Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
41 (Sopan santun)


__ADS_3

Rila tersentak, ia yang bisa istirahat dengan tenang sampai siang, kini harus ikut turun tangan membersihkan debu.


“Oh ya, jangan marahi Fi lagi, karena yang menyuruhnya istirahat adalah aku,” ucap Yudi.


“Ba-baik tuan.” Rila menelan salivanya, lalu ia pun memberi Fi sorotan mata tajam.


Pasti dia main dukun, batin Rila.


Kemudian Yudi yang ingin berenang membuka handuk putih bermodel kimononya.


“Hah??!!!” seketika hati Rila meleleh melihat pemandangan indah di depan matanya, sejenak ia lupa akan amarahnya pada Fi, bagaimana tidak, tubuh atletis dan maskulin Yudi begitu menggoda dan membuat jantung siapa saja akan berdebar-debar.


Fi yang telah biasa melihat tubuh seksi seperti itu merasa biasa saja, sebab mantan suaminya juga seorang yang menjaga penampilan.


Ia yang tak ingin dapat amukan baru, memutuskan untuk beranjak dari kolam berenang menuju kamar tuannya untuk mencuci baju.


Sedang Rila masih diam mematung seraya mata terpaku melihat sang tuan besar berenang di dalam kolam.


Indahnya ciptaan mu Tuhan, mimpi apa aku semalam, sehingga bisa melihat tubuh seindah itu, batin Rila.


Rila yang terbuai akan pesona Yudi tanpa sadar mengeluarkan air liurnya.


______________________________________


Fi yang berada di dalam kamar Yudi mengambil seluruh baju dari dalam ember yang kotor.


Selanjutnya ia menuju kamar mandi yang luasnya 15,20 m2 persegi. Dan ukuran tersebut sangat cukup untuk menaruh wastafel, bathup shower dan juga mesin cuci.


Kamar mandi tersebut juga terhubung pada sebuah taman kecil, yang biasa di gunakan sebagai tempat menjemur pakaian Yudi yang baru di cuci


“Kamar mandinya bersih banget, ukurannya juga lebih besar dari rumah minimalis yang di beri Asir pada ku,” gumam Fi.


Iya yang terpesona tiba-tiba teringat akan pekerjaannya.


“Astaga... sebaiknya aku kerjakan langsung, jangan sampai aku terlambat lagi makan malam.” Fi yang rajin memasukkan semua pakaian majikannya ke dalam tabung mesin cuci.


_____________________________________


Yudi yang telah selesai berenang melihat Rila di pinggiran kolam dengan mata membelalak melihat ke arah dirinya.


Ia pun keluar dari kolam, kemudian menegur perbuatan tak senonoh Rila.


“Apa kau gila, bu? Melihat orang lain dengan tatapan mesum begitu?” Yudi mengibas rambutnya di hadapan Rila yang membuat Rila hampir pingsan.


“Ma-maaf tuan, saya hanya takut tuan tenggelam, untuk itu saya disini, karena kalau itu terjadi, saya akan siaga!” terang Rila.

__ADS_1


Penjelasan tak masuk akal dari Rila membuat Yudi tertawa getir.


“Sekali lagi kau lakukan itu, ku lempar kau ke jalan. Bu Rila ini rumah ku, jadi aku bebas mau bagaiman pun, tatapan mu yang tadi membuat ku tak nyaman.” setelah memperingati Rila, Yudi kembali ke kamarnya seraya memakai kimononya.


Rila yang mendapat kartu merah dari tuannya langsung memegang jantungnya yang berdegup kencang.


“Hufftt!! Aku rela di pecat, asal kau biarkan aku menyentuh perut kotak-kotak mu dulu, baru pergi tuan.” Rila yang biasa galak, kali itu bertingkah bagai wanita lemah.


_______________________________________


Yudi yang masuk ke kamarnya tanpa sengaja bertemu Fi yang baru selesai menjemur baju.


”Maaf tuan, saya tidak tahu kalau tuan disini.” Fi menundukkan kepalanya karena merasa malu.


Ia yang tak nyaman berada satu tempat dengan Yudi berniat untuk keluar, karena kebetulan pekerjannya pun sudah beres.


“Permisi tuan.” ketika Fi ingin pergi, Yudi malah mengajaknya bicara.


“Mana KTP mu, aku mau lihat,” pinta Yudi.


“Ada tuan, nanti saya akan kirim ke nomor tuan.” ucap Fi tanpa melihat wajah Yudi, pandangannya terus saja fokus ke lantai.


