Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Timbanganmu Rusak


__ADS_3

"Mengapa sudah mengenakan jaket dalam rumah?" tanya Nana dengan sepasang tangan mengangkat mangkok panas berisikan daging rebusan dengan rebusan sayur hijau, yang aromanya langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan.


Anna segera merapatkan kerah jaketnya, dan memastikan bahwa ibunya tidak akan melihat memar yang dia sembunyikan.


"Sangat dingin, oleh itu aku mengenakan jaket," jawab Anna asal,dan segera duduk di depan meja makan.


Nana ikut duduk berseberangan dengan Anna. Mengambil satu mangkok nasi dan meletakkan daging dan sayur di atas nasi, dan mendorong mangkok nasi ke depan Anna. Lalu, mengambil bagian untuk dirinya sendiri.


"Makanlah."


Anna mengambil sumpit dan mulai mencubit nasi  bergantian dengan daging dan sayur, masuk ke dalam mulutnya, dengan perlahan. Cukup menghangatkan isi perutnya yang telah kosong dari semalam.


"Sangat enak," komentar Anna.


Anna mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Nana. Sekejap dia berhenti mengunyah, dia menatap hati-hati eksrpresi wajah Nana yang terlihat sulit mengunyah. Anna menjadi sangat prihatin dengan setiap memar di wajah ibunya.


"Ibu, apakah kau sulit mengunyah?"


Nana menganggukan kepalanya. Lalu, tetap mengunyah dengan sangat perlahan.


"Hanya sedikit sakit ..., tidak perlu di khawatirkan."


"Apa aku perlu membuat nasi lunak untukmu?"


"Aku bukan bayi!" jawab Nana terdengar ketus.


"Aku tahu! maksudku ...."


"Gigiku masih kuat mengunyah daging. Apalagi nasi."


"...."


Anna meletakkan sumpit. Dia telah kehilangan kata-katanya berhadapan dengan Nana. Selanjutnya, dia menatap dingin Nana. Berhenti bernapas sejenak.


'Ibu ... kau keras kepala,' komentar Anna dalam hati.


"Siapa yang melukaimu? katakan padaku!" kejar Anna.


"Kau pikir, dirimu Super Hero! kau hanya anak kecil. Walaupun, kau tahu ... kau tidak bisa berbuat apa-apa."


"...."


Super Hero. Anna menghela napasnya. Nana sangat pandai bermain kata.


"Tolong katakan," mohon Anna. Anna tetap bersikeras mengejar siapa yang telah berani menganiaya Nana. Sepasang matanya terlihat memohon.


Nana menggelengkan kepalanya. Meletakkan sumpitnya. Namun pikirannya lari pada Henny, assiten rumah tangga yang telah di berhentikan dari kediaman keluarga Ruan. Siapa lagi, jika bukan dia? Nana hanya merasa bersinggungan dengan satu orang. Wanita dengan wujud ular berkepala dua itu.


"Kapan ibu akan pergi ke kantor polisi? Kau harus melapor hal ini segera ...," kejar Anna dengan kening yang berkerut tajam.


Nana menggelengkan kepalanya. Mengangkat sumpit kembali. Mencubit nasi. Mengunyah perlahan sebentar, barulah dia menjawab setelah menelan makanannya.


"Tidak perlu!"


Karena tidak ada bukti.

__ADS_1


"Mengapa tidak perlu? Kau hampir mati. Hal ini akan terus terjadi, jika kau terus diam." Anna terlihat kesal.


"...."


Nana mendongakkan kepalanya melihat Anna dan tersenyum segaris yang terlihat tulus seketika.


"Jika aku berkata, aku pantas mendapatkannya. Kau ingin apa? Balas dendam. Itu namanya membuang tenaga. Jadi .... Bisakah, kau tidak perlu mengejar hal ini lagi."


Anna terdiam, dia terlihat menggigit bibirnya.


"Kau selalu mengajari hal bodoh untukku ...., kau selalu mengajarkanku, agar semua orang untuk menindasmu."


"Tidak juga. Siapa bilang aku selalu mengajarkan hal seperti itu? Aku tidak akan membiarkan punggungmu terinjak. Aku hanya berkata ... hukum keseimbangan. Jika kita sudah untung sedikit, buat apa melempar batu timbangan lagi. Membuat beban berat hidup bertambah saja."


"Timbanganmu rusak!" geram Anna.


"Sudah aku katakan, hal ini pantas."


"Kau berbohong!"


"Berbohong itu indah!"


"...."


Nana meletakkan sumpitnya.  Sepasang matanya mendongak ketika raut wajah Anna terlihat merah karena rasa amarahnya yang telah meledak.


'Heny telah kehilangan pekerjaan seumur hidupnya, jadi luka ini tidak sebanding dengan apa yang dia dapatkan. Mangkok nasi saja bisa kosong setiap hari.'


Nana mengambil gelas berisi air putih, dia meminumnya cepat, barulah dia berkata pelan.


"...."


"Aku yang takut! Bisakah kau mengerti, mengapa musuh itu hadir? Karena kau berulah lebih dulu, dan kau tidak memaafkan siapa yang menjadi musuhmu. Dia tidak bisa memukulmu, maka dia akan memukul orang di sekitarmu."


Anna segera berdiri. Kehilangan selera makannya. Isi perutnya terasa sangat penuh dengan semua yang dia dengar dari Nana.


"Kau ingin pergi sekolah, berangkat sekarang?"


Anna tidak menjawab.


Nana segera berdiri, merogoh beberapa lembar uang dalam saku celemeknya, dan segera menyerahkan di dalam tangan Anna.


"Hari ini, pergi naik taxi. Jangan menggunakan sepeda. Lagi pula, kau akan mampir ke rumah keluarga Ruan, sepulang sekolah. Katakan permohonan maaf ku, tidak bisa bekerja."


"...."


Anna mengambil uang sakunya. Namun, wajahnya tetap meringsut terlihat sangat kesal pada Nana, ibunya.


"Jangan lupa. Alasannya tabrak lari."


Anna menyipitkan matanya. Tabrak lari.


"Kau mengajari aku berbohong!"


Nana memukul kepala Anna pelan.

__ADS_1


"Jika kau sering jujur, dunia akan memakanmu! Bahkan merasa kau hidup untuk terlihat konyol."


Anna mengangkat bahunya.


"Biasanya kau selalu berkata lurus. Namun, ketika mendapat masalah, kau akhirnya berkata sesat."


Nana terbahak mendapatkan jawaban Anna.


"Kau benar. Aku bahkan sangat yakin, seorang biksupun jika terjepit ... dia akan memilih berbohong untuk menyelamatkan semua orang."


"...."


Tidak ingin berdebat lagi. Anna segera duduk berjongkok, memasang tali sepatunya.


"Aku berangkat," pamit Anna tanpa melihat wajah Nana, dan meninggalkan rumah.


Nana melambaikan tangan pada punggung yang segera menghilang, setelah melewati pintu.


Anna berjalan melewati gang menuju jalan besar. Gang yang tampak sepi dan kosong melompong. Tiba-tiba saja dia merasa takut, kala dia akan mendekati persimpangan jalan malam itu. Tempat tiga berandal yang menghadangnya malam itu.


Anna berjalan lebih perlahan, ketika mendekati persimpangan jalan. Terlihat sepi. Tidak ada jejak satupun di sana.


'Apakah mereka baik-baik saja?' pikir Anna dalam hatinya. Dia berjalan mendekat persimpangan, dan mengarahkan pandanganya pada rumah Hans, yang merupakan rumah yang berada di ujung  setelah tikungan pertama dari persimpangan.  Dari kejauhan, terlihat rumah itu sepi. Tidak ada keramaian seperti biasa.


Anna memberanikan diri berjalan mendekat. Hanya untuk memeriksa, apakah mereka baik-baik saja setelah malam itu.


Semoga mereka tidak mati, karena pukulan Ethan.


Dalam hatinya, dia berharap baik-baik saja. Jika sesuatu yang terjadi, dia akan merasa sangat bersalah, apalagi jika mereka menuntut ganti rugi. Anna tidak akan memiliki banyak uang, walaupun Nana telah bekerja di dalam keluarga Ruan.


Anna berjalan lebih senyap, seperti seseorang yang akan bertindak mencuri.


Namun ....


Bug!


Tubuh Anna di hempaskan begitu saja ke tembok.


Gita Wen.


Berdiri dengan tangan yang mengunci bahu kiri Anna di tembok. Satu orang gadis yang lainnya menahan pergelangan tangan, agar tidak bergerak. Lalu, satu gadis yang terlihat angkuh berdiri tepat di depan Anna. Gadis itu terlihat sedang bermain dengan ujung kukunya.


Tanpa sengaja, Anna menilai penampilan gadis itu. Dia menggunakan seragam yang berbeda dengan dirinya, dan Gita Wen. Baju atasan seragam terlihat ketat, dan roknya berada jauh dari atas lututnya.  Sangat minim.


"Apa sih?" tanya Anna gusar di sudutkan.


......................


Bersambung ....


Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua. Maaf lagi sibuk beberapa hari ini yah.


Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)


www.Jangandustaiaku.com

__ADS_1


(Jangan lupa kunjungi website kita.


__ADS_2