
Di Rumah Sakit
Ethan berdiri di lorong rumah sakit. Sepasang matanya tertuju pada kamar operasi. Terlihat lampu merah menyala di atas kusen pintu kamar operasi.
Emily mengikuti arah mata Ethan, dari belakang punggung Ethan, dia terlihat penasaran, seakan menebak-nebak siapa sosok penting yang di jumpai Ethan. Siapa yang sakit? seorang yang pentingkah itu?
Apakah teman Ethan sedang operasi? tanya Emily pada dirinya sendiri. Namun, Emily segera merubah pemikirannya tersebut. Ketika, dengan hati-hati dia mengikuti arah pandangan mata Ethan lagi. Sepasang mata Ethan tertuju pada seorang gadis muda yang bersandar di pintu kamar operasi.
Deg! Jantung Emily terketuk dan relung hatinya tergelitik mendadak merasa cemburu.
Siapa gadis itu? pikir Emily dengan sedikit menyipitkan matanya, menatap cermat seakan mengambil sejelas mungkin gambar sosok gadis yang terlihat memejamkan matanya sedari tadi, yang bahkan terlihat tidak menyadari bagaimana tajam dan teduhnya Ethan menatapnya, seakan pandangan tajam Ethan ingin menelan hidup gadis itu, hanya untuk dirinya sendiri.
Ethan, kau berdiri lama memandang gadis itu. Namun, kau tidak pernah memandangku lebih dari tiga detik. Aku tunanganmu. Gadis itu siapa? ah ..., jangan sebut kau jatuh hati pada seseorang yang tidak seharusnya di sebut pantas berdiri di sampingmu.
Emily tanpa sadar menggerutu dengan sepasang mata yang terlihat naik turun menilai sosok gadis yang terekam sedari tadi dalam retina mata Ethan. Hal ini tentu saja mengubah raut wajah kegembiraan Emily, menjadi suram. Hatinya pun ikut mendidih panas karena rasa cemburu yang datang membakar tiba-tiba.
"Ethan!" seru Emily tersiram cuka mengejutkan Ethan dari pikirannya yang menatap Anna dari kejauhan. Tetapi, Ethan hanya membalas dengan tatapan menghardik pada Emily. Sekejap Emily kehilangan nyalinya. Hanya berani mengintip diam-diam dengan didihan hatinya yang terus mengejek kehidupan sosok gadis yang baru dia kenal.
Ethan tampak menghela napas kesekian kalinya, dia terlihat suram seakan batu cadas pikirannya yang di lempar-lempar melukai dinding hatinya sendiri. Menggores dan menoreh luka yang sangat dalam, dan di pastikan akan sulit sembuh dengan luka yang terus ternganga seperti ini.
Aku membiarkan Joe Han hidup. Namun, harus melepaskanmu, Anna. Betapa tidak adilnya takdir ini. Memojokkan dan memaksaku harus memilih meninggalkanmu, dan menghargai satu kehidupan orang yang lebih dulu mengenalmu.
Ethan menelan pahit keputusannya sendiri. Tangannya mengepal, dan mulai berandai-andai takdir yang lain di antara mereka.
Jika tidak ada Joe hadir di antara kehidupan dan cinta kita. Apakah kita bisa bersatu? menjadi dua orang yang di takdirkan menjadi satu, walau banyak perbedaan di antara kita. Apakah kita bisa bersatu? Bisa atau tidak?
Ethan menutup kelopak matanya sesaat. Pikiran menarik dirinya pada satu jawaban yang terasa sangat mutlak. Seakan jawaban itu adalah nilai kepastian untuk pertanyaan tersebut. Tidak akan pernah bisa bersatu.
Tidak bisa bersatu! karena perbedaan yang di ciptakan Tuhan di antara kita terlalu banyak. Sangat banyak, Anna. Andai, aku ingin memilih takdirku, aku ingin terlihat sama denganmu.
__ADS_1
Mendapatkan pertanyaan yang telah dia jawab sendiri. Ethan segera membalikkan tubuhnya, berjalan melewati Emily. Seakan Emily hanyalah angin yang berembus bergerak berisik tetapi tidak pernah terlihat. Ethan mengabaikan Emily begitu saja.
"Ethan!" seru Emily mengejar Ethan.
Ethan bersikap acuh dan tidak acuh. Sampai tiba Emy berjalan lebih cepat, menghadang langkah. Membuat Ethan menghentikan langkah kakinya.
"Siapa yang penting di sana?" tanya Emily dengan perasaan waspada dan menyelidiki setiap perubahan raut wajah Ethan.
