Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Dia Lupa Diri


__ADS_3

Pletak!


Ethan menghempaskan ponselnya.


"Apa yang dinginkan orang rendahan itu. Ingin kehidupan atau kematian. Jika dia ingin mati, maka tidak seharusnya ... dia mengantarnya ke rumah sakit. Biarkan dia mati dalam ruang gelap!" teriak Ethan mengejutkan semua pelayan yang berada dalam kamarnya.


"Tuan muda. Tenangkan dirimu. Jangan berlaku marah seperti ini." Seorang pelayan berusaha menenangkan amarah Ethan. Ethan menatap keji pelayan yang datang menghampirinya, dan perlahan satu telunjuk tangannya naik ke udara dan turun menunjuk lantai ubin yang paling dekat dengan dirinya.


Pelayan itu seakan mengerti instruksi majikannya, segera berlutut di ubin yang di tunjuk oleh Ethan.


"Berikan tanganmu di atas lantai," pinta Ethan pada pelayan itu, sorot matanya hanya memindai jijik dan menyebarkan rasa kebencian.


Pelayan itu terlihat gugup dan gelisah, namun mangkok nasi lebih penting daripada segalanya. Dia meletakkan punggung tangannya mendekati sepatu Ethan.


Ethan meliriknya, seakan teringat bagaimana dirinya telah melakukan hal yang sama tadi pagi, memohon kepada seorang rendahan yang jauh berbeda dari dirinya, status sosial. Ethan adalah pria dari langit. Sedangkan bibi Yuna, hanyalah rumput liar yang bahkan mengharap hujan dari langit, agar tetap terus hidup. Ethan pun mendengus seakan dia menatap bibi Yuna tengah berlutut di depan dirinya, "Siapa kau? berani menegurku? Setiap kata dari orang rendahan. Bagaimanapun manisnya, maka hanya di sebut penjilat."


Pelayan itu terdiam sesaat, seakan merenungi apa maksud kalimat majikan tersebut. Dia berkata manis, namun tetap di sebut penjilat. Detik selanjutnya, dia baru menyadari kebodohannya sendiri. Seakan kehidupan kecilnya, dia telah di tuduh mencuri, padahal dia belum memasuki rumah siapapun untuk mencuri.


"Arggggh!" ringis Pelayan itu, ketika tumit sepatu Ethan menginjaknya, dan terasa akan mematahkan punggung tangan pelayan pria muda itu di bawah tumit sepatunya yang bergerak melingkar, dan menginjak-nginjak.


"Arggg!!" ringisnya tertahan dengan isak yang lolos diciptakan tenggorokannya, dan barulah pijakan tumit Ethan seakan kehilangan kekuatannya, dan pelayan itu bisa melihat lunglainya salah satu tangannya yang telah di remukan, warna merah keunguan dan lecet punggung tangannya, terlihat sedikit merobek kulit.


"Kalian orang rendahan. Hanya tau mata di balas mata, gigi di balas gigi. Apa kalian tau mata kalian tidak akan pernah sama dengan mata yang aku milikku. Begitu juga dengan gigi kalian. Gigi kalian tidak bisa menggigitku. Tapi gigiku bisa merobek daging, dan menyebabkan kematian kalian. Apa kau mengerti?" tanya Ethan dengan tangan yang terlipat di dada, kenagkuhan pria ini bahkan telah menelan harga diri semua pelayan yang mendengar.


"Benar, Tuan muda Ruan. Bagaimana bisa ada orang menyamakan perak dan emas. Emas jatuh ke dalam lubang kotoran pun, semua orang akan tetap memungutnya. Perak jatuh, maka semua orang akan mengiklaskannya ...," sahut pelayan tersebut, dan kehilangan keberanian untuk menatap majikannya yang terlihat melempar batu ke sembarang orang yang berani menyinggungnya.


"Tetapi ada seseorang mantan rekan kalian. Berani meminta diriku untuk menjilat kakinya, karena aku membuat dirinya, kehilangan puteranya. Apakah dia telah lupa diri? jawab untukku!" pinta Ethan dengan sepasang mata yang mengedar dan meminta semua pelayan dalam ruangan untuk menjawabnya.


'Bibi Yuna kah yang dia maksud?'

__ADS_1


'Apakah Yuna?'


'Pastilah ini Yuna!'


Namun, hanya keheningan yang makin menelan setiap orang. Setiap orang hanya menduga-duga orang yang berani meminta Tuan muda Ruan untuk menjilat kakinya. Pastilah Yuna.


Yuna.


