
Semua pelayan dalam aula berbisik-bisik di belakang, mereka tidak menyangka, jika Nana Su, pelayan baru dengan wajah muda dan cantik, tidak memiliki suami, dan hamil diluar nikah. Sekarang, semua orang memandang dirinya sebelah mata, memiliki tangan besi, namun juga masa lalunya sangat hitam.
Nana terlihat acuh tidak acuh, dia sudah terbiasa dengan lingkungan dan kehidupan yang dipandang rendah, orang-orang boleh membisikinya, tetapi jangan ikut menyeret membawa Anna dalam masalahnya. Anna bukanlah empedu, dia masih lugu, dan polos.
"Berisik!" peringat Ethan, sekejap Aula menjadi sepi kembali, sorot matanya ikut sedih. Pantas, Anna sangat menjagga jarak. Ibunya memiliki trauma yang mengerikan, dan Anna takut kutukan itu.
Diam-diam, Ethan sangat geram dengan pepatah yang diucapkan Henny tadi, 'buah tidak pernah jatuh dari pohonnya.'
'Anna, bukan buah busuk! Berani sekali menghina Anna-ku,' Ethan marah dalam hatinya, dan hampir saja menangkap cangkir di meja, dan akan melempar ke wajah Henny, berani sekali mengutuk Anna seperti itu. Untung, dia masih bersikap waras di hadapan Nana, dia hanya menggunakan wajah tipuan tuan berstatus hakim yang terlihat adil. Padahal, dia sudah berniat akan memecat Henny dari awal. Bertemu dan mendengar di aula, hanya sekadar duduk manis ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Nana Su, ibu Anna Su. Jika itu orang lain, dia tidak akan pernah peduli sama sekali.
Michael menyipitkan matanya pada Ethan, tepat pada wajah Henny. Kalimat terakhir yang di ucapkan Nana, sungguh menyentil hati Ethan —'dan kelak tidak memiliki suami.'
Michael memberi sedikit ujung matanya, seakan menertawakan posisi Ethan, dan memberikan pesan text mechat, 'apa kau yakin tidak ingin menjadi suami Anna?'
Ethan membaca pesan. Ujung matanya tenggelam, tepat sekali Michael sedang menjadi kompor besar, hal ini, dia anggap mengutuk Ethan pula, tidak akan pernah menjadikan Anna, istrinya kelak, Ethan segera membalas pesan mechat, 'aku yakin dia tidak akan memiliki suami manapun, kecuali aku. Jika dia menolakku, maka pria lain tidak akan berani menikahinya.'
Michael berkedut tersenyum dalam mulutnya, dan tidak tahan membalas pesan lagi, 'Ternyata Nana Su, hamil di luar nikah... Pantas saja Anna sangat berhati-hati dengan Ethan Ruan, dia takut suatu saat kau bosan, dan meninggalkanya.'
Wajah Ethan menjadi sangat gelap membaca pesan Michael, dia teringat kejadian malam tadi, Anna Su melukai kepalanya hanya karena sebuah ciuman, bagaimana dia bisa berpikiran menghamili Anna? Semenjak malam itu, dia sudah berjanji akan menjaga kehormatan Anna. Tuan muda Ruan, selalu menepati janji, kecuali Anna yang berlari merayunya, mungkin dirinya bisa berubah pikiran.
__ADS_1
Ethan menelan ludahnya, ketika pikirannya mengira suatu saat Anna pergi merayunya, dan dia jatuh luluh melanggar janji dalam satu tembakan. Hal itu, rasanya sangat mustahil, layaknya seperti matahari tidak akan pernah terbit di barat, oleh itu Anna tidak akan pernah menjadi nakal untuknya. Tidak akan pernah mungkin hal itu terjadi. Hanya Ethan yang selalu nakal pada Anna. Hanya Ethan yang boleh nakal, Anna jangan.
'Aku akan menjaga Anna, bukan hanya mencuri untuk bersenang-senang seperti ayahnya...'
Ethan membalas mechat Ethan, lalu matanya terangkat dari layar ponselnya, dan menanyai lagi pada Henny, "apakah kau benar mengatakan hal itu?"
