Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Aku akan melindungimu


__ADS_3

"Apakah sudah sangat baik?" tanya Anna lembut  dan masih memijit pergelangan tangan pria muda yang terlihat kokoh itu.


"Ehem...," Ethan berdehem sebentar, dan menarik lengannya kemudian, dan menjawab, "sudah sangat baik."


"Apakah tanganmu lelah?" Ethan bertanya kembali.


Anna menggelengkan kepalanya, namun batinnya berkata lain, 'sebenarnya sangat lelah. Kau puas mengerjaiku.'


Ethan menarik dua telapak tangan Anna, dan mulai memijatnya dengan memberikan sedikit tekanan, namun tetap lembut.


Deg!


"Tuan muda Ruan." Anna berusaha menarik kembali telapak tangannya, namun Ethan tetap menahan tangan gadis itu dalam tekanan tangannya yang memijat.


Ethan melirik Anna sebentar dengan sepasang bola mata yang menatap manis gadis itu, jika gadis ini sudah memanggilnya dengan sebutan, 'Tuan muda,' pastilah  gadis ini telah menjadi salah tingkah mengingat status sosial diantara mereka, menyinggung dengan sengaja hal tersebut, Ethan berkata, "tidak salah, jika aku memijat tangan seseorang yang aku suka. Kau memiliki tempat untukku. Aku menyukai sebutan Ethan daripada Tuan muda Ruan."


"Tetapi," elak Anna, bagaimana bisa dia membiarkan seorang kelahiran emas ini, malah pergi melayaninya. Menarik lagi, tetapi Ethan malah menautkan jemari-jemari mereka, digenggam dengan kuat, dan jemari-jemari yang terjalin ketat di bawa tepat  di wajah Ethan, dengan sepasang mata Ethan yang menatap dengan ketulusannya, yang terlihat sangat manis, dan mampu tenggelam larut dalam pesona pria ini.


"Kau yang pertama, Anna Su." Ethan mengutarakan hatinya, mengguncang seluruh bilik-bilik hati Anna, rasanya telah ikut berderak akan pengakuan pria itu, perlahan rona merah muda wajah Anna tersipu merangkak ke permukaan kulitnya, dan tak lama, kecupan bibir Ethan datang di atas punggung tangan Anna.


Dup—dup—dup.


Dikecup manis, membuat hati Anna berdetak nyaring, dia terlihat segera ingin menyembunyikan suara jantung miliknya.


Merasa diterbangkan ke langit, Anna segera menggelengkan kepalanya, menarik undur dirinya, dan segera turun dari ranjang, mencari dan menemukan tasnya, dan mengalihkan topik segera tanpa berani memberi pandangan kembali pada pria itu, " Tuan muda Ruan, sepertinya aku harus pulang? Ibuku pasti menungguku."


"Ini masih jam tiga pagi, Anna! aku akan mengantarmu, setelah matahari terbit."


"Apa?" Anna menatap Ethan—memasang wajah terkejut, dia merogoh ponselnya dalam tasnya, dan melihat layar yang menunjukan pukul tiga dini hari, seketika wajahnya panik, "mengapa aku bisa bermalam di sini?"— Anna melotot pada Ethan— "Ibuku, akan marah Ethan!"


Ethan menertawakan kepanikan Anna, dan berseloroh, "tenang saja, Anna tidak akan ketahuan ibunya, telah nakal bersama Ethan semalaman."


Anna malu bercampur marah akan kalimat Ethan—'nakal bersama Ethan semalaman.'


"Apa yang kau lakukan, Ethan?" tanya Anna, lalu telunjuknya memindai layar mencari kotak masuk dan mendapati pesan masuk ibunya.


'Anna, hari ini ibu sangat sibuk. Ibu membantu pekerjaan rumah tangga Tuan muda Ruan, hmmm... Ibu tidak akan pulang. Jaga dirimu di rumah, jangan membuka pintu sembarangan!'

__ADS_1


Setelah membaca pesan itu, wajah Anna terlihat hilang setengah suramnya, dan menebak hal ini pastilah peran Ethan lagi, "ibuku tidak pulang ke rumah, kau mengaturnya, yah?"


Ethan tersenyum, mengindahkan pertanyaan Anna, dan bergindik sebentar dengan bahu yang terangkat, dan hanya berkata hal lain, "apa kau tidak ingin tau? mengapa kau bersamaku?"


Anna seakan teringat sesuatu, dan memasang wajah penasaran, "iya, aku sangat penasaran."


Ethan memberi isyarat dengan tepukan tangannya di atas kasur, "duduk kembali di sini," ujar Ethan meminta.


Anna memintal lidahnya sebentar, ragu sebentar menatap kasur besar menjadi tempat duduk bersama, rasanya sangat intim. Anna menggelengkan kepalanya, "aku duduk di sofa saja."


Anna berjalan mundur dan duduk di sofa one seater yang berada dalam kamar. Ethan turun dari ranjang, bibirnya bergerak berkata halus, "aku yang akan mendekat padamu."— Ethan berjalan mendekat ke sisi Anna, sepasang matanya tajam menatap Anna yang duduk, dan Ethan  memikirkan sesuatu hal yang manis—"berikan aku tempat duduk."


"...." Anna tercengang sebentar.


Memberikan tempat duduk.


Anna melirik ke sofa miliknya, hanya satu, dan meruntuk bingung akan sikap Ethan yang terlihat serius dengan perkataannya.


'Apa dia memintaku berdiri? dia duduk, berarti aku harus berdiri.'  Anna membantin  dan menyerahkan sofanya, dan berdiri di sisi sofa. Rumah dan segala isinya adalah milik Ethan, jadi Anna berpikir mengalah dan diam.


