Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Sadar Siapa Diriku


__ADS_3

Pikiran Anna terhempas akan bisikan bibi Fann, yang hanya seorang kepala pelayan dalam kediaman Ruan. Namun, setiap kalimatnya jelas memiliki makna yang sangat dalam, dan menohok jantungnya. Deg! Setiap kata itu, mengingatkan kedudukan statusnya. Dia hanyalah gadis miskin, tidak bisa mendapatkan batu mulia.


Jangan lupa! Kau bukan siapa-siapa. Kau bukan hidup dalam dunia dongeng. Kau bukan Cinderella.


Tepat. Anna merasa dirinya hanyalah butiran debu di ujung sepatu Ruan. Jangan pernah berharap, dirinya memiliki kereta labu, sepatu kaca,dan  gaun yang indah untuk memikat seorang pangeran. Tidak, hal itu tidak akan pernah terjadi. Itu hanya dongeng. Pangeran nyata hanya untuk seorang Puteri nyata. Dirinya, hanyalah anak seorang pelayan. Kehidupan Cinderella, tidak akan pernah terjadi.


"Kau mengerti?"


"Iya. Aku mengerti."


Bibi Fann tersenyum, "Baguslah. Karaktermu lebih lunak,daripada ibumu. Tak kusangka macan bisa melahirkan kelinci yang manis seperti dirimu. Kau sadar akan kedudukanmu."


Iya, aku menyadari siapa diri ku. Aku sadar siapa diriku. Cukup tahu diri. Aku tidak akan melupakan siapa aku? dan siapa dia?


Anna menahan napasnya, dan mengguncang benaknya. Lalu, mengikuti langkah bibi Fann, dengan tetap menjaga jarak.


Bibi Fann dan Anna masuk ke dalam lift, menekan panel lantai lima, sambil berkata, "Lantai tiga adalah khusus ruangan Tuan muda Ethan Ruan. Kau bertugas di sana. Namun, aku akan segera mengubah tugasmu. Kau tidak akan bekerja di lantai tiga lagi."


Ting! Pintu lift tertutup.


Ujung mata Bibi Fann melirik ke belakang, dengan penuh rasa curiga akan gadis kecil yang terlihat manis. Namun, dia pikir itu hanyalah sampul luar. Bisa saja, Anna adalah gadis liar yang berpenampilan manis. Namun, malah memberi daging pada Tuan muda Ruan. Mencurigakan. Bibi Fann segera bersilat kata, menguji gadis ini.


"Apa kau ingin protes? Karena tidak bekerja di lantai tiga!"


"Eng ...." Lalu, Anna segera menggelengkan kepalanya , dan barulah dia menjawab, "Tidak, aku menyetujui semua ketentuan Kepala Pengurus."


Aku malah bersyukur tidak bertemu Ethan. Lebih baik aku menghindarinya.


Tak lama, Angka panel lift menunjukan angka lama, dan Ting! Pintu lift terbuka.


Bibi Fann melangkahkan kakinya lebih dulu melewati garis lift, dan Anna mengikuti dengan langkah pendeknya, karena sepasang matanya mengedar ke seluruh ruangan yang merupakan design outdoor dengan dinding berlapis kaca, dan sekeliling di tumbuhi pepohonan Cemara tanggung, dan di tengah-tengah terdapat kolam renang besar yang telah terkuras habis airnya.

__ADS_1


Bibi Fann menghentikan langkahnya tepat depan kolam renang, dan berbalik berhadapan dengan Anna. Ada rasa canggung, ketika dia melihat sepasang tangan kulit Anna yang terlihat halus. Tebakannya, pastilah gadis ini tidak pernah bekerja berat sebelumnya.


Sebenarnya ... aku ingin mengerjai ibumu yang berani mengataiku semalam. Aku ingin dia membersihkan kolam renang.


"Anna, tugasmu besok adalah membersihkan kolam renang ini. Karena, tempat ini akan di jadikan tempat perjamuan makan dua keluarga besar atas pertunangan Tuan muda Ruan."


Deg!  Anna berhenti bernapas sesaat. Bukan, karena luasnya kolam renang yang akan dia bersihkan. Melainkan, karena satu anak kalimat terakhir dari bibi Fann.


Pertunangan Tuan Muda Ruan, Isak Anna dalam hatinya. Dia sudah mengetahui Ethan telah memiliki Tunangan. Namun, dia tidak akan menyangka, hal itu akan terjadi begitu cepat.


Bibi Fann tersenyum miring tanpa sadar ketika dia mendapatkan raut wajah Anna terlihat putih, dengan sudut mata yang terlihat nelangsa.


"Sudah, aku katakan, kau tidak perlu berharap."


"Ehh ..., aku tidak mengerti." Anna menghindar dengan gugup akan tudingan nyata Bibi Fann.


"Kau pikir aku tidak mengetahuinya. Tuan muda Ruan, tidak pernah mengurusi pelayan. Tiba-tiba saja, dia telah mengurusi seorang pelayan. Ternyata, hanya karena seorang siswi dari sekolah lain yang terlihat sedikit menarik."


"Ketahuilah, Nona Emily lebih cantik dari dirimu. Kekayaan keluarganya hanya berbeda dua tingkat dari Ruan. Jika menyebut Ethan adalah Pangeran langit, maka Emily adalah jodohnya. Putri langit."


"Hmmm ....," gumam Anna menarik napas, dan berkata, "Aku tahu. Aku mengerti apa yang harus aku lakukan."


Bibi Fann tertawa terbahak sesaat, dan satu tangannya naik menepuk pundak Anna beberapa kali.


"Jika Tuan muda Ruan menyukaimu, itu bukan salahmu. Tetapi, jika kau menyukai Tuan muda Ruan, itu kesalahanmu. Karena kau harus sadar, dengan siapa kau pantas. Orang kaya hanya akan menyimpan wanita yang dia sukai, sebagai barang yang dia sembunyikan. Lalu, orang yang sederajat dengannya adalah sosok yang akan selalu terlihat, dan di pamerkan dengan senyum cemerlang."


"Iya." Anna menganggukan kepalanya dengan sepasang mata jatuh menatap ujung sepatunya sendiri. Seakan, Anna turut menyalahkan kakinya yang berani menginjak kediaman Tuan muda Ruan. Karena kakinya yang berani melangkah, memasuki kediaman yang begitu megah dan mewah, membuat dirinya mengetahui, begitu besarnya perbedaan di antara dirinya dan Ethan.


"Bekerjalah mulai besok. Kau boleh pulang."


Bibi Anna melepaskan tangan dari pundak Anna.

__ADS_1


"Terima kasih, bibi."


Bibi Fann tersenyum, dan hatinya sedikit bergetar akan sikap manis Anna yang selalu bertahan, walau dia telah menyindirnya berkali-kali.


Aku sungguh melihat macan telah melahirkan kelinci. Jika Nana yang berhadapan denganku, mungkin dia telah mencakar wajahku dengan semua kata-kata beracunnya.


"Anna," panggil bibi Fann dengan lembut.


Anna menarik napas lagi. Andai jika dia membuat dirinya tuli, maka dia ingin tuli sekarang.  Daripada setiap kata yang di lontarkan, bagai batu cadas yang terlempar menusuk jantungnya. Sakit dan perih, mengetahui kenyataan.


"Kau anak baik. Aku pun orang baik. Aku berkata keras, agar kau mendapatkan jalan hidup yang baik. Berjalanlah dengan yang pantas, daripada bersama dengan orang yang menyukaimu, namun kau hanya di sembunyikan."


Deg! Seketika, wajah Anna terlihat merah. Setiap sudut matanya berisi gelembung air mata. Pecah. Sebentar lagi akan pecah, dan jatuh ke bawah. Namun, dia segera menahannya, dengan mendongakkan sedikit dagunya, memberi benteng agar air mata tidak segera berguling ke pipinya.


"Bibi, kau tenang saja. Aku cukup tahu diri. Terimakasih atas perhatian dan nasehatmu. Percayalah, aku bukan hanya memiliki sepasang telinga untuk mendengar. Namun, aku memiliki napas untuk menjalankan apa yang telah aku dengar. Jadi, kau tidak perlu repot-repot untuk memperingati lagi."


Bibi Fann tersenyum lebih cerah mendengar jawaban Anna, "Aku harap kau tidak mengira aku jahat."


Anna menoleh ke arah lain. Air matanya akan jatuh.


"Tentu saja tidak. Bibi tidak jahat."


"Apakah yang aku katakan, menurutmu benar?"


Anna menelan ludahnya. Tidak ada yang salah dari setiap kata bibi Fann.


"Menangislah jika kau ingin menangis. Bukankah itu lebih baik."


Tidak menunggu lama. Setelah kata itu terlontar. Dalam satu kedipan mata. Air mata Anna jatuh ke bawah, menyusuri tulang pipinya.


......................

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2