Henny mengangguk membenarkan. Tetapi dirinya tetap yakin, tidak akan di salahkan, dengan ujung matanya, dia meminta suami dan anaknya memohon, dan segera mengeoreksi tuduhan Nana padanya, "saya hanya menanggapi cerita, bukan bermaksud mengatai—"
"Menanggap cerita, jika begitu, ijinkan aku mengutuk anakmu di depan semua orang!" potong Nana dengan suara nyaring, dan menambahkan lagi, "jika saya punya masalalu buruk, bukan bearti semua orang yang
"Bibi mulutmu itu—" Susan, anak kedua Henny terlihat marah, namun Gina, kakak perempuannya segera menutup mulut adiknya, dan berbisik, "hentikan, ini bukan rumah kita, jangan berlaku bodoh!"
Susan menahan amarah, namun ujung matanya jelas menangkap mata Nana yang pergi mencibir.
Ethan tertegun sebentar menatap Nana, karakter Nana lebih keras daripada Anna, membayangkan jika dia akan kontra dengan ibunya, Johana Ruan. Bagai batu akan bertemu batu. Termenung lagi. Ethan baru menyadari, jika cintanya pada Anna tidak akan semudah dan semulus jalan orang lain.
Melihat pandangan wajah Ethan pada Nana, dingin, dan berkerut-kerut, suami Henny menambah bumbu perkara, "maapkan istriku, Tuan muda Ruan, lihatlah segala luka ditubuhnya, semua ini ulah pelayan baru yang cepat tersinggung," keluh suami Henny, lalu membungkuk sangat dalam, dan isyarat mata diberikannya pada dua anak gadisnya, agar segera meminta maap yang sama.
Satu keluarga Henny terlihat membungkuk dalam minta kasian, dan secara tidak langsung meminta Nana untuk dipecat, kecuali Susan— anak kedua Henny, yang terlambat sadar, matanya mematung melihat kesempurnaan Tuan muda Ruan, bukan hanya wajah tampan seperti dewa, pria muda ini memiliki kekuasaan yang sangat tinggi.
__ADS_1
Gina menyadari kebodohan mata adiknya segera mencubit, dan membuat Susan ikut bersama membungkuk dengan sangat dalam.
Wajah Nana terlihat datar, dia sudah siap untuk di pecat, jadi dia hanya memasang wajah angkuh dan tidak merasa bersalah, dan terlihat tidak peduli akan keputusan Tuan muda Ruan.
Ethan berdiri, dan mengambil keputusan mutlak, "bibi Nana, uang jaminan akan di ganti potong gaji,"— Ethan memandang Henny— "bibi Henny ambil uang pensiun masa kerjamu, dengan bibi Fann!"
Nana tercekat, tetapi lega akhirnya. Dia masih memiliki pekerjaan.
Henny sekeluarga mematung tidak percaya akan keputusan Tuan muda Ruan. Mendengar itu Henny jatuh pingsan, suaminya segera jatuh memeluknya, dan meminta istrinya bangun, "sayang, bangun ...hu... hu... hu..."
"Ibu..." rengek Gina dan Susan bersamaan, Susan terlihat mengepalkan tangan, seakan tidak menerima keputusan tersebut. Dia lalu berlari mengejar Ethan Ruan yang terlihat tidak peduli, dan menaiki tangga satu demi satu anak tangga, dan berkata ketus, "tunggu, Tuan muda Ruan, apa maksudmu berkata begitu terhadap ibuku? mengapa kau memecat ibuku? kau sangat tidak adil!"
Ethan menyipit tidak senang akan tangan Susan yang terlihat mencengkram lengannya, "apakah kita sederajat?" sindirnya membuat Susan tercekat, dan merasa malu. Melepaskan tangan pria itu, ternyata pria ini sangat angkuh, namun dilihat dari dekat, membuat jantung Susan sangat berdebar, dup-dup-dup!
Ethan mengibaskan bekas jejak tangan Susan, serasa ada kotoran yang hinggap ditangannya, Susan makin merasa rendah, dan berkata, "saya tidak sekotor itu, Tuan muda Ruan."
Ethan tidak menoleh, agak memintal lidahnya, jika bukan seorang gadis kecil, mungkin dia akan pergi menampar, karena berani protes pada dirinya, dia berbalik menatap dengan sorot jijik, mendapatkan tatapan itu, Susan tertegun, hal ini malah membuat dirinya makin salah tingkah, bercampur aduk dengan bunyi jantung, yang makin tidak selaras, duppp-dup-dupppp.
"Aku katakan padamu, dalam keluarga Ruan, tidak ada yang namanya keadilan, yang saya senangi, itu yang tinggal."
__ADS_1
Susan tercekik akan kalimat itu.
...