
Emily memegang dadanya sebentar. Lalu, meremas piyama tidur di atas perutnya.
"Ibu, biarkan aku pergi ke luar negeri. Aku akan hidup bersama anak dalam perutku."
Lauren mendengus. Dia mendongakkan kepalanya seakan menyapa Tuhan dengan air mata yang terbendung di dalam kelopak matanya.
"Kau yang memutuskan. Namun, seorang gadis hidup sendiri dengan anaknya, itu tidak mudah."
Lauren menyeka air matanya,dan keluar dari kamar.
Blam! Daun pintu terhempas begitu saja oleh Emily. Dia berdiri bersandar pada pintu. Lalu, turun menggeser kan punggungnya membentuk posisi berjongkok di depan pintu.
"Jika ada cinta di hati Ethan. Mungkin,dia akan menerima apapun yang telah terjadi. Sayang, cintanya tidak pernah ku miliki."
Emily kembali turun berjongkok memungut benda biru miliknya. Dia menatap nanar dua garis merah itu. Rasa sakit hatinya saat ini, jauh beribu kali sakit daripada kala dia mengetahui tubuhnya terbaring polos,dan bercak merah menghias sprei putih. Keperawanan hilang pada malam itu. Hanya membuatnya menangis sebentar.
Brak! Pintu terhempas kuat. Terbuka lebar. Seorang pelayan wajah panik dengan raut wajahnya yang kehilangan kata-katanya.
"Ada apa?"
"Tu-tuan besar, nona."
Emily mengerutkan dahinya dalam. Panik mengguncang dadanya segera. Ketakutan menyelimuti dadanya segera.
"Ada apa dengan ayahku?"
Emily berdiri tanpa menunggu jawaban. Berlari menuju kamar ayahnya. Di saat dia mencapai kamar itu. Dia hanya melihat wajah pucat ayahnya yang terbaring di atas ranjangnya. Napasnya begitu berat dan pendek.
Ngilu. Setiap gigi Emily saling menggertak, membuat seluruh jantungnya berdegup kencang, dup-dup-dup!
"Ayah ... ada apa denganmu?"
"Ssst!" interupsi Lauren dengan wajah dukanya. Wanita paruh baya itu menoleh sebentar. Lalu,detik selanjutnya menatap biru akan sosok suaminya, yang belum kunjung bangun.
"Pergilah Emily. Jangan sampai ayahmu melihatmu saat dia bangun. Itu akan memperparah keadaanya."
"Ibu!" Emily merengek menolak.
"Ambulance akan segera datang. Dia akan segera pulih."
"...."
"Bersiaplah ke luar negeri. Tiket akan segera di siapkan untukmu."
"Ibu."
"Pergi atau memilih mati. Itu adalah kehendakmu. Pernikahan batal. Angan-angan kami buyar. Perusahaan terancam bangkrut."
__ADS_1
Emily berjongkok dan jatuh merengek di lantai.
"Bawa dia pergi!"perintah Lauren.
Beberapa pelayan segera menyeret Emily keluar dari kamar besar itu. Tersisa di dalam kamar hanya Lauren yang menggenggam tangan Eduard.
"Bertahanlah. Kemiskinan bukanlah sesuatu yang menjatuhkan hidupmu. Bukankah, kau selalu berbangga memilikiku yang setia denganmu. Setia itu sudah cukup. Di saat senang,ataupun susah,aku akan senantiasa menemani. Bangunlah,sayang." Lauren tampak tegar dalam kalimatnya. Namun, sepasang matanya terpejam, dan kepalanya lunglai jatuh terbenam pada sisi telinga suaminya.
"Bangunlah! Ku- mo-hon ...," isak Lauren bergetar pada telinga suaminya.
Samar Eduard mendengar suara istrinya. Namun,napasnya makin sesak dan jantungnya terus berdebar. Pertunangan adalah harapannya kembali meningkatkan asetnya. Di saat dia harus bertaruh pada setiap negatif masyarakat tentang perusahaan yang terancam bangkrut, dia berusaha mengambil hati Tuan Ruan untuk menjodohkan puteranya dengan puterinya, hanya dengan kedok persahabatan dan nama baik yang dia palsukan. Untuk mencapai hari ini,adalah banyak hal yang harus dia bayar. Dia telah menggadai seluruh miliknya, hanya untuk membersihkan namanya,dan meningkatkan nama baik pula ke masyarakat. Namun, hari yang dia tantikan, malah menjadi neraka untuknya. Pertunangan batal, dan dia kehilangan segalanya.
"Jangan pergi. Kuatkan dirimu!" pinta Lauren.
Eduard hanya membisu. Bibirnya kelu tak mampu menjawab. Hanya air matanya yang berguling jatuh, dan napasnya mulai sesak,dan dia hanya menyampaikan pesannya dalam hatinya.
Setelah berjuang berpuluh tahun. Untuk pertama kalinya diriku menangis. Menangis akan kegagalan yang tidak bisa aku tebus.
