
Hitman selaku pengacara yang ia pekerjakan tak bisa berkomentar banyak, karena Asir sendiri telah mengakui kesalahannya.
“Fi, aku mohon maaf pada mu, karena aku telah berbuat salah selama ini, aku... menyesal. Andai waktu bisa di putar, aku takkan mengikuti hawa nafsu yang bersarang di hatiku, untuk itu, mohon maafkan aku, Fi.”
Mendengar permintaan maaf dari Asir secara langsung hati Fi merasa damai, meski begitu. Ia ingin kalau mantan suaminya tetap di hukum.
“Aku sudah memaafkan mu, tapi maaf, hukum tetap berjalan.” ucap Fi dengan tegas.
Sontak Asir syok, pasalnya ia hanya ingin terlihat tulus.
Karena setahunya Fi akan memaafkannya, seperti biasa di masa lalu.
“Fi, apa tak ada niat mu untuk mencabut laporan ini?” Asir mulai ketakutan jika harus kembali ke dalam jeruji besi itu.
“Tidak, terima saja hukuman yang akan di beri oleh hakim padamu.” Fi yang tegas, telah menutup jalan damai dengan mantan suaminya.
“Saudara Asir, apa masih ada yang ingin di sampaikan?” tanya ibu hakim.
Asir yang hilang semangat merasa lemas, hingga ia tak tahu mau berkata apa lagi.
Asir yang tak bisa mengelak dari hukum, menyerah.
“Baik, karena saudara terdakwa Asir tak ingin menyampaikan apapun maka pengadilan memutuskan bahwa saudara Asir akan menerima hukuman 25 tahun penjara, atas kasus, penganiayaan 2 anak yang yaitu Andri dan Emir, hingga menyebabkan 1 anak meninggal dunia, yang selanjutnya melakukan tidak penganiayaan dan pembakaran pada saudari Fi Saeadat. Dari penganiayaan itu menyisakan luka bakar dan juga pincang. Dan untuk saudara Wina yang terindikasi melakukan percobaan pembunuhan berencana, maka sesuai dengan Pasal 53 junto 338 KUHP, saudari Wina di jatuhi hukuman 10 tahun penjara. Baik, sekian sidang untuk kasus sadara Asir dan juga saudari Wina, sidang di tutup.”
Tok tok tok
Hakim ketuk palu, tanda persidangan telah berakhir.
Mendengar keputusan hakim, Asir memejamkan matanya sejenak, semangat untuk hidup pun pupus dari dalam hatinya.
Fi yang memenangkan kasus itu tak sengaja melihat ke arah Yudi.
Yudi pun tersenyum pada Fi, seketika Fi ingat soal janjinya, yang mana akan menerima lamaran Yudi, apabila mereka berhasil memenangkan kasus itu.
Astaga, kok malah canggung begini, batin Fi.
Saat Fi akan beranjak, Asir yang tangannya di borgol serta di kawal 2 polisi mendatangi Fi ke tempat duduknya.
Mata Asir tak hentinya menatap Fi yang kini telah cantik kembali.
__ADS_1
“Fi.” Asir mengulurkan tangannya, berniat untuk berjabatan.
Fi yang pernah di sakiti, enggan untuk menanggapi Asir.
“Maafkan aku, aku bodoh telah menyia-nyiakan mu selama ini. Asal kau cabut laporan mu, aku bersedia bersama dengan mu, aku berjanji akan berubah, takkan menduakan mu lagi, asal kau mau pada ku, maka keluarga kita akan kembali utuh.” perkataan Asir membuat Fi naik pitam.
“Hei! Apa kau pikir aku sebodoh itu? Memberikan hatiku kembali pada suami tak berguna seperti mu? Apa menurut mu aku setolol itu?! Sudah kau campakkan, kau bakar dan siksa, aku masih mau pada mu?!” rasanya Fi ingin merobek-robek wajah Asir yang kini hancur sebelah.
“Ini demi anak kita, aku juga akan memberi mu dan anak kita seluruh aset perusahaan, tolonglah Fi, beri aku kesempatan, anak kita akan menderita tanpa aku, apa kau tak kasihan pada Andri, dia masih kecil, tapi tak mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang ayah.” Asir terus membujuk Fi, yang jelas-jelas tak mau padanya.
