
Pukul 23.00 Wib
Anna kembali melihat layar ponselnya. Dia kembali membaca pesan Ethan.
'Ibumu sudah pulang, pukul 21.00 Wib. Apakah dia belum mencapai rumah?'
Di bawah pesan Ethan, ada kalimat balasan Anna.
'Iya, ibuku sudah mencapai rumah.'
Anna membalasnya demikian, agar tidak membuat Ethan khawatir bersamanya. Anna segera menutup pesan. Memasukkan ponselnya kembali dalam saku mantel. Anna Mengeratkan mantelnya, dan masih berdiri di depan gang rumahnya dengan banyak rasa gelisah bercampur khawatir . Sudah dua jam, dia berdiri menunggu ibunya. Merasa khawatir yang belum kunjung hilang, Anna segera merogoh ponselnya lagi, membuka kontak telepon selulernya, menekan angka dua, untuk panggilan cepat yang tertuju pada Nana, ibunya.Tidak aktif lagi. Tidak dapat terhubung sama sekali.
Menunggu dua jam dalam kegelisahannya. Membuat dia merasa setiap detiknya menjadi bertambah kahwatir. Merasa tidak pilihan lain, selain meminta tolong pada Ethan. Anna segera menekan angka satu, untuk panggilan cepatnya— Ethan Ruan, Tuan muda yang sombong.
Panggilan terhubung.
"Ada apa, mengapa kau menghubungi selarut ini?" tanya Ethan seraya melirik jam di tangannya dengan menundukkan matanya.
"I-ibuku be-belum pulang, Ethan!" jawab Anna. Mengejutkan Ethan di seberang sana, dia segera menyibakkan selimutnya.
"Apakah kau di rumah?" tanya Ethan terlihat lebih mengkhawatirkan gadis itu berada di mana.
Anna menatap sekelilingnya, dia hanya menatap jalan raya yang terlihat sepi dan gelap, hanya cahaya lampu kecil dari sebuah tiang di sekitar Anna, yang memberikan sedikit penerangan untuk dirinya, angin berembus dingin meniup-niup dirinya, dia terlihat ragu berkata menjawab di mana dirinya sedang berada.
"Kau di mana? apakah kau di dalam rumah saja?" tanya Ethan setengah berteriak dan mengejutkan Anna.
"Aku di depan gang rumah, sedang menunggu ibu kembali."
__ADS_1
"Kau bodoh sekali ... kau seorang gadis, namun melangkah kaki keluar selarut ini," hembus Ethan terdengar sangat marah bercampur rasa khawatir, "Tunggu aku, dan jangan melangkah sendiri."
"Aku menunggu i-ibuku," jawab Anna. Namun sambungan telepon terputus begitu saja. Anna melihat angka yang menunjukkan jam yang telah melewati pukul sebelas malam. Anna melihat sekelilingnya. Terlihat sepi dengan sedikit pencahayaan, yang membuat suasana terlihat suram. Ragu. Dia terlihat ragu untuk menunggu lebih lama. Tetapi Ethan meminta untuk menunggunya. Jika dulu, dia bisa menanti kepulangan ibunya di temani Joe Han, berdiri bersama di sini. Dia tidak memiliki rasa takut akan malam yang sepi. Kini berdiri sendiri, membawa rasa takut dan waspada pada dirinya sendiri.
'Kau seorang gadis, namun melangkah kaki keluar selarut ini.' Satu kalimat Ethan tebersit kembali dalam benak Anna, membuat dirinya menyadari kebodohannya. Menunggu dalam kegelapan seperti ini, adalah momok yang mengerikan untuk seorang gadis. Hal ini, membuat seluruh rasa khawatir akan ibunya kini berpindah mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Ingin kembali pulang. Namun di tengah gang, ada sekelompok pria yang terlihat sering menunggu. Jika dia kembali sendiri, maka dia takut pria-pria itu meyeretnya dalam suramnya kehidupan seorang gadis. Anna merasa takut melangkah sendirian. Waspada akan kehormatan dirinya sendiri. Perlahan Anna melangkah, menyembunyikan dirinya dalam kegelapan. Agar semua orang tidak menyadari kehadirannya sedang menunggu. Dia menunggu ibunya. Dia juga menunggu Ethan. Namun, juga teringat akan Joe Han. Joe Han, yang pernah setia dan selalu menemaninya, berdiri bersama di sini.
"Joe Han," keluh Anna teringat akan pria itu masih terbaring dalam ranjang. Pria itu masih terlelap dengan tidur panjang.
"Kapan kau bangun, agar aku bisa menunggu bersamamu?" tanya Anna pada sosok Joe Han yang terekam dalam benaknya. Sekali lagi, pria itu datang dengan senyum ramahnya. Terlihat nyata, berdiri di sisinya.
