Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
104 (Berasa Kencan)


__ADS_3

Setelah itu, Fi, Yuri dan Andri pun masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.


Setelah Yudi menunggu selama 10 menit, Fi beserta ibu dan anaknya keluar dengan pakaian tertutup.


Yudi yang melihat sang wanita idola memakai baju gamis hitam serta jilbab pasmina hitam menjadi semakin jatuh hati.


Warna netral itu begitu cocok menyatu dengan kulit Fi yang putih bening.


Yudi yang kagum tak sadar jika matanya yang indah tak berkedip sama sekali.


Sedang Fi yang tahu kalau pandangan penuh makna itu untuknya tak tahu harus melihat ke arah mana.


Andri yang merasa aneh dengan Yudi yang terus berdiri tanpa bergerak menyadarkan pria tampan itu.


“Ayo pa!” Andri menggenggam tangan Yudi.


Seketika Yudi sadar dari lamunannya. “Ayo!” ia pun menuntun tangan Andri untuk masuk ke dalam mobil.


Rian yang menyaksikan kekonyolan majikannya geleng-geleng kepala.


Payah tuan, batin Rian.


Yuri yang tahu perasaan Yudi, merasa tak masalah, jika putrinya menikah dengan pria baik hati itu.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Rian pun menginjak gas, dan mulai meluncur menuju TPU Kamboja.


Selama 10 menit dalam perjalanan mereka semua hening. Hingga Yudi memecahkan kesenyapan itu dengan bicara pada Yuri.


“Bagaimana bu? Ibu suka tidak rumah baru Fi?”


“Suka, tapi terlalu besar tuan, pasti waktu kami tersita untuk membersihkan rumah setiap hari.” Yuri mengatakan kesulitan yang akan mereka hadapi bila tinggal disana.


“Benar, saya dan ibu berniat menjual rumah itu, kalau tuan mengizinkan.” Fi mengatakan rencananya pada majikannya.


“Jual saja, pasti uangannya lumayan banyak,” Yudi setuju dengan keinginan Fi.


“Oh ya tuan? Jadi tak masalah jika kami jual?” Fi merasa senang, karena telah mendapat izin dari Yudi.


“Tapi itu artinya kalian semua harus tinggal dengan ku.” kata-kata Yudi membuat Fi menghela napas panjang.


“Kalau begitu enggak jadi deh tuan.” Fi membatalkan niatnya.


Ia lebih baik lelah membersihkan rumahnya, dari pada harus tinggal dengan Yudi.


“Terserah kau saja, aku hanya memberi pilihan.” Yudi yang pura-pura tak perduli apapun keputusan Fi, tak melihat wanita cantiknya yang bicara di belakangnya.


Kemudian Yuri yang sudah tua berbisik ke putrinya.


“Fi, kau terima sajalah, lagi pula ibu tak sanggup membersihkannya sendiri, belum lagi ibu lihat rumah itu seram sekali, kalau hanya kita bertiga, akan banyak kamar dan ruangan yang kosong, apa lagi kalau kau pergi kerja, hanya ada ibu dan Andri disana, sudahlah, terima saja tawaran pak Yudi.”

__ADS_1


Yuri berkata panjang lebar, tujuan Yuri agar Fi dan Yudi menjadi lebih dekat.


“Tapi bu...” Fi yang ada konflik hati dengan majikannya bingung harus bagaimana.


“Ayolah Fi.” Yuri terus mendesak putrinya.


“Kita coba saja bu.” namun Fi yang masih jual mahal tak setuju dengan permintaan ibunya.


Setelah 30 menit dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di pemakaman.


Mereka semua pun turun dari dalam mobil, menuju pusara Emir.


Fi yang mengikuti langkah Yudi yang ada di depannya gemetaran.


Pasalnya ia tak sanggup melihat makam putranya.


Setelah berjalan selama 2 menit, Yudi berhenti di makam yang telah di buat keramiknya.


“Disini.” kemudian Yudi menyingkir dari hadapan makam Emir.


“Emir Mahdi.” Fi yang membaca nama lengkap anaknya langsung menangis.


Ia pun berjalan pelan ke batu nisan anaknya, kemudian Fi yang tak bisa berdiri dengan lama dengan cepat berjongkok.


“E-Emir...” suara indahnya bergetar, saat ia menyebutkan nama anaknya.


