
Dewi menatap nanar ke arah sang satpam, “Aku pasti kembali, dan saat itu tiba, kau pasti akan menyesal karena telah meremehkan aku! Perbuatan mu yang sekarang, akan ku ingat sampai aku mati!” pekik Dewi.
“Baiklah, ku tunggu! Hus.. hus!” sang satpam memperlakukan Dewi bagai hewan.
Dewi yang tak punya alasan disana lagi, mulai melangkah tanpa alas kaki. Ia yang tak memiliki uang bingung mau pergi kemana.
Malangnya Dewi yang memakai piyama serta mata yang sembab karena menangis di anggap tak waras oleh orang-orang yang melihatnya berjalan di pinggir jalan.
“Sialan, kenapa nasib ku jadi seburuk ini? Hiks... belum lagi uang dan perhiasan ku ada disana, pasti pembantu itu akan memakai segalanya, awas saja kau Wina! Semoga kau mengandung anaknya dengan cepat!” panas matahari yang terik, membuat Dewi tak sanggup melanjutkan langkahnya.
“Aduh! Kaki ku bisa melepuh nih kalau begini.” karena tak kuat menahan panas di telapak kakinya, Dewi pun memutuskan untuk singgah sejenak di bawah pohon beringin rindang yang ada di pinggir jalan.
Ia yang masih berduka kembali meneteskan air matanya.
“Hiks... dasar laki-laki bejat! Pemecah keluarga! Andaikan kau tak ada, pasti aku dan kak Fi masih akur, hiks...” Dewi yang tak sadar diri malah menyalahkan Asir atas keretakan hubungan persaudaraannya dengan Fi.
Ia yang menangis sesungukan tanpa henti, malah di kira pengemis oleh orang yang lalu lalang.
Mereka yang merasa iba melihat penderitaan Dewi malah memberi uang recehan.
Duk!
Ia yang menunduk melihat koin dan juga ribuan di tanah.
Sontak Dewi menegakkan kepalanya dan melihat ke arah orang yang memberinya uang.
Dia pikir aku pengemis? batin Dewi.
Saat Dewi akan marah, tiba-tiba ia teringat, kalau dirinya tak punya uang sepeserpun.
Tapi lumayan juga sih, buat ongkos ke apartemen Clara, batin Dewi.
“Tolong mas, berikan saya uang sedikit lagi, saya ingin membeli sendal.” Dewi meminta tambahan pada pria yang baru saja memberinya uang sebanyak 2000 rupiah.
“Kasihan dia sayang, tambahkan saja 10000 lagi, agar dia bisa memakai sendal burung walet,” ucap kekasih pria itu.
”Kau benar juga.” lelaki itu memberikan uang sesuai yang di katakan kekasihnya.
“Ini sedekah kami berdua untuk ibu, maaf tak banyak, tapi walaupun begitu, kami ikhlas memberikannya pada ibu, tolong do'akan agar kami segera ke pelaminan ya bu.” sang pria meminta di do'akan oleh Dewi.
__ADS_1
“Tentu saja, terimakasih banyak.” Dewi tersenyum palsu pada sepasang kekasih itu.
Setelah dua sejoli itu pergi, Dewi mulai bergumam.
“Ehm manusia miskin, baru kasih 12.000 sudah minta do'a segala, dasar cowok enggak modal! Ceweknya juga tolol, mau saja pada pria yang kantongnya kering.” Dewi yang masih lelah memutuskan untuk tetap di tempat itu seraya mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang datang secara cuma-cuma.
🏵️
Pukul 22:00 malam waktu Korea Selatan, Yudi telah menunggu di luar ruang operasi dengan perasaan deg degan.
Semoga dia baik-baik saja, semoga semua berjalan degan lancar, tolong permudah operasinya ya Allah. Yudi tak hentinya berdo'a dalam hatinya.
Krieett....
Suara pintu terbuka membuat fokus Yudi pecah.
“Fi.” ia pun di buat terpaku, saat orang yang ia nanti-nanti keluar dengan seluruh tubuh di balut oleh perban.
Fi yang masih dalam tahap penyembuhan terbaring di atas atas ranjang pasien.