Ethan menaikan kelopak mata, menatap sebentar gadis di depan matanya. Tidak lebih dari tiga detik. Lalu, pandangan Ethan telah teralih menatap ke lorong yang panjang dan senyap.
Emily menghela napasnya. Menoleh ke belakang sesaat. Tidak ada siapapun di belakangnya.
Kau lebih memilih kesunyian daripada menatap istri masa depanmu, keluh Emily dalam hatinya. Lalu, sosok gadis di depan pinttu operasi itu terlintas bagai menyiramkan cuka pada hati Emily.
Siapa gadis itu? Emily tersulut rasa penasarannya.
"Siapa yang penting bagimu? seseorang yang terbaring di meja operasi itu? atau seorang gadis yang berdiri menunggui di sana—" Emily sengaja memutuskan kalimatnya, dia melihat raut wajah Ethan terlihat bergeming untuk menatapnya sejenak. Hanya tiga detik.
"Kau tidak penting!" tandas Ethan melewati Emily begitu saja.
Langkah kaki panjang Ethan meninggalkan Emily yang masih mematung dalam posisi berdiri yang menginjak satu ubin yang kemudian dia ketuk berkali-kali dengan ujung tumit sepatunya. Dia menghentakkan kemarahannya pada pria yang merupakan calon suami masa depannya.
"Aku tidak penting! Lalu, apa gadis rendahan itu penting?" Emily kesal dan akan kembali mengejar Ethan. Baru saja tiga langkah berbalik ke arah lorong yang dilewati Ethan. Emily berubah pikiran.
Emily memutuskan kembali memutar arah haluan langkahnya. Setiap langkahnya kembali menginjak lantai yang membawanya kembali ke ruang operasi.
Dengan setiap langkah percaya diri yang bercampur aduk emosi, Emily berjalan dan berhenti tepat di depan seorang gadis yang telah mencuri perhatian tunangannya, calon suami masa depannya.
"Lihat aku!" pinta Emily pada Anna.
__ADS_1
Anna terbangun dari pikirannya cemas terhadap Joe. Awalnya, dia hanya menatap ujung sepatu gadis itu. Sepatu yang terlihat sangat indah dan mahal.
Perlahan, Anna mendongakkan kepalanya. Terhenyak sesaat akan wujud indah di depan matanya. Gadis muda yang terlihat sangat cantik dengan penampilan yang sangat membakar uang dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Aku ingin berbicara denganmu!" Emily menatap sekelilingnya. Terlihat wanita paruh baya dan anak kecil berusia sepuluh tahun yang juga menatap dirinya dengan tatapan menyelidik dengan sepasang mata terlihat masih sangat merah. Tepatnya, sepasang mata yang terlihat terus menangis.
"Aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu!" lanjut Emily.
Belum saja, Anna menyetujui Emily. Emily dengan impulsif menarik pergelangan tangan Anna untuk mengikuti langkahnya ke ruang menuju tangga darurat.
Sepi dan senyap. Tepatnya tidak akan ada orang yang melalui tangga darurat pada saat seperti ini.
Emily melepaskan tangan Anna. Namun, matanya tidak pernah pergi melepas sosok Anna dalam rekaman retinanya. Dia terlihat terus menilai Anna. Menilai rendah penampilan gadis di depannya, "Hanya gadis miskin!"
Deg! Anna membulatkan matanya. Dia sedikit terkejut akan rasa permusuhan gadis ini. Padahal, mereka hanya pertama kali bertemu.
"Perkenalkan." Emily menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Anna ragu sesaat menatap tangan yang menggantung di udara.
"Maaf, aku hanya orang miskin. Tidak pantas berjabat dengan tangan emas nona," urung Anna menyembunyikan tangannya, dan menundukkan kepalanya.
Emily menyendok ludah dalam mulutnya, dan segera menelannya sendiri, dan satu tangannya mendorong bahu Anna, seraya berkata, "Kau tahu siapa aku?"
Anna menggelengkan kepala. Dia masih menunduk memberi kehormatannya pada gadis asing yang baru pertama kali dia temui.
"Aku tunangan Ethan. Namaku Emily!"
......................
__ADS_1
Bersambung ...
💓 Cinta itu aneh. Dia tidak memiliki kriteria apapun. Rasa itu datang sendiri, tanpa memandang banyak perbedaan. Ethan sadar dia memiliki banyak hal yang berbeda, tetapi dia tetap jatuh cinta pd Anna. Jadi menutut Author, klo sudah jatuh cinta, setiap orang pastilah lupa standar ideal yang dia harapkan. Karena cinta itu bisa mengubur standar bahkan prinsip seseorang 🤭