...꧁❤•༆Anna&Ethan༆•❤꧂...
Malam Pertunangan Emily dan Ethan
Gelas bersusun tinggi di isi dengan anggur mahal, dan di bagikan kepada setiap tamu undangan yang datang. Setiap makanan hidangan yang tersaji di atas meja tiap undangan,terlihat beraneka ragam dan langka. Iringan musik terdengar mengalun merdu dan canda tawa terdengar pecah menyambut malam pertunangan pewaris Ruan. Setiap orang terlihat memberi puji-pujian akan keindahan dan kemewahan pesta pertunangan pewaris Ruan.
Sedangkan, sang pria yang merupakan Tuan pesta hanya tersenyum tipis duduk di tepi jendela kamarnya. Dia hanya mengintip dan melihat keriuhan pesta di bawah sana.
Sosok bayangan hitam masuk dan menyapa. Raut wajahnya terlihat muram.
"Apakah Emily sudah mengumumkan pembatalan?"
Luke menarik napas dalam,dan kasar membuang napasnya kemudian
"Kabar duka, Tuan! Tuan Eduard mengalami serangan jantung,dan meninggal Dunia baru saja."
Ethan mengedipkan matanya. Menarik napasnya. Tidak menyangka hal ini akan terjadi.
"Aku turut berduka."
Drrrrrrrt ....
Ethan merogoh ponselnya bergetar dari dalam saku celananya.
Emily. Nama yang tercetak di layar.
Ethan menekan dial hijau. Meletakan ponsel di telinganya. Suara isak yang panjang terdengar di seberang sana. Sangat menyakitkan telinga.
"Aku turut berduka!"
__ADS_1
"Hah?" Emily menggenggam ponselnya di seberang sana. Tangannya bergetar marah. "Kau hanya mengatakan itu. Setelah kau menghancurkan keluargaku."
Ethan membuka matanya lebar. Tuduhan Emily di seberang sana, mengguncang dadanya sebentar. Rasa panas menyelimutinya segera.
"Kau membatalkan pertunangan. Menghancurkan segalanya. Membuat pesta pertunangan itu menjadi pesta kematian!" teriak Emily dengan isak panjang mengikutinya.
Tut! Ethan mengakhiri panggilan. Dia tidak ingin mendengar ocehan gadis yang sedang berduka itu. Dia pun segera memblokir nomor handphone Emily.
"Jadi pertunangan batal?" tanya Ethan dingin.
"Iya. Pesta akan segera di bubarkan."
Tidak lama terdengar suara micropone berdengung, dan seseorang yang telah berdiri di podium, mulai berkata, "Mohon perhatian hadirin untuk mendengar pengumuman."
Semua tamu undangan tiba-tiba diam. Berhenti bertukar cerita dan tawa. Sebagian terlihat mulai tegang. Kala,sang penyelanggara pesta naik ke podium. Nyonya Tiffani, terlihat pucat dan mengambil micropone di bawah bibirnya.
"Pertunangan di batalkan."
Riuh komentar tamu undangan terdengar berisik, dan beberapa tangan yang tiba-tiba menutup mulut Pengumuman yang sangat mengejutkan.
"Ada apa?"satu suara tamu undangan bertanya dengan suara besar.
"Pada hari ini sesuatu yang harus di sebut berbahagia. Tidak sebaik seperti yang kita harapkan. Pada malam ini, kami sekeluarga mendapatkan kabar duka dari ayah Emily, Tuan Eduard telah mengalami serangan jantung pada pukul 19.15 wib."
Hening.
Tuk!Tuk!Tuk!
Suara tumit sepatu Tifani menginjak turun anak tangga podium memecahkan keheningan. Satu demi satu tamu undangan mulai berbisik dan memulai untuk berpamitan pergi pada tuan rumah.
Ethan menarik napasnya panjang. Mengundurkan diri segera. Dia ambigu sebentar. Apa yang harus dia lakukan?
Emily berduka. Aku harus pergi menghiburnya.
Ethan melepaskan blazer miliknya. Mengambil salah satu jacketnya. Setelah mendapatkan catatan dari Luke. Dia memperoleh alamat rumah duka tersebut.
Melaju di tengah keramaian macet kendaraan ibu kota. Ethan terus memutar gas stang motornya lebih dalam. Sepeda motor miliknya terlihat lincah mengambil setiap kesempatan dan celah dari setiap kendaraan yang lalu lalang.
Tiga puluh menit kemudian ...
Ethan menarik napasnya. Ada keraguan tiba-tiba mendesak dan merusak suasana hatinya.
Haruskan aku datang menghiburnya, jika dia membenciku?
Ethan memarkirkan motornya jauh dari alamat duka. Terlihat banyak roda empat mewah yang terparkir di halaman,dan karangan bunga di turunkan satu demi satu dari sebuah mobil pengantar.
...꧁❤•༆Anna&Ethan༆•❤꧂...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya author judulnya : Pelet Janda Penggoda yah 💞