Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Cinta Pertamaku


__ADS_3

Tersisa Ethan dengan tangan yang terlipat, dan kepala yang tertunduk. Apakah keputusanya tepat? Apakah dia sanggup meninggalkan Anna?


Kau hanya bebas memilih, ketika menjadi yang tertinggi dalam Ruan.


Ethan termenung akan perkataan Tifanni. Kapan dia akan memiliki kekuasaan tertinggi dalam Ruan? Menunggu umur 50 tahun. Namun, dia harus menghabiskan 3/4 hidupnya menjadi robot Ruan.


"Apakah ini takdirku? Tidak akan pernah memiliki diriku sendiri. Andai, aku bisa memilih. Aku akan memilih lahir dari perut Nana Su atau Yuna. Ibu seperti mereka, bahkan lebih memberikan anaknya, memiliki kebebasan dan kemerdekaan di masa mudanya. Sedangkan diriku telah mereka kunci dengan beban sebagai pewaris Ruan. Setiap keputusan masa mudaku, bukan milikku."


Kret! Ethan menarik laci dari nakas yang berada di sisinya. Di sana, terdapat buku bersampul cokelat. Tertera nama Joe Han, di sana.


"Buku diary Joe Han." Ethan ingin segera lari ingin mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa awalnya dirinya menyukai Anna? Seorang gadis, yang rupanya tidak pernah terlihat. Hanya karena coretan pena Joe Han, jantung Ethan berdetak pertama kali akan sosok Anna yang tertera sebagai sosok yang sangat di puja Joe Han.


Ethan membuka sampul buku tersebut. Lalu, membuka lembaran pertama. Lembaran pertama, adalah hari pertama Joe Han menggores penanya  tentang cinta pertamanya, yang di tujukan untuk Anna.


Aku menulis tentang perkenalan yang tak pernah aku sangka. Ketika sosok seorang gadis kecil, yang terlihat lebih berani daripadaku. Dia membelaku terhadap semua yang menginjak ku. Sejak itu, pandangan pertamaku, pandangan hari ini, dan pandangan  terakhirku hanya kutunjukan untuknya. Singkatnya perkenalan singkat ku, membuatku jatuh begitu dalam dan terus mengikutinya.


Kekonyolan ku adalah selalu menunggu berita-berita tentang dirinya, dan diam-diam memperhatikannya dan mencari tahu segalanya tentang dirinya. Apa yang dia suka ? Apa yang dia benci? Ah, aku mencari tau sedetail mungkin.


Aku sebut dia, sosok cinta pertamaku. Karena, dialah yang pertama membuat setiap hormon oksitosin, hormon dopamin dan serotonin yang berkumpul menjadi satu ketika perasaan itu muncul pertama kali. Aku merasakan euforia dan rasa bahagia yang sangat luar biasa, hanya menyebut namanya dalam hatiku. Aku sadar telah jatuh cinta untuk pertama kali, dan mulai mendambakannya.


*Aku mulai menduga-duga .... Apakah dirinya memiliki perasaan yang sama denganku? Ternyata, cinta mampu mengaburkan logika. Aku mulai berandai-andai, jika dia menyukaiku. Tetapi, aku terlalu pemalu untuk bertanya. Aku malu bertanya. Aku hanya bisa memendam rasa pada sosok yang aku sebut, cinta pertamaku.


Memendam rasa seperti ini, kadang membuatku gila*.


Terkadang aku ingin pergi memecahkan kepalaku. Pergi berlayar membawa hatiku ke sana kemari. Hanya untuk berhenti memikirkan dirinya. Namun, tetap saja  sosok cinta pertamaku lah menjadi pelabuhan tujuanku. Hal ini tanpa sengaja, membentuk diriku menjadi pengamat dirinya level dewa, yang selalu memperhatikan  dan mengikuti setiap apa yang dia lakukan.


Sosok cinta pertamaku, bahkan tidak menyadari betapa aku merancang segala sesuatu untuknya. Memastikan hidupnya berjalan mulus, tanpa hambatan, dan tidak ada yang mengganggunya.

__ADS_1


Tetapi aku terlalu pemalu, untuk mengakui semua ini. Karena, aku tahu sosok cinta pertamaku baik pada semua orang, dan juga suka membela semua orang. Aku takut, jarak akan tercipta karena aku mengakuinya. Aku benar takut, cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku takut aku terlihat sama dengan yang lain di depan matanya. Aku bukan lah seorang special di dalam hatinya. Di sini, aku memilih menjadi pengecut dalam diam.


