
"Apakah kau siap menikah muda ?" tanya Ethan tiba-tiba.
Anna menggelengkan kepalanya dengan buru-buru, "Aku tidak mau."
"Mengapa?" Satu alis Ethan naik ke atas. Dia terlihat tidak senang dengan penolakan langsung.
"Apakah kau sudah cukup mampu memberi makan istri dan anak?" Anna mencubit lambang seragam Ethan, dan mendengus, "Tuan emas kau itu masih sekolah."
"Kita sudah pantas menikah. Bukankah secara sipil. Umur kita berdua sudah memenuhi syarat. Uang jangan pikirkan. Isi kulkas Ruan tidak akan pernah habis."
"Oh Yah!" Anna mengehela napas, dan melanjutkan komentar dalam hatinya, Aku lupa kulkas Tuan sombong ini bisa mencetak makanan sendiri, tanpa pemiliknya harus bekerja keras.
"Apa aku sedang memikirkan proposalku?"
"Tidak romantis sekali ajakan nikahmu. Aku menolaknya." Anna menggelengkan kepala berkali-kali. "Pokoknya aku tidak mau menikah dengan seorang yang terlihat seperti bayi kecil."
"Bayi kecil?"
"Ya kau! kau itu masih bayi. Kau memang tumbuh besar makan nasi. Soal cinta, mungkin kau baru belajar merangkak."
Ethan menyipitkan matanya. Terlihat tidak setuju. Bayi merangkak mengenal cinta? Yang benar saja. Kau meragukan cintaku yang telah menggunung seperti ini. Untuk pertama kalinya aku ingin mencongkel otakmu, dan mencucinya dengan sabun terbaik.
"Berhentilah berpikir untuk menikah muda. Okay! Karena kita tidak tau pikiran seorang bayi merangkak itu jika kau sudah mampu berdiri dan berlari-lari. Entahlah apa yang akan terjadi? Bisa saja kelak kita akan bercerai dini."
Ethan menyipitkan matanya lebih tajam, dan terdengar protes dengan napas yang memburu, dan mendesis tanpa suara, "Kau meragukanku?"
"Hmm." Anna memganggukan kepalanya terlihat konyol di depan Ethan.
"Kau takut aku meninggalkanmu?"
Anna menganggukan kepala lagi.
Ethan mengelus rambut kepala Anna, dan berkata lembut, "Jika kau menyebutku bayi merangkak. Maka kau harus bersikap seperti ibu yang selalu menggendong. Karena seorang bayi yang tumbuh besar, tidak akan pernah meninggalkan ibunya. Kau harus membuatku nyaman selalu, agar setiap kau jauh dariku, aku dapat menangis setiap saat."
Anna tersenyum. Mengelap bibirnya sebentar. Dia telah kehabisan kata-katanya untuk menjawab setiap kata Ethan, yang terdengar sangat manis.
__ADS_1
"Bagaimana cara membuatmu nyaman, bayi besar?" Anna mengeringkan matanya, "Jika dari postur tubuh kita berdua. Kau lah yang harus menggendongku."
Ethan memintal ludahnya. Menurunkan kepalanya dan menepatkan posisi bibirnya di dekat telinga Anna, dan berbisik, "Bukankah bayi hanya nyaman dengan seperti yang kau lakukan tadi, mencium dan memeluk."
"Ish!" Anna terlihat malu dan kosong akan bisikan Ethan yang terdengar sangat nakal.
"Tugas ibu simple kan. Bayimu tidak menyusahkan."
Wajah Anna masih memerah panas. Dia segera berpaling dan berlari masuk ke dalam mobil meninggalkan Ethan yang berjalan lamban dengan menatap punggung kecil gadis itu.
Ingin mengerjaiku. Tidak akan semudah itu, Anna. Sekarang, bayi ini akan lebih pintar dari ibunya. Bayi ini akan pintar merengek. Agar ibunya setuju segala hal. Termasuk menikah muda itu. Secepat mungkin, bayi cinta ini akan menikahi ibu cintanya.
Ethan terkekeh percaya diri dengan garis senyum yang terlihat melengkung sempurna membelakangi matahari yang bersinar terang dan menyilaukan mata Anna yang diam-diam mengintip dari jendela mobil.
Sejak kapan dia mulai pandai? Sepertinya aku harus mencari akal agar si bayi genit itu menurut pada ibunya. Bukan ibunya yang menurut pada bayi genit itu.
