
"Apakah aku masih terlihat mengerikan di depan matamu?" tanya Ethan dengan satu tangannya naik mengusap kepala gadis itu.
"Tentu saja terlihat buruk. Jika aku mengatakan kau terlihat seperti malaikat. Maka aku membohongimu," jawab Anna.
"Aku bukan malaikat. Apakah kau masih akan membenciku? walau aku tidak akan pernah mendapatkan maaf keluarga Han. Jika terjadi sesuatu pada Joe Han. Maka aku akan terlihat seperti iblis. Apakah kau akan membenciku?" kejar Ethan lagi dan lagi. Sinar matanya terlihat redup seketika.
"Untuk apa kau pikirkan hal itu. Dunia bukan surga, di mana semua orang selalu akan saling mengasihi mu. Jika ada yang membencimu, itu hal wajar ...," jawab Anna.
"Aku tidak peduli dunia membenciku, yang ku pertanyakan apakah kau membenciku?" tanya Ethan dengan rasa ragu bercampur takut dalam rongga dadanya.
Ethan menundukkan kepalanya. Menghindar tatapan Anna padanya. Dia ingin mendengar jawaban Anna, namun juga berharap untuk tuli segera.
"Sudahlah. Tidak perlu menjawab!" ujar Ethan terdengar enggan, setelah keheningan yang terjadi, dia mengira Anna pasti tidak akan menjawab. Jikapun menjawab, dia takut jawaban gadis itu terdengar membuat dirinya putus asa.
Anna mengangkat tangan Ethan, lalu menangkupkan tangan itu pada rahangnya, "Ethan, sampai kapanpun kau terlihat benar dimataku, dan aku tidak akan sanggup membencimu. Apapun kesalahanmu ..., sebesar apapun itu. Apakah karena kau melukai orang lain, ataupun melukaiku kelak .... Aku tidak akan sanggup membencimu."
Lalu, Anna tersenyum dan terasa sangat manis di mata Ethan yang seakan seperti tersiram air gula, ketika melihat senyum gadis muda di depannya. Ethan menundukkan kepalanya. Membentur dahinya menabrak lembut kening Anna, dan berbisik halus dengan nafas lembut aroma mint segar.
"Anna, banyak orang yang mampu kulukai. Namun, hanya kau yang tidak akan pernah aku lukai. Karena ... setiap lukamu adalah milikku, setiap perihmu adalah isakku."
Anna hanya memberi anggukan kecil, sebagai jawabannya pada Ethan. Lalu, Ethan mencium kening Anna.
"Ini rumah sakit," tegur Anna, segera melepas diri dan meninggalkan Ethan lebih dulu, melewati koridor menuju pintu lift.
...****************...
Anna baru mencapai rumahnya. Rasa gugup bercampur rasa takut menghinggap dirinya, ketika dia mulai menebak ada sosok di balik pintu rumah yang akan terbuka, dan dia mulai membayangkan sosok itu, telah menunggunya dengan ekspresi muram bercampur sedih, melihat anak perempuannya telah hilang semalaman.
'Tidak perlu khawatir, ibumu telah kubuat lembur dua hari penuh ... dan dia belum pulang sampai saat ini.'
Satu kalimat Ethan masuk kembali ke pikirannya, dan seakan berbisik di telinganya, manyakinkannya dan menenangkan hatinya. Namun, tetap saja ada rasa bersalah menjadi selimut dalam dadanya saat ini
Deg!
Anna memasukan kunci pada lubang kunci, memutar kenop pintu.
Krek!
Suara pintu terdengar berderit nyaring, dan bergeser mundur ke belakang. Cahaya dari luar masuk menerangi ruangan yang terlihat gelap.
__ADS_1
'Tidak ada, ibu.' Anna bersyukur dalam hatinya, seakan udara kembali masuk ke dalam rongga dadanya.
Anna melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, akan segera menutup pintu. Namun satu tangan kokoh menahan pintu itu tertutup.
Anna mendongakkan kepalanya ke akan sosok yang tiba di depan pintu rumahnya.
Bibi Wen
"Selamat siang, bibi Wen." Anna menyapa terdengar segera menetralisir rasa terkejutnya akan kehadiran Bibi Wen.
"Kau tidak pulang semalam. Ibumu juga. Tidak pulang!" seru Bibi Wen terdengar sangat tajam dan menghunus raga Anna dengan kalimat tersebut.
Anna tersenyum. Seakan masih memiliki banyak kesabaran untuk menghadapi tuduhan nyata untuknya. Tidak pulang satu malam. Hal ini terdengar mencoreng kehidupan seorang anak gadis.
"Ibu sedang lembur bekerja. Aku menginap di tempat temanku, bibi."
Bibi Wen mengangkat pupil matanya, seakan menunjukkan rasa tidak percaya. Ketika aroma parfum mint seperti parfum seorang pria terendus masuk ke dalam rongga hidungnya. Bibi Wen segera mengendus dengan hidungnya, mendekati tubuh Anna.
"Aroma parfum pria menempel, pasti parfum sangat mahal. Apakah tempat temanmu menginap adalah seorang pria?" remeh Bibi Wen terdengar sangat mengejek.
Anna terdiam beberapa detik, lalu menggelengkan kepalanya.
"Hati-hati hamil di luar nikah," dengung Bibi Wen yang membalikkan tubuhnya, meninggalkan teras rumah Anna.
Satu kalimat itu membuat Anna di tpar rasa malu. Wajahnya terlihat merah, seakan telah ketahuan berbuat yang tidak senonoh.
Brak!
Anna segera menutup pintu dengan keras. Kalimat peringatan Bibi Wen, masuk ke dalam pikirannya lagi, dan terngiang kembali.
'Hati-hati hamil di luar nikah.'
Anna segera berlari masuk kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Apa yang terjadi semalam, kini menjadi potongan adegan nyata dalam pikirannya. Untung Erald, paman Ethan, datang tepat waktunya.
"Jika malam itu terjadi, apakah ...." Anna memegang perutnya. Hamil. Memiliki anak. Membayangkan hal itu, membuat Anna memiliki rasa ketakutannya sendiri.
Anna segera menyalakan shower keran air mandi, dan mulai membasahkan pikiran dan juga tubuhnya. Selesai mandi, dia segera berganti pakaian, dan pikirannya mulai tenang awalnya, namun bayangan wajah Bibi Wen yang akan mengadu pada Nana Su, ibunya. Membuat perasaan Anna terasa di hantui ketakutan.
Berusaha tidak ingin memikirkannya. Namun wajah Nana Su, yang akan segera menghakiminya membuat Anna segera menghubungi Ethan.
__ADS_1
Beep!
Panggilan tersambung.
"Ethan," sapa Anna.
Ethan mengedipkan matanya, suara getar ketakutan Anna membuat dirinya segera meluruskan punggungnya pada kursi malas.
"Ada apa?"
"Bibi Wen menegurku dan menanyakan mengapa diriku tidak pulang semalam?" jawab Anna di seberang sana.
"Apakah dia menggertakmu?" tanya Ethan dengan senyum yang membelot kan lidah dalam mulutnya. Seperti menahan banyak perkataan untuk mengejar Anna segera berkata.
"Aku sudah menjawabnya. Namun dia tetap mencurigaiku, telah menginap dengan seorang teman pria," jawab Anna di seberang sana, terdengar getar ketakutan dalam celah-celah bibirnya yang berucap.
"Aku akan mengurusinya nanti."
Ethan mengakhiri panggilannya segera. Ketika panggilan masuk ke ponselnya. Pemnggil adalah Rumah Skait B, tempat Joe Han mendapatkan perawatan.
Ethan segera menarik ke atas dial hijau, dan panggilan tersambung untungnya.
"Selamat siang, Tuan Ethan." Seseorang terdengar halus dan lembut menyapa Ethan.
"Iya!" jawab Ethan pendek, namun sangat terdengar ketus.
"Kami telah menemukan organ jantung yang tepat untuk pelaksanaan transparansi jantung," jawab wanita paruh baya di seberang teleponnya.
Senyum Ethan mengembang sempurna. Lalu, segera meminta prosedur secepatnya di laksanakan.
"Tetapi, ibu dari pasien Joe Han, ibu Yuna menolak keras untuk menyetujui operasi," terang wanita paruh baya itu.
Ethan mengetok-ngetok keningnya, seakan memikirkan apa yang di inginkan bibi Yuna, ketika hidup dan mati Joe, anaknya bergantung waktu dan bergantung persetujuan operasi.
......................
Catatan:
Jangan lupa meninggalkan jejak yah.
__ADS_1