Aku mencintai sosok cinta pertamaku, tanpa pernah mengungkapnya, tanpa pernah terlihat olehnya, tanpa pernah dia tahu bahwa aku telah merancang segala hal untuknya. Aku belajar, bahwa cinta yang terbaik adalah cinta yang tulus, seperti udara yang dia hirup setiap saat. Dia bisa bernapas tanpa harus berterimakasih.


Aku ingin dia melihatku seperti udara, tidak perlu berterimakasih. Namun, dia sangat membutuhkanku. Aku ingin dia bisa bernapas dan bergantung pada diriku. Tetapi, pilihan itu hanya padanya. Aku mencintainya. Namun, aku tahu untuk  di cintai itu pilihannya. Itu kebebasan dan hak miliknya.


Sosok cinta pertamaku itu bernama Anna Su, tetanggaku sekaligus teman sekelas ku yang telah ku kenal semenjak usiaku delapan tahun.


Ethan menutup buku. Dia menatap ke langit biru di luar sana.


"Haruskah aku menyerah? Haruskah aku menarik diri. Demi Joe Han, aku melepas Anna."


Ethan menggelengkan kepalanya, " Tidak ..., ini terbaik untuk semua. Mengembalikan segala halnya seperti semula."


Meletakkan kembali buku diary ke dalam nakas. Ethan meninggalkan kamar, berencana akan menuju rumah sakit.


"Ethan," seru gadis itu dengan setengah berlari.


Emily, sebut Ethan dalam hati tanpa menoleh ke sosok yang memangilnya dengan seruan manja.


"Kau akan pergi kemana?" tanya Emily setelah berhadapan dengan Ethan.


Ethan menatap sebentar, akan caling tunangannya yang terlihat sangat manis dengan dress balon warna merah muda, dengan kerah bordir bunga, yang menunjukkan sisi elegannya sebagai nona muda.


"Aku akan pergi ke rumah sakit," jawab Ethan terlihat mengindahkan pandangan ke luar kediaman Ruan.


"Apakah temanmu sakit? Bagaimana jika aku ikut?" mohon Emily.

__ADS_1


Ethan menggelengkan kepala. Dia akan segera meninggalkan. Namun, tangan Emily menahan kepergiannya. Sepasang matanya terlihat memohon bantuan Tifanni untuk membantunya bicara, agar dia bisa ikut bersama Ethan pergi.


Tifani bangun dari kursinya, memggakhiri perbincangannya dengan suaminya, yang terlihat sibuk memilih bentuk dekorasi dari album photo yang di serahkan oleh Event Organizer, untuk pertunangan Ethan dan Emily.


Tifanni segera membantu Emily berbicara. Dia sengaja berdiri di belakang Emily, mengirimkan sorot mata yang mengancam Ethan.


"Ethan, bukankah arah rumah sakit dan Yen butik, satu arah. Setelah dari rumah sakit, kalian bisa bersama-sama ke butik, untuk mencocokan busana kalian."


Emily mengangguk berkali-kali, dia terlihat tetap mengingini pergi bersama Ethan. Dia antusias mengikuti calon tunangannya tersebut.


Ethan, awalnya ingin menolak kembali. Namun, gerakan bibir Tiffani tanpa suara meminta Ethan membawa Emily bersamanya.


Bawa Emily bersamamu.


Gerak bibir Tifanni dengan sorot mata yang terlihat mengancam.


Ethan terlihat berpikir sejenak. Mengajak Emily, bagaimana dengan Anna? Hal ini akan membuat keruh hubungan mereka kembali.


Emily lebih beharga daripada nyawa Joe Han, ataupun seribu Anna yang lahir di dunia.


Ethan sekali lagi membaca gerak bibir Tifanni. Dia terlihat sangat kesal akan kalimat itu. Kalimat kedua ibunya, sangat jelas mengancam dan memberi nilai tinggi untuk Emily. Tentu saja, Emily adalah puteri tunggal yang keberadaannya sama tingginya dengan kedudukan Ruan dalam pasar bisnis. Tentu saja, orangtuanya akan lebih menyetujui keserasian status dan harta ini.


"Kau boleh ikut," ucap Ethan berhembus hampir tidak terdengar. Dia meloloskan persetujuan. Namun, terpaksa untuk menyetujuinya.


.....................


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2