Anna segera memalingkan wajahnya. Berpura-pura untuk tidak menyadari kehadiran Ethan yang telah memasuki mobil.
"Ibu!" Ethan mendekatkan dagunya pada punggung Anna yang membelakanginya.
"Jangan berkata konyol, Ethan! Aku bukan ibumu."
"Bukankah kau yang memulai."
"Itu peribahasa. Itu umpama. Bukan sebutan antara kau dan aku. Kau mengerti?"
"Iya. Aku tau aku bukan bayimu." Ethan mendekatkan bibirnya pada telinga Anna, dan berbisik menggodanya, "Namun, kita bisa membuat bayi kita bersama. Secepat mungkin."
"Tidak!" Anna terkejut, dan mendorong Ethan. Dia berpaling menatap Ethan dengan telunjuk naik ke udara, "Jangan mempengaruhiku. Aku tidak akan menikah muda denganmu. Kau gila."
Ethan menahan geli dalam mulutnya. Wajah Anna terlihat merah padam. Tersipu malu dengan sangat cantiknya.
"Yakin kau menolakku?"
"Iya. Sangat yakin."
__ADS_1
"Yakin?" Ethan mengangkat satu alis sangat tinggi. "Tidak kah berpikir, dengan menikahiku. Maka penderitaanmu akan berakhir dengan sangat cepat."
"Penderitaan?" Anna terlihat meraba-raba maksud Ethan.
"Kemiskinan misalnya," lanjut Ethan dengan tangannya tiba mengulur dan meraih tangan Anna. Sekejap matanya menjadi terlihat jinak sekaligus sangat serius, "Aku ingin mencabut dini seluruh penderitaanmu dengan menikahimu. Bukankah aku sangat baik?Kau hanya perlu mengunakan telunjukmu, maka semua akan tersedia di depan matamu. Kau hanya perlu berkata sedikit, maka semua orang akan menuruti perintahmu."
Anna membuka mulutnya, perlu udara baru. Perkataan Ethan membuat udara dalam paru-parunya terasa sangat kotor, Ya Tuhan. Kesombongan Tuan emas ini tiada taranya. Apakah dia sudah mendadak gila? Dari manakah idenya berasal. Apa aku perlu mengantarnya ke rumah sakit jiwa sekarang?
Ethan mendongakkan kepalanya lebih tegak dan menatap lurus ketidakpercayaan Anna yang tersirat dalam sepasang bola matanya.
"Apakah kau masih tidak percaya?"
"Iya nih. Aku pikir saat ini .... Mungkin, kau perlu ke dokter jiwa terdekat. " Anna ragu sebentar, dia merasa dirinya pun ikut gila. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali, dan menatap dirinya sendiri, "Atau aku yang sebentar lagi gila karena janji-janji milikmu seperti gula yang bertaburan. Sangat manis."
"Tenang saja aku bukan hanya sekedar berjanj Aku memberi kenyataan yang sebentar lagi akan ada di depan matamu. Kau hanya perlu berkata iya, dan budak cinta ini akan bekerja untukmu."
"Budak?"
Ethan menunjuk dadanya sendiri, "Benar sekali. Semenjak mengenalmu. Aku telah jatuh menjadi manusia idiot dan rela menjadi budak. Aku bersedia melakukan apa saja untukmu."
Anna mengelap bibirnya. Kalimat panjang itu snagat manis dan menyentuh hatinya. Namun, tembok tinggi di antara dirinya dan Ethan kembali tebersit dalam hatinya.
"Tetapi nama Ruan. Tidak akan mengijinkan kita bersama. Orangtuamu pasti tidak setuju. Lalu, tunanganmu ... apa dia tidak akan gila karena telah membuang emas ke bak sampah seperti diriku?"
"Ssst!" Ethan meletakkan telunjuknya pada bibir Anna, "Jangan menyebut diri bak sampah. Aku tidak menyukainya."
Anna menunduk. Setiap kalimat pria ini terlihat menjanjikan realita yang memberikan surga untuknya. Namun, tembok status yang berbeda jauh, membuat Anna segera merasakan pipinya merah di tampar keras oleh kenyataan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Awas diabetes 🙏🏿 maaf telat yah update-updatw. Akhirnya mau setahun aku selsaikan cerita halu ini 🤭 Oh maafkan yah ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo