Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Cacing dalam tanah


__ADS_3

Ethan terlihat mengindahkan topik perbincangan setiap Anna akan mengungkit tentang Joe, dengan cepat Ethan selalu menghindar, "setelah makan cemilan, baru kita membahas lagi."


Anna menurut, tidak mengungkit lagi. Mobil berhenti di kedai cake tart, terlihat manis dan menarik selera Anna, tetapi jika dia menerima hal ini lagi, bagaimana dia bisa membayar kembali pada Ethan, "bagaimana jika di taman saja?"


"Cuaca terik, kau ingin kita berkencan sambil di bakar matahari," ejek Ethan dengan senyum konyol yang dia tahan, Anna tersipu, menghindar mata Ethan, dan segera mengelak. Berkencan? Anna menggelengkan kepala, dan membantah, "kita tidak berkencan."


Tetapi 'Klek', Ethan membuka pintu mobil, wajahnya terlihat acuh tidak acuh. Baginya jika hanya berdua saja dengan Anna, setiap saat hal ini dia sebut kencan.


Turun dari mobil, dan membuka pintu mobil untuk Anna, "anggap saja hari ini kita berkencan, bukankah kencan kita waktu itu kacau karena dua temanmu—"


Nick dan Gita.


Anna meringis, ingin mengubur dirinya, dia tidak menyangka bahwa Ethan masih mengingat dengan baik, apalagi mereka telah melewati satu malam bersama di hotel.


Dup—dup—dup!


Membuat jantung Anna ataupun Ethan berdesir aneh ketika mengingat apa yang telah mereka lewati, rona merah merangkak terang dari ujung telinga Anna  sampai ke pipinya, teringat akan ciuman yang mereka lewati, rasanya sangat berlendir.


Ethan tersenyum, dia juga  menyembunyikan perasaanya dengan rapat dsn terlihat rahasia, giginya menggigit ujung lidahnya sendiri, karena dia teringat akan rasa manis yang masih terasa sangat membekas. Bibir Anna lembut dan manis.


Anna mendongakkan kepalanya, dan saat itu, sepasang mata indah Anna menangkap tanda gores di kening Ethan terlihat membekas. Kilas balik akan  benda beharga di pecahkan Anna, membuat Anna merasa sangat bersalah, menunduk dalam dia berkata dengan suara rendah, "maaf, utangku banyak sekali padamu...."


"Utang?"—Ethan terkekeh merasa Anna telah besar menjadi gadis peri—"kau tidak boleh menyebut kasih sayangku itu sebagai utang, dasar bodoh sekali."


'Kau tidak boleh menyebut kasih sayangku itu sebagai utang' —Anna tertegun akan kata-kata itu sebentar, terasa menyejukkan telinga dan rasa takjubnya pecah kala tangannya telah di tangkap dan memasuki kedai cake tart.


Pintu bergeser terbuka secara otomatis, sepasang mata Anna terpaku serasa sangat lapar pada isi almari panjang berbentuk L yang berisikan  aneka warna cake tart yang terlihat beragam,  warna-warni, dan rasanya pasti sangat manis. Anna sangat menyukai hidangan manis.


Melihat kedatangan Ethan Ruan, sang anak majikan, bukan hanya para pelayan datang pergi menyambut, namun seorang manajer pengurus toko, segera datang terburu-buru menyambut bersama segenap pelayan  yang berbaris rapi dan membukuk dalam memberi hormat, "selamat datang Tuan muda Ruan, dan nona muda yang cantik."

__ADS_1


Anna menunduk merah, dia tidak memiliki nama belakang keluarga yang terkenal, tetapi wajahnya, telah menyelamatkannya. Sangat bersyukur.


Sapaan seragam yang memberi hormat dalam satu kalimat sama itu, membuat semua pengunjung yang acuh dan tidak acuh awalnya, bangun menoleh, dan penasaran, lalu sangat tertarik melihat sosok siapa yang datang.


Tiga pasang mata terlihat menyipit di pojok kursi kedai, "apakah itu Anna? aku tidak salah mengenalnya?"


Salah satu dari tiga pasang mata, membuka mulut yang menarik perhatian temannya yang tengah menangkap punggung  dingin pria emas, yang telah mengusir dirinya dan  keluarganya waktu itu.


Dup—dup—dup.


Susan mendapatkan jantungnya serasa sakit, debarannya sangat kencang, mengetahui Ethan Ruan telah memiliki seorang gadis kecil di sisinya, dan gadis itu terlalu indah dalam tangkapan pupil mata miliknya yang membesar antusias ingin menjadi seperti Anna, diapun mencoba mencari cela gadis yang tangannya telah di genggam erat oleh Tuan mudah Ruan.


"Siapa Anna?" tanya Susan pada Gita.


"Dia teman sekelasku, dia satu sekolah denganku, dia orang yang disukai Nick."— Gita kembali memotong irisan cake tart miliknya—"Anna sangat beruntung, dia memikat Tuan muda kaya raya."


