
Setelah percakapan itu, Fi dan Yuri pun memasak ayam penyet sebagai menu lauk hari itu.
Lia yang sedang mengepel lantai bersama Reni mulai mengobrol-ngobrol.
“Ren.”
“Ya Lia? Ada apa?” ucap Lia seraya tetap mengepel lantai.
“Ku pikir Fi akan membentak-bentak kita, atau merendahkan, ternyata dia bersikap seperti biasa.” Lia mengatakan isi hatinya.
“Kau benar juga, jujur aku merasa enggak enak karena sudah jahat padanya selama ini, aku menyesal, kalau ku tahu nasibnya akan sebagus ini, pasti aku akan baik-baik padanya.” Reni menjadi serba salah.
“Iya-ya, belum lagi kalau dia sampai jadi dengan tuan, habis sudah harga diriku, mungkin aku akan resign, hufff...” Lia menghela napas panjang.
🏵️
Asir yang ada dalam sel sedang demam karena tak bisa tidur sejak ia menginap di penjara.
Wajahnya yang dulu mulus kini memerah akibat gigitan nyamuk.
“Sial! Bisa gila beneran aku kalau lebih lama disini.” Asir memijat pelipisnya yang terus sakit tiada henti.
Saat makan pun Asir tak berselera, sebab menu yang di berikan adalah tempe rebus.
Akibatnya, tubuhnya yang maskulin jadi kurus dan kendor.
Ia juga kini memiliki kantung mata dan mata panda, ia yang dulu tampan 95% kini menjadi turun menjadi 75%.
Batinnya sungguh tersiksa dengan apa yang menimpanya.
Berapapun akan ku bayar, asal aku keluar dari sini, batin Asir.
Ia yang sedang sengsara pun di datangi oleh sipir penjara.
“Asir!” sipir penjara memanggil namanya.
“Ya pak?” jawabnya dengan lemah.
“Ada tamu untuk mu.” kemudian sang sipir membuka sel tahanan Asir.
“Apa ada kabar baik dari pak Hitman?” Asir berharap ia mendapat sesuatu yang bagus untuk hari itu.
Saat Asir telah tiba di kursi tamu, raut wajahnya jadi kecut, karena yang datang adalah Alisyah, sang ibunda yang selalu ia siksa batinnya sedari ia kecil.
__ADS_1
Asir pun duduk di hadapan ibunya dengan perasaan tak ikhlas.
“Kalau enggak mau membantu ku, untuk apa datang menjenguk ku?” Asir masih gusar pada ibunya.
“Iya, mama memang tidak akan membantu mu, karena kau sudah dewasa, apa yang kau perbuat atas dasar sadar mu, jadi kau harus bertanggung jawab atas dirimu sendiri.” ucap Alisyah tegas.
“Lalu, apa tujuan mama kesini? Apa untuk mengejek ku?” Asir yang geram membuang wajahnya.
“Tidak, tapi untuk menjenguk mu, walau kau sudah durhaka sama mama, tapi mama tetaplah orang tua mu, mama ingin melihat keadaan mu keadaan mu sekarang,” terang Alisyah.
“Seperti yang mama lihat, masih hidup.” jawab Asir dengan tak bersemangat.
“Ini!” Alisyah meletakkan nasi kotak di atas meja untuk putranya. “Mama tahu kau pasti tak suka makanan sini, makanlah nak.” Alisyah membujuk putranya.
“Aku sudah makan.” Asir enggan menerima pemberian ibunya.
“Kalau kau sudah makan, kau pasti tak sekurus ini Asir, mama mengenal mu, mama tahu sifat mu, dan mama sayang pada mu nak.” Alisyah menggenggam tangan putranya.
“Jangan sok manis ma, kalau benar sayang pada ku, pasti mama mau jadi saksi ku, bantu aku, tapi apa? Hah? Mama lepas tangan, bahkan mendukung ku untuk di hukum, dan dari dulu mama tak pernah menganggap ku ada!” Asir tak mengerti, sikap tegas ibunya karena ulah yang ia buat sendiri.
“Asir, mama tak perlu menjelaskan apapun pada mu lagi. Karena pastinya, kau juga sudah merasakan, hasil dari apa yang mama larang selama ini pada mu.” Alisyah merasa kasihan pada putranya, namun apa boleh buat, ia ingin anaknya sadar.
“Pergilah ma. Kehadiran mama hanya membuat aku tambah sakit.” ucap Asir tanpa melihat wajah ibunya.
“Baiklah, ibu akan pergi. Asir, mungkin sekarang kau belum sadar, tapi nanti kau akan mengerti apa yang kau lakukan selama ini adalah salah. Pada ibu, Fi dan anak-anak mu, kau juga perlu tahu, hasil dari kejahatan mu, anak mu meninggal.” Alisyah mengungkit kembali soal kematian Emir.
Atau lebih tepatnya, Asir tak mau tahu apa yang terjadi pada putranya.
“Asir, Emir meninggal karena Wina nak, meski kau tak sayang padanya, tak menganggap ia anak, tapi Emir yang belum dewasa, akan membantu mu di akhirat Sir, dia akan meminta pada Allah untuk kau tak di masukkan ke neraka. Walau pun kau telah menyiksa dan membunuh mentalnya nak, hiks...” Alisyah menyesal dengan kegagalannya mendidik anak.
“Aku tak perduli, pulanglah!” Asir mengusir ibunya.
“Baiklah, jaga kesehatan ya nak, tetap bersyukur dengan apa yang kau dapatkan saat ini, dan... makan ya nak. Sekali saja, hargai aku sebagai ibu mu.” Alisyah bangkit dari duduknya. Lalu pergi tanpa di lihat oleh putranya.
Sejahat apapun anak pada seorang ibu, tapi sang ibu akan tetap menyayangi anaknya. batin Alisyah.
Asir yang masih duduk di kursi perlahan menitikkan air matanya.
Ia pun mengingat segala perbuatan tak manusiawinya pada ibu, istri dan anaknya.
“Astaga Tuhan...” Asir menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apa yang ku lakukan selama ini Tuhan?!” kemudian Asir melihat nasi kotak yang di bawa ibunya.
__ADS_1
“Ibu, hiks...” bibir pecah-pecah Asir bergetar, matanya memerah, hidungnya keluar air.
Buk!
Buk!
Buk!
Asir memukul dadanya yang terasa sesak dan berat.
Ia yang tak pernah membuang air matanya selama ini, kini menangis parau.
“Ibu... maafkan aku... Emir... maafkan papa.” seketika ia mengingat senyum putranya yang manis namun menyedihkan.
...Flash Back On!...
“Emir!” suara melengking Asir memanggil nama putranya yang sedang bermain robot-tobot bersama adiknya di ruang tamu.
“Ya papa?” sahut Emir dengan tersenyum pada ayahnya.
“Kalau di panggil itu datangi orangnya, bukan malah diam di tempat Emir!” Asir mendengkus kesal.
Kemudian putar sulungnya beranjak menuju dirinya.
“Maaf papa, kalau Emir salah.” meski mendapat tatapan mengintimidasi, Emir masih tersenyum lebar pada ayahnya.
“Apa ini?!” Asir menunjukkan uang yang ia temukan di buku gambar putranya.
“Uang pa.” jawab Emir apa adanya.
“Papa juga tahu Emir, ini namanya uang, tapi kau dapat dari mana?!” Asir yang kesal memukul kepala putranya.
Puk!
Asir yang tak mengira-ngira tenaganya, membuat tubuh putranya oleng dan hampir jatuh.
“Maaf pa. Ta-tadi Emir dapat di lantai.” Emir mengelus kepalanya yang teras pegal dan nyut-nyutan.
“Lantas, karena kau lihat ada uang di lantai, kau ambil begitu saja? Tanpa memikirkan itu dosa atau pemiliknya pasti mencari uangnya?”
Bola mata Asir hampir keluar saat memarahi anaknya.
“Maaf pa, Emir enggak tahu soal itu.” Emir yang takut dan merasa sakit atas pukulan Asir meneteskan air matanya.
__ADS_1
“Apa ini?” Asir menyeka kasar pipi putranya. “Saat mencuri kau tak merasa bersalah, tiba ketahuan kau menangis, kau itu laki-laki Emir! Jangan pernah kau tunjukkan air mata mu, meski di hadapan orang tua mu.” Asir merasa apapun yang di lakukan putranya adalah salah.
...Bersambung......