Sebab Yuri takut, kalau Fi sakit lagi, apa lagi sebentar lagi mereka akan menghadapi sidang.


“Kenapa kita ke kuburan nek?” tanya Andri.


“Untuk ziarah, mengunjungi abang Emir.” terang Yuri.


Kemudian Andri melihat ke makam abangnya. “Bukannya kalau sudah di tanam tak bisa kemana-mana nek?” ucap Andri seraya mendongak.


“Iya, kau benar nak.” Yuri menghela napas panjang untuk menahan sakit di dalam dadanya.


“Abang kok bohong pada ku ya?” Andri merasa sedih setelah tahu, abangnya tak terbang bebas bersama burung.


Rian yang datang belakangan membawa tikar sebagai tempat duduk mereka.


“Ayo Fi, duduk disini.” Yudi menyuruh Fi untuk duduk di atas tikar yang telah di gelar di belakang Fi berjongkok.


Fi pun menuruti apa yang Yudi katakan, ia yang ingin terus menangis dari tadi selalu di hentikan oleh orang-orang yang sayang padanya.


“Kendalikan emosi mu, Emir butuh do'a bukan air mata, dan kau butuh keadilan, untuk itu, kuatkan dirimu.” kata-kata dari Yudi membuat Fi menghapus air matanya.


Kemudian Yuri memberikan mereka buku Yasin satu persatu. Selanjutnya mereka pun membaca buku Yasin bersama.


Setelah selesai mengaji, Fi berbicara pada anaknya.

__ADS_1


“Emir... mama mohon maaf ya nak, karena kebodohan dan ketidak berdayaan mama, kau jadi korbannya nak, hiks.... mama salah nak, hiks... tapi mama akan berjuang untuk mendapatkan keadilan, nak... yang tenang disana, mama akan selalu mendampingi mu dengan do'a.”


Fi memeluk dan mencium nisan anak pertamanya.


Kemudian Andri pun ikut bicara. “Bang, jangan bohong lagi ya di tempat baru, dan.. Andri rindu bang Emir, robot-robot kesayangan abang buat ku semua ya bang.” Andri yang polos meminta izin pada Emir untuk untuk memiliki mainan abangnya.


Setelah itu mereka pun pulang. Sesampainya di depan rumah Fi.


Fi, Andri dan Yuri turun dari mobil Yudi. “Terimakasih banyak tuan.” Fi tersenyum pada majikannya.


“Sama-sama.” Yudi membalas senyuman Fi


“Hati-hati di jalan tuan. Terimaksih banyak,” ucap Yuri.


“Iya bu, kalau bosan di rumah, mainlah ke tempat ku,” ujar Yudi.


“ Siap tuan.” Yuri tertawa kecil.


“Papa, nanti datang main kesini ya,” pinta Andri.


“Sstt! Tuan cape, jangan aneh-aneh Andri!” Fi kesal dengan permintaan putranya.


Karena ia yang ingin bersantai pasti terganggu dengan kehadiran Yudi.


“Papa akan datang setelah mandi.” Yudi yang ingin selalu melihat Fi, tentu saja tak menolak.


Kemudian mobil Yudi pun melaju pelan menuju rumahnya.


“Hei Andri, kau tak boleh menyusahkan tuan. Karena tuan itu orang sibuk, kau mengertikan?!” Fi berharap anaknya tak bicara yang tak perlu lagi pada majikannya.


“Makanya tinggal di rumah papa, biar papa enggak cape jalan kesini,” balas Andri.


“Sudahlah, ayo kita masuk.” kemudian mereka bertiga pun menuju rumah.


Yudi yang sudah ada di kamarnya dengan cepat menuju kamar mandi.


Ia yang merasa pertemuan dengan Andri adalah kencan bersama Fi menjadi sangat bersemangat.


Ia yang sedang mandi berulang kali menyikat dirinya dengan sabun cair ekstra wangi level 10.


Ia yang takut ada noda apapun di giginya, dengan rajin menyikatnya sampai 3 kali.


Selanjutnya kumur-kumur dengan antiseptik mulut.


Setelah merasa bersih dah higenis, baru Yudi baru percaya diri keluar dari kamar mandi.


Ia yang membuka lemari bajunya bingung harus memakai apa, sebab ia ingin semua terlihat sempurna di mata Fi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2