
"Kau tidak perlu memikirkan hal tersebut. Ruan ... akulah yang akan mengurusnya. Begitupula Emily."
Anna terlihat menatap konyol, "Lalu apa yang harus ku lakukan?"
"Hanya berkata iya."
"Iya?"
"Ya setuju menikah denganku."
Anna menautkan alisnya. Dia terlihat berkerut tajam.
"Kau hanya perlu duduk manis dan menungguku. Waktu akan menjelaskan semuanya, dan itu tidak akan lama."
"Aku percaya padamu." Anna tersenyum sebentar dan dengan cepat bibirnya telah menempel pada pipi Ethan, dan dia berbisik, "I Love You, Baby."
"Hanya sekilas?"
Anna segera memalingkan wajahnya, dan dengan sengaja membuat nada ketus dalam kalimatnya, "Jangan meminta lebih bayi. Kau masih kecil."
Ethan terdengar menghela napas,dan baru saja wajahnya akan mendekat pada punggung Anna yang membelakanginya. Tangan Anna lebih dulu mendorong wajah Ethan, "Bisakah bayi belajar lebih sopan pada ibunya."
"Hmm," gumam Ethan di iringi dengan anggukan kepalanya. Tidak lama mobilpun berjalan dengan di ikuti suara merdu vokalis Blue— if You Comeback dari tape mobil yang melaju perlahan.
...And i swear......
...If you come back in my life...
...I'll be there till the end of time...
...*Oh yeah...
...(Back to me, back to me, back into my life*)...
...And i swear...
...I'll keep you right by my side...
...'Cause baby you're the one i want...
...*Oh yes you are...
...(Back to me, back to me, back into my life*)...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Keluarga Wen
Gita tengah duduk bersimpuh dengan dua tangannya yang mengacung di udara. Dina Wen terlihat memegang seutas cambuk kecil.
"Ayah, toooolong a--aku ...," rengek Gita berpaling memohon pada ayahnya. Ayahnya hanya menggelengkan kepala.
Maaf, ayah pun sangat takut pada ibumu.
"Jangan memohon pada ayahmu." Dina menatap suaminya, garis kecut bibirnya terlihat melintang jelas pada suaminya, "Ku dengar kau juga berselingkuh."
Cih! Pria paruh baya itu segera berdiri dan menatap istrinya, "Jika bukti yang kau miliki hanyalah omongan orang lain. Di pastikan kau hidup bodoh menghancurkan rumah tangga hanya karena omongan orang lain."
Dina menelan amarah sekaligus kesedihannya, dia menatap dengan selidik.
"Apa kau sedang mengelak?"
"Mengelak untuk apa?" Pria dengan perut buncit itu terlihat bertolak pinggang segera, "Seharian aku lelah di kantor. Jangan membuat kepalaku pusing hanya karena rasa cemburumu yang sangat berlebihan itu." Pria paruh baya itu segera berdiri meninggalkan kamar.
Dina terlihat nanar menatap punggung suaminya sendiri. Rasa kesalnya memuncak, mengingat gadis simpanan suaminya adalah seorang gadis muda yang seumuran dengan puterinya. Sepasang mata Dina nyalang dan melotot segera pada Gita.
"Bagaimana gadis kecil seperti kalian ini hidup nakal?" bentak Dina pada Gita. Kelopak mata Gita bergetar. Dia sudah menangis dari tadi, merengek di dekat kaki ibunya. Namun, hati ibunya telah mengeras bak batu yang sulit di pecahkan.
Gita menelan ludah dan isaknya, dia tidak mampu menjawab dengan bibirnya telah bergetar kuat, dia mengecap setiap tangisnya sendiri, Aku bukan pelajur ibu. Aku memberi karena cinta.
"Gita!" Dina berteriak memanggil nama puterinya. Gita dengan takut mendongakkan kepalanya pada sang ibu, wajahnya penuh air mata, "Mengapa kau memberikan keperawanan milikmu pada Nick?"
"Ka-re-na a-aku menyukainya."
