Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
109 (Terpesona)


__ADS_3

Emir yang masih kecil dan belum mengerti banyak hal, malah di paksa dewasa sejak dini.


“Ma-maaf pa, Emir tidak akan mengulanginya lagi.” suara lembut namun bergetar terdengar jelas di telinga Asir.


“Apa kau benci pada papa?” Asir bertanya dengan menatap tajam ke arah putranya.


“Tidak pa.” sahut Emir dengan memberi senyuman hangat pada ayah yang tak pernah memberi kasih sayang yang seharusnya padanya.


“Benarkah?” Asir yang tahu kalau putranya berbohong merasa geram.


Plak!


Asir menampar wajah mungil putranya, meski begitu, Emir yang telah sakit mental karena terus mendapat siksaan lahir batin, merasa yang di lakukan papanya adalah hal wajar, dan memang pantas ia dapatkan.


Karena itu dirinya terus tersenyum apapun yang di lakukan ayahnya.


Di benak dan juga pikirannya, ia adalah orang yang tidak berguna dan tak pantas bahagia.


“Emir,” ucap Asir.


“Ya pa?” sahut Emir tanpa menunjukkan rasa marahnya.


Asir yang melihat anaknya masih berbuat baik padanya merasa semua yang ia lakukan tidak akan menjadi masalah besar di kemudian hari.


“Jadilah anak yang baik, kau tahukan.” ucap Asir dengan merasa paling benar.


“Iya pa.” sahut Asir dengan patuh.


Setelah itu Asir pun pergi dari hadapan putranya tanpa meminta maaf.


...Flash Back Off...


“Emir... maafkan papa nak, hiks...” Asir tak dapat menahan rasa sedih dan sesal yang ada di dalam hatinya.


Kemudian ia pun kembali ke dalam selnya dengan membawa makanan pemberian ibunya.


Ia yang penuh air mata malah di tertawai teman satu selnya.


“Hahaha... kemarin sok jago, sekarang malah menangis seperti ibu-ibu yang kehilangan dompetnya.” ucap salah seorang tahan.


Asir yang tidak ingin berdebat tak memperdulikan kata-kata jahat yang masuk ke telinganya.


Ia pun memakan nasi pemberian ibunya, seketika ia mengingat perbuatan jahatnya pada Alisyah.


“Maafkan aku ma, maafkan aku.” kini Asir hanya bisa menyesali apa yang ia lakukan selama ini.


🏵️


Tepat pada Pukul 12:00 siang, Fi mendatangi ketiga rekan kerjanya satu persatu.


“Ren, kerjanya lanjut nanti saja, kita makan dulu yuk. Ku tunggu di meja makan ya.” Fi mengajak Reni untuk makan.


Dan kata-kata yang sama ia sampaikan pada Lia dan juga Selia.

__ADS_1


Setibanya ketiganya di meja makan, mereka pun melihat di atas meja makan sudah ada nasi, ayam penyet beserta sambalnya, tak lupa dengan menu tambahan tempe, tahu gorengnya, beserta lalapan segar.


Mereka yang terbiasa makan di lantai setelah insiden Fi terjadi, malah tak ingin duduk di kursi.


“Ehm, Fi, ada tikar enggak?” tanya Selia dengan ragu, ia bingung harus memanggil Fi dengan sebutan nama atau nyonya.


“Ada, untuk apa?” tanya Fi, sebab ia merasa itu tak di perlukan.


“Untuk tempat duduklah, bukankah kita makan di bawah?” ujar Lia.


Lalu Fi melihat ke arah kursi meja makannya yang banyak kosong.


“Tidak, kita makan disini?” Fi pun duduk di atas kursi.


Sontak Lia, Reni dan Selia melihat satu sama lain, sebab menurut mereka, mereka tak pantas berada disana.


“Ayo, cepatlah anak-anak, bukankah kalian lapar?” Yuri menuntun tangan Reni untuk duduk.


Lalu Andri yang selalu cari perhatian tersenyum pada Lia dan juga Selia.


“Tante duduk dong, mama ku sengaja masak banyak untuk kita makan loh.” Andri yang manis melambaikan tangannya pada kedua orang yang sering menyakiti ibunya.


Kemudian Lia dan Selia duduk di kursi kosong yang telah tersedia.


“Ayo-ayo di ambil!” Fi yang baik hati mempersilahkan ketiganya untuk mengambil makanan mereka.


