
"Anna!" seru Ethan memukul setir, melepas sabuk pengaman, dan segera keluar dari mobilnya, ketika dia baru menyadari Anna begitu cepatnya melompat dan berdiri di pinggir jalan memanggil taxi, dia segera berlari ke sisi Anna.
Taxi berhenti tepat di depan Anna. Baru saja tangan Anna memegang ganggang pintu mobil, dan baru saja terbuka, pintu kembali di hempas.
Blam!
Pintu mobil tertutup rapat kembali sebelum Anna masuk ke dalam mobil.
"Anna!" seru Ethan mencengkal Anna masuk ke dalam taxi, Ethan segera mendapatkan kembali pergelangan tangan Anna dalam tangannya, mencengkramnya ketat, tidak perduli betapa Anna meringis akan sakitnya pergelangan tangan miliknya.
"Lepaskan aku, aku ingin pergi sendiri," ronta Anna dengan suara serak dan meminta tolong kemudian, "Pak sopir bantu aku, pria ini menakutiku!"
Sopir Taxi menurunkan pintu jendela mobilnya, dan berteriak, "hai, tuan.... kau tidak boleh menangkap seorang gadis. Aku akan melaporkan hal ini ke polisi."
"Dia istriku, dan dia sedang merajuk dan turun dari mobil," terang Ethan dengan mimik tenang, namun wajah Anna pucat sebentar mendengar penyebutan— istri dari mulut Tuan muda Ruan.
Sopir terlihat ragu sebentar, namun segera mengintip dari kaca spion, tercengang melihat mobil yang berada di belakangnya. Mobil sport berkelas hanya untuk kalangan atas.
'Rupanya gadis ini adalah pasangan orang yang banyak uang, lebih baik aku meminta ongkos,' liciknya dalam hati, dan turun dari mobilnya.
"Kalian masih sangat muda, namun menikah begitu cepat, apa kalian ingin mengakali diriku, nak?" tanya sopir berkomentar penuh kecurigaan, dengan mata yang menilai pasangan muda-mudi yang terlihat masih belasan tahun.
"Dia memang istriku!" Ethan sinis mendengus kesal dan menggeser tubuhnya berdiri tepat di depan Anna, untuk menyembunyikan Anna dari pandangan pria paruh baya itu.
"Ethan!" jerit Anna akan protes namun juga malu akan gelar baru yang di sebutkan untuknya, 'kita belum menikah, Ethan.'
"Tuan berikan aku uang, maka aku akan pergi, kalian telah banyak membuang waktuku," ujar sopir tersebut.
Ethan hanya melirik, mengambil dompetnya dari saku belakang celananya dan mengosongkan, lalu melempar banyak uang ke dalam mobil dan berteriak, "lebih baik pergi sekarang!"
__ADS_1
Sopir melotot akan banyak uang yang dilemparkan padanya, uang-uang yang berserakan dalam mobil bahkan melebihi pendapatnya dalam sebulan, matanya hijau dan berkata, "baik pelanggan, terima kasih banyak atas tips."
Kemudian, Taxi melesat pergi.
Anna mendengus kesal, wajahnya muram seketika melihat betapa cepatnya taxi itu melesat.
"Lepaskan aku, aku akan jalan kaki. Tidak akan naik mobilmu," jerit Anna.
Ethan tersenyum tipis, dan hanya menjawab kekesalan Anna, "aku akan mengikutimu Anna, jika kau berjalan, maka aku akan berjalan pula."
Anna menepis tangan Ethan, dan belum saja dia berkata satu kata, Ethan sudah menambahkan perkataannya lagi, "aku tidak akan pernah membiarkan dirimu sendiri, Anna. Aku akan selalu mengikutimu, walaupun aku harus melepas harga diriku sebagai Tuan muda Ruan, yang melangkahkan kakinya bebas di atas jalan raya, bermil-mil jauhnya, aku akan menempuhnya dan menemanimu, Anna Su."
Anna tertegun sebentar, melepaskan kepalan emosi dalam genggaman tangannya, menghembuskan napasnya untuk beberapa kali, sampai akhirnya isak yang berada di dadanya, menerbitkan air matanya dari ujung matanya, mengalir dari pipinya, jatuh lebih deras dan telah membanjir seluruh wajahnya dalam hitungan detik.
"Mengapa kau menangis?" tanya Ethan dengan punggung tangan yang naik menyapu air mata Anna, "apakah aku selalu membuatmu sedih, Anna?"
"Maafkan aku,"— Ethan mengangkat punggung tangan Anna, tepat di bawah bibirnya, dan menciumnya dengan sentuhan bibir yang dingin—" aku selalu menyakitmu, Anna."