Sikap Ethan acuh dan tidak acuh,  duduk di sofa dan membiarkan Anna mematung di sisinya. Namun, gadis itu tidak kunjung membuka suara untuk protes, Anna hanya berkata, "ceritakan padaku tentang hal ini semua."


Srettt....


Tubuhnya tiba-tiba saja jatuh limbung ke belakang, tepatnya duduk di pangkuan Ethan, dan tangan pria itu melingkar di perutnya, "duduk bersama sambil bercerita," bisik Ethan mengenggam ide manis telah terlaksana, dengan satu tangan menutup mulut protes Anna yang akan keluar.


"Diam, jangan berisik, dan jangan menggigit," peringar Ethan. Anna menahan napasnya, tunduk ke bawah, mendapat perutnya telah terlingkar ketat dengan tangan Tuan muda Ruan, dia mendengus dengan nada menegur, "ini terlalu intim."


Glek! Ethan menelan ludahnya mendapat teguran keras.


'Bagaimana  lagi, aku inginnya seperti ini.'


"Ethan!" seru Anna akan menggigit tangan pria itu. Ethan replek menarik mundur tangannya, tidak ingin Anna marah, Ethan kembali  menjaga jarak.


Ethan melepas pelukannya, dan membiarkan Anna bangkit dari pangkuannya, dan Ethan berdiri setelahnya, dan mendorong Anna pelan, kembali duduk di sofa one seater.


"Biarkan aku yang berdiri. Kau duduk saja." Ethan mengeluarkan komentar sebelum bibir Anna menyela, menyerahkan tempat duduknya kembali.

__ADS_1


Anna tersenyum ragu, dan mata pria itu terlihat mengejek dirinya sendiri telah kehilangan sesuatu adegan manis, "Tuan muda Ruan ini, pandai mengalah, dan suka mendengar, hanya untukmu."


Anna meledak dalam lelucon sebentar, "terima kasih Tuan muda Ruan."


Ethan memintal lidahnya,  ujung ibu jarinya menyapu bibirnya sendiri, teringat akan apa yang telah dia lakukan pada Anna dan mengunyah kalimat dalam batinnya sendiri, 'tidak apa Anna, bukankah selama kau tidur, Ethan Ruan sudah banyak mendapat keuntungan, yang tidak kau ketahui.'


Ethan menatap manis, dan kembali menguasai diri.


"Tuan muda Ruan, ceritakan padaku. Waktu itu aku bertemu Gita Wen, dan entah kepalaku sangat pusing, dan hitam saat itu, aku pikir karena aku belum makan," cerita Anna, yang tidak menyadari wajah ketamakan pria itu padanya.


Ethan mengangkat alisnya, dan pikiran manisnya menguap ke udara, teringat akan sosok Gita Wen, yang pernah bertemu di kebun binatang, "Gita Wen, teman rusuhmu yang bermulut bau."


"Ethan!" seru Anna namun ujung kalimatnya meledak dalam lelucon, dan bertanya, "mengapa kau menyebutnya seperti itu sih? si mulut bau."


"Idiom yang pantas untuk seseorang yang suka berencana busuk seperti dirinya, mulutnya pun  setiap saat hanya beraroma busuk."


Anna terlihat tidak mengerti sebentar, dan bertanya, "maksudmu Gita ingin mencelakai diriku?"


Ethan menganggukan kepala, teringat akan sosok gadis yang terekam dalam adegan panas, dan dia menambahkan kalimat lagi, "dia dan teman-temannya."


Anna menghela napasnya, dia mengingat Gita membawa dua temannya, dan salah satunya memandang sangat sinis padanya, berpikir hal itu dia bertanya lagi pada Ethan, "apa yang mereka lakukan denganku?"


"Mereka menjualmu pada seorang paman!"


"Hah?" Anna memekik kaget, menutup mulutnya sebentar, dan detik selanjutnya menyilangkan dadanya, merasa dirinya telah di kotori, dia ingin menangis, "apa paman itu melakukan sesu—"


Anna tidak melanjutkan kalimat. Dia tidak memiliki ingatan satu adeganpun dengan seorang paman, dia hanya mengira dirinya, telah menjadi mangsa dari seseorang. Perlahan, air matanya jatuh, bukan hanya karena teman sekelasnya yang pergi menjualnya, dia pun merasa tubuhnya telah jatuh dalam pusaran air kotor, dan hina. Dia tidak berani mengakat kepalanya di hadapan Ethan. Dia malu, dan jatuh menangis terisak dengan suara sangat rendah, hiks....


Ethan menjatuhkan lututnya di sisi kursi Anna, dia terlihat berlutut dengan sepasang mata yang menyiratkan perlindungan, dan ibu jarinya menghapus air mata Anna perlahan, dan bibirnya terbuka berkata, "hal itu belum terjadi Anna, karena...,"—  Anna mengangkat kepalanya sedikit— "karena super heromu datang tepat waktu," lanjut Ethan dengan garis senyum yang membusur ke atas, dan melegakan rongga-rongga dada Anna yang telah beriak.


"Aku tidak akan mengijinkan sesuatu yang buruk Anna. Aku berjanji tidak akan mengijinkan hal itu terjadi lagi, aku akan melindungimu..., " teguh Ethan dalam tiap katanya dengan penuh perlindungan.


...


Catatan Author:


Jangan lupa, like, coment, dan Vote yah.

__ADS_1


VOTE sebanyak mungkin. Biar Thor Update setiap hari.


Semangat.


__ADS_2