🏵️


Yudi yang baru selesai meeting kembali ke kantor bersama Denise.


“Kau sakit gigi ya?” ucap Yudi pada sahabatnya.


“Yang sakit hatiku, bukan gigi ku Yudis.” kemudian Denise menoleh ke arah Yudi.


“Bagaimana mungkin kau sakit hati, saat kau tak memiliki kekasih?” Yudi merasa Denise terlalu aneh hari itu.


“Tak punya kekasih, bukan berarti tak bisa sakit hati. Yudis, kurang ku hanya tak di cintai.” kata-kata Denise membuat Yudi jadi iba.


“Aku tak mengerti kenapa kau menyiksa diri hanya untuk yang tak bisa kau miliki. Denise, cari orang yang tulus menyayangi mu. Sebagai teman aku prihatin dengan keadaan mu terlalu lama menyendiri.”


Denise yang terlanjur menancapkan paku cinta di hatinya, tak bisa begitu saja untuk mencabutnya, ia yang sulit pindah ke lain hati membuatnya terkurung dalam Zona nyaman meski tak bisa memiliki.


“Tenang saja, aku tahu apa yang terbaik untuk ku.” Denise tak menghiraukan apa yang di katakan oleh Yudi.


Sore harinya setelah pulang kerja Yudi melihat ke arah rumah Fi.


Yudi yang ingin berkunjung bingung harus mengatakan alasan apa pada Fi.


“Pada hal rindu, tapi harus ada alasan untuk bertemu.”


Ting!


Tiba-tiba Yudi punya ide bagus. “Gunakan pak Marteen saja sebagai alasan.”

__ADS_1


Setelah mendapat solusi atas permasalahan yang ia hadapi, Yudi pun menyuruh Rian untuk melajukan mobil dengan cepat.


“Ayo pak! Aku buru-buru nih!” desak Yudi.


“Baik tuan,” sahut Rian.


Sesampainya di rumah, Yudi langsung mandi, dengan memakai sabun dan gosok gigi sebanyak tiga kali.


Setelah itu, ia pun keluar dari kamar mandi dengan kondisi wangi.


Yudi pun memakai pakaian terbaik, yang dapat menunjang penampilan untuk terlihat sangat tampan.


Ia pun kembali menaiki sepedanya untuk menuju rumah Fi.


Sesampainya ia di depan gerbang rumah Fi, Yudi merapikan bajunya yang telah rapi terlebih dahulu.


Selanjutnya ia mengayun pedal sepedanya menuju pintu utama calon istrinya bila Fi mau menerimanya.


Reni yang ada di teras melihat kehadiran majikannya.


“Selamat sore tuan.” sapa Reni dengan ramah.


“Sore juga.” Yudi pun turun dari atas sepedanya.


“Mau ketemu Fi ya tuan?” tanya Reni.


“Iya, dia di dalam kan?” Yudi pun menginjak lantai yang baru di pel oleh Reni.


Ya Tuhan, pada hal sudah mau selesai, batin Reni.


Ia berpikir kalau Yudi sengaja melakukannya. Sedang Yudi tak tahu jika Reni sedang mengepel, itu semua efek dari groginya untuk bertemu Fi.


“Saya masuk ya.” ketika Yudi ingin melangkah, Reni berkata padanya.


“Hati-hati tuan, lantainya licin.” sontak Yudi menoleh ke arah kakinya.


“Maaf Ren, aku tak tahu kalau lantainya basah.” Yudi yang merasa tak enak hati turun dari teras.


“Tidak apa tuan, silahkan masuk tuan.” meski ia marah, namun Reni tak bisa berkata jangan. Itu semua demi ketetapan dirinya sebagai pekerja Asir.


“Ah, tidak, tunggu kering dulu.” saat Yudi akan balik kanan, tanpa sengaja ia melihat Fi yang datang ke ruang tamu.


“Fi.” gumam pria tampan itu.


Yudi yang terhipnotis akan pesona Fi langsung masuk ke dalam rumah.


Dab!


Ia pun tanpa sadar menginjak pelan kain pelan Reni yang masih basah.


Kaki jenjang pria tampan itu terus melangkah tiada henti.


Hingga jejak sepatu yang ia pakai meninggalkan bekas di lantai.

__ADS_1


Reni yang sudah lelah, menatap kesal ke punggung Yudi yang terus melenggang pergi lebih masuk ke dalam rumah.


...Bersambung......


__ADS_2