Nama mantan rekan kerja mereka, yang anaknya baru saja di larikan ke rumah sakit. Hanya Yuna. Merekapun mendengar jika, puteranya telah berada di ambang kematian. Kaki kanannya berada di kehidupan, namun kaki kirinya berada di kematian. Itulah nasib Joe Han. Jika satu orang menariknya ke kehidupan, maka dia akan tetap hidup. Jika satu orang mendorongnya, maka dia akan mati.


"Aku meminta kalian menjawabnya. Mengapa kalian terdiam? Apakah dia pantas berkata demikian untukku?"


Semua pelayan kehilangan pikirannya, hanya mulai berurutan menjawab ketika sepasang mata pria muda dengan sinar menundukkan semua orang itu, menyoroti wajah mereka.


"Dia lupa diri ...." pelayan yang terduduk berlutut dengan tangan lunglai, lebih awal menjawab tatapan mata itu yang jatuh padanya.


"Dia lupa diri ...."


"Dia lupa derajatnya ...."


Semua pelayan dalam ruangan menjawab hal yang serupa. Yuna, orang rendahan yang lupa akan siapa dirinya, status dan derajatnya.


Tok-tok-tok!


Tak lama, suara ketokan pintu terdengar. Ethan menoleh ke asal suara ketokan itu berasal. Dilihatnya dua wanita berdiri di garis pintu dengan seragam hitam, yang mengenakan celemek dengan renda-renda kecil menghias pinggiran celemek.


Fann, kepala pengurus rumah tangga, dan Nana Su, Ibu dari Anna, membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan kepada Tuan muda Ruan . Ethan memindai dua wajah wanita itu, dan bertanya, "Apakah kalian mendengar semua?"


Fann dengan wajah yang terangkat,segera menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Awalnya mereka berada di luar kamar Tuan muda Ruan. Namun, suara pria itu menggelegar keluar.

__ADS_1


"Lalu, apa jawaban kalian?" Erald berjalan mendekati mereka. ujung matanya melirik sebentar Nana, tatapanya berlabuh pada Fann, namun sepasang telinganya hanya tertarik mendengar jawaban Nana Su, ibu Anna.


"Dia tidak tahu cara berterima kasih," jawab Fan setelah sekian detik dia memikirkan jawabannya.


Erald tersenyum tipis, namun raut wajahnya jatuh menyembunyikan rasa kecewa yang dalam . Jawaban dari kepala pengasuh rumah tangga, sekaligus pengasuh dirinya dari masa berkulit merah, semua terdengar sama dengan semua pelayan rumah tangga yang berada di dalam kamar. Semua terlihat menjaga hatinya, walaupun dirinya pembunuh, semua orang akan tetap di sisinya untuk memuji dan memujanya karena mangkok nasi. Kecuali, Nana Su yang belum membuka mulutnya. Ethan menjadi sangat penasaran.


Ethan melarikan pupil matanya menatap Nana, yang awalnya menunduk menatap sepasang sepatu sendiri yang menginjak ubin lantai. Dalam diam, dia berpikir keras.


'Mengapa Yuna, menginginkan hal demikian? bukankah dia seorang yang tamak.'


"Bibi Nana, apa jawabanmu?" tanya Ethan terdengar menurunkan nadanya. Dia terlihat lembut berkata, bahkan mengejutkan semua pelayan dalam ruangan. Seakan rangsangan rasa iri menyelimuti tulang-tulang rongga dada mereka.


"Yuna, pastilah tidak menginginkan mangkok nasi, tidak menginginkan rumah hangat, tidak menginginkan hidupnya juga. Oleh itu dia menginjakmu, agar Tuan muda Ruan mengetahui, bahwa ...." Nana berhenti pada akhir kalimatnya. Seakan ragu akan satu kalimat terakhir, yang tertahan dalam tenggorokannya.


Ethan penasaran. Sinar matanya menyorot tajam, namun juga sangat mengirimkan rasa teduh. Dia menghargai jawaban Nana, seperti dia selalu menyetujui pendapat Anna.


"Bahwa apa?"


Nana menarik napasnya dalam-dalam. Sepasang matanya menatap lurus ke arah lain, menghindari tatapan majikan mudanya, dan hanya menabrak dinding kamar, yang tidak akan pernah membalas menghujatnya, jika dia harus berkata jujur dan seadil-adilnya.


......................


Bersambung ....


"Bahwa apa ?"


jawaban kalian: .....?


Pembaca : Bahwa kaca yang retak nggak akan balik lagi 😟

__ADS_1


Author : Itu bukan jawaban Bibi Yuna. Bibi Yuna nggak secengeng itu kok.Dia strong, makanya masih bertahan 😊 Fighting Bibi Yuna.


Jangan lupa vote, Rate 🌟 5, like dan coment 🥰 Semoga menyukai terus yah 🥰


__ADS_2