Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Ethan demam lagi!


__ADS_3

Anna tertegun sebentar, "kau janji?"


Ethan melirihkan kalimatnya, "aku barzanj, aku akan menunggu."


Anna menggigit ujung bibirnya, mendengar satu kalimat itu, hatinya bergetar, diam-diam dia  menyelidiki wajah Ethan, dan menimbang-nimbang sebentar, dan berkata dengan suara sangat rendah, dan juga terdengar ragu, "aku percaya padamu, Ethan."


Ethan mengecap bibirnya sendiri, dan seakan memikirkan sesuatu, "tetapi, malam ini kau harus bertanggung jawab padaku."


"Tidak! aku tidak ingin ganti apapun untukmu malam ini, aku masih anak-anak." Anna mengira hal kotor berasal dari mulut Ethan, dia menolak cepat, dia segera menutup  dadanya dengan tangan tersilang.


Ethan tersenyum mengejek, "kau suka berpikir kotor, aku hanya memintamu bertanggung jawab pada ini."


Ethan menunjuk lukanya, melihat itu Anna menjadi merasa bersalah, dan mulai salah tingkah, apalagi sikap duduk Ethan terus berlutut di depannya, tepatnya seperti seorang pria yang membujuk wanitanya, dan tangan Anna perlahan mengambil kotak P3K yang disodorkan Ethan.


"maaf, aku membuatmu terluka," ucap Anna sambil menuangkan pembersih luka pada kapas.


"Tidak apa-apa, aku pantas mendapatkannya. Kau harus galak seperti itu, jangan hanya padaku," balas Ethan dengan dua pupil mata yang lebih cerah, tidak bertengkar dengan Anna, sudah cukup membuat dirinya merasa damai, berhenti kacau.


"Ini, akan sangat perih," peringat Anna, sebelum tangannya mulai menyeka kening Ethan.


Ethan tersenyum, tangannya di letakan di sisi kiri kanan bersebelahan dengan paha Anna, kepalanya sedikit mendongak ke atas, agar Anna bisa merawat lukanya, dan matanya menatap wajah Anna, lagi-lagi bibir Anna mengundang naluri ingin makan, dia hanya bisa menelan ludah.


Glek..!


Bertahan Ethan, jangan menggoda lagi. Hormati Anna. Perjanjianmu baru dimulai.


Ethan membantin dalam hatinya. Merasakan tatapan yang dalam, tangan Anna sedikit mulai kaku, bingung memulai, jadi dia menegur halus, "berhenti menatapku."


Ethan menurut. dia memejamkan matanya, tepat setelah Anna menegurnya.


Deg!

__ADS_1


Giliran Anna yang kehilangan kekang pada hatinya, mata Ethan tertutup, tetapi mata Anna terbuka, menatap lekat wajah Ethan yang memiliki fitur  lima indera yang terlihat sempura, wajahnya halus terawat, hidungnya lurus tinggi, rahangnya kokoh kuat, dan bibirnya. Anna malu menatap pada bibir Ethan, dia hanya bisa diam-diam, dia tidak bisa berkata apapun, hanya saja  merasakan salivanya naik turun, dan tiba-tiba Ethan yang tengah terpejam menegurnya, "mengapa lama sekali, kau tidak ingin bersihkan luka."


Anna terkesiap sebentar karena teguran itu, getar-getar di wajahnya terlihat, untung saja Ethan tengah menutup mata. Tidak larut dalam kagumnya, dia  segera menyeka darah kering. Ketika dia menyeka, sentuhan punggung tangannya merasakan sensasi  panas kulit Ethan, "Ethan, kau demam lagi."


Ethan mengangkat bahu, dan hanya menggumamkan isi mulutnya, "hmmm..."


Anna tercekat sebentar, dia ingat dokter berkata memperingati--- bantu awasi dan berikan obat ini per-empat jam, jika dia masih sangat panas.


Anna panik, dia melupakan hal itu, dia segera bangun, obat itu ada di lantai atas, kondominium, kelas V.I.P.


Ethan membuka matanya, ketika merasakan gerakan Anna terasa gelisah, "ada apa?"


Anna keluar melangkahi tangan Ethan yang berpegangan dengan sisi ranjang, hampir saja wajahnya menabrak dagu Ethan, untuk respons Ethan cepat menghindar.


"Ethan, aku akan mengambil obatmu di atas," ujar Anna tengah khawatir.


Ethan menikmati wajah panik Anna, diam-diam dia sangat senang mendapatkan rasa kuatir Anna, menyembunyikan kesenangan dalam mulut, Ethan hanya berseloroh, "cepat kembali, bisa-bisa aku mati, karena telat minum obat."


Anna melotot, gurauan Ethan terdengar tidak lucu, dia meneriaki namanya, "Ethan!"


Ethan mengecap bibirnya, apalagi selain menahan kesenangan dalam mulutnya, dia menyukai Anna yang terlihat panik oleh dirinya, lantas,  Ethan hanya melempar dirinya ke kasur, dan mengoreksi kalimatnya tadi, "tenang saja, aku tidak akan mati, sebelum menikah denganmu."


Mendapati kalimat Ethan, Anna langsung  membalikkan badan, menyembunyikan wajah yang tersipu, serasa telah mendapatkan lamaran di usia sekolah.


Tidak ingin lama jatuh dalam rayuan Ethan, Anna menyeret sepasang kakinya melangkah keluar pintu, baru saja satu langkah melewati garis, Ethan kembali terdengar memperingatinya  dengan  suara rendah, "jangan coba-coba kabur, Anna!"


Suaranya rendah. tetapi sorot matanya penuh ancaman. Untung, Anna tidak melihat sorot mata Ethan itu.


Anna membalas tanpa menoleh ke belakang, "tidak akan kabur kok, aku takut, lebih  takut bandit diluar, daripada Tuan bandit di sini."


Selesai mengatakan hal itu, seperti rasa malu merasuk Anna, dia segera mempercepat kakinya. Ingin hilang dalam sekejap.

__ADS_1


Ethan meremas dadanya. Sorot matanya berubah, terlihat riang. Mendengar hal itu saja, hampir, membuat dirinya melompat-lompat di atas kasur. dia menahannya, dan matanya hanya mengawasi Anna melewati koridor pertama dan hilang.


Melihat Anna keluar, Simon yang tengah berjaga, segera mengejar, Anna bersikap acuh dan tidak acuh, melirik sebentar, namun mengabaikan pria yang terlihat mengejarnya.


Anna masuk lift, bukan menuju pintu keluar. Tidak seharusnya dia khawatir.


Simon linglung sebentar, lantai yang di tuju Anna, adalah lantai sebelumnya, lantai kondominium yang diperuntukan untuk keluarga Ruan.


Simon menjadi lebih ragu, mengejar teman manis Tuan muda Ruan, atau tidak,  tiba-tiba saja dia terpikir untuk memeriksa keadaan Tuan muda Ruan, dia takut Anna pergi melukai Tuan muda Ruan lagi. Ingat hal itu, tanpa mengetok pintu, dia mendobrak pintu.


Brakk!!


"Tuan Ethan, apa kau terluka?" tanya Simon sebelum dia benar-benar melihat Ethan  tengah  di atas kasur, dengan, punggungnya bersandar pada kepala ranjang, tangannya terlipat di dada, matanya menyipit tidak senang akan kehadiran Simon yang telah melupakan etiketnya.


Merasakan tatapan yang mengerikan, segera menciut berlutut, "maaf Tuan muda Ruan, aku pikir nona Anna melukaimu lagi."


Ethan mencibir, dan mendesis marah, "apa kau pernah melihat seorang gadis kecil, bisa menindasku."


Simon sadar akan isi mulutnya, membungkuk hingga keningnya mencium lantai, "maaf, Tuan muda Ruan, aku tidak tau, jika kalian sudah berbaikan. Aku akan pergi."


Ethan tersenyum mendengar kata-berbaikan.


dia tidak ingin mengejar masalah, hanya mengusir dengan suara rendah, "bangunlah, dan pergi."


Simon segera bangkit setelah membungkuk hormat, Ethan teringat sesuatu. Guci. Jadi, sebelum pria paruh baya itu benar pergi, dia berpesan, "manajer, soal guci itu--"


Simon kembali menghadap, benar sekali, bagaimana guci simbolisme itu, dia ingin menangis, karirnya berada di tangan Tuan muda Ruan.


"Bantu membuat tiruannya," pinta Ethan, Simon menelan ludah takut, cepat lambat, guci palsu, pasti hal itu ketahuan, "bagaimana jika ketahuan, Tuan, aku masih memiliki anak dan istri, istriku tidak bekerja, jika aku dipecat, maka kami akan mati Tuan."


Simon jatuh terdungkur ke lantai lagi, dan mengeluh, "tolong mencari cara tuan, aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku, kasian anak istriku. Guci itu sangat beharga, segenap karyawan hotel ini, hanya memohon Tuan muda Ruan, agar mencari cara."

__ADS_1


Anna yang baru saja mencapai kamar, berhenti di garis pintu, dia telah mencuri dengar keluhan Simon.


...


__ADS_2