Anna menarik tangannya, dia tertunduk sebentar, memejamkan kelopak matanya kebawah, dan menjatuhkan air matanya turun menyusuri pipinya. Setelah beberapa saat, antara bayang Joe dan Ethan yang menabrak pikiran dan hati nuraninya, Anna barulah mengangkat wajahnya.
"Ethan, kau tidak pernah menyakitiku. Ethan, akulah menjadi batu masalah bagi—"
Ethan meletakkan telunjuknya menyentuh bibir Anna, untuk berhenti berkata. Sepasang mata Ethan serius memindai apa yang tersirat di wajah Anna, dan barulah dia berkata, "jangan menyalahkan pertemuan kita, Anna. Aku tau aku salah, dan aku pantas di sebut pria yang tidak lebih beharga daripada Joe Han. Aku telah melukainya. Aku bodoh saat itu."
"Semua orang boleh pergi dari sisiku, namun kau tidak akan pernah aku ijinkan melangkah sangat jauh dariku, Anna. Jangan tinggalkan aku, Anna...," mohon Ethan dengan sirat kesedihan dalam suaranya.
Joe Han.
Anna meraup kembali emosi dalam genggaman ketika nama pria itu disebutkan. Seakan hatinya untuk menjawab, 'siapa yang paling ku kasihi?'
__ADS_1
"Ethan...," jawab Anna dengan bersusah payah meloloskan kalimatnya pada pria yang terlihat putih kertas dengan banyak rasa penyesalan di wajahnya, "bagiku kau tidak pernah cacat di mataku, kau adalah pria yang paling sempurna di mataku. Hatiku telah buta, untuk tidak pergi menyalahkanmu."
Mendengar kalimat pengakuan itu, Ethan membenamkan kepala Anna jatuh menabrak dadanya, membiarkan gadis itu menumpahkan ketakutan dan rasa khwatirnya dalam tangis, "menagislah, Anna. Jangan khawatirkan satu hal yang bukan bagianmu. Itu tanggung jawabku, maka aku akan menyelesaikan sendiri."
Sekian lama Anna menangis, barulah suara isak hidung dan serut itu perlahan reda, dan dia berkata, "aku—"
Seakan mengerti rasa khawatir Anna, Ethan menyakinkan Anna segera, "tenanglah Anna, Joe Han akan tetap hidup, dan Ethan milikmu tetap akan hidup. Joe Han, sahabatmu akan tetap hidup, begitupula aku yang akan selalu ada untukmu. Aku berjanji Anna."
Ethan mengalihkan pandangananya, mendongakan kepalanya, seakan meminta air matanya untuk kembali masuk.
Anna tertegun sebentar, mengatupkan kelopak matanya kembali, jemari tangan mencengkram kuat ujung baju kaos Ethan, dan seakan hati kecil dilemparkan ke logika untuk tidak menuntut, "aku tidak akan menuntut dirimu, untuk berjanji padaku Ethan Ruan. Aku... hanya percaya segala sesuatu, siapapun yang pernah datang, suatu saat pasti akan pergi. Jika Joe pergi-gi, a-aku tidak bisa menyalahkanmu. A-aku tidak...."
Anna menelan isaknya, "maaf, aku telah memnuntutmu melakukan hal bodoh. Maafkan aku."
"Aku akan berusaha Anna, menyelamatkan Joe Han. Apapun itu caranya, akan kulakukan."
"Tetapi...,"— Anna mengangkat kepalanya, mendapati sepasang mata basah pria muda itu— "aku menginginkanmu melebihi menginginkan jantungku sendiri. Akupun tak ingin kau mengorbankan hidupmu Ethan, jika itu ada, biarkan aku yang seharusnya—"
Cup!
Bibir dingin Ethan sekilas mendarat sebentar pada bibir tipis yang basah karena air mata, dan perlahan Ethan menghapus sisa-sisa jejak air mata, sembari berkata, "Anna Su, hanya Anna Su yang bisa membuatku memiliki mata basah seperti ini dan memohon. Aku benar sudah jatuh dalam hal yang tergila-gila pada Anna Su. Bahkan mungkin— "
Ethan segera menggunakan punggung tangannya sendiri menghapus air matanya yang hampir jatuh, di saat ini pikirannya telah lari akan perasaan Joe Han.
Joe Han.
'Maaf Joe Han, aku tidak pernah menyangka bahwa diriku akan menyukai orang yang sama dengan dirimu. Aku tidak bermaksud mengambil Anna. Terkutuklah rasa penasaranku, yang telah membuatku jatuh hati pada Anna Su, orang yang selama ini, diam-diam telah kau suka.'
....
__ADS_1