
Di Kantor Polisi ...
Susan menatap linglung pada meja yang di hadapkan dengan seorang pria berseragam. Tidak pernah dia menyangka,Gita adalah sahabat baiknya sendiri yang menyebarkan video panas miliknya pada khalayak ramai.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara langkah terdengar. Tangan ramping Susan segera naik menyeka air matanya. Dia berbalik menoleh ke arah kakinya yang datang. Sekejap kubu tangannya terkepal dan bergetar. Gita lah yang datang dengan banyak air mata jatuh deras, dan sekejap kilat marah terbit di mata Susan.
Gita membola terkejut. Lari dia segera lari memeluk kaki Susan. Wajah penuh air mata itu terbenam pada perut Susan, "Ma-af ...," sunguk Gita menangis.
Susan terkekeh sebentar. Mendongkkan wajahnya menatap langit-langit ruangan,dia tidak mengijinkan air matanya turun. Sekarang, semua negeri telah menduga keperawanannya telah dia jual kepada seorang pria paruh baya, yang tidak jauh berbeda usia dari ayahnya. Berita panas di seluruh pelosok negeri.
Kesal. Benci. Murka. Rasa itu menyelinap begitu saja. Lalu, tangan halus itu meraih setiap anak rambut Gita, menarik dan menjambaknya tinggi-tinggi.
"Aw!" setiap tarikan itu kuat dan menyakitkan seakan bersiap mencabut rumput beserta akarnya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" hardik seorang pria berseragam.
Susan melepaskan tangannya. Linglung seketika. Nasi telah menjadi bubur. Bagaimana dia bisa menghapus segala sesuatu yang tercetak pada media? Video panas seorang siswi! Menggila dan membara!
Ah, terdengar memalukan sekali. Seharusnya nama Anna lah yang berada di media. Mengapa harus aku? Karma ini terus menyusulku. Mengapa?
"Nona Gita,kemarilah duduk berhadapan denganku dan jelaskan pada kami apa saja yang kau lakukan?"
Deg! Jantung Gita tertusuk.
Haruskah aku masuk penjara dengan anak dalam perutku. Bagaimana Nick? Ibu ? Ayah ? Apakah mereka akan menyelamatkanku jika aku berada dalam penjara.
Langkah Gita lunglai berjalan. Raganya terlihat bergetar. Makin bergetar kuat kala dia berhadapan duduk dengan pria yang akan menyelidikinya.
Driitt! Suara kursi terdorong. Membuat Gita mengakar kepalanya sebentar. Mendapati Susan telah berdiri dan menyipitkan matanya pada Gita. Ada kebencian di sana. Makin Susan mendekat, sinar kebencian itu makin besar dan mampu menusuk jantung Gita hanya dengan isi mulutnya.
"Maafkan a-aku," enyuh Gita memohon.
"Kau mengambil uang hanya untuk memberi badanmu pada Nick di setiap hotel bagus, ya kan! Menjijikan sekali."
Gita menunduk malu. Tangan kecilnya meraba pada perutnya. Dia telah memiliki seorang anak dalam perutnya. Dia menitikkan air matanya. Bagaimana karma itu datang menyentuhnya dengan cara mengejutkan dirinya seperti ini?
"Maaf!" ucap Gita lebih besar. Dia sudah tertunduk malu dengan perutnya. Dia hanya bisa meminta kasihan pada Susan, "Demi anak dalam perutku, bisakah kau memaafkan aku!"
__ADS_1
Susan membola senang mendengarnya, "Karma itu datang. Aib itu akan terus melekat di setiap telinga orang. Anak dalam perutmu pun harus menanggungnya."
"Su ... Susan!" teriak Gita serak dengan rengekan panjang mengikuti kemudian.
"Tidak ada menangis Gita. Apa yang kita tabur adalah itu yang kita tuai? Apa yang ku tuai hanya tinggal mengangkat kepala dan pergi ke negara lain. Sedangkan dirimu, harus berdiam dalam penjara , melahirkan dan membesarkan anakmu di alntai yang dingin, dan di belakang jeruji yang mengekangmu!"
"Susan! Hentikan!" Gita mual segera, dan detik selanjutnya dia segera berlari dengan menutup mulutnya.
"Toilet! Aku ingin ke toilet!"
"Di sana!"
Gita mengikuti arah telunjuk wanita berseragam, dan segera masuk ke dalam toilet. Menuju wastafel. Muntah segera. Owek!owek! owek!
