Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
59 (Rebut)


__ADS_3

Rila rasanya ingin menghajar Fi yang selalu menyusahkannya.


“Maafkan saya kak.” setelah itu Fi keluar meninggalkan Rila dalam kamar tuannya.


“Kalau bukan karena tuan dan nyonya, aku pasti sudah memakannya.” dengan rasa tak ikhlas, Rila membersihkan kamar majikannya.


Fi yang menuju kamarnya tersenyum lebar, ia merasa sangat bersemangat, karena sebentar lagi ia akan sembuh.


“Hei Fi, apa ada hal bagus? Sehingga kau senyum-senyum sendiri?” tanya Mirna yang datang dari arah berlawanan, ia sangat penasaran dengan apa yang di pikirkan Fi.


“Iya,” sahut Fi.


“Apa itu? Apa aku boleh tahu?” Mirna makin penasaran dengan apa yang Fi alami pagi itu.


“Akan ku beritahu, kalau sudah waktunya.” Fi berencana membuat kejutan pada temannya.


“Okelah kalau begitu. Aku lanjut ke dapur dulu ya, mau cuci piring soalnya,” ujar Mirna.


“Baiklah.” Fi pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Begitu pula dengan Mirna, sesampainya Mirna ke dapur ia pun bercerita pada rekan kerjanya, Reni.


“Aku bertemu Fi.” ucapnya seraya mencuci piring di wastafel.


“Kenapa kau harus mengatakan hal pada ku?” Reni menatap tak suka pada Mirna.


“Ya... aku hanya ingin bilang, aku senang karena dia bisa tersenyum, ku rasa tuan memberikannya sesuatu, makanya dia sebahagia itu, kau juga tahukan, gosipnya dia sangat di sayang nyonya? Hum... beruntung sekali teman ku yang malang itu, pantas saja dia tak butuh orang-orang seperti kita, aku juga pasti begitu, mengingat semua orang jahat padanya, hehehe...”


Perkataan Mirna justru menimbulkan dendam di hati Reni.


“Aku benar-benar tak suka padanya!” meski Fi telah berbuat baik pada Reni, namun Reni masih tak menyukai Fi.


🏵️


Dewi yang masih membuka mata mulai tadi malam, melihat Asir kembali dengan rambut yang lepek.


“Kau sudah bangun?” sapa Asir.


“Iya, apa pekerjaan mu sudah selesai mas?” tanya Dewi dengan masih menyimpan bara api di hatinya.


“Belum, mungkin nanti malam aku akan lembur lagi. Wi, kau tak ingin jalan-jalan keluar gitu? Apa lagi kau dan Clara baru bertemu, pergilah liburan bersamanya, nanti ku kasih uang, ke Bali sepertinya bagus.” Asir yang inmaugin bercinta bebas dengan Wina, ingin agar Dewi tak ada di rumah.


“Aku akan pergi, kalau itu dengan mu mas.” Dewi yang merasa terancam posisinya tak ingin membiarkan Asir leluasa bersama Wina.


“Ya sudah, kalau tak mau.” Asir yang sudah terlambat ke kantor segera bersiap-siap.

__ADS_1


Dewi yang pusing akan masalah yang ia hadapi tetap merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Ia pun mulai memikirkan apa yang di katakan Clara padanya.


“Sialan! Kenapa hidup ku jadi sesusah ini sih!” umpat Dewi, ia yang kesal tiba-tiba merasa ngantuk.


Dewi yang gelisah baru bisa terlelap setelah matahari terbit.


2 jam kemudian, Dewi terbangun karena suara pelan Wina yang begitu berisik.


“Sedang apa kau disini!” Dewi tak habis pikir, sebab Wina biasanya bekerja di dapur.


“Saya sedang bersih-bersih nyonya.” ucap Wina dengan sopan.


“Itu bukan tugas mu kan? Jadi kenapa kau harus repot-repot kemari, hah?” Dewi yang haus bangkit dari tidurnya.


“Ini tuan yang meminta langusung nyonya,” Wina memberitahu dengan jujur.


“Aku tak perduli, pokoknya jangan injakan kaki mu disini lagi, atau aku akan menginjak wajah mu!” Dewi yang geram bangkit dari ranjang, saat ia ingin melintas dari hadapan Artnya, seketika matanya membelalak, sebab Wina memakai cincin berlian milik Fi.


Dewi yang sudah pada batasnya memegang jemari Wina.


“Kau maling ya?!” pekik Dewi.


“Tidak nyonya, saya di beri oleh tuan nyonya, sungguh.” Wina yang tak ingin kehilangan berlian mahal pertamanya menarik tangannya dari genggaman Dewi.


“Serahkan! Atau ku pecahkan kepala mu!!” Dewi rasanya ingin gila, saat sang Art di beri cincin yang menurutnya adalah miliknya.


“Jangan nyonya, ini harta saya satu-satunya.” Wina yang tak rela malah membangkang pada Dewi.


“Kurang ajar kau ya!” Dewi yang tak pernah bercanda melempar pas bunga tersebut.


Plok!


Kepala Wina pun tak luput dari sasaran empuknya.


“Au!!! Sakit!!!” Wina memegang kepalanya yang terasa nyeri, beruntung tak berdarah.


“Rasakan!” Dewi yang berapi-api langsung mendatangi Wina, dan merebut kasar berlian tersebut.


“Kau tak pantas memakai barang mewah seperti ini! Sadar kau sialan! Tempat mu dimana! Dirimu siapa! Kau itu cocoknya pakai imitasi, atau suasa!”


Puk!


Dewi menendang bokong Wina. “Keluar kau dari sini! Kau harus ingat, tempat mu memang harus selalu di bawah kaki ku!” pekik Dewi.

__ADS_1


Puk!


Lagi-lagi Dewi menendang bokong Artnya. Wina yang kesakitan mengkusuk bekas tendangan majikannya.


Awas kau! Akan ku singkirkan kau dengan segera, batin Wina.


Dendam Wina kian membara pada Dewi yang selalu menganiayanya.


“Aku tak takut pada mu, meski pun kau sudah merasa di atas sekarang!” Dewi yang tak mau kalah tanding mencekik leher Wina sejenak sebelum ia pergi ke dapur.


Air mata Wina perlahan mengalir, tubuhnya bergetar.


Jangan panggil aku Wina, kalau aku tak bisa melempar mu dari sini, batin Wina.


🏵️


Sore harinya, Fi memakai pakaian terbaiknya untuk berangkat ke Korea. Ia yang bersemangat menunggu kepulangan sang majikan di teras pintu utama.


Fi pun kembali mengecek barang-barang yang perlu ia bawa.


“Paspor sudah selesai, KTP juga, bedak tabur sudah, baju 3 setel sudah, dompet juga.” Fi pun membuka dapetnya yang kosong melompong.


“Astaga, gajian masih lama lagi, harusnya jauh-jauh ke Korea bawa oleh-oleh buat ibu.” Fi merasa kasihan pada ibunya yang belum pernah ia belikan apapun selama sebulan terakhir.


“Sudah ke luar negeri, maunya bawa baju atau apa buat ibu.” Fi menelan salivanya.


“Semoga Allah menunjuki hati tuan, untuk membeli baju sepotong saja untuk ku.” Fi sangat berharap Yudi royal padanya.


Penampilan Fiyang mencolok pun mengundang perhatian rekan-rekan kerjanya.


“Sedang apa dia?” ucap sang satpam pada art yang sedang membersihkan taman.


”Mana ku tahu, tanya saja sendiri!” pekik Art tersebut.


“Gayanya lucu banget ya! Lihat bajunya, terlihat seperti baju nenek-nenek!” sang satpam tertawa saat melihat Fi yang mengenakan baju gamis berwarna merah tua dengan motif bunga-bunga milik Yuri.


“Mungkin punya ibunya, orang miskin sepertinya mana punya uang buat beli baju, kalau punya pun pasti dia lebih memilih obat, lihat saja wajah buruknya, perlu di renovasi total!” ujar sang Art wanita.


“Kau benar juga, semoga Tuhan memberinya uang, agar bisa memperbaiki wajahnya yang tak ramah lingkungan itu, hahahaha...” sang satpam tertawa geli.


“Seumur hidup dia akan begitu, zaman sekarang mana ada orang yang mau membantu secara gratis, iya kalau dia punya tampang dan tubuh untuk di jual, tapi dia, dari ujung kaki sampai kepala perlu di modifikasi.” sang Art wanita yang tak begitu suka pada Fi memberi penilaiannya.


...Bersambung......


Mampir juga ke kumpulan novel author lainnya ya readers ku ❤️

__ADS_1



__ADS_2