"Apakah kau jatuh bodoh? Apakah kau yakin dia akan menjadi pria yang akan bertanggung jawab untukmu?"
Cambuk terangkat ke udara. Gita segera mengangkat tangannya, dan merengek lagi, "Ibu jangan la-ku-kan itu lagi. A-aku sedang ha-mil!"
Tangan Dina bergetar melepaskan cambuknya. Pengakuan Gita membuat dirinya jatuh meremas dadanya sendiri. Dia akan bersiap mengambil cambuk lagi. Namun,suara bel rumah mengejutkannya,di ikuti dengan gedoran pintu yang keras.
Gita dan Dina saling bertukar pandang. Baru saja Dina akan bangkit berdiri. Suami Dina telah keluar dari ruangan dan membuka pintu. Beberapa petugas keamanan tampak masuk satu persatu kemudian.
Gita dan Dina merasa bingung dan heran. Namun, tidak lama mereka jatuh malu akan penampilan mereka sendiri. Berantakan dan wajah penuh air mata. Dina dan Gita segera menyeka air mata mereka masing-masing.
"Gita ada apa dengan dirimu?" Ayah Gita terlihat hitam, "Polisi ingin membawamu pergi."
Dina membola terkejut. Apalagi yang di lakukan puteriku ini? Ah, sepertinya aku akan gila dengan mudahnya ....
__ADS_1
Gita mengerutkan alisnnya. Dia menatap ibunya tajam,dan ayahnya bergantian. Dia menggelengkan kepala. Aku tidak melakukan apapun.
"A-ada a-apa denganku?" tanya Gita gagap dan bingung. Dia bangkit dari duduknya. Namun, sepasang kakinya terlihat seperti agar-agar, bergetar ingin luyut ke lantai.
"Nona Wen terlibat dengan pengedaran Video panas temannya sendiri?"
"Teman?" Dina menatap Gita, ingin rasanya dia mencongkel sepasang mata Gita. Benar-benar lahir memalukan.
"Siapa maksud ka-lian? A-aku ti-dak mengerti!"
"Teman anda bernama Susan melaporkan ketindakjahatan anda yang telah menyebarluaskan video panas miliknya."
Deg! Seakan petir menyambar Gita. Gita menelan ludahnya. Bagaimana bisa cepat ketahuan?
Gita menggigit bibirnya, dan meronta memohon pada kaki ibunya, "Bukan! a-aku tidak mengedarkannya. A-aku hanya di min-ta mengirimkan lewat e-mail. Bukan aku!"
Plak! Tamparan datang pada wajah Gita. Ingin rasanya Dina menjambak rambut Gita dan segera membenturkan ke lantai, Lebih baik kau tewas saja Gita!
"Nona Wen, tolong ikuti kami. Kau bisa menjelaskan segala sesuatu di kantor polisi."
Gita menggelengkan kepalanya. "Tidak, paman! I-itu bukan a-aku. A-aku tidak mengetahui apapun soal video Susan."
"Video apa maksudmu?" Dina yang mulai tenang segera bangkit berdiri dan bertanya kepada salah satu petugas keamanan.
"Video temannya tersebar dan itu telah terjadi beberapa hari yang lalu. Tersebar acak, dan email pertama penyebarnya adalah Gita."
"Paman! Kau salah paham! Bisa saja emailku di gunakan orang lain," elak Gita menolak untuk di bawa pergi.
"Ibu aku di fitnah!" teriak Gita meronta ketiak sepasang tangan itu memborgol tangannya.
Sepasang mata Dina dengan kerutan di sekitar matanya terlihat kosong dan jantungnya serasa ingin berhenti berdetak kala sosok Puteri kecilnya terlihat hilang kemudian bersama sebuah mobil yang berjalan mendengungkan bunyi sirenenya.
"Petaka anak berasal dari ibunya."
Dina bangun mendongakkan wajahnya pada suaminay. Dia pun mengambil vas bunga dan melemparkan pada kening suaminya.
"Petaka istri berasal dari suaminya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung
...Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah ....
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo