
Di Sekolah ...
Anna mengangkat kepopak matanya. Setiap kaki terlihat mendekat ke arahnya dan setiap pandangan mata bertemu, terlihat jijik padanya.
Anna mengehela napas, "Ada apa memandangiku seperti itu?" ketus Anna.
"Gosipmu sudah beredar. Tidak menyangka pandai di sekolah. Namun, juga pandai di hotel."
"Sepertinya kau akan keluar dari sekolah ini yah."
"Kau bercinta dengan sahabatmu yah."
Deg! Anna mendorong setiap sosok di depannya. Sumber? dia hanya ingin berlari ke sumber berita. Dia menatap ke arah Mading. Banyak siswa berkerumun di depan mading. Tiba-tiba saja kaki Anna lunglai dan sulit melangkah ke mading. Berat sekali untuk di dorong maju.
"Apa yang kalian lihat di sana? Tidak seperti yang kalian pikirkan ...," lirih Anna pelan.
KSrettt! Srettttttttbretttttt! Suara robekan kertas terdengar. Anna mengangkat kepalanya. Stephan berdiri untuknya. Pria jangkung itu terlihat marah dengan posisi berdiri tegak di depan mading. Merobek marah dan mencabut setiap gambar-gambar di mading.
Anna menelan ludahnya. Wajahnya memucat bingung sesaat. Satu bola kertas jatuh di dekat kakinya. Dia berjongkok memungut. Membuka bola kertas itu dengan tangan bergetarnya. Dia terpana akan setiap gambar yang terbingkai dalam matanya. Itu adalah dirinya. Tulisan di bawahnya, menyesakkan dadanya.
Kekasihnya terbaring di rumah sakit. Dia malah bercinta dengan siswa lain. Sebagai teman Joe, kami membuka aibnya.
Anna meremas kembali kertas tersebut. Baru saja dia mendongakkan mata. Satu tangan terulur di depannya.
"Berdirilah!" seru suara itu terdengar ketus sekaligus sangat kasihan.
Anna hanya memukul telapak tangan pria di depannya. Dia menepisnya seraya berkata, "Aku bisa mengurusnya sendiri."
Anna segera bangun. Menepis debu kotor dari seragammya. Dia berbalik memutar arah. Tidak perduli atas segala tikaman mata jijik untuknya. Dia kembali melewati gerbang sekolah. Bukan untuk pulang. Namun, untuk ke sekolah sang pembuat berita. Susan.
"Kau akan kemana?" terdengar satu suara yang mencegahnya. "Baru tiba di sekolah. Malah pergi lagi."
Suara itu sangat tidak asing. Dia menghela napas sebentar. Menyeka butir embun yang tersimpan dalam kelopak matanya.
Jangan sampai dia melihatnya.
"Kau menangis?"
Anna menatap bayang hitam yang telah berdiri di hadapannya. Sejak kapan dia sudah berdiri di depanku?
"Tidak."
"Lalu apa yang kau seka?"
"Debu."
"Debu menyakitkan mata." Jempol itu naik menghapus jejak air mata yang tersisa. "Jangan menyembunyikan sesuatu dariku."
__ADS_1
"Hmm!" Anna menelan napasnya dan hanya menganggukkan kepala, "Baiklah. Baiklah. Bisakah kau membuatku tenang dulu. Kemudian, aku akan bercerita."
"Setuju." Ethan merengkuh tangan Anna. Menuntutnya masuk ke dalam mobilnya.
"Kau ingin pergi kemana?"
"Entahlah. Awalnya aku akan pergi ke—"Anna tidak melanjutkan kalimatnya. Dia mengurungkan niatnya menyebut nama Susan pada ujung kalimatnya.
"Susan?"Ethan menaikan alisnya seakan menebak apa yang akan menjadi tujuan Anna.
"Dari mana kau tau?" Anna terlihat tidak percaya akan tebakan Ethan. Tepat sekali.
Ethan tersenyum.
"Aku cenayang. Apa kau percaya? aku bisa mengetahui segalanya apa yang kau pikirkan."
Anna terbahak. "Kau lucu sekali."
"Apakah kita akan ke sana? Kau ingin mejambaknya dan mencakar wajahnya? Apakah itu?"
Anna terbahak lagi. "Bagaimana kau tau ideku?"
"Tentu saja. Bukankah kita sehati dan sepikiran."
Anna menatap Ethan, dan merasa konyol akan jawaban pria itu, "Apakah kau menyetujui segala sesuatu yang aku buat?"
Ethan tersenyum. Menyingkirkan pono rambut Anna dari mata gadis itu.
Anna tersipu dan mencubit hidung Ethan, "Baiklah. Baiklah. Jika begitu aku tidak akan pernah ragu menjadi seorang monster. Karena, kau yang akan membereskannya."
Anna melepas cubitan hidung.Membiarkan pria itu kembali bernapas lega. Ethan menjulurkan tubuhnya, memposisikan dirinya mendekati Anna. Kening Ethan mendarat pada kening Anna, "Bukan hanya membereskan. Namun, bertanggung jawab bersih akan semua hal itu."
"Wah, manis sekali. Apa upahmu?"
Ethan mengelap bibirnya, dan sedikit memiringkan wajahnya, dan napas di antara mereka terasa bertukar dengan lamban.
"Sebuah ciuman bisa memerintahkan pria ini menjadi budakmu."
Anna menunduk. Menghindar pergerakan bibir Ethan menyentuh bibirnya.
"Bekerja lebih awal. Baru meminta upah. Jangan pernah berharap yang manis. Jika kau tidak pernah berkeringat lebih dulu untuk mendapatkannya."
Anna mendorong Ethan kembali ke kursinya.
"Kejam sekali," dengus Ethan.
"Tepatnya juga pelit," tambah Anna.
__ADS_1
"Sangat perhitungan dengan calon pria masa depanmu."
Calon pria masa depan. Anna segera melirik pria di sisinya. Semburat merah muncul begitu saja di wajahnya. Dia segera menunduk malu.
Derum mobil terdengar setelah pedal gas terinjak. Mobil melaju cepat membelah jalan yang terlihat sepi melompong di pagi hari.
Tiga Puluh Menit Kemudian ...
Mobil hitam itu menepi di sebuah pinggiran danau yang terlihat tenang.
"Mengapa ke sini?" tanya Anna turun dari mobil lebih dulu. Sepasang matanya terlihat membingkai cahaya matahari yang membiaskan warna keeemasannya pada permukaan danau. Terlihat sanga indah.
"Tidak menjambak Susan?" Anna konyol bertanya dengan kedua alisnya terangkat ke atas pada Ethan yang berdiri menjulang tinggi di sisinya.
"Menurutmu? Apakah kita perlu mejambaknya sebentar. Atau menjambak seluruh hidupnya."
Anna mengerutkan hidungnya, "Aku mencium bau kejahatan yang lebih besar."
Ethan mengulas senyum, merapikan rambut Anna yang berantakan tertiup semilir angin pagi, "Benar sekali. Kejahatan lebih besar akan menimpa setiap orang yang berani menyakitimu."
Anna menghela napas, dia melirik dengan genitnya, "Apakah ini termasuk pekerjaan suami masa depan?"
"Menurutmu?"
"Hmm," gumam Anna dan melingkarkan lengannya pada batang leher kokoh pria muda itu. Lalu, dia berjingkit dengan dagu yang terangkat, dan bibir yang berusaha mendekat pada bibir pria muda itu.
"Kau?" Ethan menyipit tidak senang akan tingkah bibir gadis di bawah dagunya. "Ingin mengerjai ku lagi?"
Deg! Anna terlihat sangat gugup.
"Jangan memberi sesuatu yang palsu. Namun, sangat mengundangku."
Anna tersipu malu.
"Tenang saja. Ini bukan tindakan palsu lagi," jawab Anna hampir tidak terdengar.
"Oh." Dengan semangat Ethan meletakkan tangannya merangkul pinggang gadis kecil di depannya. Kepala Ethan mulai terlihat makin di miringkan. Lalu, bibirnya pun berinisiatif lebih awal, dan menciumnya perlahan.
Anna terus berjingkit untuk mempertahankan posisinya, dan membiarkan tangan Ethan terus menopang pada pinggangnya. Kala, dia ingin lepas dari pagutan pria itu. Pria itu tidak mengijinkan melepas pagutannya hanya untuk sedetikpun. Membiarkan napas saling bertukar, dan perlahan suara ngosh-ngosh terdengar.
"A-aku." Anna mencubit tekuk Ethan.
Dikejutkan oleh rasa sakit kuku yang menjepit tajam kulit lehernya. Ethan melepaskan dirinya.
"A-aku kehabisan napas olehmu!" protes Anna dengan sepasang mata sipit yang berseri indah menatap sepasang mata elang yang tajam dengan banyak cinta tertoreh dalam matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo