Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Demi Kehidupan Joe Han


__ADS_3

"...."


Anna mengangkat sumpitnya. Lalu, meletakkan di sisi mangkoknya. Dia berhenti makan. Raut wajahnya terlihat ikut merasakan kesedihan sekaligus kepanikan ibunya. Dia sangat mengerti kesedihan ibunya. Nana, adalah sosok wanita yang kuat menghadapi penderitaan untuk dirinya sendiri. Namun, tidak akan pernah kuat untuk menghadapi penderitaan puterinya sendiri.


Anna menatap ibunya. Sedangkan, pandangan Nana segera gugur menghunjam lantai. Dia menyembunyikan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.


Aku tidak ingin kau berjalan di atas bara api hanya karena pria. Oleh itu, aku selalu menjaga hidupku hanya untuk memastikan kakiku menginjak bara api itu sampai padam lebih dulu. Barulah, aku membawa dirimu melangkah. Aku hanya ingin menciptakan masa depan yang indah. Bukan, kesuraman seperti milikku, isak Nana dalam hatinya.


Merasakan air matanya jatuh. Nana segera menghapus dengan punggung tangannya.


"Jangan bersedih, hal itu tidak akan terjadi," jelas Anna terburu-buru.


"Ya, aku tahu itu. Mulutku mendidik, dan telingamu mendengar, dan hatimu patuh. Kau adalah anak yang baik."


Anna membisu sesaat. Memikirkan setiap kata ibunya, dia segera menyakinkan ibunya.


"Hal itu tidak akan terjadi. Aku akan mengingat diriku, menjaga diriku sendiri. Bukan karena, rasa takut kau menjerat leherku. Aku hanya takut, sepasang matamu merah dan hatimu perih. Setiap saat, aku akan menjaga diriku untuk menjaga perasaanmu."


Nana mengelap bibirnya sesaat. Dia merasa terharu akan perkataan Anna.


Menjaga perasaanmu. Dua kata yang memiliki makna yang sangat dalam, melebihi kata-kata penghargaan manapun.


"Makan lebih banyak," pinta Nana.


Anna mengangkat sumpit lagi, melanjutkan makannya.


Tidak ingin larut dalam topik tersebut. Nana segera mengganti topik.


"Aku dengar, Joe Han akan operasi jam 10 pagi ini."


Anna berhenti menhentikan gerakan sumpitnya. Dia meletakkan sumpitnya. Sepasang matanya terlihat bersinar, "Benarkah? Apakah mereka sudah mendapatkan jantungnya."


"Sepertinya begitu. Aku hanya mendengar pembicaraan orang di luar. Aku tidak bertanya langsung pada Yuna."


"Ibu, aku akan ke rumah sakiit!"


Nana menanggukan kepala dan punggung tangan yang terkibas maju ke depan, sebagai isyarat mengijinkan pergi.


"Kau ikut?"


Nana menggelengkan kepala. Telunjuknya naik meraba setiap titik sudut yang bewarna biru dan ungu. Malu.


"Aku malu untuk pergi!"


"Ibu!" Anna protes, "Apakah wajah lebih penting daripada memberi dukungan pada tetanggamu?"

__ADS_1


Nana berdiri. Terlihat enggan membahas. Dia berbalik ke arah dapur,  menuju wastafel, bersiap mencuci piring.


"Ibu, ikutlah bersamaku." Anna memohon kehadirannya ibunya.


Namun, Nana menarik napas berat lebih dahulu, dia pun menjawab pertanyaan Anna, "Aku belum punya uang untuk membayar utangku dengan Yuna. Aku malu karena utangku! Kamu bisa mengerti kan?"


Anna memilih diam menatap nasi. Tetapi, detik selanjutnya hatinya bersikeras ingin mengajak Nana bersama pergi ke rumah sakit.


"Tetapi ibu ...."


"Bilang saja, aku sibuk bekerja, dan aku telah berdoa sepanjang malam untuk kesembuhan Joe Han," pinta Nana dari dapur.


"Ibu, kau berbohong! Kau selalu langsung tidur! Mendoakan dirimu sendiri saja, tidak pernah. Aku tidak pernah mendengar kau berdoa untuk orang lain."


"Aku berdoa dalam hatiku," semprot Nana.


Nana membelotkan lidahnya. Mendadak kesal. Membuang spons sabun begitu saja ke dasar wastafel. Dia segera  Menjulurkan kepalanya dari dapur, "Seharusnya kau tahu, setiap kata yang manis itu enak di dengar. Itu hanya alasan menghindar. Jangan menggurui aku lagi, atau ... kau tidak akan pernah aku beri nasi lagi."


***


Rumah Sakit


Anna baru saja keluar dari lift. Menatap layar ponselnya. Menunggu balasan Ethan.


Beep! Satu pesan masuk.


Teringat akan sosok Tiffani, Anna segera berkomentar dalam hati, Aku rasa ibumu tidak cerewet. Hanya sangat menakutkan.


Anna segera membalas pesan.


Tidak apa. Aku akan memberi kabar baik segera.


Ethan menerima pesan. Tidak membalasnya. Dia menutup pesan. Lalu, meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Sepasang matanya mendongak pada ibunya yang terlihat duduk dengan angkuh dengan aura yang telah mengancamnya dari tadi.


"Operasi tidak akan berjalan. Tanpa keputusan yang kau buat. Waktumu sepuluh menit lagi."


Ethan duduk kaku. Untuk pertama kalinya, dia sulit memilih. Tiffani benar-benar mendorong dirinya ke neraka. Menyelamatkan Joe Han, atau   berjalan hubungan tanpa restu dengan Anna.


"Kau terlihat masih bimbang." Tifani meletakkan cangkirnya. Sedari tadi, dia hanya membiarkan uap teh hijau miliknya itu, menerpa wajahnya. Tanpa niat meminumnya. Dia merasa terganggu dengan keraguan Ethan menentukan keputusannya.


"Ethan, jika kau tidak menyelamatkan Joe. Maka kau akan menyesal seumur hidup. Kau terus berkutat, memilih Anna. Apa Anna akan terus melihat dirimu, tanpa Ruan di belakang namamu?" Tifanni berkutat akan kehidupan Anna hanyalah gadis kecil yang menyukai nama besar yang mengikuti puteranya.


"Dia melihatku sebagai Ethan. Bukan karena kekayaan dan kekuasaan Ruan mengikutiku. Aku percaya itu!"


Tifani tersenyum miring, dan berkilah, "Tetapi Kekayaan dan kekuasan Ruan mampu menyudutkan dirimu dan Anna, setiap detiknya akan memutuskan benang merah. Dengan cara kasar yang terlihat sangat halus, bahkan tidak bisa kau tebak, nak. Kau pilih Joe untuk mati atau hidup?"

__ADS_1


"Ibu, bisakah kau tidak membuat diriku memilih. Joe penting. Anna penting."


Tifani menyilangkan kakinya. Sepasang matanya terlihat tajam menunjukkan arogansi sebagai istri penguasa Ruan, "Ruan akan selalu berusaha menarik jantung pewaris Ruan kembali ke rumahnya. Ruan tidak akan pernah menyetujui Anna, jika kau berani mengambil langkah mendekati Anna. Maka, Ruan akan memotong benar merah."


"Ibu!"


"Lima menit tersisa!"


"Aku tidak bisa memilih!"


Tiffani berdiri, "Baiklah, aku akan membantumu memilih. Joe tidak akan terselematkan!"


"Ibu!" Ethan berdiri protes, wajahnya terlihat memohon.


"Berjanjilah, tinggalkan Anna. Maka, Joe akan tetap hidup."


Ethan kembali terduduk ke kursinya, dan dia mengeluh dengan memukul meja dan berteriak pada ibunya,"Mengapa Ruan selalu terlibat mengambil apapun yang ada dalam hidupku? Mengapa? Bisakah kalian membiarkan aku memilih untuk diriku sendiri."


"Duduk kembali!" perintah Tiffani dengan suara yang melengking.


Ethan tunduk akan mata Tifanni yang melotot padanya, dia kembali menjatuhkan dirinya ke kursi.


Tifani mencondongkan tubuhnya ke arah Ethan dengan satu tangan bertumpu di atas meja. Wajahnya dekat dengan wajah Ethan, dan berbisik, "Kau hanya bebas memilih, ketika menjadi yang tertinggi dalam Ruan."


"Ibu!"


"Dua menit tersisa."


Ethan memejamkan matanya, terpaksa dia membuat keputusan, "Biarkan Joe Han tetap hidup. A-aku akan ...."


Tifani menepuk pundak Ethan, "Aku tahu, kau selalu menepati janjimu."


Ethan menanggukan kepalanya setuju. Walau sepenuhnya dia tidak rela, dia harus melepas Anna demi kehidupan Joe Han. Walau, dia tidak akan pernah yakin bisa menghindar Anna.


Blam! Tiffani meninggalkan kamar.


......................


Bersambung ...


Jangan lupa mampir ke karya Author lainnya.


Pernikahan di atas Kertas Mewah.


Dukung terus karya Author ya

__ADS_1



__ADS_2