
Selesai mandi, Yudi memakai pakaian formalnya.
Selanjutnya ia menuju pintu utama, sebab para artnya sedang brifing rutin disana.
Setelah ia ada di teras pintu utama rumahnya ia melihat Rila Yang sedang memberi pidato pagi.
“Oke, semangat semuanya, bekerja lebih keras, karena itulah tujuan kita disini.” Rila yang tak sengaja melihat kehadiran sang majikan yang ada di belakangnya langsung memberi salam
“Selamat pagi tuan, semoga hari ini tuan di beri perlindungan oleh Allah SWT.” Rila mendo'akan sang majikan yang telah memberinya gaji besar.
“Terimaksih banyak, apa bu Rila sudah selesai bicara?” tanya Yudi.
“Sudah tuan.” Rila menundukkan kepalanya.
“Apa boleh saya ambil alih sebentar?” Yudi meminta izin terlebih dahulu pada kepala artnya.
“Tentu tuan, silahkan.” Rila pun mundur dari tempat ia berdiri.
“Oke, terimakasih banyak bu.” setelah itu Yudi mengambil alih sebentar mikropon yang ada di tangan Rila.
Para art dan satpam yang tak pernah mendapat ceramah pagi dari sang majikan merasa resah.
Mereka berpikir kalau salah satu di antara mereka akan kena pecat.
“Ehm, selamat pagi semua!” Yudi menyapa para pekerja rumahnya di pagi hati yang cerah itu.
“Selamat pagi tuan!” sahut para pekerja.
“Maaf menyita waktu kalian sebentar, tujuan ku berbicara disini untuk meminta bantuan pada orang-orang yang ku panggil namanya. Oke, yang pertama Reni, kedua Lia, ketiga Selia. Baik, yang saya sebut namanya, mohon ke rumah sebelah untuk membantu Fi memberiskan rumah, sampai waktu yang belum di tentukan.
Mendengar permintaan dari sang majikan, mereka bertiga merasa tak ikhlas.
Belum lagi beban malu yang mereka emban akan menyulitkan mata mereka untuk melihat wajah orang yang pernah mereka hina dan rendahkan.
“Tapi tuan, saya belum selesai mengerjakan tugas saya disini.” ucap Reni sebagai alasan.
Ia berhadap majikannya membatalkan pengiriman dirinya ke rumah musuhnya.
“Tenang saja, yang lain akan mengerjakan pekerjaan mu.” Yudi memberi solusi atas apa yang di khawatirkan Reni.
Sontak Reni mengehela napas panjang. Mau menolak lagi ia takut kena pecat.
Hilang sudah harga diriku di depannya, batin Reni.
__ADS_1
Ketiga orang yang di utus sama-sama menyimpan resah dalam hatinya.
“Oh ya, jangan lupa bawa baju kalian, menginaplah disana.”
Jeng!
Jeng!
Jeng!
Baik Reni mau pun Lia dan Selia merasa ingin pingsan di tempat. Satu menit saja mereka tak bisa bertatap muka dengan Fi, apa lagi sehari atau seminggu.
Untung bukan aku yang di suruh, batin Rila.
Setelah menyampaikan perintahnya, Yudi berangkat ke kantor.
Rila yang masih berdiri di hadapan para bawahannya memberi kata-kata penutup.
“Oke semua, sudah bisa kembali beraktivitas, untuk ketiga orang yang di beri amanat oleh tuan, mohon berkerja dengan ikhlas, sebagaimana kalian kerja di rumah ini, jangan buang-buang waktu lagi, Reni, Lia dan Selia, setelah dari sini susun baju dan langsung kesana.”
Karena mendapat 2 perintah sekaligus, mereka bertiga pun bergegas dengan berat hati.
Fi yang baru pulang dari pasar dengan menaiki ojek online melihat 3 orang rekan kerjanya sedang mendorong koper menuju ke arahnya.
Ia yang tak tahu kalau Yudi memberi tim bantuan padanya jadi berpikir kalau teman-temannya sudah di pecat.
“Ke rumah mu.” ucap Reni dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Ia yang tak mampu melihat mata Fi hanya menundukkan kepalanya.
“Untuk apa kalian ke rumah ku?” tanya Fi dengan perasaan bingung.
“Bukankah ini mau mu? Menyuruh tuan untuk menjadikan kami pembantu mu?” ucap Selia menahan kesal.
Fi yang mendapat perilaku tak menyenangkan dari Selia merasa geram.
Ini yang ku takutkan kalau tinggal di rumah tuan. Pada hal aku sudah tak bekerja di tempat yang sama dengan mereka, tapi tetap saja aku di pandang sebelah mata, batin Fi.
“Iya, aku memang butuh, tapi aku tak mengatakan itu pada tuan, apa lagi meminta, hum... tuan kok bisa tahu kesulitan ku ya?” Fi memberitahu dengan halus kalau Yudi menyukainya.
Selia yang mendengar penuturan Fi geleng-geleng kepala.
“Sebaiknya kau bawa kami ke rumah mu, karena membuang waktu terlalu lama itu tidak baik.” titah Selia. Ia yang tak ingin berlama-lama berinteraksi dengan Fi memilih untuk langsung bekerja.
__ADS_1
Benar-benar memalukan! Apa tuan sengaja melakukannya? batin Selia.
“Baiklah, ayo masuk.” Fi yang berjalan di depan di ikuti oleh 3 mantan rekan kerjanya.
Melihat rumah Fi yang megah dan indah membuat Lia menangis darah.
Pasalnya ia juga ingin tempat tinggal sebagus itu dengan cara pintas.
Sesampainya di dalam rumah Fi, mereka di buat pangling, sebab rumah yang telah lama kosong itu perabotannya telah lengkap.
Kemudian Fi menunjukkan kamar untuk Reni, Lia, dan Selia.
“Mohon kerja samanya, tugas kalian cukup bersih-bersih dan menata barang yang ada di rumah dengan baik, kalau masalah dapur tenang saja, aku yang akan urus.” kebaikan hati Fi yang tulus membuat ketiganya malu sendiri.
Mereka yang memusuhi berat seorang Fi, malah mendapat tanggapan santai.
Pada hal dalam hati mereka telah berkata, kalau Fi akan balas dendam dan menyiksa mereka bertiga.
“Terimakasih banyak. Sudah datang.” Fi menepuk ringan lengan Selia.
Sikap bersahabat Fi membuat Selia merasa bersalah selama ini. Kejahatan yang ia lakukan malah di balas baik oleh Fi. Dan kebaikan yang Fi lakukan merupakan sebuah tamparan besar untuknya yang selalu beranggapan buruk pada Fi.
Setelah selesai memberitahu kamar-kamar yang akan di tempati oleh rekan-rekannya, Fi menuju dapur.
Tuan baik banget sih pada ku, apa ku akhiri saja sesi ujiannya? batin Fi.
Fi yang kini di dapur mulai sibuk memasak. Ketika ia sedang mengiris bawang Yuri datang dengan langkah buru-buru ke dapur.
“Hei Fi, kenapa orang-orang dari rumah tuan datang kemari?” tanya Yuri, sebab ia lihat ketiganya sedang sibuk membersihkan rumah.
“Oh, itu tuan yang minta bu, aku juga enggak tahu kalau tuan akan menyuruh mereka kemari.” terang Fi seraya tangannya terus bekerja.
“Oh... begitu ya, ibu kaget tadi, habis jalan-jalan lagi dengan Andri malah dapat tamu tak di undang.” kemudian Yuri duduk di atas bangku meja makan.
“Apa lagi aku bu. Hahaha... ada-ada saja tuan, oh ya bu, Andri mana?” tanya Fi, karena ia tak melihat putranya.
“Ada, dia lagi sama Reni,” ucap Yuri.
“Ngobrol ya bu?”
“Iya, kau tahu sendirikan, anak mu yang satu itu selalu ramah dan berusaha agar dirinya di beri perhatian orang lain.” Yuri tahu jika cucunya tak ingin di musuhi siapapun.
“Iya bu, kasihan sih kadang, harus memuji-muji orang lain agar dirinya di sukai, tapi enggak apa-apa bu, itu melatih dia untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.”
__ADS_1
Fi tahu tujuan Andri yang sebenarnya adalah agar dirinya di sukai semua orang.
...Bersambung......