Dalam bahasa Inggris.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Yudi dengan perasaan cemas.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu, apa dia sudah bisa di bawa pulang?” Yudi berpikir jika Fi bisa segera kembali ke Indonesia.
”Hahaha... belum pak, proses penyembuhan operasi bisa memakan waktu 6 sampai 12 minggu, memang bisa langsung di bawa pulang, tapi... takutnya guncangan saat berkendaraan membuat tubuhnya lecet” terang sang dokter.
Lama juga kalau begitu, batin Yudi.
“Baiklah, saya mengerti,” ucap Yudi.
Kemudian Fi pun di bawa ke ruangan rawat inap VIP yang di pesan oleh Yudi dengan secara langsung.
Sesampainya di ruangan, sang dokter dan para perawat pun mulai keluar.
“Nyonya Fi masih dalam pengaruh bius, kalau sudah sadar, kami akan kembali lagi,” terang sang dokter.
“Baiklah,” ucap Yudi.
__ADS_1
Setelah anggota medis pergi, tingga hanya Fi dan Yudi saja dalam ruangan itu.
Kemudian Yudi menatap lekat tubuh Fi. “Bagaimana perasaannya saat ini ya?” Yudi pun duduk di sebelah Artnya, menunggu wanita malang itu untuk siuman.
1 jam kemudian, Fi bangun karena efek biusnya telah habis.
Ia pun membuka matanya, dan mencoba menoleh ke arah Yudi.
“Jangan, kau belum boleh banyak bergerak Fi,” ujar Yudi.
“Ah, baiklah tuan, maaf kalau sudah membuat tuan khawatir.” ucap Fi dengan suara yang pelan.
“Tidak apa-apa, sebentar aku panggilkan dokter.” Yudi pun menekan tombol yang ada di punggung ranjang Fi.
Tet!!
Setelah itu, Yudi duduk kembali di tempat duduknya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Yudi penasaran.
“Iya, tapi... rasanya cukup ngilu dan nyeri tuan.” Fi menceritakan apa yang ia rasakan. “Tapi tidak apa-apa, karena untuk mencapai hasil maksimal, kita harus berjuang keras dulu.” Fi sangat bersemangat, ia juga sudah tak sabar menunggu kepulihannya.
“Baguslah kalau begitu, aku senang, jika kau merasa bahagia, tapi...” Yudi meragu untuk mengatakannya.
“Ada apa tuan?”
“Maaf sebelumnya, aku tak bisa menemami mu di negera ini lebih lama, karena aku meninggalkan segudang pekerjaan di Jakarta, ku harap kau mengerti.” Yudi merasa tak enak karena tak mendampingi Fi sampai sembuh.
“Apa aku harus tinggal disini tuan?” Fi berpikir jika ia bisa ikut kembali ke Indonesia.
“Tidak, karena itu bukan ide yang bagus, mengingat yang di operasi bukan hanya wajah, tapi seluruh tubuh mu, aku tak mau mengambil resiko, jika itu akan membahyakan mu.” Yudi memutuskan untuk meninggalak Fi di rumah sakit itu sampai sembuh total. Ia lebih percaya, jika para dokter langsung yang mengontrol Fi setiap hari, maka kemungkina gagal operasi plastik akan kecil.
“Tapi, aku tak punya uang tuan, kalau disini lebih lama.” Fi merasa takut, sebab ia yakin biayanya akan membengkak.
“Tenang saja, aku yang akan bayar, tak usah pikirkan apapun, fokus saja pada kesehatan mu, jangan stres, takutnya nanti itu menghambat penyembuhan mu.” Yudi begitu khawatir pada Artnya.
“Baiklah tuan, saya mengerti, terimakasih banyak sebelumnya, nanti saya akan bayar kekurangan dari uang yang di beri nyonya pada tuan,” ucap Fi.
“Tak usah pikirkan uang, yang penting kau sembuh dulu. Oke, apa kau sudah mengerti?” Yudi tersenyum pada Fi.
__ADS_1
“Iya tuan, saya mengerti, terimakasih banyak atas kebaikan tuan dan nyonya, saya pasti akan mengabdi seumur hidup saya pada keluarga tuan kalau itu di perkenankan.” rasanya Fi ingin menangis karena terharu, harapan untuk melihat dirinya semasa cantik dulu kini bukan hayalan lagi.
...Bersambung......