
Rila yang tak perduli dengan apapun keputusan Fi, menganggap semua telah selesai.
“Ren, kau harus berterimakasih pada Fi, ingat juga syarat yang ia katakan, jangan tunjukkan wajah mu kepadanya,” ucap Rila.
Reni yang tak dapat mengangkat kepalanya hanya bisa mengangguk.
Tanpa mendengar maaf terlebih dahulu dari Reni, Fi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
🏵️
Suli yang sedang tidur pulas di bangunkan oleh dering telponnya.
Saat ia melihat, ternyata itu panggilan dari managernya.
Halo, ada apa kau menelpon Niel? 📲 Suli.
Lagu yang kau kirim tadi, di terima oleh produser, kita tinggal mengubah lirik ke bahasa Inggris saja. 📲 Daniel.
Benarkah? Kau tak bercandakan? 📲 Suli.
Tentu saja tidak, kapan kau kembali? k
Karena kita akan segera rekaman. 📲 Daniel.
Nanti malam aku berangkat, tunggu suami ku pulang dulu. 📲 Suli.
“Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu. 📲 Daniel.
Setelah sambungan telepon terputus, Suli bangkit dari tidurnya.
“Yes! Yes! Betul feeling ku, Fi itu akan membawa keberuntungan.” Suli yang baru tiba di Indonesia pun ingin segera kembali ke Amerika.
Pada sore harinya, Yudi yang baru pulang kerja, amat bersemangat, sebab ia sudah tak sabar ingin bermesraan dengan sang istri.
Ceklek!
Kriettt!!
Ketika ia baru membuka pintu kamar, ia mendapati sang istri telah berpakaian rapi.
Yudi pun mengernyitkan dahinya, sebab istrinya terlihat ingin pergi ke suatu tempat.
“Memangnya kita ada agenda keluar sore ini?” Yudi mengira ia dan sang istri akan jalan-jalan.
__ADS_1
“Tidak.” lalu Suli mendekat ke suaminya yang masih berdiri di pintu.
“Babe, aku harus kembali malam ini juga.” kepulangan Suli yang begitu mendadak membuat Yudi bersedih.
“Baby, kau baru sampai tadi pagi, tak bisakah kau menginap malam ini saja?” Yudi sangat berharap jika istrinya mau mengundur kepulangannya.
“Babe, manager ku menelpon, katanya aku harus segera kembali, lagi pula aku ada rekaman.” Suli yang lebih mementingkan karir tak perduli akan perasaan suaminya.
“Tapi, aku masih merindukan mu, dan aku ingin bercinta malam ini bersama mu bab.” Yudi mencium kening Suli, berharap tulang rusuknya itu akan bergairah.
“Jangan sekarang, lain kali saja, ku mohon.” sayangnya Suli tak tertarik sama sekali akan godaan suaminya.
“Baby, kalau begini terus, kapan kita akan punya anak?” Yudi yang telah bersabar selama 5 tahun, ingin segera memiliki keturunan dengan Suli.
“Babe, kau tahu tidak, rekaman kali ini, aku membawakan lagu Fi Saeadat, tak ku sangka dia mempunyai banyak bakat, tadi pagi kami bercerita panjang lebar loh!” Suli membahas lagi barunya untuk mengalihkan topik pembicaraan, karena ia sendiri sudah bosan berdebat dengan Yudi mengenai soal anak.
Ia yang seorang artis terkenal, enggan untuk memiliki anak di usianya yang masih muda.
Yudi yang kecewa pada sang istri, tak lagi menahan istrinya untuk tetap tinggal.
“Untuk itu, tolong kau bawa dia berobat, kalau aku, sudah jelas tak bisa menemaninya, karena aku akan sibuk rekaman dan menulis kisah hidup Fi, aku mau mengajukannya ke produser film juga.” mata Suli selalu berbinar saat menceritakan pekerjaannya. Dan itu membuat hati Yudi semakin jauh dari Suli.
“Kemana aku akan membawanya?” tanya Yudi. Meski sakit hati dengan keputusan sang istri yang selalu sebelah pihak, namun Yudi tak ingin ribut dengan wanita yang ia cintai itu.