Susan mengepalkan tinjunya, rahangnya berkedut menahan amarah, teringat akan satu kalimat Ethan Ruan yang telah menampar wajahnya—'apakah kita sederajat?' tanpa sadar bibirnya bertanya pada Gita Wen yang di sisinya, seakan mengulang pertanyaan Ethan, "apakah mereka sederajat?"


Raut Susan terlihat antusias mengejar maksud cacing di dalam tanah, sangat menarik, "apakah dia sangat rendahan?"


Gita menganggukan kepalanya, dengan bibir mencibir lagi, "tepat! ibu dan Anak, sama..."— Gita melirik pada Susan dan memercikan api— "dia bahkan tidak bisa di bandingjan denganku, apalagi dengan dirimu, ayah ibumu kan seorang karyawan swasta, sedangkan dia, aku dengar ibunya hanya pelayan rumah tangga Ruan."


Glek!


Susan menelan ludah, dia membuang wajahnya, seakan menghindar wajah temannya menangkap topik yang telah lama menjadi kebohongan yang dia ciptakan, orang tua Susan, hal ini agar terlihat memiliki derajat lebih tinggi daripada teman-temannya dalam lingkaran. Dia merasa tumit kakinya berada di atas tanah, jauh lebih bagus dari pada Anna, "tentu saja, aku berada jauh dari cacing yang terkubur."


Susan membuka kelopak matanya lagi, "siapa nama ibunya?"


Gita langsung menjawab ketus, "namanya Nana Su, nenek sihir yang suka menggoda ayahku."

__ADS_1


Susan tertohok akan satu nama itu, sangat kebetulan, bibirnya sinis mengucapkan satu nama, "Anna Su!"


"Tepat, dia tidak memiliki ayah... ha ha ha, Tuan muda Ruan paling hanya bermain-main, setelah mendapatkan itu— Anna akan di tinggalkan." Gita terbahak di akhir kalimat, dan teman lain menambahkan pepatah, " aku teringat— 'buah tidak akan jatuh dari pohonnya' gadis itu akan berakhir sama dengan ibunya."


Susan tersenyum rahasia, matanya mendelik ke arah pintu kamar pribadi VIP, hatinya berkobar-kobar ingin menelan Anna Su yang pandai memikat Tuan muda Ruan, dan kini dia mengerti alasan tersembunyi Tuan muda Ruan yang sangat  pincang memihak, karena puteri Nana Su dalam genggaman tangan pria itu.


"Tuan muda Ruan sangat menarik," ucap Susan dengan sinar mata penuh minat, dan seakan mengangkat sombong kehidupan dirinya yang juga sangat pandai memikat, dia mencibir Anna dalam hatinya, 'jika cacing tanah merangkak memikat, maka aku lebih pandai merangkak di atas kaki Tuan muda Ruan, kalau perlu naik ke ranjangnya.'


Gita menangkap sinar mata cerah Susan, dan dengan sengaja bermulut madu namun telah mencampuri racun, "kau ingin mengejar Tuan muda Ruan? Itu sangat bagus, kau adalah bunga di antara kami,"— Gita menghela napas sebentar— "kalau begitu, berhentilah mengejar Nick Wu, karena kau lebih pantas mengejar Tuan muda Ruan."


Susan merasa naik ke awan, mendapatkan dukungan, dan antusias menjawab, "tentu saja, aku memang tidak menyukai Nick. Tuan muda Ruan, membuat degup jantungku ingin merompaknya dari cacing tanah."


Gita tersenyum seakan setuju, dalam hatinya sangat jelas dia mengejek, 'tidak ada keberuntungan untukmu Susan, Tuan muda Ruan lebih mengerikan daripada setan.'


"Kau sudah janji yah? kau tidak boleh mengambil ludahmu kembali, Nick untukku,"— Gita menatap Yuri— " kau menjadi saksi, dalam lingkaran Susan memberikan Nick Wu untukku."


Yuri menutup mulutnya, terkekeh sebentar, "baiklah aku menjadi saksi, jadi hanya kita berdua yang bersaing mendapatkan Nick lagi."


Gita memintal lidahnya, menatap Yuri kesal. Sudah menyingkirkan Susan, kini Yuri masih mengejar, dia pergi menyarankan, "kau mengejar Tuan muda Ruan saja."


"Dia milikku." Susan bersikeras, matanya mengedar melotot pada Yuri dan Gita, "aku tidak pernah berminat dengan Nick. Tetapi Tuan muda Ruan, sudah sangat menarik minat. Aku akan mencari cara mengejarnya. Jika Anna bisa, maka akupun bisa."


Yuri dan Gita menggerakan bola mata mereka sehingga terlihat berputar, Yuri hanya menyindir Susan dan pura-pura sadar diri akan posisinya, "dia susah di gapai, aku tidak sanggup!"


Gita tersenyum jahat, dan sangat berharap Susan mendapatkan kata yang sama seperti dirinya waktu itu, sangat di rendahkan. Sampai saat ini, Gita bergindik takut jika mengingat setiap kata Tuan muda Ruan, untuknya—'isi mulutmu bau. Pergilah sikat gigi sebelum berkata.'


***


Catatan Author:

__ADS_1


Dukung terus dengan like, dan berikan bintang 5.


__ADS_2