
Nana terus berjalan tanpa arah dengan ponsel di telinganya. Telinganya terus panas dan siaga menunggu panggilan untuk Anna, tersambung. Tetapi, satu panggilanpun tak pernah terjawab.
Gelisah. Nana terus gelisah memuncak dadanya. Dia berharap Anna telah mencapai rumah lebih dulu. Dia segera meletakkan ponselnya dalam saku pakaiannya. Dia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya, mengabaikan hawa dingin yang menusuk-nusuk tiap tulangnya.
Ini adalah keraguan pertamaku, sekaligus terakhirku. Aku akan terus mempercayaimu, Anna.
Tak terasa, kegelisahan telah mengantar Nana berdiri di depan pintu rumahnya. Klek! dia membuka pintu perlahan. Hanya kesunyian menyapanya di depan pintu, ketika sepasang bola matanya mengedar cermat mencari sosok anak perempuannya. Anna tidak berada di dalam rumah. Tangannya gemetar merogoh ponselnya dari saku pakaiannya, dan memilih nama Anna dari daftar kontaknya, dan menekan dial hijau.
Beeep! Terdengar bunyi dering panjang. Nana menurunkan tangannya yang masih menggengam erat ponsel miliknya. dia berjalan ke asal suara telepon itu berdering. Hanya dua puluh langkah pendek dia berjalan, dia bisa melihat ponsel Anna bersembunyi di bawah meja.
Nana menurunkan lututnya. Meraih ponsel di bawah meja tersebut. Dia berhenti bernapas sesaat, dan memeluk ponsel tersebut di dalam dadanya, "Mengapa kau tidak membawa ponsel pergi bersamamu?"
Nana mengatupkan kelopak matanya, hanya untuk menjatuhkan rinai air hujan yang tersisa. Perlahan, dia membuka kelopak matanya kembali, dan mulai memindai hati-hati layar ponsel Anna.
Ada puluhan panggilan tidak terjawab. Dua pemanggil terlihat terdaftar dalam panggilan tidak terjawab.
Ibu ....
Tuan sombong ...
Nana mengerutkan keningnya akan nama lain yang tertera, "Tuan sombong, apakah bocah bodoh itu!"
Nana jatuh marah sekaligus mendorong rasa penasarannya. Dia mulai memeriksa setiap kotak pesan masuk, media sosial dan album photo dalam ponsel Anna. Tidak ada jejak satupun tertinggal yang mengaitkan Tuan sombong. Nana masih menyimpan segunung rasa penasarannya, dia pun segera memanggil nomor tersebut.
Beeppp ....
Dering panjang terdengar di dalam mobil. Ethan memposisikan dirinya bergerak perlahan merogoh ponselnya dengan hati-hati, agar tidak membuat Anna terusik untuk bangun. Anna baru saja terlelap.
Ethan mengerutkan keningnya dalam. Melihat nomor Anna memanggilnya. Pandangannya terlihat mengkilat dan terbersit satu nama melintasi pikirinnya.
Apakah bibi Nana menghubungiku?
Ethan menjadi ragu,dan ponselnya dalam genggamannya terlihat tidak akan berhenti memanggil. Di saat dia masih ragu. Kepala Anna bergeliat dari bahu Ethan, kepalanya sedikit naik, dia terusik karena panggilan tersebut dan matanya bergerak mengintip pada ponsel Ethan. Namanya tertulis jelas di layar. Sontak, dia terbangun dari kantuk beratnya.
"Jangan di angkat, itu bisa ibuku." Anna merampas ponsel dari genggaman Ethan, dan menolak panggilan. Lalu menekan tombol turn off.
"Anna, itu ...."
"Aku tidak ingin dia marah padamu. Aku akan memanggil Taxi dan pulang." Anna memposisikan dirinya duduk, dan klek, membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Ini terlalu larut malam. Biarkan aku yang mengantarkanmu."
"Tidak perlu!"
Blam! Pintu mobil di tarik kembali dan ditutup keras oleh Ethan.
"Biarkan aku mengantar. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu seperti dulu lagi."
Anna membulatkan matanya, menyentuh pipi Ethan, "Bukankah kita sudah sepakat berakhir. Jika kau terus mengikutiku, bukankah kau tidak menepati diriku sebagai gadis yang baik."
"...."
"Aku tidak mau di usia mudaku. Di sebut sebagai gadis kecil yang merusak pertunanganmu."
"...."
"Selesaikan masalahmu. Jika itu telah selesai, aku akan membuka tanganmu untukmu. Aku tidak ingat menganggu ikatanmu. Lepaskan tali simpulmu sendiri."
"...." Ethan menganggukan kepala, dia meraih turun tangan Anna,dan menggenggamnya, "Asalkan hatimu tidak pernah pergi dariku. Aku dan kau akan selalu seperti air sungai yang mengalir dengan gigihnya mengikis batu dan setiap tetesannya mampu membelah batu, bahkan menembus gunung terjal manapun."
Cup! Anna mencium sekilas bibir Ethan, menariknya perlahan dengan mata yang perlahan sendu, dan bibirnya berkata lirih, "Perasaanku tidak pernah pergi ... hanya saja aku melepaskan status hubungan diam ini. Aku menunggu Status yang tidak tergoyahkan itu."
"Pembuktian itu perlu usaha dan tekad yang kuat. Bukan sekedar setiap kata yang di keluarkan dari bibir yang menipu telinga."
"Aku tidak akan pernah menipumu, Anna."
"Aku tahu." Anna mengulas senyum. Rasa getir dan keraguannya bagai tembok yang tinggi yang telah di hancurkan, "Bisakah perasaan ini menjadi tekad yang menjulang tinggi."
Ethan menganggukan kepala.
"Tetapi kau telah menduakanmu dengan—"
"Aku tidak akan pernah menduakanmu. Jika aku memilih menomorsatukan dirimu."
Anna terkekeh, "Kalau begitu antar aku pulang,dan selesaikan gadis itu dengan cepat. Karena, aku si pecemburu."
Ethan tersenyum dan mengecup kening Anna, cup! Lalu, dia memposisikan posturnya kembali berhadapan dengan kemudi. Setelah menekan Start, suara deru mesin menyala terdengar lembut, dan kaki kanan Ethan menginjak pedal gas kemudian.
Mobil itu melaju pergi membelah malam yang terlihat lenggang dan sepi, dan mereka menghabiskan kesunyian dalam genggaman tangan, dan berhenti di depan gang rumah Anna.
__ADS_1
"Sepertinya aku perlu mengantarmu sampai pintu rumahmu," ujar Ethan setelah menepikan mobilnya.
Anna menggelengkan kepala, "Tidak perlu."
"Apa kau tidak takut?" Ethan terlihat cemas.
"Bukankah setannya sudah kau lumpuhkan. Aku hanya melewati sepi, dan tidak akan ada yang mengangguku."
Ethan terkekeh dan protes segara, "Mengapa kau tidak pernah berpura-pura takut padaku? Kau harusnya bersikap manja."
Anna tersenyum dan mengejek, "Jika aku bermanja-manja padamu. Kau akan lebih tergila-gila padaku. Aku tidak bisa menyembuhkan orang gila. Aku hanya siswi rendahan bukan dokter jiwa."
"Benar sekali. Jika aku gila, dan tidak menemukan obatnya. Maka kau akan aku makan setiap hari."
Anna lantas menutup bibirnya, dan berbicara di balik tangan tersebut, "Dua orang yang tidak memiliki hubungan. Tidak boleh berciuman."
Ethan menyipitkan matanya, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Tetapi, bukankah kau telah menciumku lebih dulu tadi."
Anna merapatkan tangannya dan sedikit memposisikan dirinya mendekati pintu, "Aku boleh menggodaku. Tetapi, kau tidak boleh menggodaku. Anggap saja aku batu kecil yang suka menguji ketahanan hatimu."
"Oh, begitu! Batu kecil yang menggoda orang."
"Jika kau tidak tahan akan ujian kecil. Bagaimana bisa kau bertahan dengan napsu banyak wanita di luar sana."
Ethan menghela napas dan mencibir, "Kau belajar mempermainkan orang!"
Anna enggan menjawab, bersikap acuh dan tidak acuh. Klek! Anna membuka pintu mobil. Keluar dari garis pintu, dia tersenyum dengan melambaikan tangan.
"Jika aku ingin bersamamu. Bukankah aku tidak boleh bersikap naif. Kita harus sedikit jahat dan jahat lebih banyak lagi."
Tetapi ... Kau hanya jahat padaku, protes Ethan dalam hati.
...****************...
Bersambung ...
Daripada sedih mulu yah ... part sugar sweeetttt dlu 🧹🧹🧹🧹
www. Sapukenangan.com
__ADS_1