
Fi yang merasa pusing menggendong anaknya menuju ranjang empuk nan bersih yang telah di sediakan untuknya dan si buah hati.
“Mama kenapa?” Andri membelai rambut panjang ibunya.
“Mama pusing nak, mungkin memang demam, kau jangan dekat-dekat sama mama ya.” Fi tak mau jika putranya tertular.
Ia yang mulai menggigil hebat masuk ke dalam selimut.
Fi yang merasa panas dingin teringat akan Emir, ia pun menitihkan air matanya. Sebab ia tak kuasa membayangkan bagaimana jerit tangis anaknya saat kejadian berlangsung.
“Ya Allah nak, maafkan mama, hiks...” Fi tak hentinya merasa menyesal, karena tak berdaya, anak yang ia sayangi pergi dengan cara tragis, “Apakah Allah akan memasukkan mu di surganya?”
Fi makin stres, karena kepergian Andri dengan cara bunuh diri.
Kepalanya yang penuh akan keresahan membuat Fi semakin down.
Andri yang ingin memberi perhatian pun di tolak oleh Fi. Ia takut jika karenanya, anaknya akan ikut sakit juga.
Rila yang baru datang dengan membawa obat analgesik langsung membantu Fi duduk.
“Ayo Fi, minum obatnya dulu,” ucap Rila.
“Iya, terimakasih banyak kak.”
Setelah selesai minum obat, Rila menidurkan Fi kembali ke ranjang.
“Nak, jangan sentuh mama ya, mama lagi sakit, nanti kau tertular, enggak boleh, oh ya nama mu siapa nak?” sapa Rila.
“Andri,” sahut Andri.
“Oke Andri, sebelum tante bilang boleh, jangan peluk mama ya.” Rila harus pura-pura sayang pada Andri, karena jika ia akrab dengan Fi, otomatis posisinya akan aman. andai suatu saat Fi telah menikah dengan Yudi.
Ia sangat yakin kalau majikannya menyukai Fi, sebab sang tuan mengakui Andri adalah anaknya.
“Baik tante.” Andri yang terlatih untuk patuh dengan mudah menyetujui perkataan Rila.
“Bagus, sekarang tidurlah ke tepi.” Rila menunjuk ke arah dinding.
“Oke tante.” setelah itu Andri merebahkan tubuhnya ke tempat yang Rila katakan.
Sifat Andri yang manis membuat Rila menyukainya secara alami.
Anak pintar, tapi sayang, lahir dari rahim Fi, batin Rila.
Setelah itu Rila ke luar dari kamar. Saat ia melintas menuju dapur, ia bertemu Yudi.
“Kau dari kamar Fi?” tanya Yudi.
“Iya tuan, Fi lagi demam.”
__ADS_1
“Apa? Dia sakit?” wajah khawatir Yudi nampak jelas di mata Rila.
“Tuan tenang saja, karena aku sudah memberinya obat.” Rila mengatakan demikian agar ia nampak baik di mata Yudi.
“Baik, terimaksih banyak.” Yudi pun bergegas menuju kamar Fi.
Krieet...
Dengan perlahan Yudi membuka kamar Fi, dan ia pun melihat Fi yang sedang di balut oleh selimut. Dan Andri terlelap jauh dari ibunya.
Ia pun mendekat, dan duduk di pinggir ranjang.
“Hum... panas banget.” Yudi meletakkan tangannya di kening Fi.
Ia yang takut terjadi sesuatu pada art kesayangannya langsung menelepon dokter langganannya.
Tolong segera ke rumah saya dok, ada yang sakit. 📲 Yudi.
Baik pak Yudi. 📲 Dokter.
Setelah sambungan telepon terputus, Yudi melihat bibir Fi bergerak.
Lalu ia pun mendekatkan telinganya ke bibir Fi.
“Emir... Emir...” Fi memanggil nama almarhum anaknya.
Rasa rindu yang tak terbendung membuat Fi berlari menuju anaknya yang tertawa riang.
“Emir!!!” Fi memanggil nama anaknya.
Namun saat Emir menoleh, tiba-tiba ia menangis. Dan gulungan ombak pun meninggi.
“Emir! Awas! Emir!!” Fi yang mengigau membuat Yudi cemas.
“Fi, bangun Fi.” Yudi menepuk-nepuk pipi Fi agar bangun.