Anna terkesiap sesaat, seakan melihat sosok hantu nyata di depan matanya, namun hal ini tidak menakutkan sama sekali. Hal ini justru, sosok yang sangat dirindukan. Teman yang hilang itu, terlihat kembali. Bagai lahan tandus merindukan hujan. Perlahan tangan Anna menyentuh sosok pria itu yang hadir dalam kegelapan, namun lenyap di detik selanjutnya.
"Joe Han," pekik Anna dengan suara rendah namun hatinya terasa melolong panjang. Ada rasa rindu bersama, ketika pria itu sudah terlihat diam dan jauh. Anna menghela napasnya, ketika yang dia menyadari hal itu hanya ilusi.
Anna berbalik ke asal suara yang memanggilnya. Wajah Anna terlihat masih sangat merah, sepasang matanya terlihat berkaca-kaca dan siap menumpahkan bulir-bulir air mata. Sosok hitam terlihat datang mendekat padanya, dan samar-samar Anna hanya memanggil sosok yang datang, "Joe ...." lirihnya dalam kegelapan memanggil sosok yang terlihat makin akrab ketika jarak di antara mereka terkikis, hanya tersisa dua langkah.
"Aku Ethan, bukan Joe ...," koreksi pria itu setelah sekian lama menghabiskan waktu dengan saling menatap, seakan saling mereka-reka kehadiran yang datang dan sosok yang di jumpa.
"Maaf, aku pikir kau Joe." Anna menundukan wajahnya, lalu membalikkan dirinya. Seakan punggung dingin, bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Dia ingin segera meringkuk, karena salah menduga siapa yang datang.
"Tidak usah di pikirkan, pulanglah ke rumah lebih dahulu," abai Ethan. Walau dia terlihat menghembus napasnya berkali-kali, dan hanya menyimpan rasa kecewa yang hinggap di dalam rongga dadanya. Cuka menabur di hatinya.
'Aku yang datang, namun kau malah menyebut nama pria lain,' keluh Ethan dalam hatinya, seraya langkah kakinya mengikuti langkah kecil Anna yang berjalan di depannya. Sangat lambat.
Memasuki gang, menapaki jalan yang terlihat bertabur batu kerikil dengan suasana yang terlihat gelap dan sepi. Sampai satu pencahayaan terlihat temaram menerangi persimpangan jalan. Di sana terlihat beberapa pemuda yang berdiri dengan asap yang terlihat berhembus di depan wajahnya.
__ADS_1
Anna menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap Ethan.
"Aku takut melewati sana," utara Anna terdengar canggung berkata mengadu pada Ethan.
Sepasang mata Ethan yang tajam, terlihat menyoroti jumlah pemuda di persimpangan jalan. Dia terlihat menghitung lawannya di depan matanya.
"Apakah mereka pernah mengganggumu?"
Anna menggelengkan kepala.
"Lalu mengapa kau takut kepada mereka?" kejar Ethan dalam tangan yang mengepal erat dalam saku mantelnya.
"Mereka pemuda yang nakal. Namun mereka tidak pernah menganggu diriku, karena Joe selalu bersamaku ...," utara Anna dengan sepasang mata yang tidak berani menatap Ethan. Baiklah, dia merasa bersalah lagi, karena lidahnya berani mengucapkan pria lain lagi di hadapan pria ini.
"Jika mereka tidak menganggumu, karena kau berjalan dengan Joe. Maka berjalanlah denganku, aku akan memastikan mereka tidak akan berani menyentuhmu lagi walau kelak kau berjalan sendirian ...," ucap Ethan, dengan tangan yang masih terkepal erat dalam saku mantelnya, dan sepasang matanya terlihat memindai setiap gerak-gerik pemuda di sana. Mereka pun terlihat seperti menunggu mangsa.
Anna mengedipkan sepasang matanya.
"Bukan begitu. Joe memberikan uangnya agar bisa melewati di sana," ujar Anna dengan nada terdengar sungkan mengungkapkan hal tersebut.
......................
Bersambung ....
Jangan lupa dukung Author yah (Rate 5, Coment, like, & vote), kita nggak bisa memaksa semua orang untuk menyukai karya kita, membaca karya kita, vote karya kita. Bacaan itu selera. Jangan berkecil hati, hanya selera orang berbeda. Yang penting aku menulis bukan untuk di hargai semua orang.
Jangan Rate 1 yah, Ingat semua usaha upaya ide itu adalah ..... Author nggak tau 😂
__ADS_1
( Lotion Citra, iklan lewat)