“Siapa bilang? Aku bersedia menempati kekosongan itu.” Yudi berdiri di sebelah Fi, kemudian ia pun menggendong Andri yang bersembunyi di belakang Fi.
“Jadi kau dalang di balik penangkapan ku, Yudi?!Teganya kau, demi mendapatkan istri ku, kau menjobloskan ku, licik!” mata Asir membelalak sempurna.
“Tepatnya, aku hanya membantu calon istri ku untuk mendapatkan keadilan atas apa yang ia alami selama ini, baiknya pak Asir, bapak menyerah tanpa berjuang, saya salut untuk kejujuran bapak yang satu itu.”
Yudi pun mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Greb!
Tangannya yang jenjang merangkul bahu Fi yang indah.
Asir merasa terbakar! Hatinya sungguh tak tahan melihat orang lain menyentuh mantan istrinya.
Fi yang mendapat sentuhan itu menoleh ke arah Yudi.
Asir yang melihat itu makin panas, sebab ketiganya terlihat seperti keluarga sungguhan.
“Berapa kau bayar para petinggi sini?!” pekik Asir dengan tatapan mengintimidasi.
“Hakim yang menangani kasus mu adalah mahasiswa ibu (sambung) ku.” terang Yudi dengan tertawa kecil.
“Sudahlah tuan, sebaiknya kita pergi, karena urusan kita sudah selesai.” sebelum mereka pergi meninggalkan Asir. Fi pun berkata pada mantan suaminya.
“Semoga betah di rumah baru mu.”
Tes!
Asir menitikkan air matanya, ia pun menoleh ke arah Wina yang masih berbicara sendiri.
__ADS_1
Andai ku tahu ada cara operasi plastik, pasti wajah Fi akan ku perbarui setiap waktu, jika tampang adalah yang terpenting untuk ku, batin Asir.
Sebelum ia di giring kembali ke selnya, ia pun menatap kembali istri dan anaknya yang kini telah punya penggantinya.
“Aku menyesal, andai aku tak jahat pada mereka dan semua orang yang ku sakiti.” saat Asir akan membalik tubuhnya, Alisyah memanggil putranya.
“Asir...” ucap Alisyah dengan suara bergetar menahan tangis.
“Mama.” Asir menelan salivanya, air matanya menetes semakin deras.
“Asir, anak ku, hiks...” Alisyah memeluk putranya, Asir pun membalas pelukan ibunya.
“Mama, maafkan Asir karena sudah jahat pada mama selama ini, hiks...” keduanya pun menangis sesungukan.
“Iya nak, mama sudah memaafkan mu, tolong, jadilah orang baik, jangan lupa beribadah pada yang maha kuasa, mama sayang Asir.” setelah itu Asir dan Alisyah saling melepas pelukan.
“Aku pergi ma.” setelah berpamitan, Asir beranjak menuju rutan.
🏵️
Fi yang ada di dalam mobil di peluk oleh Yuri. “Selamat ya Fi, semoga setelah ini kau mendapat banyak hal baik dalam hidup mu nak.” Yuri pun mencium pipi Fi.
“Terimaksih banyak bu.” ucap Fi. Lalu Fi menatap Yudi yang duduk di kursi depan.
“Terimakasih banyak tuan, sudah mendampingi ku menghadapi masalah ini, semoga tuan selalu dapat perlindungan dan rezeki berlimpah dari Allah SWT.” Fi mendo'akan sang majikan.
“Sama-sama Fi, aku senang kalau bisa membantu mu.” Yudi tertawa bahagia, karena itu artinya dirinya akan segera menikah dengan Fi.
“Ma, kok Andri enggak lihat papa tadi?” Andri tak mengenali sang ayah kandung yang ada di hadapan mereka semua.
Sebab wajah Asir yang begitu buruk sulit untuk di kenali oleh Andri.
“Papa enggak jadi datang.” Fi memilih berbohong demi kesehatan mental anaknya.
“Benarkah? Berarti mama bohong pada ku.” ucap Andri dengan menancungkan bibirnya.
“Andri, mama mana pernah bohong pada mu, apa lagi soal rencana pernikahan mama dan papa.” Yudi mengungkit janji Fi di hadapan Andri dan Yuri.
...Bersambung......
__ADS_1