Perlahan Fi membuka matanya, dan ia melihat ke plafon rumah majikannya.
“Emir!” sontak Fi yang teringat buah hatinya bangkit dari tidurnya.
“Hei tenang dulu, kau hanya mimpi.” Yudi menggenggam tangan Fi yang nafasnya terengah-engah.
“Emir tuan, dia menangis, dan terseret ombak. Aku ingin menyelamatkannya.” Fi mengira jika mimpinya itu adalah kenyataan.
“Fi, kau cuma mimpi, sadarlah!” Yudi menggoyang-goyang tubuh Fi.
“Oh iya, Emir kan sudah tiada.” ucap Fi dengan menatap nanar ke arah tuannya.
Tes!
__ADS_1
Pipi Fi kembali berlinang air mata. Ia begitu sangat merindukan putranya.
“Fi, yang sabar, kau harus ikhlas, kalau kau begini, pasti Emir takkan tenang disana. Istighfar!” Yudi menasehati Fi.
“Kau tak mengerti tuan, bagaimana rasanya di tinggal buah hati, karena tuan belum memilikinya, dan... dia pergi dengan cara seperti itu.” mata Fi yang semakin bengkak membuat Fi sulit untuk melihat kesedihan Yudi atas perkataannya.
“Meski pun aku tak memiliki anak, tapi rasa kemanusiaan ku sudah cukup Fi.” Yudi menghela nafas panjang.
“Hiks... Emir...” namun Fi yang masih histeris tak dapat mendengar apa yang Yudi ucapkan.
30 menit kemudian, Fi yang telah berbaring di ranjang, kembali di selimuti oleh Yudi.
Dan saat itu juga sang dokter datang. “Tolong di periksa dok,” pinta Yudi.
“Baik pak.” kemudian pak dokter memeriksa Fi yang matanya terbuka pikirannya melayang kemana-mana.
Kepergian Emir membuat Fi patah hati berat, ia yang tak terima kenyataan malah tumbang saat sang dokter memberikan ia 1 suntikan di lengannya.
“Fi” Yudi menjadi lebih khawatir, melihat Fi yang kritis. “Kita bawa ke rumah sakit saja dok!” Yudi ingin Fi mendapat penanganan yang lebih intensif.
“Tidak perlu pak, bu Fi hanya syok, tensinya turun dan masuk angin, dia hanya butuh istirihat, makan yang cukup, dan jangan banyak pikiran.” setelah sang dokter selesai menulis resep obat yang harus di tebus, ia pun memberikannya pada Yudi.
“Beri hiburan pada ibu ini, kelihatannya dia stress berat, katakan hal-hal positif, agar pikirannya lebih tenang.” terang sang dokter.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, sang dokter pun pergi.
“Saya permisi dulu pak.” sang dokter pamit pada Yudi.
“Baik, terimakasih banyak dok.” setelah dokter pergi, Yudi kembali duduk di pinggir ranjang.
“Pasti berat untuk mu, menerima kenyataan yang sangat menyakitkan mu.” Yudi mengelus puncak kepala Fi.
Ia dapat mengerti, apa yang Fi rasakan, sebab dirinya juga di tinggal sang ibu di waktu kecil. Dan hingga kini ia selalu merindukan mendiang ibunya.
Saat Yudi masih melamun menatap lekat ke wajah Fi, Andri bangun dari tidurnya.
“Papa?” suara kecil dan menggemaskan keluar dari bibir imut Andri.
“Ada apa nak?” Yudi pun membuka lebar kedua tangannya. Dan Andri mendatangi Yudi. Keduanya pun saling berpelukan.
“Mama belum sembuh juga pa?” Andri yang ingin bermanja-manja pada ibunya tak sabar ingin memeluk Fi.
“Belum nak, sabar dulu ya, dan kalau mama bangun, ceritakan hal yang bagus, jangan ungkit soal abang Emir ya.” Yudi takut jika Andri menceritakan tentang Emir pada Fi.
“Kenapa pa? Abangkan baik, selalu menghibur ku, setiap hari kami selalu bermain di kamar, abang juga sering memberi tahu ku, enggak boleh nangis, nanti di pukul tante Dewi dan Wina, aku rindu abang pa, dia sudah lama enggak tidur dan main dengan ku.”
Andri tak mengerti, jika abangnya takkan kembali lagi ke sisinya.
...Bersambung......
__ADS_1