“Setelah rekaman serta penggarapan serial filmnya selesai, aku akan kembali.” Suli pun memeluk Yudi. Ia sangat ingin di mengerti oleh suaminya.
“Berapa lama prosesnya?” tanya Yudi dengan menahan emosinya.
“Mungkin 2 tahun,” ucap Suli.
“Setelah aku menunggu selama itu, apa yang akan kau beri pada ku?” Yudi ingin tahu apa yang istrinya katakan.
“Apapun, kecuali anak babe, mungkin aku juga akan hiatus selama 1 tahun, ku harap kau mau membantu ku untuk menepati janji ku pada Fi.”
Pernikahan macam apa ini? batin Yudi.
“Baby, aku sudah punya segalanya, jika kau ingin memberi sesuatu pada ku, aku hanya ingin anak, kalau kau mau mendengarkan aku, ku minta, kau kurangi aktivitas syuting mu, aku ada disini, aku suami mu, ku harap kau bersedia ikut dimana pun aku berada, kegiatan mu yang sekarang menggambarkan aku tak mampu untuk membiayai kebutuhan mu! Pada hal penghasilan mu tak sebanding dengan pendapatan ku.” Yudi mengeluarkan isi hatinya pada Suli.
“Babe, jangan katakan apapun lagi, aku tak ingin berdebat, pokoknya soal Fi, ku serahkan Pada mu, nanti semua uang yang kau keluarkan, akan ku ganti, katakan saja berapa nominalnya.”
Yudi yang hilang harapan untuk memiliki keluarga kecil bersama Suli, akhirnya menuruti semua yang di inginkan oleh istrinya.
“Baiklah, kalau itu mau mu.” untuk yang terakhir kalinya, Yudi mau membantu istrinya.
__ADS_1
Kalau kau tak berubah, maaf saja baby! batin Yudi
“Terimakasih banyak babe ku!!!” saat Suli ingin mengecup bibir seksi Suaminya. Yudi malah menghindar dengan cepat.
“Aku bau rokok, nanti kau batuk lagi.” Yudi yang marah tak mau di kecup oleh istrinya .
“Baiklah, kalau begitu aku berangkat sekarang, apa kau mau mengantar ku?” Suli mengira suaminya akan ikut ke Bandara.
“Tidak, aku lelah baby, aku ingin segera istirahat.” untuk pertama kalinya, Yudi menolak permintaan sang istri.
Suli pun merapatkan bibirnya, lalu menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi.” sebelum keluar dari kamar suaminya, Suli menjabat tangan Yudi terlebih dahulu. Setelah itu, ia pun melangkahkan kakinya. Meninggalkan pasangan hidupnya, demi mencapai puncak karir yang tidak ada habisnya.
🏵️
Malam ini aku menginap di rumah Clara ya sayang, soalnya dia baru kembali dari Australia. ✉️ Dewi
Dewi meminta izin pada ke kasihnya, agar mantan suami kakaknya tak khawatir.
Baiklah, hanya malam ini saja ya sayang. ✉️ Asir.
Mendapat respon positif dari Asir, Dewi merasa senang, karena rencananya akan berjalan dengan lancar.
🏵️
Asir yang berada di kamarnya pun sama bahagianya dengan Dewi.
Sebab ia bisa bercita dengan bebas dengan Wina yang sedang berjongkok di hadapannya.
“Sedot terus!” Asir begitu mabuk akan permainan Wina.
Dewi memang mantap, tapi Wina tak kalah oke, semua miliknya ukuran jumbo, aku suka, andaikan kita bertiga bisa.... akh!! bodoh, batin Asir.
🏵️
Dewi yang tidur di atas ranjang mulai merasakan mulas di perutnya.
“Aduh, sakit banget.” Dewi memegang perutnya yang mulai melilit-lilit.
“Sial, sakit banget! Di saat aku susah begini, pasti laki-laki sialan itu sedang bermesraan dengan Art tak tahu diri itu.”
...Bersambung......
__ADS_1