dewi berencana akan menyimpannya di kamar kosnya.
__ADS_1
“Aku takkan menaruh apapun di rumah ini lagi, bikin kapok!” setelah selesai memindahkan semua berlian ke dalam tas seharga 100 ribunya, Dewi pun keluar dari rumah Asir.
“Amankan ini dulu, baru datang lagi, hahaha...” Dewi pun pulang ke kosannya.
🏵️
Fi yang baru selesai memberi keterangan pada Marteen mengantar pengacara itu keluar rumah.
“Terimakasih pak atas waktunya.” Fi menjabat tangan Marteen.
“Sama-sama bu, persiapkan diri untuk menjalani sidang minggu depan, jaga kesehatan, jangan sampai sakit, karena ini sangat penting.” terang Marteen, setelah itu ia pun pergi.
“Hufff. Semoga semua berjalan dengan lancar.” Fi merasa bersyukur atas pertolongan yang di berikan oleh Yudi padanya
Kemudian Fi menuju ruang office, untuk membersihkan tempat kerja majikannya.
“Aku belum tahu kapan aku akan kerja di kantor tuan, sebelum itu aku harus tahu diri, mana mungkin menumpang dengan gratis dan bebas makan disini.” Fi yang tahu diri tak enak bila hanya makan tidur di rumah Yudi.
🏵️
Yudi yang ada di kantor masih memikirkan apa yang di katakan Rian selama perjalanan.
Yudi pun merasa tak tenang, ia takut jika Fi menikah dengan orang lain duluan.
Rasanya Yudi ingin segera pulang dari kantor, ia tak dapat membiarkan Fi sendirian di rumah.
Denise yang masuk membawa file untuk Yudi, ia pun dapat melihat kecemasan sahabat sekaligus bosnya.
“Ada apa?” tanya Denise.
“Kau disini?!” Yudi tak sadar jika Denise memasuki ruangannya.
“Iya, dari tadi ku ketuk kau tak menjawab, makanya aku masuk,” terang Denise.
“Astaga... aku tak fokus!” Yudi mengusap wajahnya.
“Kau kenapa sih? Ceritakan pada ku.” Denise makin penasaran dengan apa yang terjadi pada Yudi.
“Um... banyak yang suka pada Fi.” jawab Yudi tanpa berbasa basi.
“Wajar saja, kalau cantik ya resikonya begitu, sama dengan mu, kau juga punya banyak penggemar kan?” ujar Denise.
“Siapa? Hah! Itu hanya perasaan mu saja, mana ada yang suka pada duda seperti ku.” Yudi tersenyum kaku.
Aku, batin Denise.
“Banyak berjejer, kalau kau sih tinggal tunjuk, mudah sekali kan? Apa lagi kau punya segalanya.” Denise mengatakannya dengan tertawa penuh makna.
__ADS_1
“Apa kau salah satunya?” pertanyaan Yudi membuat Denise tersentak.
...Bersambung......