“Sekarang saja, aku ingin lihat,” Yudi yang penasaran memaksa Fi.


“Baiklah tuan.” kemudian Fi membuka handphonenya, lalu memberikan handphone apelnya pada Yudi.


“Tunggu saja,” ujar Yudi.


“Maaf tuan, itu sangat tidak pantas. Akan lebih baik, kalau saya menunggu di luar.” Fi pun beranjak dari hadapan Yudi.


Seketika Yudi menjadi bungkam, ia pun melihat Fi yang melangkah pergi.


Bahkan setelah jelek pun ia tetap cantik, akhlaknya yang bagus menutupi kekurangan fisiknya, batin Yudi.


Yudi sangat kagum akan kesopanan seorang Fi. Kemudian ia melihat photo KTP milik Fi. Seketika Yudi menelan salivanya.


“Ternyata benar itu kau?” Yudi sangat ingin melihat photo Fi yang lainnya, namun ia berpikir dua kali, karena itu jelas melanggar privasi orang lain.


“Pada hal aku ingin melihat photonya bersama pak Asir.” Yudi sungguh penasaran akan kebenaran cerita Fi yang mengatakan dirinya adalah ibu dari Emir dan Andri.


Namun Yudi tak berani melakukannya. “Nanti saja, aku minta izin secara langsung.”


________________________________________


Dewi yang telah sampai ke rumah Alisyah masuk begitu saja tanpa permisi.

__ADS_1


“Dimana orang tua itu?” tanya Dewi pada Art yang bekerja di rumah Alisyah.


“Nyonya ada di dalam non,” ucap sang Art.


“Panggilkan, sekalian suruh dia untuk menyusun barang-barangnya,” ucap Dewi.


“Baik non.” sang art pun pergi menuju kamar Alisyah.


Tak lama Alisyah datang menemui Dewi. “Pergi kau dari rumah ku! Aku tak sudi melihat wajah mu!” pekik Dewi.


“Hei, aku juga begitu tua bangka, tapi apa boleh buat, aku butuh pengasuh untuk kedua cucu mu, cepat berkemas, karena Emir dan Andri belum mandi dari pagi,” terang Dewi.


”Aku takkan keluar dari rumah ku, pergi kau anak setan!” Emosi Alisyah meluap-luap karena Dewi.


Lalu Dewi bangkit dari duduknya, kemudian berdiri tepat di hadapan Alisyah.


“Ini bukan rumah mu lagi bodoh, karena rumah ini sudah laku!” mendengar pengakuan dari Dewi Alisyah sungguh tak terima.


“Jangan sembarang kau kalau bicara, pergi kau! Dasar jahanam!” Alisyah mendorong tubuh Dewi, namun Dewi yang jauh lebih besar dan tinggi dari Alisyah dapat menahan serangan dari ibu kekasihnya.


“Pada hal aku sudah bersabar, tak mencoba main tangan pada mu, tapi pada kenyataannya, kaulah yang memancing ku untuk berbuat kasar!”


Plak!


Dewi yang emosi sedari pagi melampiaskan amarahnya pada Alisyah.


“Ikut baik-baik, atau secara paksa?” Dewi memberi pilihan pada ibunya Asir.


Lalu Alisyah menatap nanar Dewi yang begitu mengerikan dimatanya.


Ia tak menyangka, selain anaknya, orang seperti lain juga berani main tangan padanya.


“Kau pasti masuk neraka!”


“Diam kau nenek peot! Tak usah mengatakan soal kuasa Ilahi yang belum pernah kau lihat wujudnya, memangnya kalau aku ke neraka, kau akan masuk surga?”


Ocehan Dewi yang tiada habisnya membuat batin Alisyah sakit.


Tes!


Tanpa terasa, orang tua itu meneteskan air matanya.


“Enggak usah drama, cepat ambil baju mu, sebelum aku berbuat kasar lebih lanjut!” Dewi mengancam Alisyah.


“Tidak, aku tidak akan kemanapun,” Alisyah menolak untuk ikut dengan Dewi.

__ADS_1


“Heh! Ibunya si Asir! Dengar ya! Rumah ini sudah laku, dan pembelinya akan segera datang, aku memberi mu kesempatan untuk tinggal bersama kami, kalau kau mau bekerja sama, tapi kalau kau terus melawan, maaf saja ya! Ku buang kau ke jalanan! Jadi pikirkan baik-baik!” ucap Dewi.


...Bersambung......


__ADS_2