Setelah merasa lega. Gita membasuh wajahnya. Menyeka air matanya. Namun, baru saja dia seka, dia kembali menangis. Sedihnya seakan tidak berujung.
"Mengapa aku bodoh sekali waktu itu? Andai saja tidak ketahuan. Aku tidak akan seperti ini." Gita linglung lalu teringat akan sosok pedagang yang membeli video panas Susan. Gita segera merogoh ponselnya dan menghubungi pria itu.
Tut! Panggilan itu terputus begitu saja. Nomor itu tidak tergunakan lagi. Gita jatuh duduk berjongkok memeluk lututnya. Dia membenamkan wajahnya sebentar.
Andai aku harus di penjara. Aku tidak ingin sendiri. Pria itu harus di tangkap pula. Lalu, mengapa bodohnya aku tidak mengetahui pria itu sedikitpun.
Gita berusaha tenang dan membuka ponselnya kembali. Memeriksa kotak emailnya. Lalu, dia di kejutkan dengan kotak keluar pada emailnya.
Mengapa email milikku? Dia pun membuka kotak masuk dan spam yang lain. Gita meremas rambutnya. Kepalanya mendidih. Dia tidak memiliki bukti komunikasi dengan seorang pedagang itu lagi.
Apakah aku masuk dalam skenario? Aku di jebak seseorang! Ini ... Apa pembalasan dari Ethan Ruan? Gita terkekeh dan menangis bergantian pada lantai dingin, yang tidak lama kemudian membuat dirinya jatuh pingsan kemudian. Dalam pingsannya pun dia tetap menangis akan karma yang menyusul atau pukulan mematikan Ruan yang dia dapatkan.
...꧁❤•༆Anna&Ethan༆•❤꧂...
Pagi hari di Kediaman Ruan ...
Alis pria muda itu terangkat. Sepasang matanya berbinar cerah. Seakan dia menyukai apa yang baru dia baca.
"Menjebak untuk membuat Anna malu? Lalu, apa yang terjadi dengan kalian. Jika siasat itu kembali pada kalian." Pria muda itu menekan salah satu tombol pada samping layar. Tampilan menjadi gelap seketika.
"Tuan Ethan," interupsi seorang pria paruh baya yang baru berani mengeluarkan suaranya kala Ethan tampak telah berhenti dari kesukaan mwmbaca media yang menarik minatnya.
"Iya ada apa?"
__ADS_1
"Tuan bisa mencoba jas untuk pertunanganmu malam ini."
"Tidak perlu, Luke!"
Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya dalam, dia akan segera membuka mulut lagi. Namun, Ethan lebih dulu memotongnya lagi.
"Pertunangan itu akan batal!"
"Mengapa?" Luke makin heran dan penasaran.
"Emily sendiri yang akan membatalkannya!" Ethan berdiri dan berjalan ke tepi jendela. Dia sengaja melirik matahari yang terlihat kuning cerah dan hangat sekali hari ini.
Hening. Ruang kerja itu hening.
Luke bergerak mendekat dan berhenti dengan jarak dua langkah dari Ethan, rasa heran tidak bisa dia bendung.
"Aku tidak bisa mempercayai berita ini."
"Tunggu saja. Karena, Ethan tidak akan pernah berbohong."
Ethan berbalik kembali berhadapan dengan Luke, dan dia bertanya hal yang lain.
"Bagaimana dengan keadaan Joe Han?"
"Masih stabil seperti kondisi sebelumnya. Namun,dia masih mengalami tidur yang panjang."
"Berapa lama lagi dia akan bangun?"
"Penyesuaian dengan jantung baru. Bisa jadi, dia akan bangun maksimal dalam tiga hari ini lagi. Jika masih tidak bangun, maka hanya akan terlihat seperti itu selamanya. Berbaring seumur hidupnya."
Ethan menyipitkan matanya. Sorot matanya tidak senang, " Ganti dokternya dan bangunkan dia."
"Ganti dokter lagi?" Luke mengerutkan keningnya lagi, "Bukankah yang menangani Joe adalah dokter yang terbaik di negeri."
"Sekarang undanglah yang terbaik di dunia."
Luke menahan napas panjang dan dalam.
Uang Ruan tidak akan pernah habis.
__ADS_1
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...
Jangan Lupa mampir ke karya author lainnya ! Gomawo 💞